Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Hanin di Keluarga Elvan
Di acara hari itu Hanin akhirnya dikenal banyak orang sebagai putri sulung Zayan Malik. Berita itu seketika tersebar di media sosial, media masa dan televisi. Semua orang menatapnya, memperbincangkannya dengan penilaian yang positif, karena dia selalu bersikap baik pada semua orang. Dia pun berbicara dengan sangat sopan dan menghargai yang lebih tua meskipun dia adalah putri dari seorang pengusaha sukses sekalipun.
Berita itu akhirnya sampai juga di telinga Awan. Dia begitu tiba di tanah air selalu aktif menonton berita televisi saluran luar negeri. Melihat Hanin akhirnya diakui sebagai anak kandung, Awan sangat bahagia, tapi sesaat kemudian mendadak berubah murung lalu mematikan televisi. Pada saat itu Karlina melihat berita itu, belum selesai mengetahui isi beritanya TV sudah dimatikan.
“Berikan remote nya!” Karlina mengambil paksa remote kontrol yang semenjak tadi dipegang Awan, sembari duduk di sampingnya.
Awan beranjak dengan murung tanpa mengatakan apa pun.
“Mau ke mana?” tanya Karlina merasakan keanehan sikap Awan semenjak kembali dari Kairo.
“Kamar, Mam,” jawab Awan dingin.
“Tunggu dulu! Kemari dan duduklah mama ingin bicara denganmu,” pinta Karlina sembari menepuk-nepuk sofa.
“Aku lelah, Mam, ingin istirahat.” Kata Awan beralasan.
“Hanya sebentar, kau pun bisa sembari tiduran kalau memang lelah.” Karlina tak berhenti untuk membujuk Awan agar mau mendengar permintaannya kali ini. Bagaimana pun dia tidak bisa membiarkan putranya itu menanggung masalah sendirian. Semenjak tiba di rumah, Awan mukanya selalu murung. Awan juga belum cerita banyak mengapa dia pulang sendirian tanpa Hanin bersamanya.
Meskipun malas, akhirnya Awan kembali dan duduk di samping Karlina.
“Kemarin kau bilang Hanin tidak ikut kembali karena sudah bertemu dengan ayah kandungnya, apa kau yakin dia ayahnya? Mama khawatir kalau Hanin tinggal dengan pria tidak baik.”
“Semuanya sudah melalui proses, Mam. Aku juga tidak asal meninggalkan Hanin dengan orang yang baru dikenal jika aku tidak tahu latar belakangnya. Mereka sudah menjalani tes DNA, dan Mama bisa lihat sendiri berita di televisi, Pak Aariz membuktikan ucapannya akan menjaga Hanin dengan baik. Sekarang semua orang sudah tahu Hanin putri kandungnya.”
“Mama juga sudah melihat berita itu, Hanin terlihat bahagia. Mama tidak tahu bagaimana reaksi keluarga Elvan setelah mengetahui Hanin tidak kembali dan memutuskan tinggal dengan ayahnya. Mereka pasti sangat sedih.”
“Aku berniat memberitahu mereka nanti.”
“Kalau begitu segera saja, kasihan mereka pasti sudah menunggu kabar tentang Hanin. Walaupun bukan kabar baik untuk mereka, dan mama dengar Miranda sakit-sakitan semenjak Hanin memutuskan pergi tanpa pamit. Mama juga merasa bersalah karena sudah ikut campur dalam proses kepergian Hanin. Miranda pasti juga membenci mama.”
“Semuanya akan jelas setelah Awan pergi ke sana, Mam. Sekarang apa aku boleh pergi?”
“Tunggu! Masih ada satu hal lagi.”
“Apa lagi?” Awan tampak kesal.
“Kenapa wajahmu murung setelah tiba di rumah, sedih karena Hanin atau ada masalah lain?”
Awan tertegun, dia tak mengira mamanya menyadari sikapnya yang memang tak biasanya. Selama ini belum ada masalah yang membuat dirinya merasa begitu sedih. Dia tidak tahu haruskah bicara jujur dan menceritakan masalahnya tentang Aariz yang bukan ayah kandungnya, atau menyimpannya sendiri.
“Awan.” Karlina menyadarkan lamunan Awan. “Ada masalah apa? Katakan, Nak, karena kau tak pernah terlihat seperti ini kalau ada masalah. Kau biasanya selalu cuek.”
“Sebenarnya ..., Aariz Zayan Malik itu ..., dia bukan ayah kandungku, Mam,” ungkapnya dengan raut wajah terlihat begitu sedih.
“Maksudmu ayah Hanin yang seharusnya ayahmu juga, dia bukan ayahmu? Tapi bagaimana bisa, lalu siapa ayahmu?” tanggapan Karlina yang justru menjadi pertanyaan Awan selama ini.
“Tentu saja aku ayahnya.” Louis datang menyela. Dia berjalan ke arah mereka dengan menenteng tas kerjanya. Karlina langsung menyambutnya dan meminta tas itu.
Awalnya Karlina dan Awan mengira ucapan Louis memang benar sedang mengakui kalau dia ayah kandungnya, mereka sedang menanti penjelasan Louis saat ini.
“Kalau bukan papa ayahmu, lalu siapa lagi?” jawaban tak serius Louis membuat Awan kembali murung, sementara Karlina terdengar menghela nafas lega.
Awan berpikir akan segera mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Awan baru menyadari dirinya ternyata begitu berharap Louis adalah ayah kandungnya, tapi jelas saja itu tidak mungkin, Louis hanya ayah angkatnya.
“Kalau memang Zayan itu bukan ayah kandungmu, lalu siapa ayahmu?”
“Kalau aku tahu, aku tidak perlu mempertanyakannya, Pa.” Awan beranjak dengan kecewa, lalu pergi menaiki tangga menuju kamarnya. Karlina mengingatkan Awan untuk segera pergi ke rumah Elvan.
••
Esok harinya Awan pergi ke rumah Elvan sekitar jam lima sore. Saat itu semua orang sedang berada di rumah. Melihat kedatangannya, Miranda terlihat sangat senang, tapi begitu Awan masuk dan menyadari Hanin tak bersamanya semua orang bertanya-tanya, Miranda mencecar Awan dengan tak sabar.
Awan sampai kebingungan bagaimana dirinya akan menjelaskan melihat reaksi Miranda seperti itu. Ia sudah membayangkan berapa kecewanya Miranda setelah tahu kenyataannya.
“Dia pasti di rumahmu, kan? Kenapa tidak ikut sekalian bersamamu?” ujar Miranda, semakin mempersulit Awan ketika ingin berbicara.
“Mama bisa tenang dulu, Awan jadi kebingungan kalau mama terus saja menyelanya,” kata Elvan.
“Sebenarnya ini adalah kabar baik, karena ternyata Hanin memang sudah menemukan ayah kandungnya. Pria itu bernama Aariz Zayan Malik, seorang pengusaha terkenal di Kairo.”
“Seharusnya itu memang kabar baik, tapi kenapa kau kebingungan saat menjelaskannya pada kami, seolah ada sesuatu yang mencemaskanmu.” Tanggapan Elvan masih terlihat tenang.
“Karena sekarang Hanin memutuskan tinggal bersamanya,” jawab Awan pada akhirnya dengan perasaan takut.
Miranda membeliakkan matanya sesaat, dia masih tak memahami perkataan Awan atau memang tidak ingin mempercayai berita itu.
“A ..., apa maksudmu?” lanjutnya bertanya dengan suara gemetar. Melihat reaksi Miranda, Awan semakin khawatir. Sebelumnya dia mendengar Miranda sakit-sakitan setelah kepergian Hanin. Bagaimana kalau berita yang dibawanya akan memperburuk keadaannya dan wanita itu jatuh sakit lagi. Awan berusaha memikirkan kata-kata yang tepat yang bisa membuat Miranda bisa menerimanya.
“Hani memang ingin tinggal dengan ayahnya, tapi dia bilang dia juga akan kembali kemari,” jelas Awan yang seketika di tukas oleh suara Satya yang muncul dari dalam rumah.
“Katakan saja dengan jujur kalau dia sudah memilih ayahnya yang kaya dan meninggalkan keluarga angkatnya yang miskin,” ucap Satya yang segera dibantah Awan karena tidak terima dengan ucapan Satya.
“Hanin tidak seperti itu,” kata Awan. “Dia memilih tinggal karena ayahnya memang memaksanya untuk tinggal.”
“Itu hanya alasannya saja. Aku rasa dia lupa dengan keluarga lamanya setelah mengetahui ayahnya itu orang kaya dan terpandang. Dia tergiur dengan segala kemewahan yang disodorkan ayahnya padanya.”
“Jaga ucapanmu, Satya!” teriak Awan, langsung bangkit menyerang Satya dengan menarik Krah baju Satya. “Ingat! Dia adalah adik kandungku aku tidak akan tinggal diam kalau kau menghinanya.”
Satya tersenyum smirk. “Kakak kandungnya? Tapi kenapa kau tidak tinggal bersamanya justru memilih kembali pada keluarga Louis? Bukankah ini terdengar sangat aneh.”
“Itu bukan urusanmu!”
Satya menarik tangan Awan dari bajunya dan menghempasnya. Tatapannya masih begitu dingin ketika berhadapan dengan Awan, padahal antara dirinya dan Awan sudah tidak ada masalah apa pun. Setelah mengetahui Awan adalah saudara kandung Hanin, yang membuat mereka batal bertunangan, ia merasa lega. Namun, karena Awan juga dirinya berpisah dengan Hanin.
“Aku memang tidak ada urusannya, setelah dia memutuskan pergi hari itu tanpa berpamitan dan membuat mamaku sakit-sakitan aku rasa dia memang tidak perlu kembali.”
“Satya kamu bicara apa?” seru Miranda yang mulai menangis. “Mama ingin bertemu dengan Hani, bawa dia pulang, Satya ...,” rintih Miranda terlihat begitu memilukan. Tidak hanya Satya yang sedih melihat mamanya seperti itu, Awan juga prihatin. Jika Hanin melihat hal itu dia akan lebih sedih lagi.
Miranda jatuh lemas di sofa, Elvan berusaha menenangkannya.
Dalam keadaan itu Awan merasa bersalah, tapi dia tak punya pilihan lain. Hanya kabar itu yang bisa dia berikan di keluarga itu.
“Mama jangan bersedih lagi, kalau mama sakit bagaimana bisa bertemu dengan Hani. Satya akan membawa Hani pulang asalkan mama janji tidak akan sakit lagi.”
“Kamu tidak berbohong, kan Satya?” tanya Miranda dengan kedua matanya basah oleh air mata.
“Satya janji, Mah, tapi mungkin tidak akan secepat itu.”
“Tidak apa-apa, mama akan menunggunya.” Miranda mengusap kedua matanya berusaha menunjukkan dia tidak akan sedih lagi. Satya yang justru merasa sedih karena sudah memberikan harapan yang tidak tahu apakah bisa terpenuhi atau tidak. Ia hanya tidak ingin melihat mamanya selalu murung. Satya mengusap-usap telapak tangan Miranda meyakinkannya.
“Lalu bagaimana keadaan Hani apa dia baik-baik saja?” tanya Elvan beralih pada Awan.
“Saat aku tinggal dia baik-baik saja, meskipun dia sangat sedih, dan aku percaya ayah kandungnya akan menjaganya dengan baik.”
“Aku harap itu bukan kabar yang dibuat-buat untuk menenangkan kami, Awan,” Satya masih dengan nada sinis.
“Aku juga kakaknya, jika melihat pria itu tidak baik mana mungkin aku meninggalkannya. Aku sempat berharap Hanin ikut pulang, tapi aku tahu selama ini dia sangat merindukan ayah kandungnya.”
“Itulah yang aku khawatirkan saat Hanin mengetahui ayah kandungnya, kejadian hari ini pasti terjadi. Hani pergi meninggalkan kita.”
“Cukup, Pah, tidak perlu menyesali apa yang seharusnya terjadi. Setidaknya kita tahu apa yang Hanin inginkan selama ini. Kita hanya keluarga angkat, tidak memiliki kekuatan apa pun untuk memenangkan hatinya, baginya kita tetaplah orang lain.”