NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: PERJUDIAN DI DERMAGA LAMA

​Malam itu, langit di atas mansion Valerius tampak seperti kanvas hitam yang disiram tinta. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam yang tajam dan firasat buruk yang menyelinap di antara sela-sela jendela. Di dalam kamar, Arunika berdiri di depan lemari pakaiannya, mengenakan setelan serba hitam yang ia sembunyikan di bawah jubah mandi tebalnya.

​Jantungnya berdebar, suaranya terdengar seperti dentuman genderang perang di telinganya sendiri. Malam ini adalah pertaruhan terbesar dalam hidupnya. Adrian sedang menghadiri jamuan makan malam eksklusif dengan dewan komisaris di pusat kota—sebuah acara formal yang setidaknya akan memakan waktu empat hingga lima jam.

​Ini satu-satunya kesempatanku, batin Arunika.

​Ia melirik kamera CCTV di sudut langit-langit. Seharusnya, lensa itu sedang menyorot ke arah ranjang di mana ia telah menyusun guling dan bantal sedemikian rupa di bawah selimut tebal, menciptakan ilusi tubuh yang sedang terlelap. Ini adalah trik kuno, namun dengan pencahayaan kamar yang sengaja ia redupkan, ia berharap monitor di ruang keamanan tidak akan menyadarinya dalam waktu dekat.

​Berkat kunci cadangan yang "tidak sengaja" ditinggalkan Sandra di laci meja rias tadi sore, Arunika berhasil keluar melalui pintu servis di lantai bawah. Ia berlari menembus kegelapan taman belakang, menghindari sensor gerak yang posisinya sudah ia hafalkan selama berhari-hari melakukan pengamatan.

​Setelah memanjat pagar kecil di area yang tidak terjangkau lampu sorot, Arunika menemukan sebuah taksi tua yang sudah menunggunya di jalan setapak—taksi yang dipesan melalui aplikasi anonim menggunakan ponsel rahasia yang ia temukan terselip di balik tumpukan majalah di ruang musik.

​"Dermaga lama. Gudang 12," bisiknya pada supir taksi.

​Perjalanan itu terasa seperti selamanya. Dermaga lama adalah kawasan yang sudah ditinggalkan, tempat di mana kontainer-kontainer berkarat menumpuk seperti nisan raksasa. Bau amis air laut yang membusuk dan oli mesin memenuhi udara.

​Taksi itu berhenti di depan sebuah bangunan seng raksasa dengan angka '12' yang catnya sudah mengelupas. Arunika turun dengan tungkai yang gemetar. Keadaan di sana sangat sunyi, hanya ada suara derit logam yang bergesekan ditiup angin.

​"Siapa di sana?" sebuah suara bariton yang serak memecah kesunyian.

​Arunika tersentak. Dari balik bayangan sebuah truk tua, muncul seorang pria. Wajahnya tidak seperti yang ia lihat di foto sepuluh tahun lalu. Pria itu kini memiliki bekas luka panjang di pipinya, rambutnya berantakan, dan matanya memancarkan kelelahan yang luar biasa.

​"Rendra Atmadja?" tanya Arunika dengan suara bergetar.

​Pria itu berhenti melangkah. Ia menatap Arunika dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya membelalak saat melihat cincin The Blue Hope yang berkilau di jari manis Arunika meski dalam kegelapan.

​"Cincin itu... kau istrinya yang baru," desis Rendra. Ada nada jijik sekaligus kasihan dalam suaranya. "Kenapa kau datang ke sini? Jika Adrian tahu kau bertemu denganku, dia tidak akan hanya mengurungmu. Dia akan menghapusmu."

​"Aku butuh jawaban, Rendra! Apa yang terjadi pada Elena? Kenapa dia meninggalkan pesan tentangmu di Paviliun Melati?" Arunika mendekat, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku tidak mau berakhir seperti dia. Aku melihatnya... aku melihat wanita di bawah tanah itu. Apakah itu benar-benar dia?"

​Rendra terdiam. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. "Elena adalah satu-satunya wanita yang berani melawan sistem Adrian. Dan dia membayar harganya dengan sangat mahal. Adrian tidak pernah membunuh istrinya secara fisik, Arunika. Dia adalah seorang kolektor. Dia mencuci otak mereka, menghancurkan identitas mereka, sampai yang tersisa hanyalah raga kosong yang patuh."

​Rendra menarik napas panjang, menatap ke arah laut yang gelap. "Aku mencoba membawanya lari dulu. Kami sudah merencanakan segalanya. Tapi Adrian selalu selangkah lebih maju. Dia menjebakku dalam kasus penggelapan dana, menghancurkan karier hukumku, dan mengancam akan membunuh keluargaku jika aku tidak menghilang."

​"Lalu kenapa kau masih di sini? Di kota ini?" tanya Arunika.

​"Karena aku masih menunggu," Rendra menatap Arunika dengan tajam. "Aku menunggu seseorang dari dalam mansion itu untuk membuka pintu terakhir. Rahasia Adrian bukan hanya tentang obsesinya pada kesempurnaan, tapi tentang kematian ibunya yang sebenarnya. Ibunya tidak sakit, Arunika. Adrian yang—"

​Tiba-tiba, sebuah cahaya lampu mobil yang sangat terang menyorot mereka dari kejauhan. Suara deru mesin mobil sport yang sangat dikenal Arunika membelah kesunyian malam.

​Adrian.

​Darah Arunika terasa membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Bagaimana bisa? Adrian seharusnya masih berada di rapat komisaris selama tiga jam lagi!

​"Lari, Arunika! Lewat pintu belakang gudang!" teriak Rendra.

​Namun, sudah terlambat. Mobil Lamborghini hitam itu berhenti dengan suara decitan ban yang memekakkan telinga. Pintu terbuka, dan Adrian keluar dengan ketenangan yang mematikan. Ia masih mengenakan setelan tuksedo mahalnya, tampak begitu kontras dengan lingkungan kumuh dermaga itu.

​Adrian bertepuk tangan pelan, langkah kakinya di atas aspal yang basah terdengar seperti vonis mati.

​"Debut yang sangat mengesankan, Arunika. Aku memberimu ponsel untuk satu jam, dan kau menggunakannya untuk mencari sampah masa lalu ini?" Adrian tersenyum, namun matanya memancarkan api kemarahan yang belum pernah Arunika lihat sebelumnya.

​"Adrian, ini tidak seperti yang kau lihat..." suara Arunika tercekat di tenggorokan.

​"Diam," potong Adrian dengan suara yang begitu dingin hingga mampu membekukan udara di sekitarnya. Ia menoleh ke arah Rendra. "Rendra, kau benar-benar tidak pernah belajar. Sudah kuberi kau nyawa, dan kau menggunakannya untuk menggoda istriku?"

​Dua orang pengawal berbadan besar muncul dari belakang mobil Adrian. Tanpa aba-aba, mereka menyerang Rendra. Arunika berteriak, mencoba berlari menghalangi, namun Adrian menarik lengannya dengan sentakan yang sangat kuat hingga Arunika jatuh terduduk di aspal.

​"Tonton ini, Sayang. Ini adalah konsekuensi dari pengkhianatan," bisik Adrian sambil mencengkeram rahang Arunika, memaksanya melihat Rendra yang sedang dipukuli secara brutal.

​"HENTIKAN! ADRIAN, AKU MOHON HENTIKAN!" jerit Arunika histeris. Ia mencoba meronta, namun kekuatan Adrian tidak tertandingi.

​Setelah Rendra terkapar bersimbah darah di tanah, Adrian memberi isyarat agar pengawalnya berhenti. Ia berjalan mendekati Rendra yang sudah tidak berdaya, lalu menginjak tangan pria itu dengan sepatu kulitnya yang mengkilap.

​"Ini peringatan terakhirmu, Rendra. Jika aku melihatmu lagi, atau jika kau mencoba menghubungi Arunika lagi... aku akan memastikan Elena 'tidur' selamanya di bawah sana. Kau mengerti?"

​Adrian kemudian berbalik dan menyeret Arunika menuju mobil. Ia melemparkan Arunika ke kursi penumpang dengan kasar. Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada kata-kata yang terucap. Hanya ada suara deru mesin dan isak tangis Arunika yang tertahan.

​Begitu sampai di mansion, Adrian tidak membawanya ke kamar utama. Ia menyeret Arunika menuju ruang kerja bawah tanah yang gelap.

​"Kau melanggar Aturan No. 90: Dilarang berkonspirasi dengan musuh suami," ucap Adrian sambil mengunci pintu ruangan itu.

​Ia menyalakan lampu, dan Arunika tersentak. Di dinding ruangan itu, terdapat monitor raksasa yang menampilkan rekaman GPS dari pergelangan tangan Arunika. Ternyata, jam tangan yang diberikan Adrian pagi tadi memiliki pelacak yang tidak bisa dideteksi.

​"Kau pikir kau pintar, Arunika? Kau pikir kau bisa bermain-main di belakangku?" Adrian mendekat, suaranya kini merendah, penuh dengan kekecewaan yang mendalam. "Aku memberimu cinta, aku memberimu kemewahan, dan kau membalasnya dengan bau busuk dermaga ini?"

​Adrian mengambil sebuah mawar merah dari vas di mejanya, lalu perlahan memetik kelopaknya satu per satu di depan wajah Arunika.

​"Karena kau sangat suka dengan drama pelarian... maka aku akan memberimu panggung yang sesungguhnya. Mulai malam ini, kau tidak akan melihat cahaya matahari lagi sampai aku yakin hatimu sudah benar-benar murni milikku."

​Adrian menekan sebuah tombol, dan sebuah rak buku bergeser, memperlihatkan sebuah ruangan kecil tanpa jendela yang hanya berisi sebuah tempat tidur dan satu kamera yang menyorot tepat ke arah bantal.

​"Selamat datang di tempat barumu, Sayang. Di sini, tidak ada Rendra, tidak ada Ayah, dan tidak ada Elena. Hanya ada aku... dan mataku yang akan menjagamu 24 jam sehari."

​Arunika jatuh berlutut, menatap pintu baja yang perlahan tertutup. Ia baru saja masuk ke dalam inti dari kegilaan Adrian. Dan di luar sana, Rendra mungkin sudah tewas, atau lebih buruk lagi, menjadi alasan bagi Adrian untuk melenyapkan Elena.

​"Tolong... jangan..." bisik Arunika lirih saat lampu ruangan itu padam, menyisakan hanya titik merah kecil dari kamera yang terus berkedip, seolah menertawakan kehancurannya.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Mita Paramita
Thor nih episode ny salah up BKN arunika??
Leebit: makasih atas koreksinya. sekali saya sebagai penulis minta maaf. seharusnya bab tersebut di novel "TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT" tapi saya upload ke novel.. saya mohon maaf atas kekeliruan sya🙏🙏🙏
total 1 replies
Mita Paramita
Thor mau tamat ya...sih Adrian udh nyerah gtu . semogaa aja arunika bisa bebas👍
Mita Paramita
Thor ..sekedar saran jangan bikin arunika berakhir seperti elena, dan Adrian mesti ketangkap polisi biar arunika bebas 🙂 jadinya happy ending 🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!