NovelToon NovelToon
Takdir Paranormal Gadungan

Takdir Paranormal Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Mata Batin / Iblis / Anak Yatim Piatu / Roh Supernatural
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Princss Halu

Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
​Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
​Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
​Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
​Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata batin

Nam berjalan tertatih, memimpin Freen melewati lorong sempit menuju kamar tidurnya di belakang.

Freen mengikuti dari belakang, matanya menjelajahi setiap sudut. Benar kata Nam, hawa di dalam rumah ini terasa aneh. Udara lembap, jauh lebih dingin dari luar, dan ada aroma samar—bukan sekadar bau apak kayu tua, tapi seperti campuran bunga kering dan... tanah basah.

Sempurna! batin Freen bersemangat. Lingkungan yang lembap dan beraroma kuat ini sangat mendukung drama paranormal yang akan ia suguhkan.

"Di sini, Freen," bisik Nam, menunjuk ke sebuah pintu kayu yang sedikit miring. "Aku tidur di sini semalam. Dan suara tangisan itu... tepat di dekat jendela."

Freen mendorong pintu itu hingga terbuka. Kamar itu kecil dan jendelanya menghadap langsung ke kebun belakang yang rimbun. Tirai jendela tipis berwarna krem tampak melambai pelan, padahal tidak ada angin.

"Tunggu di luar, Nam. Aku akan melakukan penyelidikan spiritual sebentar. Jangan ada yang mengganggu," ujar Freen dengan nada serius, persis seperti yang sering ia tonton di film horor.

"Aku tunggu di ruang tamu saja," balas Nam cepat, sudah terlihat ingin menjauh sejauh mungkin dari kamar itu.

Setelah Nam pergi, Freen menutup pintu. Ia mengeluarkan minyak wangi melati dari sakunya dan mengoleskannya sedikit di pergelangan tangannya.

"Baiklah, mari kita mulai," gumam Freen.

Pertama, ia mendekati jendela. Jendela itu berbatasan langsung dengan tanah di luar yang tampak basah, mungkin sisa hujan semalam.

'Hmm, suara tangisan. Mungkin suara air yang menetes atau gesekan ranting?'

Freen mengamati kebun di luar. Tiba-tiba, ia melihat sesuatu yang aneh. Di balik rimbunnya semak-semak, ada gundukan kecil tanah yang tampak seperti... makam. Freen bergidik sedikit, tetapi otaknya langsung menghitung potensi keuntungan.

"Wow, Nam, kau membeli rumah di atas kuburan. Jasa pengusiran hantunya harus naik 500%." Freen tersenyum licik.

Ia lalu mengeluarkan bubuk kunyit, menaburkannya sedikit di sudut ruangan yang gelap, dan menyambungkan kabel tipis ke senternya. Ia akan menyalakan senter secara berkedip-kedip sambil menggesekkan kabel itu di lantai untuk menciptakan suara 'energi gaib'.

Saat Freen sedang asyik mengatur perangkat tipuannya di sudut ruangan, tiba-tiba, hawa dingin yang menusuk tulang melingkupinya. Jauh lebih dingin dari sebelumnya.

Freen berhenti bergerak. Matanya mulai melirik ke sekeliling. Tirai di jendela yang tadinya hanya melambai pelan, kini terbang ke dalam kamar dengan gerakan yang aneh, seolah ditarik oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Lalu, terdengar.

Hiks... Hiks... Hiks...

Suara tangisan itu! Sangat pelan, tetapi jelas sekali, datang dari sudut kamar, dekat lemari pakaian tua Nam yang masih kosong.

Freen yakin itu pasti ilusi pendengaran, atau mungkin suara dari luar. Ia memutuskan untuk melanjutkan rencana. Ia merogoh senter dan kabelnya.

"Kau pikir kau bisa mengelabui aku?"

Suara itu! Kali ini bukan tangisan. Itu adalah suara perempuan, serak dan sangat dingin, persis di belakang telinganya.

Freen seketika membeku. Ia tidak bergerak. Tubuhnya kaku, semua rencana pengusiran hantu yang sudah ia susun rapi di otaknya tiba-tiba lenyap. Ini... ini bukan suara ilusi. Ini bukan suara kucing. Ini bukan suara pipa bocor.

"Aku tahu siapa dirimu, Freen Sarocha. Paranormal gadungan yang hanya mengejar uang."

Jantung Freen mencelos. Darahnya seolah berhenti mengalir. Bagaimana mungkin 'hantu' ini tahu namanya?

Freen memberanikan diri menoleh ke belakang, perlahan.

Di sana, tidak ada siapa-siapa. Hanya lemari kayu tua.

Tiba-tiba, lemari itu bergerak. Sedikit, namun cukup untuk membuat debu berjatuhan. Dan di permukaan cermin buram lemari itu, muncul pantulan.

Bukan pantulan Freen.

Pantulan seorang wanita dengan rambut panjang basah, mengenakan pakaian tradisional Thailand yang sudah usang dan robek. Wajahnya... pucat pasi dan matanya kosong, menatap langsung ke arah Freen.

Freen, sang penipu ulung yang selalu percaya diri, kini merasakan ketakutan yang sesungguhnya. Ketakutan yang selama ini ia jual kepada orang lain.

Kakinya seperti terpaku di lantai. Mulutnya ingin berteriak, tetapi suaranya tercekat.

"Kau datang ke rumahku, dengan niat buruk... Kau harus membayarnya."

Freen tersentak. Semua bubuk kunyit dan minyak melatinya terasa sangat tidak berguna. Ia menjatuhkan kabel dan senternya.

"A-aku..."

Tiba-tiba, ia merasa tangannya digenggam oleh sesuatu yang sangat dingin, sedingin es.

"Tukang tipu harus kena karma, Freen."

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Freen berteriak kencang, sebuah jeritan murni ketakutan yang tidak pernah ia duga akan keluar dari tenggorokannya, dan berlari sekencang mungkin keluar dari kamar itu, meninggalkan semua 'peralatan kerja' dan, yang paling penting, semua kepercayaan dirinya.

Di ruang tamu, Nam terkejut melihat Freen, yang biasanya tenang dan percaya diri, kini berlari seperti kesetanan, wajahnya seputih kapas.

"Freen! Ada apa?!" tanya Nam panik.

Freen tidak menjawab. Ia meraih tasnya dan langsung berlari ke pintu depan.

"Nam! Jual rumah ini! SEGERA! Aku bersumpah... hantu itu... dia nyata!" teriak Freen sambil membuka pintu dan langsung berlari keluar tanpa menoleh lagi.

Nam hanya terpaku di tempatnya, menatap kepergian Freen yang kacau. Di saat yang sama, ia samar-samar mendengar suara tangisan perempuan dari arah kamar. Kali ini, tangisan itu terdengar seperti... tawa. Tawa yang sangat kejam.

"Freen... kau baru saja menipu di rumah yang salah," bisik Nam pada dirinya sendiri, entah kepada Freen atau kepada 'sesuatu' yang ada di kamar.

Freen terus berlari tanpa tujuan, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Ia menyetop taksi motor pertama yang ia lihat.

"Kemana, Nona?" tanya si pengemudi.

"Kemana saja! Jauh dari sini! Cepat!" Freen menjawab tanpa berpikir, suaranya masih gemetar.

Saat taksi motor itu melaju kencang menjauhi rumah Nam, Freen mencoba menenangkan napasnya yang tersengal-sengal.

Ia menyandarkan punggung ke jok motor, berusaha meyakinkan diri bahwa semua yang ia alami hanyalah halusinasi akibat kurang tidur.

Suara itu... dia tahu namaku. Dia tahu aku menipu! Pikirannya kembali dipenuhi kengerian.

Tiba-tiba, di tengah keramaian pasar yang mereka lewati, Freen melihatnya.

Seorang wanita tua sedang berjalan, membawa keranjang belanja. Tepat di sampingnya, Freen melihat sesosok bayangan hitam tinggi, bertaring, dengan mata merah menyala, mengikuti wanita itu seperti anjing penjaga. Sosok itu tampak marah dan beringas.

Freen mengucek matanya. Ia menggelengkan kepala, mencoba menghapus pemandangan itu.

"Aku pasti kelelahan. Ini hanya ilusi optik," gumamnya.

Namun, beberapa saat kemudian, mereka melewati kuil tua. Freen melihat seorang biksu sedang bermeditasi di luar. Di belakang sang biksu, berdiri sesosok anak kecil yang transparan, air mata darah mengalir dari matanya, seolah memohon pertolongan.

Freen langsung menutupi mulutnya, menahan jeritan. Ia menoleh ke samping. Ia melihat seorang pedagang mie sedang sibuk melayani pembeli. Di punggung pedagang itu, Freen jelas melihat sepasang tangan kurus dan kehitaman mencengkeram erat bahunya.

'Apa-apaan ini?! Kenapa aku bisa melihat mereka?!'

Freen mulai panik. Ia tidak pernah bisa melihat 'mereka' sebelumnya. Selama ini, 'hantu' baginya hanyalah kegelapan dan trik pencahayaan. Ia tak pernah memiliki kemampuan itu.

Ia teringat kata-kata hantu di rumah Nam: "Tukang tipu harus kena karma."

"M-mata batin..." Freen berbisik pelan, menyadari apa yang telah terjadi.

Hantu di rumah Nam tidak hanya mengusirnya, tetapi juga membuka paksa 'mata ketiga'nya sebuah hukuman kejam bagi seorang penipu yang berpura-pura memiliki kekuatan spiritual.

Taksi motor Freen berhenti di persimpangan lampu merah. Di seberang jalan, ia melihat sebuah kecelakaan kecil: motor yang menabrak gerobak.

Saat semua orang mengerumuni korban yang terluka, Freen melihat sosok putih pucat, dengan lubang besar di kepala, melayang di atas motor yang rusak. Sosok itu tampak bingung dan kesakitan.

Freen sontak berteriak histeris, menunjuk ke arah sosok itu. "Lihat! Ada di sana! Dia ada di sana!"

Pengemudi ojek dan beberapa orang di sekitar menoleh ke arah Freen dengan tatapan aneh. Mereka tidak melihat apa-apa.

"Nona, kau kenapa? Kau baik-baik saja?" tanya si pengemudi ojek dengan cemas, mengira Freen mulai gila.

"Tidak! Aku tidak baik-baik saja! Aku... aku melihat mereka semua!" Freen menarik napasnya dalam-dalam. "Aku tidak mau melihat mereka lagi! Aku harus kembali!"

Freen tiba-tiba teringat. Jika hantu di rumah Nam yang membuka matanya, maka hanya hantu itu yang mungkin bisa mengembalikannya seperti semula.

"P-putar balik! Bawa aku kembali ke rumah itu! Cepat!" perintah Freen dengan suara mendesak.

Pengemudi ojek itu kebingungan, tetapi melihat ekspresi gila di wajah Freen, ia memutuskan untuk menurut.

"Baik, Nona! Kita kembali ke Nonthaburi!"

Freen hanya bisa memejamkan mata erat-erat sepanjang perjalanan pulang. Ia tidak mau melihat lagi pemandangan-pemandangan mengerikan yang kini memenuhi pandangannya.

Aku hanya ingin menipu, bukan menjadi paranormal sungguhan! Aku ingin menjadi normal kembali! ratap Freen dalam hati.

Ia, Freen Sarocha, yang selama ini menertawakan orang-orang yang ketakutan pada hantu, kini menjadi orang yang paling ketakutan.

Karma telah datang, dan itu jauh lebih menakutkan dari semua skenario horor yang pernah ia ciptakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!