𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 32
“Kau ... bukankah kau ... ?!”
Shin tersenyum saat tatapan itu mengentak seiring pertanyaannya. “Benar, Nyonya. Saya Wang Shin, pengawal pribadi Pimpinan Lim,” akunya 'tak canggung. “Senang bertemu Anda. Saya terkejut Nona Kim ternyata adalah putri Anda.”
Pula Kim Jena yang terkejut karena ternyata ibunya mengenali Shin, terutama yang baru saja diakui lelaki itu. “Jadi Oppaーah, maksudku kau ini ... pengawalnya Bibi Lim?”
Shin mengangguk sekali lagi dengan senyum sesopan mungkin. “Ya, Nona Kim.” Panggilannya pada Kim Jena berubah formal dan sikapnya menjadi hormat. “Maaf dengan cara bicara saya yang tidak sopan selama tadi, saya benar-benar tidak tahu Nona adalah putrinya Nyonya Kwon.”
Ya, Kim Jena, putri satu-satunya Kwon Mina―adik tiri Lim Suyu.
“Ah, tidak masalah!” kata Kim Jena setelah berdeham sekali untuk memperbaiki sikapnya yang tidak baik diketahui sang ibu. “Aku senang saja karena kau sudah menyelamatkanku. Itu jauh lebih baik dibanding bahasa terburuk sekali pun. Kau sudah membuatku bisa hidup dengan baik sekali lagi. Terima kasih sekali lagi ... Pengawal Wang.”
Sapaan terakhir ragu dia ucapkan. Dalam hati sebenarnya dia 'tak peduli siapa Shin, mau itu pengawal bibi tuanya atau orang lain, Jena hanya tahu Shin adalah orang yang telah menyelamatkannya dan membawa pulang dalam keadaan baik-baik saja.
“Tentu, Nona. Senang bisa menolong.”
Sebalik dari sikap istrinya yang tak sedap setelah mendapati Jena mereka pulang bersama orang Lim Suyu, Kim Wuhanーayah Jena, menampilkan sikap lebih bersahabat. Terlebih setelah mengetahui bahwa Shin telah menyelamatkan putrinya.
“Umm, sebaiknya kita masuk dan bicara di dalam. Aku ingin dengar cerita lengkapnya tentang kejadian buruk yang menimpa putriku sampai kau menolongnya,” ujar pria paruh baya itu.
“Baik, Tuan Kim. Dengan senang hati.”
Sampai mereka semua masuk ke dalam rumah, di satu ruangan yang di mana sofa-sofa siap menampung tubuh-tubuh bersandar, raut wajah Kwon Mina masih tidak berubah ― masih sekecut tadi.
Apa atau siapa pun yang berhubungan dengan Lim Suyu, dia tidak memperkenankan itu, kecuali sesuatu yang dia sebut 'spy' atau mata-mata, yang bekerja untuk Lim Suyu, namun berguna untuknya.
Saat dua pelayan datang membawakan nampan-nampan yang masing-masing berisi minuman dan makanan serupa cupcake dan buah-buahan, Kim Wuhan sedang menanyai Shin tentang kejadian yang menimpa putri kesayangannya.
“Jadi begitulah, Tuan Kim. Maaf karena saya lancang membawa Nona lebih dulu ke rumah kerabat saya sebelum diantar kemari.”
“Itu karena kau mengobati kakiku dulu dan mengganti baju basahku!” Kim Jena menambahkan lebih cepat sebelum sang ayah menyikapi, sembari mencubit bagian depan kaos kebesaran yang dikenakannya.
Shin tersenyum sungkan menanggapinya. “Saya tidak ingin Anda pulang menemui keluarga dalam keadaan berantakan, Nona. Maaf, bajunya sedikit tidak pantas. Saya hanya punya itu, Anda bisa segera menggantinya.”
“Tidak apa-apa! Aku akan menggantinya saat akan tidur nanti.”
Kembali Shin hanya mengangguk.
Setelah mendengar cerita panjang Kim Jena yang diculik sepulang kuliah, sampai pulang bersama penolongnya yang tak lain adalah pengawal pribadi Lim Suyu, Kim Wuhan banyak mengucapkan terima kasih sampai menjanjikan sebuah hadiah.
“Tidak perlu repot, Tuan Kim. Saya bertindak impulsif karena rasa kemanusiaan.”
Ada kekaguman di binar mata Kim Wuhan melihat sikap lelaki itu, sampai dia menawarkan, “Apa kau tertarik bekerja di perusahaanku? Aku akan berikan posisi bagus alih-alih hanya seorang pengawal.”
Itu menarik perhatian Kwon Mina yang sedari awal hanya diam mendengarkan mereka tanpa terkait bahkan dua patah sekali pun dalam pembicaraan. Kali ini dia menunggu apa jawaban pengawal itu. Posisi duduk angkuh―bertumpang kaki dengan punggung bersandar dan tangan bersilang di depan perut, mendukung tatapan mata yang sedingin es.
“Saya merasa terhormat dengan tawaran Anda, tapi pekerjaan saya sekarang tidak cukup buruk untuk saya yang hanya menghidupi diri sendiri. Pimpinan Lim sangat baik, saya tidak sampai hati jika sampai harus meninggalkannya, hanya karena posisi yang lebih bagus.”
Kwon Mina menyipitkan mata, mencari pembenaran dari pupil yang bening itu.
“Wah, kau pria yang berprinsip, dedikasimu atas pekerjaan cukup mengagumkan,” puji Kim Wuhan. “Baiklah, jika itu sudah pilihanmu, aku menghargainya meski sedikit kecewa.” Ditutupnya dengan senyuman.
Sampai celetukkan Kwon Mina dengan nada yang sinis mengubah suasana menjadi suram, “Apa yang diberikan Lim Suyu sampai kau menyebutnya kebaikan? Selain pengawal, apa kau juga simpanannya?”
Suami dan putrinya melengak.
“Yeobo!” ―Sayang! Kim Woohan menegur. “Kau tidak pantas bersikap seperti itu pada orang yang sudah menyelamatkan putrimu! Tolong hargai dia.”
“Iya! Kenapa Ibu sampai harus membahas Bibi Lim?! Kedatangan Shin Oppa kemari sebagai tamuku, penyelamatku, bukan sebagai pengawal dari orang yang tidak pernah Ibu sukai!" Kim Jena menambahkan sengit, tidak ragu lagi menyebut Shin dengan panggilan oppa yang sudah pasti terlalu karib di mata beberapa orang termasuk para pelayan yang masih ada di sekitaran.
Kwon Mina sampai melengak mendengarnya, namun tidak memedulikan lagi setelah itu. Sikap angkuh pada orang yang lebih rendah baginya adalah harga diri yang tidak boleh turun. “Kalian jangan naif! Wajahnya cukup unggul untuk ukuran hanya seorang pengawal. Apa tidak bisa kalian berdua berpikir sampai ke sana?”
“Ibu, cukup!” Kim Jena menghardik meradang, raut tak enak kemudian dibawanya ke wajah Shin. “Oppa maaf, aku yakin Ibu tidak bermaksud begitu.”
“Jena benar, Shin. Jangan kau masukkan ke dalam hati.” Kim Wuhan mendukung putrinya. "Istriku memang orang yang kritis."
Kwon Mina mendengus sembari membuang wajah, tak menerima teguran sekaligus pembelaan dari suami juga putrinya.
Shin menggilir pandangan ke wajah Wuhan dan Jena, memberikan senyuman yang maknanya 'tidak apa-apa' pada mereka, sebelum kemudian berpindah ke paras congkak wanita paruh baya bernama Kwon Mina.
“Nyonya Kwon ... saya merasa luar biasa mendapat pandangan langsung dari konsultan sehebat Anda. Anda memiliki pola pikir manusiawi yang mengagumkan. Jadi saya tidak masalah dengan apa pun pandangan Anda terhadap saya. Karena mungkin saja itu adalah benar."
Kim Jena nampak terkejut dengan kata-kata itu sampai kelopak matanya ikut melebar. Sedang Kim Wuhan masih mendengarkan dengan versinya yang tetap tenang.
“Hanya saja ... menurut saya, Nyonya Kwon ... Anda tidak bisa menyatukan dua paket berbeda, antara bisnis dengan sesuatu yang disebut rasa kemanusiaan.” Maksud kalimat akhir Shin ini terkait pertolongannya atas Kim Jena.
Seulas senyum mewarnai lanjutan kata-katanya.
“Tentang pernilaian absurd Anda tadi ... andai memungkinkan dan ada kesempatan ... saya mungkin akan senang jika Pimpinan Lim benar-benar menjadikan saya sebagai simpanan. Itu bisa jadi bisnis yang besar, bukan?” Kali ini dia terkekeh, pelan dan halus untuk tetap menjaga kesopanannya, mencibir kata-katanya sendiri. Lalu segera setelah itu menata diri kembali ke mode tenang.
“Juga ... mungkin termasuk dari rasa terima kasih dan pengabdian saya terhadap orang yang sudah menaikkan level, dari saya yang hanya seorang bartender kecil di bar tua, menjadi seorang pengawal pribadi.”
Kwon Mina mulai tak nyaman menyikapi kata per kata laki-laki itu, tapi belum menyela, atau belum mendapat saat yang tepat untuk mendebat.
“Bergeser dari semua itu, tentang pertolongan yang saya lakukan atas putri Anda, Nona Kim Jena ... saya melakukannya murni sebagai manusia yang diberikan nurani oleh Tuhan, yang diberikan kemampuan dan keberanian untuk melakukannya. Tidak untuk pencitraan apalagi untuk memikat hatinya.”
―Dan manipulasi!