Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 : Selain kenangan
Dwipangga menghela napas pelan selayaknya manusia normal. Sorot matanya meneduh, tak sedikitpun tersinggung oleh pertanyaan lebih ke tuduhan itu. “Selain kenangan, tak ada yang saya bawa ke masa ini. Semua telah terputus semenjak kepergian mereka. Namun setiap momen kebersamaan kami, abadi dalam sanubari.”
Mendengar pernyataan gamblang itu, perasaan Ainur langsung lega, sedetik kemudian dia merasa bersalah. Tak seharusnya mengungkit masa silam yang sudah pasti menyakitkan teruntuk seseorang kehilangan istri sekaligus anak yang belum sempat terlahir, dengan cara sadis.
“Maaf,” ucapnya lirih, sorot mata menyesali.
"Tidak apa-apa. Jujur, jauh sebelum kita menikah – aku sudah dapat menerima kalau jodoh dengan adinda Ganita tidak sampai kami sama-sama menua,” ungkapnya berlapang dada.
‘Jadi namanya Ganita, dan dipanggil adinda. Apa dulu sebutan sepasang suami istri itu kakanda dan adinda? Panggilan yang manis sekaligus romantis untuk menunjukkan keharmonisan serta saling menyayangi,’ batin Ainur menerka, sedikitpun tidak ada rasa aneh selain mengagumi.
“Berarti ini anak …?” pertanyaannya menggantung.
“Anak kita, hasil dari ….” ia sengaja menggoda, dan senang melihat pipi istrinya mulai merona.
“Kenapa?” Alisnya naik turun, lewat cermin bisa melihat ekspresi gugup Ainur.
“Ndak apa-apa.” Ainur menunduk, mengelus sedikit tergesa-gesa bagian perutnya.
“Hem … aku ada nanya ke Kinasih tentang kenapa dia bisa bebas masuk kesini, tapi tidak di hunian Tukiran. Katanya, garwa punya jawabannya,” suaranya seperti bunyi anak burung, mencicit.
“Di rumah keluarga Tukiran, ada kamu – wanita yang mereka jaga layaknya mutiara bukan dikarenakan kasih, melainkan sebuah ambisi jahat. Ki Ageng memasang banyak mantra pelindung. Kinasih bisa menembusnya – namun jika dia lakukan, dapat memicu perseteruan tanpa alasan kuat. Yang mana, antara alam manusia dan halus, sudah memiliki batasan jelas, tidak boleh saling melanggar,” jelasnya pelan-pelan.
"Oleh karena itu kehamilanku layaknya jembatan penghubung, sebuah umpan, benarkah?” mimik wajah Ainur keruh, dia mulai paham arah serta rencana besar ini.
“Istriku mulai pintar. Begitu ki Ageng tahu jika kamu hamil, dia akan melakukan hal apapun demi mengambil janinmu. Pada saat itulah saatnya penghakiman tiba. Sebagai pemimpin jutaan orang, aku ndak bisa gegabah mempertaruhkan rakyat tidak bersalah. Semua harus dipertimbangkan, agar tepat sasaran.” Ibu jarinya mengelus pipi Ainur.
"Dengan kata lain, anak ini pancingan supaya ki Ageng melakukan kesalahan fatal?” ia cemas.
Dwipangga mendekap Ainur, menenangkannya. “Jangan risau, dia dan para saudaranya serta dirimu akan baik-baik saja. Kita butuh alasan untuk menyerang, agar terhindar dari hukuman alam semesta.”
“Garwa … aku mohon, sungguh meminta tolong, jaga mereka. Aku ndak akan sanggup bila harus merasakan lagi kehilangan untuk sekian kalinya,” pintanya seraya menahan tangis.
Ainur membalas pelukan lembut itu. Perasaannya mulai turun naik, rasa yang sama seperti saat dirinya mengandung putra-putrinya.
“Pasti Diajeng.”
Ada sesuatu mengganjal dalam hatinya, hal penting yang dia sendiri takut mendengar jawabannya. “Apa ketiga bayiku nanti, membawa gen dia?”
Dwipangga mengerti kemana arah pembicaraan ini, dan paham siapa yang dimaksud dengan Dia. Tanpa melerai pelukan, ia usap- usap punggung terasa tulang rusuk melengkungnya.
“Mereka menuruni gen biyungnya, adapun miliknya, tak lebih dari lima persen. Tergantung bagaimana nanti kita mendidik, memberi pemahaman tentang hukum sebab akibat, menanamkan nilai-nilai kehidupan, memperjelas batas salah dan benar.”
“Diajeng … setiap anak yang terlahir itu dalam keadaan suci. Tugas kita sebagai orang tua, tetap menjaganya agar tidak terkotori oleh aura jahat, kelicikan, serta kebusukan para sosok tak bertanggung jawab.” Dwipa memundurkan tubuhnya.
“Tak perlu khawatir. Ritual pujon bayi yang nanti dilakukan – memerlukan persembahan darahku, sehingga ada bagian Raden Dwipangga melekat pada anak-anak kita.”
Sejenak Ainur memejamkan mata, lalu membukanya kembali. “Terima kasih.”
“Apa cuma itu bentuk dari wujud rasa terima kasih itu, Diajeng Ainur?”
Ainur langsung menunduk, malu mau menatap balik.
“Diajeng, kurang sopan berbicara dengan suami sendiri tapi netranya enggan di tatap,” Dwipangga mengulum senyum.
Ainur mengelak, ia peluk perutnya. “Aku ingin menikmati peran baru ini, calon ibu. Walaupun sebelumnya meyakini kalau lagi hamil, tapi semua orang menyangkal, mengatakan jika aku berhalusinasi. Sekarang ada Garwa Jaler yang percaya, sehingga diri ini ndak merasa seperti orang kehilangan akal.”
Rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya, ia selipkan ke belakang telinga. Dagu oval itu diangkat menggunakan ibu jari, lalu ditahan agar Ainur mau memandangnya. “Diajeng … bersandar lah padaku. Meskipun masa depan belum pasti, masa sekarang yang sedang kita jalani – suamimu ini akan mempersembahkan dunia beserta isinya.”
Seperti yang dia duga, ekspresi Ainur tidak menunjukkan reaksi berlebihan, seolah sudah kenyang dihujani kata-kata manis. “Perlahan-lahan, kamu dapat merasakan, membedakan, menilai, serta mengenal apa itu ketulusan, kemurnian perasaan tanpa dicampur dengan kepalsuan.”
“Semoga saja,” katanya lirih, memilih menoleh ke arah lain kendatipun kini duduk berhadap-hadapan dengan suaminya.
“Kalau boleh tahu, usia garwa jaler, berapa?” ia memilih pertanyaan salah disaat berkeinginan mencairkan suasana sempat canggung.
“Yakin mau tahu umurku?” tanyanya jenaka.
Ainur menggeleng kuat, tapi batinnya tengah menebak sambil berhitung. ‘Kejadian naas itu sudah dua puluh tujuh tahun lalu, bisa jadi kala dulu umur Dwipangga sekitar tiga puluhan tahun. Jadi sekarang berapa usianya?’
Ainur asik dengan pemikirannya sendiri. ‘Tadi katanya satu hari di alam gaib, sepekan di dunia manusia, terus berapa umur aslinya?’
“Jangan dipikirkan.” Ibu jarinya mengusap-usap kerutan dahi sang istri. “Nanti kamu bisa-bisa pingsan kalau mengetahui faktanya.”
‘Memang lebih baik seperti itu,” ia menyerah, tidak sanggup lagi berhitung.
"Pura-pura tertidur lah. Seseorang ingin masuk ke kamar ini – membakar aroma terapi yang mengandung racun melemahkan daya tahan tubuhmu,” hilang sudah raut tenang, berganti dengan rahang mengeras.
“Terus aku harus bagaimana, garwa? Bayiku, anak kita _”
Husst.
Dwipangga membungkam bibir Ainur dengan ciuman lembut, sedikit menuntut. Lalu berbisik lirih. “Sepertinya Diajeng lupa jika darahku yang mengalir di nadimu – penangkal racun. Perlahan-lahan memperbaiki imun tubuh dan juga membunuh racun terlanjur menggerogoti kesehatanmu.”
Ainur terdiam, pun saat badannya direbahkan – ia otomatis memejamkan mata.
Daun pintu dibuka dari luar menggunakan kunci cadangan – Warti membawa lepek dan obat nyamuk lingkar yang sudah dicelupkan terlebih dahulu ke dalam rendaman tumbuhan meracun, lalu dijemur lagi.
“Dasar kebo, hidup cuma untuk makan tidur saja,” hinanya, kala melihat Ainur terlelap. Tidak ada siapa-siapa selain anak tirinya.
Bu Warti menyalakan obat nyamuk, diletakkan dibawa ranjang Ainur, lalu cepat-cepat keluar dikarenakan tidak tahan akan baunya.
Begitu pintu ditutup lagi – racun berbentuk lingkaran itu langsung padam dengan sendirinya.
Ainur pun terbangun, melihat ke kanan dan kiri – tidak ada sosok Dwipangga.
"Saya kembali dulu ke desa Alas Purwo, Diajeng. Secepatnya kesini lagi,” wujudnya tak ada, tapi suaranya terdengar jelas.
“Ya.” Ainur mengangguk.
“Aku tak sabar menunggu malam tiba – giliran kalian yang mulai panen buah busuk!”
.
.
Bersambung.
bukan hukum rimba yg terjadi di alas purwo tapi karma datang menjemput kalian Krn dosa2 kalian sendiri
.
...Smua dpt giliran dan tdk boleh ada yg selamat