NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: PERJAMUAN DI SEKTOR 7

​Selasa pagi tiba dengan suasana yang ganjil. Tidak ada amarah yang meledak dari Adrian setelah kejadian di perpustakaan rahasia semalam. Sebaliknya, pria itu tampil sangat rapi, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung hingga siku, seolah-olah hari ini adalah hari perayaan yang sangat penting.

​"Pakai ini," ucap Adrian sambil meletakkan sebuah kotak beludru di atas tempat tidur.

​Arunika membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah gaun sutra berwarna biru pucat, persis seperti yang digambarkan Elena dalam buku hariannya. Gaun itu indah, namun bagi Arunika, itu terasa seperti kain kafan yang dipesan khusus.

​"Aku tidak ingin memakai gaun ini," bisik Arunika.

​Adrian yang sedang memasang jam tangan mewahnya berhenti sejenak. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Arunika, dan menatap pantulan mereka di cermin. "Elena selalu terlihat cantik dengan warna ini. Dan kau... kau akan terlihat jauh lebih sempurna. Jangan merusak suasana pagi ini, Sayang. Aturan No. 1: Kepatuhan adalah kecantikan sejati seorang istri."

​Arunika tidak punya pilihan. Dengan bantuan Sandra yang bungkam seribu bahasa—wajah sekretaris itu tampak pucat dan matanya bengkak, tanda bahwa dia telah menerima "hukuman" yang disebutkan Adrian semalam—Arunika mengenakan gaun itu.

​Setelah siap, Adrian menggandeng tangannya menuju bagian paling belakang mansion, melewati dapur dan area pelayan, menuju sebuah lift barang tua yang tersembunyi di balik dinding dapur yang dilapisi ubin porselen.

​Lift itu bergerak turun. Jauh lebih dalam daripada perpustakaan rahasia semalam. Saat pintu lift terbuka, aroma antiseptik yang tajam bercampur dengan bau pengap tanah menyeruak masuk.

​"Selamat datang di Sektor 7," ujar Adrian dengan nada bangga.

​Tempat itu menyerupai laboratorium medis bawah tanah. Dindingnya putih bersih, namun pencahayaannya remang-remang kebiruan. Di sepanjang koridor, terdapat lemari-lemari kaca besar yang terkunci. Arunika memberanikan diri melirik ke dalam salah satu lemari itu.

​Ia hampir berteriak.

​Di dalam lemari kaca itu terdapat gaun-gaun, sepatu, bahkan potongan rambut yang disusun rapi seperti artefak museum. Dan di bawah setiap barang, terdapat label nama: Isabella (1995), Clara (2002), Elena (2015).

​"Mereka bukan hanya istri, Arunika. Mereka adalah fase," Adrian menjelaskan sambil terus berjalan. "Setiap dari mereka memiliki cacat. Isabella terlalu lemah, Clara terlalu rakus, dan Elena... Elena terlalu penasaran. Aku harus membuang bagian yang rusak dari mereka agar bisa menciptakan versi yang lebih baik. Dan versi itu adalah kau."

​Langkah mereka terhenti di sebuah ruangan besar yang memiliki satu meja makan bundar di tengahnya. Di atas meja itu sudah tersaji dua piring steak yang tampak masih merah dan berair.

​"Hari Selasa adalah hari perjamuan," kata Adrian sambil menarikkan kursi untuk Arunika. "Daging ini khusus. Diambil dari peternakan yang kuelola sendiri, di mana hewan-hewannya hanya diberi makan nutrisi murni tanpa rasa takut. Jika kau memakannya, kau akan merasakan ketenangan yang belum pernah kau rasakan sebelumnya."

​Arunika menatap daging itu dengan rasa mual. Ia teringat tulisan Elena: Jangan makan apa yang dia berikan di hari Selasa.

​"Aku tidak lapar, Adrian. Tolong, bawa aku kembali ke atas," mohon Arunika.

​Wajah Adrian mendadak berubah. Ketenangannya menguap, digantikan oleh tatapan mata yang dingin dan tajam seperti pisau bedah. "Kau menolak pemberianku? Setelah semua yang kulakukan untuk melindungimu dari dunia luar yang kotor?"

​Adrian mengambil garpu dan memotong sepotong kecil daging itu. Ia berdiri dan berjalan ke arah Arunika. "Buka mulutmu."

​"Tidak..."

​Adrian mencengkeram rahang Arunika dengan satu tangan, memaksa mulutnya terbuka dengan kekuatan yang menyakitkan. Ia menyuapkan daging itu secara paksa. "Telan, Arunika. Jangan buat aku harus menggunakan cara yang lebih kasar."

​Arunika terpaksa mengunyah. Rasanya aneh—manis namun amis di saat yang bersamaan. Saat daging itu melewati kerongkongannya, ia merasa kepalanya mendadak ringan. Pandangannya mulai sedikit kabur, dan rasa takut yang tadinya memuncak perlahan-lahan mulai tumpul, digantikan oleh perasaan mati rasa yang asing.

​"Pintar," puji Adrian sambil mengusap bibir Arunika dengan ibu jarinya. "Daging ini mengandung enzim yang menekan aktivitas amygdala—pusat ketakutan di otakmu. Aku ingin kau berhenti menjadi penakut. Aku ingin kau menjadi tenang, seperti boneka yang sempurna."

​Arunika mencoba berdiri, namun kakinya terasa lemas. Ia bersandar pada meja, menatap Adrian yang kini tampak seperti sosok raksasa di matanya.

​"Kau... kau mencampuri makananku dengan obat?" gumam Arunika, suaranya terdengar jauh.

​"Aku memperbaiki sistemmu, Arunika. Aku sedang membantumu untuk mencapai potensi maksimalmu sebagai pendampingku," Adrian membawa Arunika menuju bagian ujung ruangan, di mana terdapat sebuah tirai hitam besar.

​Dengan satu gerakan, Adrian menyibak tirai itu.

​Di balik kaca tebal, terdapat sebuah ruangan kecil yang diatur persis seperti kamar tidur mereka di atas. Di atas ranjang itu, duduk seorang wanita yang mengenakan gaun yang sama dengan Arunika. Wanita itu diam, menatap dinding dengan mata yang kosong dan tidak berkedip. Kulitnya pucat seperti porselen, dan rambutnya sangat panjang.

​Arunika merasa jantungnya berhenti berdetak. Itu Elena.

​"Dia masih hidup?" bisik Arunika, suaranya pecah.

​"Secara biologis, ya," jawab Adrian tanpa emosi. "Tapi jiwanya sudah kuhapus. Dia menolak untuk patuh, jadi aku menghilangkan bagian dari otaknya yang membuatnya bisa melawan. Dia sekarang adalah murni fungsi tubuh tanpa ego. Koleksiku yang paling tenang."

​Elena di balik kaca itu perlahan menoleh ke arah mereka. Matanya bertemu dengan mata Arunika. Tidak ada pengenalan, tidak ada rasa sakit, hanya kekosongan hitam yang dalam.

​"Inilah Sektor 7, Arunika. Tempat bagi mereka yang tidak bisa menjaga lisannya, tempat bagi mereka yang mencoba lari," Adrian memeluk Arunika dari belakang, membisikkan kata-kata itu tepat di telinganya. "Jika kau terus mencoba menghubungkan Ayahmu atau Rendra dengan duniamu yang sekarang, kau akan duduk di samping Elena. Menjadi cermin yang tidak pernah bicara."

​Rasa pusing di kepala Arunika semakin hebat. Efek dari daging itu mulai menguasai seluruh syarafnya. Ia ingin berteriak, ia ingin memukul Adrian, tapi otot-ototnya menolak untuk bergerak. Ia merasa jiwanya perlahan-lahan mulai tenggelam ke dalam kolam air yang gelap dan sunyi.

​Adrian mencium lehernya, sebuah kecupan yang terasa seperti gigitan predator. "Sekarang kau sudah tahu rahasia terbesarku. Tidak ada lagi rahasia di antara kita. Kau adalah bagian dari Sektor 7 sekarang, Arunika. Milikku seutuhnya."

​Arunika menatap bayangan dirinya di kaca ruangan Elena. Di bawah pengaruh obat itu, ia merasa seolah-olah dirinya dan Elena adalah orang yang sama. Dua jiwa yang terperangkap dalam sangkar yang berbeda, menunggu untuk dihapuskan oleh tangan pria yang sama.

​Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Arunika melihat Sandra berdiri di sudut ruangan, menatapnya dengan tatapan yang sangat aneh—sebuah kombinasi antara rasa kasihan dan peringatan yang terlambat.

​Dunia menjadi gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!