NovelToon NovelToon
Dibalik Tumpukan Digit

Dibalik Tumpukan Digit

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:407
Nilai: 5
Nama Author: Syintia Nur Andriani

Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Bayang-Bayang di Balik Sutra

Bab 2: Bayang-Bayang di Balik Sutra

​Malam belum benar-benar berakhir ketika Arini memutuskan untuk menyusul ke kamar. Langkah kakinya yang tak beralas menyentuh lantai kayu parket yang dingin, sebuah sensasi yang kontras dengan gejolak emosi di dadanya. Di dalam kamar utama, lampu hanya menyisakan temaram dari nakas di sisi tempat tidur. Reihan sudah berbaring, namun punggungnya yang lebar menghadap ke arah Arini—sebuah tembok daging dan tulang yang terasa lebih sulit ditembus daripada beton kantor pusatnya.

​Arini tidak segera tidur. Ia duduk di pinggir ranjang, menatap punggung suaminya. Di bawah cahaya redup, ia bisa melihat sebuah bekas luka kecil di bahu kiri Reihan, sebuah tanda yang sudah ada sejak mereka pertama kali bertemu. Luka itu adalah gerbang menuju masa lalu yang tidak pernah benar-benar diceritakan Reihan secara utuh. Setiap kali Arini bertanya tentang masa kecilnya di kota tua di pesisir utara, Reihan selalu mengalihkan pembicaraan dengan ciuman atau janji tentang masa depan yang lebih kaya.

​"Kau belum tidur, kan?" bisik Arini. Suaranya serak, membawa sisa tangis dari ruang makan.

​Reihan tidak bergerak, namun irama napasnya yang tidak teratur mengkhianatinya. Arini merangkak perlahan di atas sprei sutra yang licin, mendekatkan tubuhnya ke punggung Reihan. Ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh pria itu. Perlahan, Arini melingkarkan lengannya di pinggang Reihan, membenamkan wajahnya di antara tulang belikat suaminya.

​"Dulu, di tahun pertama kita," Arini memulai dengan nada menghanyutkan, "kau pernah bilang bahwa kau mengejar uang karena ada sesuatu yang harus kau tebus. Sesuatu yang hilang dari keluargamu. Apa itu, Reihan?"

​Reihan berbalik dengan gerakan tiba-tiba yang membuat Arini terkesiap. Dalam kegelapan, mata suaminya tampak berkilat, penuh dengan intensitas yang sulit dibaca. Tangannya yang besar dan kasar karena kerja keras menangkap pergelangan tangan Arini, menariknya hingga wanita itu berada tepat di atas tubuhnya.

​"Kenapa kau selalu ingin menggali kuburan, Arini?" suara Reihan rendah, serak, dan penuh magnetisme yang berbahaya. "Beberapa hal lebih baik tetap terkubur. Aku melakukan semua ini agar kau tidak pernah merasakan dinginnya lantai semen atau rasa lapar yang membuat perutmu melilit hingga kau ingin mencuri. Bukankah itu cukup?"

​Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti. Arini bisa merasakan deru napas Reihan yang memburu. Ada aroma misteri yang selalu menyelimuti pria ini, sebuah rahasia gelap yang justru membuat Arini selalu tertarik untuk masuk lebih dalam, meski ia tahu ia bisa terbakar.

​"Aku tidak butuh harta pelarianmu, Reihan," bisik Arini, jemarinya kini berani merayap ke leher suaminya, menelusuri rahang yang kokoh itu. "Aku butuh pria yang ada di bawah lapisan jas mahal ini. Pria yang memelukku karena cinta, bukan karena kewajiban atau rasa bersalah pada masa lalu."

​Tangan Reihan berpindah ke tengkuk Arini, menariknya lebih dekat hingga bibir mereka hampir bersentuhan. Suasana di kamar itu mendadak berubah. Ketegangan kemarahan tadi berubah menjadi gairah yang menyesakkan. Ada kerinduan yang purba di mata Reihan, sebuah rasa lapar yang tidak bisa dipuaskan oleh angka-angka di rekening bank.

​"Kau tidak tahu apa yang aku korbankan untuk membawamu ke sini," gumam Reihan tepat di depan bibir Arini. "Dunia ini tidak ramah pada orang yang lemah. Aku tidak ingin kau melihat sisi gelapku."

​"Tunjukkan padaku," tantang Arini. "Bakar aku dengan rahasiamu, asal jangan abaikan aku."

​Reihan tidak lagi menjawab dengan kata-kata. Ia membungkam bibir Arini dengan ciuman yang menuntut, sebuah ciuman yang terasa seperti campuran antara kerinduan yang dalam dan keputusasaan yang tertahan. Itu bukan ciuman yang lembut; itu adalah ciuman yang panas, penuh dengan klaim kepemilikan. Arini merasakan sensasi terbakar yang menjalar dari bibirnya ke seluruh tubuhnya. Sudah terlalu lama ia tidak merasakan ledakan seperti ini.

​Tangan Reihan yang biasanya sibuk dengan dokumen-dokumen penting, kini dengan lihai menanggalkan daster sutra Arini. Sentuhannya terasa seperti api di atas kulit Arini yang dingin. Di balik kemewahan kamar ini, di tengah misteri masa lalu yang masih menggantung, mereka seolah mencoba menemukan kembali satu sama lain melalui bahasa tubuh yang paling jujur.

​Setiap sentuhan Reihan malam itu terasa lebih intens, seolah ia sedang mencoba menghapus jarak yang ia ciptakan sendiri selama berbulan-bulan. Di sela-sela gairah yang membara, Reihan membisikkan kata-kata yang tidak jelas—nama-nama tempat yang asing dan janji-janji yang terdengar seperti sebuah permohonan maaf yang terselubung.

​Namun, di tengah kemesraan yang memuncak, Arini sempat melihat kilasan tato kecil yang tersembunyi di pangkal paha Reihan saat lampu nakas sedikit bergeser karena guncangan. Sebuah simbol angka yang aneh, yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya. Sebuah tanda yang tampak seperti kode atau tahun.

​Ketika peluh membasahi tubuh mereka dan napas mereka mulai teratur kembali, Arini menyandarkan kepalanya di dada Reihan yang masih naik-turun. Detak jantung Reihan terdengar seperti genderang perang—cepat dan tak menentu.

​"Angka itu..." Arini berbisik pelan, hampir tak terdengar.

​Reihan langsung menegang. Ia segera menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, wajahnya kembali mengeras. Keintiman panas yang baru saja terjadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh kabut misteri yang lebih tebal.

​"Tidurlah, Arini," kata Reihan dingin, suaranya kembali menjadi suara pria korporat yang tidak tersentuh. "Besok aku harus berangkat lebih pagi. Jangan bertanya lagi."

​Reihan mematikan lampu, meninggalkan Arini dalam kegelapan yang lebih pekat dari sebelumnya. Meskipun tubuhnya masih merasakan sisa panas dari sentuhan suaminya, batin Arini merasa semakin kedinginan. Ia tahu, di balik tumpukan uang dan kesuksesan suaminya, ada sebuah rahasia yang tidak hanya menyangkut harta, tapi mungkin nyawa dari masa lalu yang belum selesai menagih janji.

​Arini memejamkan mata, namun yang ia lihat hanyalah simbol misterius itu. Ia menyadari bahwa untuk mendapatkan kembali suaminya yang dulu, ia tidak bisa hanya diam menunggu di meja makan. Ia harus masuk ke dalam labirin yang selama ini disembunyikan Reihan, meski risikonya adalah kehilangan segala kemewahan yang ia miliki sekarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!