Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 (twelve)
Langit Sukamaju masih gelap saat Ratna Sari dan Teguh tiba kembali di bunker persembunyian Hendra. Hujan telah berhenti, namun sisa kelembapan menciptakan kabut tebal yang menyelimuti hutan. Di dalam bunker, suasana terasa sangat berbeda dari sebelumnya; tidak ada lagi kepanikan, melainkan ketenangan yang mencekam ketenangan para pemburu yang sedang mengatur siasat.
Hendra menyambut mereka dengan wajah yang tidak menunjukkan emosi sama sekali. Matanya yang tajam langsung tertuju pada kepingan logam 'S' yang diletakkan Ratna di atas meja peta.
"Dari mana kau dapat ini?" tanya Hendra, suaranya parau. Ia mengambil kepingan itu menggunakan penjepit, memperhatikannya di bawah lampu meja yang terang.
"Dikirim ke rumah Mbah Mansur saat acara ulang tahun Laras," jawab Ratna. Ia melepaskan jaketnya yang lembap. "Si pengirim ingin aku tahu bahwa dia bisa menyentuh keluarga itu kapan saja dia mau. Dan dia memberiku koordinat baru."
Teguh meletakkan foto satelit itu di samping kepingan logam. "Itu wilayah perkebunan sawit milik Agro Santara Group, di perbatasan provinsi. Secara hukum, itu wilayah yang sangat sulit ditembus karena mereka punya pasukan pengamanan sendiri yang semi militer."
Hendra mendengus sinis. "Agro-Santara bukan sekadar perusahaan sawit. Mereka adalah payung besar. PT. Silva Maju milik Surya Atmadja hanyalah salah satu anak perusahaan kecil yang mereka gunakan untuk 'mencuci' lahan. Jika 'S' yang sebenarnya ada di sana, berarti kita sedang berurusan dengan raksasa."
Ratna mendekat ke layar laptop Hendra. "Hendra, coba periksa kepingan perak ini. Ada sesuatu yang aneh dengan lekukannya."
Hendra memasukkan kepingan itu ke dalam alat pemindai digital. Tak butuh waktu lama bagi perangkat itu untuk menampilkan struktur mikroskopis dari logam tersebut. Di layar muncul barisan angka dan huruf yang sangat kecil, terukir di pinggiran logam yang tajam.
"Ini bukan sekadar simbol," bisik Hendra. "Ini adalah kunci enkripsi fisik. Jika kau menempelkan logam ini pada alat pembaca yang tepat, kau bisa mengakses server komunikasi mereka yang paling rahasia. Si pengirim tidak hanya memberimu tantangan, Ratna. Dia memberimu undangan."
Teguh mengerutkan kening. "Undangan untuk apa? Menuju jebakan maut?"
"Atau untuk menghancurkan mereka dari dalam," sahut Ratna pelan. Matanya menatap tajam ke arah peta. "Siapa pun yang mengirim ini apakah itu Saras atau pihak lain yang ingin menjatuhkan Surya Atmadja dia tahu aku tidak akan bisa duduk diam sementara Mbah Mansur dalam bahaya."
Percakapan di bunker berlanjut hingga fajar menyingsing. Mereka menyusun rencana untuk melakukan pengintaian di area Agro Santara. Namun, masalah baru muncul. Berita di televisi mulai menyiarkan narasi yang berbeda tentang kejadian di Situs S.K.-1 semalam.
"...Pihak kepolisian menyatakan bahwa kebakaran di pabrik kayu Silva Maju adalah murni akibat sabotase oleh oknum desertir polisi berinisial R.S. dan T. Bukti-bukti yang dikirim ke publik sedang dalam tahap penyelidikan karena diduga mengandung manipulasi digital..."
Teguh membanting gelas plastiknya ke lantai. "Bajingan! Mereka sudah mulai memutarbalikkan fakta! Mereka bilang manifest itu palsu!"
"Tenang, Teguh," ujar Ratna, meski rahangnya mengeras. "Itu sudah bisa ditebak. Selama sistem induknya belum tumbang, mereka akan terus mematikan karakter kita di mata publik. Itulah sebabnya kita harus mendapatkan bukti yang lebih dari sekadar dokumen digital. Kita butuh bukti biologis atau saksi hidup dari level atas."
"Kalau begitu, kita butuh identitas baru," kata Hendra. Ia menarik sebuah laci besi dan mengeluarkan dua buah kartu identitas yang tampak sangat asli. "Kalian berdua akan masuk ke area Agro Santara sebagai pengawas lingkungan dari firma audit swasta. Aku sudah meretas sistem kepegawaian mereka. Nama kalian sudah terdaftar sebagai tim inspeksi yang dikirim dari pusat."
Ratna mengambil kartu identitasnya. Namanya kini tertulis: Maya. Dan Teguh menjadi Eko.
"Berapa lama waktu yang kita punya?" tanya Ratna.
"Hanya tiga hari sebelum mereka menyadari bahwa firma audit itu tidak pernah mengirim siapa pun" jawab Hendra. "Kalian akan masuk lewat gerbang utara pagi ini. Tugas kalian adalah menemukan 'Server Induk' yang bisa dibuka dengan kepingan logam 'S' ini. Jika dugaanku benar, di sana tersimpan data asli seluruh aliran dana ke pejabat-pejabat di Jakarta."
Ratna dan Teguh berangkat menggunakan mobil operasional perusahaan yang telah disiapkan Hendra. Sepanjang perjalanan, Ratna hanya diam, menatap hamparan pohon sawit yang berbaris rapi seperti prajurit. Ia tahu bahwa di balik kerapian hijau itu, tersimpan busuknya korupsi yang telah merusak ekosistem dan membunuh banyak orang.
Saat mereka sampai di gerbang utama Agro Santara, dua penjaga bersenjata lengkap menghentikan mobil mereka.
"Identitas," perintah salah satu penjaga dengan nada dingin.
Teguh memberikan kartu identitas mereka dengan tangan yang tenang. Penjaga itu memindai kartu tersebut dan mencocokkannya dengan layar di tabletnya. Ketegangan menyelimuti kabin mobil. Ratna bisa merasakan detak jantungnya sendiri. Jika Hendra gagal meretas sistem mereka, perjalanan ini akan berakhir di sini dengan moncong senjata di kepala mereka.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti jam, penjaga itu mengembalikan kartu mereka. "Ruang Administrasi ada di gedung utama, sayap timur. Jangan keluar dari jalur yang ditentukan."
Gerbang besi raksasa itu terbuka perlahan. Ratna menginjak pedal gas, melaju masuk ke dalam jantung kekuasaan Agro Santara.
"Kita sudah masuk, Bu," bisik Teguh.
"Ingat," sahut Ratna sambil menatap gedung beton megah di depan mereka. "Di sini, satu kesalahan kecil berarti kematian. Kita bukan polisi lagi. Kita adalah penyusup."
Tepat saat mereka turun dari mobil, seorang wanita dengan pakaian formal abu-abu berjalan mendekati mereka. Wajahnya tertutup kacamata hitam besar, namun aroma yang ia bawa membuat Ratna tersentak.
Wijayakusuma.
Wanita itu melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang tajam dan senyum yang sulit diartikan. Ia bukan Selina, tapi ia memiliki kemiripan yang luar biasa.
"Selamat datang di Agro Santara," ujar wanita itu. "Saya Siska, kepala operasional di sini. Saya sudah menunggu kedatangan tim inspeksi... meskipun saya tidak menyangka kalian akan datang sepagi ini."
Ratna menjabat tangan Siska, merasakan telapak tangan wanita itu yang sangat dingin. "Kami suka bekerja cepat, Bu Siska. Semakin cepat kami selesai, semakin cepat perusahaan Anda mendapatkan sertifikat hijaunya."
Siska tertawa kecil, suara tawa yang membuat Ratna waspada. "Tentu saja. Mari, saya antar kalian ke ruang kerja kalian. Saya harap kalian betah dengan apa yang akan kalian temukan di sini."
Saat mereka berjalan menyusuri koridor gedung yang mewah, Ratna menyadari sesuatu. Di sepanjang dinding, terdapat foto-foto pendiri perusahaan, dan di tengah-tengahnya, terdapat sebuah simbol besar yang terbuat dari emas murni. Sebuah huruf 'S' yang dikelilingi oleh pola akar yang rumit.
Ratna tahu, ini bukan sekadar perusahaan. Ini adalah sebuah sekte kekuasaan. Dan ia baru saja masuk ke sarangnya.