NovelToon NovelToon
Kelas Paus

Kelas Paus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chika cha

Cover by me.

Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.

Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...

Kadewa..

Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.

Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.

Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebelum Arah Ditemukan

“Ndu, panggil Masmu. Makan malamnya udah siap,” ujar Mbak Nasya dari arah dapur.

Kadewa yang duduk di karpet ruang tengah mengangguk kecil. Di hadapannya, Yasa—bayi enam bulan itu terbaring tengkurap di atas matras empuk, sibuk menendang-nendang udara sambil mengoceh pelan, entah pada mainan yang berbunyi di tangannya atau pada Kadewa yang terus mengajaknya bicara.

“Iya, Mbak,” jawab Kadewa pelan.

Ia mencondongkan badan, menggoyang-goyangkan boneka kecil di depan wajah Yasa. Bayi itu tertawa tanpa suara, mulutnya terbuka lebar, matanya menyipit senang.

“Nanti Om balik lagi, ya,” bisik Kadewa sambil menyentuh pipi Yasa pelan. “Jangan nangis.”

Yasa membalasnya dengan ocehan tak jelas, seolah setuju.

Kadewa lalu bangkit, melangkah ke ruang tamu. Di sana, Mas Argan duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuannya. Layar menyala menampilkan deretan data dan peta udara, jemarinya bergerak pelan di atas papan ketik, wajahnya fokus, alisnya sedikit berkerut, wajah seorang pilot tempur yang bahkan di rumah pun tetap membawa dunianya sendiri.

“Mas,” panggil Kadewa sambil berhenti di ambang ruang tamu.

Mas Argan mengangkat pandangan. “Hm?”

“Makan malam udah siap,” kata Kadewa. “Mbak Nasya nyuruh manggil.”

Mas Argan menutup laptopnya perlahan, menghela napas singkat, lalu berdiri. “Oke.”

Ia menghampiri Yasa yang tergeletak tengkurap di atas matras, kakinya menendang-nendang kecil, mulutnya mengoceh tanpa henti. Mas Argan pun berjongkok, menepuk lembut punggung putranya itu sebelum mengangkatnya dengan satu gerakan yang sudah terlatih.

“Yuk,” gumamnya pelan. “Makan sama Papa. Asa udah laper juga kan?”

Yasa menyahut dengan ocehan riang, tangannya mencengkeram kerah kaus papanya.

Mas Argan melangkah menuju ruang makan dengan Yasa dalam gendongan, sementara Kadewa mengikuti dari belakang, memandang pemandangan itu dengan perasaan yang entah sejak kapan terasa begitu hangat.

Tampak Mbak Nasya sudah menata meja makan sederhana itu dengan rapi, nasi hangat mengepul, semangkuk sayur bening, ikan goreng, dan sambal di piring kecil. Tidak mewah, tapi tampak lengkap. Hangat. Benar-benar seperti rumah sungguhan.

Ia jadi teringat dengan rumah Pram, tidak jauh berbeda dengan rumah kakaknya kini.

“Nasinya masih panas,” ujar Mbak Nasya sambil melirik Yasa di gendongan papanya. “Yasa juga tadi sempat rewel, mungkin lapar.” Ia mendekat sedikit, mengulurkan tangan. “Sini, Mas. Biar Yasa, Adek susuin dulu.”

Kadewa memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Bagaimana Mbak Nasya—kakaknya, yang dulu tumbuh sebagai anak crazy rich Surabaya, terbiasa dengan rumah besar, kemewahan, dan hidup yang serba dilayani, kini berdiri tenang di rumah dinas sederhana, mengurus suami dan anaknya dengan penuh ketelatenan.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada sisa jarak dengan hidup yang pernah ia tinggalkan.

Seolah semua kemewahan itu memang hanya persinggahan, bukan sesuatu yang harus ia genggam selamanya.

“Kamu makan duluan sama Mas Argan, Dek,” ujar Mbak Nasya lembut saat ia melangkah pergi dari area dapur, menuju kamar untuk menyusui putranya.

Kadewa hanya mengangguk pelan.

Lalu ia dan Mas Argan kemudian mulai menyantap makanan yang tersaji di meja. Tidak ada percakapan yang terburu-buru. Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring, pelan, mengisi ruang makan dengan keheningan yang justru terasa nyaman.

Dan begitu sampai di suapan terkahir, Mbak Nasya kembali, kali ini tanpa Yasa.

"Yasa mana?" Tanya Mas Argan pada istrinya begitu ia selesai meneguk air minum di gelasnya.

"Tidur, Mas."

Mas Argan tampak mengangguk.

Lalu Mbak Nasya menarik salah satu kursi di antara mas Argan dan Kadewa. Mulai mengambil nasi serta lauk pauk dan ia pindahkan ke piringnya.

Beberapa detik hening berlalu sebelum akhirnya Nasya bersuara, nadanya rendah, hampir datar.

“Mas Panji sama Nessa tadi nelepon Mbak,” katanya. “Sambil nangis… dan marah-marah.”

Ia berhenti sejenak, menatap Kadewa dengan sorot mata yang tidak menghakimi, hanya lelah dan ke khawatiran.

“Kamu nekat banget, Ndu,” lanjutnya lirih. “Pergi tanpa kabar, ninggalin semuanya. Mas Panji sampai kelimpungan nyari kamu ke mana-mana.”

Kadewa menunduk. Ia meremas pelan gelas yang ia pegang Saat mendengar apa yang di katakan kakak keduanya itu.

Mas Argan juga sampai ikut terdiam. Tapi ia tidak menyela, hanya melirik sekilas ke arah Kadewa, memberi ruang bagi adik iparnya itu untuk berbicara.

“Mas Panji marah itu wajar,” sambung Nasya lebih pelan. “Dia cuma takut, Ndu. Takut kehilangan kamu. Takut kamu kenapa-kenapa… karena buat dia, kamu bukan cuma adik. Kamu satu-satunya rekan yang dia punya buat nerusin semua yang Ayah tinggalin.”

Nasya menghela napas kecil.

“Caranya memang keras,” katanya pelan. “Tapi di balik itu, Mas Panji cuma lagi berusaha jaga kamu dengan caranya sendiri.”

Kadewa masih menunduk. Kata-kata Mbak Nasya menggantung di udara, berat, tapi itu benar. Ia menelan ludah, berusaha merapikan sesuatu yang berdesakan di dadanya, rasa bersalah, lelah, juga rindu yang tak sempat ia akui.

“Aku tahu, Mbak,” ucapnya akhirnya. Suaranya rendah. “Aku ngerti kenapa Mas Panji kayak gitu.”

Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap meja, bukan Nasya. “Justru karena aku ngerti… makanya aku makin capek.”

Mbak Nasya tidak menyela. Mas Argan pun tetap diam.

“Sejak Ayah meninggal, Mas Panji yang ambil alih semuanya,” lanjut Kadewa pelan. “Dia yang berdiri paling depan, nanggung semua beban itu sendirian.” Napasnya tertahan sesaat. “Tapi bukan berarti karena dia yang bertanggung jawab, dia juga berhak ngambil hidupku, Mbak.”

Jemarinya mengepal tipis di atas meja, seolah menahan sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam.

“Aku selama ini nurut,” sambungnya lirih. “Disuruh ikut bimbel ini, les itu. Disuruh ke sana, ke sini. Semua aku jalanin tanpa banyak tanya.” Senyum kecil yang pahit tersungging di sudut bibirnya. “Tapi semua itu bukan karena aku mau… tapi karena aku males ribut, males berantem sama Mas Panji.”

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Aku cuma pengin sekali aja, Mbak,” katanya pelan tapi tegas. “Keputusan itu datang dari aku sendiri. Bukan dari Mas Panji. Bukan dari bayangan Ayah. Cuma… dari diri aku sendiri.”

“Terus kamu mau apa, Ndu?” tanya Mbak Nasya pelan. “Kamu mau jadi apa?”

Kadewa terdiam.

Pertanyaan itu menggantung di udara, sederhana tapi berat. Bahkan sampai detik ini pun, ia tak punya jawabannya. Setiap kali pertanyaan itu datang, kepalanya selalu kosong, bukan karena malas berpikir, tapi karena memang belum menemukan satu pun yang benar-benar bisa ia sebut pilihannya.

Kepalanya samakin menunduk dalam.

Lalu helaan napas terdengar pelan dari arah Mas Argan. Sejak tadi pria itu memilih diam, membiarkan percakapan mengalir antara kakak-beradik itu. Kini ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap Kadewa dengan sorot yang berbeda, bukan menghakimi, melainkan mengerti.

“Udah, Dek,” ucap Mas Argan akhirnya pada istrinya, suaranya rendah tapi tegas dengan caranya sendiri. “Nggak semua orang harus langsung tahu mau jadi apa.”

“Tapi, Mas—” Mbak Nasya hendak menyela.

Mas Argan menggeleng pelan, memotong ucapan istrinya. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya, senyum penuh pengertian, seolah ingin membuat Nasya ikut memahami keadaan Kadewa saat ini. Dan itu berhasil, helaan nafas pasrah terdengar keluar dari mulut Mbak Nasya.

Mas Argan kembali menoleh pada Kadewa.

“Kurang dari dua minggu lagi kamu ujian nasional, kan, Ndu?” tanyanya ringan.

Kadewa mengangguk pelan.

“Pumpung masih di sini,” lanjut Mas Argan, “coba jalan-jalan sebentar. Nggak usah mikir berat-berat dulu.”

Ia tersenyum tipis. “Laut Natuna itu cantik. Siapa tahu bisa nenangin isi kepala kamu.”

Kadewa tidak langsung menjawab. Namun kepalanya yang sejak tadi tertunduk kini terangkat. Matanya menatap wajah kakak iparnya itu, pria yang dikenal dingin, kaku, bahkan lebih sulit ditebak daripada Mas Panji.

Tapi untuk pertama kalinya, Kadewa melihat sisi lain dari Mas Argan.

Bukan tuntutan.

Bukan arahan.

Hanya pengertian.

Dan itu membuat simpul di dadanya yang selama ini tertarik terlalu kencang perlahan mulai mengendur.

Kata-kata yang seperti mas Argan ucapakanlah yang di butuhkan Kadewa saat ini.

"Iya, Mas," Senyum Kadewa pun akhirnya muncul perlahan.

Mbak Nasya memperhatikan wajah adiknya, lalu berpindah menatap suaminya. Ada raut ragu di sana, bercampur khawatir.

Dan kembali Mbak Nasya menghela napas pelan, lalu meraih gelas minumnya. Jemarinya melingkar di sana lebih lama dari perlu, seolah menimbang sesuatu di kepalanya.

“Ya udah,” katanya akhirnya, nadanya lebih lembut dari sebelumnya. “Mbak cuma takut kamu makin lari, Ndu. Bukan pergi sebentar buat nenangin diri… tapi beneran menjauh.”

Kadewa menunduk lagi, kali ini bukan karena tertekan, melainkan karena merasa bersalah. “Aku nggak berniat kabur selamanya, Mbak,” ucapnya lirih. “Aku cuma… butuh bernapas.”

Mas Argan menimpali tenang, “Semua orang butuh itu. Kalau terus dipaksa jalan tanpa tahu arahnya, yang ada malah jatuh.”

Ia bangkit dari kursinya, menggeser piring ke wastafel. “Besok saya mau ke Lanal," lanjutnya tanpa menoleh.

“Kalau kamu mau, ikut aja. Di sana ada pantai tersembunyi,” sambung Mas Argan sambil mencuci kedua tangannya menggunakan sabun. “Bagus. Sepi. Cocok buat orang yang lagi butuh menengakan diri.”

Kadewa mendongak, matanya menyiratkan keterkejutan kecil. “Emang boleh, Mas?”

Mas Argan mengangguk singkat. “Besok saya minta izin langsung ke Danlanal nya. Orang sipil boleh masuk, asal ada izin.”

Ia menoleh sekilas ke arah Kadewa. “Anggap aja bonus. Sekalian lihat laut tanpa tuntutan apa-apa.”

Seulas senyum terbit di wajah Kadewa. Bukan senyum lebar, tapi cukup untuk membuat udara di area dapur itu terasa lebih ringan.

Mbak Nasya menatap keduanya, lalu tersenyum tipis. “Ya udah. Tapi janji satu, Ndu.”

Kadewa menoleh. “Apa, Mbak?”

“Kalau pikiran kamu udah agak jernih,” ucap Nasya pelan, “kamu balik ke Surabaya. Entah kamu mau jadi apa. Sekolahmu harus selesai dulu karena itu yang paling penting disini. Jangan kabur begini."

Kadewa mengangguk. Kali ini lebih mantap.

“Iya, Mbak. Aku janji.”

Di kamar sebelah, terdengar suara Yasa menggeliat kecil, lalu kembali hening. Malam di Natuna berjalan pelan. Di luar, angin laut menyusup melalui celah jendela, membawa aroma asin yang lembut.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kadewa merasa… tidak dikejar apa pun.

Dan mungkin, di tempat sejauh ini dari Surabaya, dari tuntutan, dari nama besar keluarganya, ia bisa memberi dirinya sendiri waktu untuk benar-benar mencari arah.

1
Yani Sri
kopi untukmu kakak....
Lili Susanti
nyambung banget syg.....senyum2 sendiri dr awal sampai akhir baca nya ....yg rajin update ya..ku ksh gift nuch 😍
Niken Dwi Handayani
masih nyambung kok ...ini malahan lagi masa pdkt mas Paus 🤭🤭. Belum masuk yang tegang-tegang nich cerita nya
syora
cukup fokus ke si paus sm plakton
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
syora
nyambung
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣
mey
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Esti 523
aq vote 1 ya ka syemangaddd
Esti 523
bagus bgt ceritanya,gak typo2
Esti 523
sekian purnama baru ketemu lg dgn novel yg reel bgt,gak typo2 good luc otor,syemangst
Chika cha: ada typo juga kak, tapi sebelum upload di cek dulu baru upload itu pun masih ada satu dua yang gak keliatan🤭
total 1 replies
kalea rizuky
jangan murahan re di gombalin gt aja km. uda basah yo heran deh jual. mahal donk di sakitin berkali kali. kok ttep oon meski dia g tau perasaan mu tp. dia penjahat kelamin
kalea rizuky
murahan
kalea rizuky
ini cerita nya emank bertele tele kah dr SMP dih lama amat thor
kalea rizuky
layu sebelum berkembang ya rea hiksss
kalea rizuky
sabar rea moga nanti ada cogan yg baik setia ya.. lupain cinta pertama yg jatuh pd orang yg salah
kalea rizuky
kok lucu gmbarnya
Nia nurhayati
dasar paus raja goombll kmu kadewaa
Ghiffari Zaka
di bab ini AQ benar2 gak bs kan men Thor,gak bs ngomong apa2 lagi,blenk AQ Thor karena fokus dan menghayati kata demi kata yg author tulis sehingga AQ merasa kayak bukan baca tp melihat suatu adegan di depan mata,sepertinya AQ ada di dlm situ buat nonton live,pokoknya cuman bisa bilang LUAR BIASA 👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
Chalimah Kuchiki
hayooo lohh... mas kadewa terpojok 🤭
Chalimah Kuchiki
sweeett bgt sih, aku aja loh belum pernah di bukain botol minum sama suami 😭.
Chalimah Kuchiki
wkwkwkwkw mantappp bgt gombalan nyaa🤭😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!