NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Suara hujan yang menghantam atap seng terdengar seperti ribuan peluru yang mencoba menembus pertahanan rumah ini.

Di dalam kamar yang remang, Relia berdiri mematung di dekat jendela.

Matanya yang sembap menatap kosong ke arah rintik air yang mengaburkan pandangan, namun telinganya justru menajam dan menangkap setiap bunyi sekecil apa pun di balik pintu kamarnya.

Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari.

Seketika, perutnya mual. Tubuhnya mulai bergetar hebat.

Bagi orang lain, pukul dua pagi adalah waktu untuk lelap dalam mimpi, tapi bagi Relia, ini adalah jam dimulainya neraka.

Selama dua tahun terakhir, waktu seolah berhenti di angka ini.

Ceklek!

Suara gagang pintu yang ditekan pelan itu terdengar lebih nyaring dari guntur bagi Relia.

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat pintu kayu itu terbuka, menampakkan siluet pria yang paling ia takuti di dunia ini.

Cahaya lampu dari lorong membentuk bayangan tubuhnya yang tegap dan berotot di lantai kamar Relia.

Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah kain hitam dimana benda yang selalu menjadi simbol pembungkaman bagi harga diri Relia.

"Belum tidur, Relia?" tanya Markus dengan suara rendah, hampir seperti bisikan yang mematikan.

Relia mundur hingga punggungnya membentur tembok yang dingin.

Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, air mata mulai mengalir tanpa suara.

"Tolong, jangan sekarang. Mas, tolong..." bisik Relia.

Markus tidak berhenti dan melangkah maju dengan tenang, seolah-olah tindakannya adalah sesuatu yang wajar.

Ia menyeringai tipis, memperlihatkan kekuasaan penuh atas gadis yang seharusnya ia lindungi sebagai adik ipar.

"Tutup mulutmu, Relia. Jangan biarkan tetangga mendengar suara desahanmu. Kamu tahu apa yang terjadi kalau ada yang bangun, kan? Kakakmu akan sangat kecewa melihat adiknya bersikap seperti ini."

"Nggak, Mas! Aku nggak mau!"

Tanpa peringatan, Markus mencengkeram rahang Relia dengan satu tangan yang kuat, memaksa gadis itu membuka mulutnya.

Dengan gerakan kasar yang sudah terlatih selama dua tahun, ia menyumpalkan kain itu ke dalam mulut Relia dan mengikatnya dengan kencang di belakang kepala.

Relia hanya bisa mengeluarkan erangan teredam sambil menatap ke arah pintu, berharap kakak kandungnya akan muncul dan menyelamatkannya. Namun ia tahu, di kamar sebelah, kakaknya mungkin hanya akan menarik selimut lebih tinggi dan memekakkan telinga.

Markus langsung mengangkat dan merobek pakaian yang dikenakan oleh Relia.

Relia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Markus kembali memperkosanya

Di bawah guyuran hujan yang semakin menggila, Relia kembali kehilangan dirinya.

Hujan masih mengamuk di luar sana, seolah ikut menangis menyaksikan kehancuran yang terjadi di dalam kamar itu.

Satu jam berlalu dan Markus bangkit dari tempat tidur.

Ia merapikan pakaiannya dengan tenang seolah baru saja menyelesaikan tugas biasa.

Ia menarik kain penyumpal dari mulut Relia dengan sentakan kasar, lalu melenggang pergi menuju kamar utama, kembali ke pelukan istrinya.

Di atas kasur yang berantakan, Relia meringkuk ketakutan.

Ia membenamkan wajahnya ke bantal, meredam teriakan histeris yang tidak boleh terdengar oleh dunia.

Aku ingin bebas, Tuhan. Berikan aku petunjuk agar bisa keluar dari neraka ini, jeritnya dalam hati.

Doa itu terasa hambar, seolah Tuhan pun enggan mendengar dari rumah yang terkutuk ini.

Ceklek!

Pintu kembali terbuka dan Relia langsung terkejut kembali.

Ia mengira Markus yang datang ke kamarnya lagi. Namun, sosok yang muncul justru lebih menyakitkan baginya.

Tanpa rasa iba, Sarah melangkah mendekat dan menatap tubuh adiknya yang polos dan gemetar dengan tatapan jijik.

Bukannya selimut yang diberikan oleh Sarat, tapi Sarah justru melemparkan beberapa lembar uang kertas ke wajah Relia.

Uang-uang itu jatuh berserakan di atas kulit Relia yang lebam.

"Ambil itu. Beli apa pun yang kamu mau besok," ucap Sarah ketus.

Relia mendongak dengan sisa tenaga yang ia miliki.

"Mbak, tolong aku. Aku nggak kuat, Mbak. Mas Markus dia jahat sama aku..." isak Relia tersedu-sedu dan berharap secercah nurani masih ada di hati kakaknya.

Namun, yang terdengar justru tawa kakaknya yang terbahak-bahak.

Sarah melipat tangan di dada, memandang Relia seolah adiknya itu hanyalah sampah yang tidak tahu diri.

"Tolong? Kamu seharusnya bangga, Relia!" bentak Sarah, tawanya berubah menjadi nada sinis yang tajam.

"Mas Markus itu lelaki kaya raya. Banyak perempuan di luar sana yang mengemis untuk ada di posisimu. Seharusnya kamu bersyukur dia mau menyentuhmu, bukannya malah terus-menerus mengadu seperti anjing penjilat!"

"Tapi dia memperkosaku, Mbak! Dia suamimu!"

"Diam!" Sarah mendekat dan mencengkeram dagu Relia.

"Di rumah ini, aku ratunya dan Markus adalah rajanya. Kalau dia menginginkanmu, itu adalah perintah. Sekarang diam, bersihkan dirimu, dan jangan berani-berani pasang wajah murung saat sarapan besok!"

Mendengar hinaan itu, sesuatu di dalam diri Relia seolah meledak.

Rasa sakit, penghinaan selama dua tahun, dan amarah yang selama ini ia pendam mendidih hingga ke titik puncak.

Ia tidak lagi melihat Sarah sebagai kakak kandungnya, melainkan sebagai monster yang sama kejamnya dengan Markus.

Dengan sisa tenaga yang ada, Relia menerjang Sarah.

"Kamu gila, Mbak! Kamu bukan kakakku!" teriak Relia histeris.

Relia mendorong bahu Sarah hingga kakaknya itu terhuyung ke belakang.

Sebelum Sarah sempat membalas, jemari Relia sudah mencengkeram rambut Sarah dengan kuat, menariknya dengan seluruh rasa benci yang meluap.

"Aakh! Kurang ajar kamu, Relia! Lepaskan!" jerit Sarah kesakitan.

Suara teriakan Sarah membelah kesunyian malam, mengalahkan suara hujan.

Pergumulan itu tidak berlangsung lama sampai Lloangkah kaki Markus mendekat dari arah lorong.

BRAK!

Pintu kamar terbuka dengan hantaman keras. Markus berdiri di sana, matanya merah menyala karena amarah.

Di tangan kanannya, ia tidak lagi membawa kain, melainkan sebuah ikat pinggang kulit tebal yang ia lepas dari celananya dengan gerakan kilat.

"Berani kamu menyentuh istriku?!" geram Markus.

Tanpa peringatan, Markus menarik kerah belakang kaos Relia, melempar tubuh kecil itu hingga terjerembap ke lantai yang dingin.

Sebelum Relia sempat bangkit, suara whussh yang tajam membelah udara.

CETAR!

Cambukan ikat pinggang itu mendarat tepat di punggung Relia.

"Aakh!" Relia menjerit pilu. Rasa panas yang membakar seketika menjalar ke seluruh sarafnya.

"Dasar tidak tahu diuntung!" Markus kembali mengayunkan ikat pinggangnya.

CETAR!

"Aku memberimu makan, memberimu tempat tinggal, dan ini balasanmu pada Sarah?"

Sarah berdiri di pojok ruangan, merapikan rambutnya yang berantakan sambil tersenyum puas.

Tidak ada satu pun tetes air mata atau rasa kasihan di wajahnya saat melihat adiknya menggeliat kesakitan di lantai seperti binatang yang sedang disiksa.

"Cambuk lagi, Mas! Biar dia tahu sopan santun!" seru Sarah memprovokasi.

Relia meringkuk, melindungi kepalanya dengan kedua tangan.

Setiap hantaman ikat pinggang itu terasa seperti mencabut nyawanya perlahan. Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, sebuah tekad bulat muncul di benaknya.

"Aku harus pergi. Jika aku tetap di sini, aku akan mati." ucap Relia dalam hati.

Malam itu, di bawah setiap cambukan yang menyayat kulitnya, Relia tidak lagi menangis memohon ampun.

Ia hanya menatap lantai dengan mata yang kosong namun tajam, menghitung setiap detik hingga pasangan iblis itu lelah dan membiarkannya sendiri.

Setelah rasa puas menyelimuti wajah mereka, Markus melemparkan ikat pinggangnya ke lantai dengan napas yang memburu.

Ia beralih pada Sarah, merangkul pinggang istrinya itu dengan posesif.

"Ayo kembali ke kamar, Sayang. Biarkan dia merenungi kesalahannya di sini," ucap Markus dengan nada yang tiba-tiba melunak.

Mereka berdua melangkah keluar dengan tawa kecil yang menghina, seolah menyiksa Relia hanyalah sebuah hiburan sebelum tidur.

Dalam keangkuhan mereka, Markus yang biasanya mengunci pintu kamar Relia, malam ini ia hanya menarik pintu itu hingga tertutup tanpa memutar kunci.

Suara klik yang biasa menandakan penjara Relia tertutup rapat, kali ini tidak terdengar.

Relia terbaring diam di lantai dingin sambil merasakan punggungnya yang terasa seperti disiram air keras, berdenyut panas dan perih.

Namun, matanya yang tadi kosong tiba-tiba fokus pada celah pintu yang tidak rapat sempurna.

Ini waktunya.

Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, Relia menyeret tubuhnya.

Setiap gerakan membuat luka cambukan di punggungnya seolah terkoyak kembali, namun ia menggigit bibir hingga berdarah agar tidak mengerang.

Ia tidak membawa apa pun dari kamarnya, karena yang ia butuhkan hanya nyawanya sendiri.

Ia keluar dari kamar, melewati lorong gelap dengan langkah gontai dan gemetar.

Di ruang tengah, ia bisa mendengar sayup-sayup suara tawa Sarah dan Markus dari balik pintu kamar utama.

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia membuka kunci pintu depan.

Ceklek.

Angin malam yang dingin dan sisa hujan langsung menerjang wajahnya.

 Relia berlari dan tidak tahu ke mana kakinya melangkah.

Ia menembus kegelapan, melintasi jalanan aspal yang becek, mengabaikan rasa perih di kaki telanjangnya yang tergores kerikil.

Pikirannya hanya satu: jauh, ia harus pergi sejauh mungkin.

Pandangannya mulai mengabur, kepalanya berputar hebat akibat rasa sakit dan trauma yang bertubi-tubi.

Di tengah rintik hujan yang mulai mereda, sebuah cahaya neon putih terang menusuk matanya.

Sebuah papan besar bertuliskan huruf merah menyala UNIT GAWAT DARURAT.

Relia memaksakan langkahnya menuju pelataran rumah sakit itu.

Dunia di sekitarnya seolah berputar sampai napasnya terasa tersengal-sengal, pendek dan berat.

Ia melihat beberapa sosok berseragam bergerak di kejauhan.

"T-tolong..." suaranya nyaris tak terdengar, hanya berupa bisikan pecah yang tertelan angin.

Langkah gontainya terhenti karena kelelahan. Tubuh kecil yang penuh luka itu ambruk, jatuh berdentum di atas lantai semen teras rumah sakit.

Kesadarannya meredup, namun sebelum semuanya menjadi hitam, ia sempat melihat bayangan orang-orang yang berlari ke arahnya.

"Astaga! Ada pasien pingsan di depan!" teriak seorang petugas keamanan.

"Cepat panggil perawat! Siapkan brankar!" suara seorang dokter pria terdengar panik.

Dua orang perawat segera mendekat dan membalikkan tubuh Relia untuk mengecek denyut nadinya.

Seketika, mereka terkesiap. Saat baju bagian belakang Relia tersingkap, mereka melihat pemandangan yang mengerikan seperti bilur-bilur merah kebiruan yang membengkak, kulit yang pecah, dan lebam di sekujur lengan.

"Ini penganiayaan berat," bisik dokter itu dengan wajah mengeras.

"Bawa dia ke dalam, sekarang! Oksigen, cepat!"

Relia tidak lagi mendengar apa pun dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia tertidur tanpa ada rasa takut.

1
Yuningsih Nining
😭😭
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!