NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALAH SENDIRI SAMPAI BISA KETIPU!

“Ini baju siapa, Mas?” Tanya Maira sambil mengangkat sehelai kaos abu-abu dan celana training hitam dari keranjang cucian.

Hari Minggu pagi biasanya ia manfaatkan untuk membereskan rumah dan mencuci pakaian. Tapi kali ini, sesuatu membuat gerakannya terhenti. Kedua potong pakaian itu tampak asing baginya.

Farid yang sedang duduk di meja makan, menatap laptop sambil menyesap kopi langsung terbatuk kecil mendengar pertanyaan istrinya. Kopi di mulutnya hampir tersembur, membuat Maira spontan menoleh.

“Mas, kamu kenapa?” Tanyanya curiga.

Farid buru-buru mengangkat tangan, menahan batuknya. “Ah… enggak, ini… kopinya panas,” Jawabnya cepat, sedikit gugup.

Dahi Maira mengernyit. Matanya menatap lekat ke arah suaminya, lalu kembali ke pakaian yang kini tergantung di tangannya.

“Ini baju kamu Mas? Aku nggak pernah lihat sebelumnya. Celananya juga… kayaknya bukan yang biasa kamu pakai.”

Farid menoleh sekilas, lalu segera kembali ke layar laptopnya seolah sibuk. “Ah, eh… iya. Semalam Mas sempat ke rumah Ibu dulu, jadi ganti baju di sana. Itu baju lama Mas." Jawabnya cepat, terlalu cepat, dengan nada datar yang dipaksakan tenang.

Jantungnya sedikit berdebar setelah mengatakan kalimat bohong tersebut. Meski begitu, Farid mencoba menenangkan hatinya dengan berpikir ia tak bersalah karena ia tak melakukan hal yang macam-macam.

Maira tak lagi membalas. Ia hanya memandangi pakaian itu sekali lagi, lalu meletakkannya pelan di atas tumpukan cucian. Jemarinya berhenti sejenak dan tatapannya menyapu ke arah Farid yang tampak bersikap tenang.

Namun Maira tahu dari gerak-gerik sang suami, ia tampak menyembunyikan sesuatu darinya.

____

Minggu siang biasanya menjadi waktu bagi Maira untuk bersantai, namun ketenangan itu buyar seketika saat suara gedoran keras terdengar dari luar rumah.

“Mbak Maira! Buka pintunya!!”

BUK! BUK! BUK!

Suara dentuman dan teriakan penuh amarah membuat Maira terlonjak kaget. Ia menatap Farid dengan dahi berkerut, seolah sama-sama bertanya siapa yang menggedor pintu rumah mereka dengan kemarahan seperti itu.

Keduanya pun memutuskan untuk melangkah keluar kamar nyaris bersamaan, dan saat tiba di ruang tamu, mereka mendapati pintu rumah sudah dibuka oleh Bu Susi dan Pak Bowo yang sama halnya dengan mereka, terkejut dengan gedoran keras dari arah pintu.

Di depan pintu, Dini berdiri dengan tangan berkacak pinggang. Wajahnya merah padam, tatapannya membara penuh emosi. Sementara di belakangnya Bayu—suaminya, berdiri dengan wajah setengah tertunduk, namun jelas menunjukkan dukungan terhadap tindakan istrinya.

“Kamu kenapa Dini?! Siang bolong gedor-gedor pintu rumah kayak orang kesurupan!” Tegur Bu Susi, yang nyaris terserempet oleh langkah agresif anaknya sendiri.

Dini tak mengindahkan pertanyaan ibunya. Matanya menyapu ke dalam rumah dengan penuh amarah, mencari sosok yang ia tuju.

“Mana Mbak Maira, Bu?!” Bentaknya dengan emosi yang tak bisa dibendung.

Begitu mendengar namanya dipanggil dengan nada tinggi, Maira segera melangkah maju dengan wajah yang terlihat tetap tenang.

“Kenapa kamu cari aku, Dini?” Tanyanya. Mata Maira sempat melirik sekilas ke arah Bayu yang berdiri di belakang Dini, dan saat itu juga—ia tahu. Ini pasti soal uang proyek itu.

Setelah mendapati seseorang yang ia cari, Dini segera masuk melewati ibunya, tak menghiraukan sopan santun atau siapa pun yang tengah menatapnya. “Mbak Maira! mbak bener-bener jahat ya Mbak, sama suami aku?!” Teriak Dini tanpa tedeng aling-aling. “Mbak tega ngancam suami aku masuk penjara cuma karena uang?!"

Semua mata kini tertuju pada Dini.

Sementara Farid yang juga baru ikut menduga apa yang sebenarnya terjadi, menatap ke arah iparnya lalu ke arah istrinya secara bergantian. Ia hanya bisa menghela napas dalam, berusaha menahan rasa jengah yang menggumpal.

Pria itu mulai merasa muak dengan setiap konflik yang dibuat oleh keluarga istrinya. “Satu hari libur, kenapa tidak bisa tenang, ya?” Gerutunya dalam hati, kesal karena tak berhenti menghadapi drama keluarga Maira.

Sementara itu, Pak Bowo dan Bu Susi yang berdiri tak jauh tampak terkejut. Wajah mereka benar-benar kebingungan, tidak memahami sepenuhnya situasi yang sedang meledak di hadapan mereka.

“Polisi? Uang apa? Ada apa ini sebenarnya?” Tanya Pak Bowo dengan suara berat.

Mendengar pertanyaan itu, Dini segera berbalik menatap kedua orangtuanya.

“Pak, Bu asal kalian tahu, Mbak Maira ngancam mau jeblosin Mas Bayu ke penjara cuma gara-gara uang yang nggak seberapa!” Katanya lantang. Matanya masih menyala oleh kemarahan, mulutnya tak henti melontarkan tudingan.

Bu Susi mendelik. “Apa?!” Pekiknya kaget.

“Iya, Bu! Lagian wajar kan kalau suamiku ngambil uang proyek. Gaji yang dikasih Mbak Maira nggak cukup buat kebutuhan rumah tangga kami. Apalagi sekarang si Danu juga tinggal bareng kami. Masak cuma hal begitu aja dipermasalahkan?” Ujar Dini enteng, menyederhanakan masalah seolah hanya persoalan biasa.

Sementara semua mata tertuju padanya, Maira hanya berdiri dengan tangan terlipat di dada. Ia tak berkata sepatah kata pun. Matanya tajam, tubuhnya tegak. Tapi wajahnya menahan sesuatu—bukan amarah, melainkan kesabaran.

Ia jelas mengingat pesan dokter: hindari stres berlebihan. Namun kesabarannya diuji saat Pak Bowo menunjuk ke arahnya dengan sorot mata menghukum.

“Kamu, Maira! Makin ke sini makin jahat kamu! Ipar sendiri tega kamu mau penjarain!”

“Benar, Maira!” Sambung Bu Susi, nadanya tinggi. “Ibu nggak nyangka bisa ngelahirin anak sejahat kamu. Nggak ada hatinya!”

Maira memejamkan mata perlahan. Ia menarik napas panjang, menenangkan dirinya yang mulai bergetar. Semuanya seperti menusuk dari segala arah, dan ia berdiri sendirian di tengahnya.

Kemudian ia membuka mata. “Sudah?” Tanyanya pelan tapi tegas. “Sudah semua selesai bicaranya?”

Tak ada yang menjawab. Tapi jelas terlihat—Bu Susi, Pak Bowo, Dini, dan Bayu—semuanya masih menatapnya tajam.

“Sekarang, giliran aku, ya.”

Ia melangkah satu langkah ke depan, matanya menyapu wajah-wajah mereka yang menghakiminya.

“Kamu bilang 'cuma' Din? Cuma berapa katanya?” Ia menoleh langsung pada Dini. “Uang yang digelapkan suami kamu itu enam puluh lima juta rupiah. Bukan dua juta, bukan lima juta, tapi enam puluh lima juta.”

Dini tersentak. Wajahnya memucat. Ia jelas mengingat jelas jumlah uang yang ia terima kemarin hanya enam juta.

“Uang itu harusnya dipakai buat beli material terbaik, material utama buat fondasi proyek restoran aku. Tapi suamimu malah beli bahan murah. Dan kamu tahu akibatnya?” Maira mengangkat suaranya. “Fondasinya roboh. Bangunan yang udah aku rancang, beberapa bagiannya hancur!”

“E… enam puluh lima juta?!” Dini tergagap, mulutnya terbuka tak percaya.

Ia menoleh cepat ke arah Bayu, seolah meminta penjelasan, berharap ada bantahan atau minimal klarifikasi yang bisa menyelamatkan harga dirinya di depan semua orang. Tapi Bayu hanya memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata istrinya.

Diamnya Bayu adalah sebuah pengakuan. Dini hanya bisa menelan ludah. Dadanya naik turun, wajahnya memucat, tapi egonya masih berdiri tegak. Ia tahu, ia dibohongi. Tapi lebih dari itu—ia juga tahu, ia tidak ingin kalah dari kakak tirinya.

“Ya udah!” Seru Dini lantang. “Kalaupun emang bener enam puluh lima juta, salah sendiri kenapa bisa ketipu sama suami aku?!”

Maira tersenyum tipis. Bukan senyum senang, tapi lebih kepada ironi. Ia menatap Dini dengan tenang, seolah ucapan barusan tidak lebih dari kelakar yang tak lucu.

“Jadi karena mbak tertipu, artinya salah  mbak?” Ia mengangguk pelan. “Menarik logikamu, Dini"

“Debat sama kamu itu percuma, Din.”

Matanya tajam, sorotnya menusuk.

“Bukan karena mbak nggak sanggup. Tapi karena kamu nggak ngerti apa yang sedang kamu bela.” Lanjut Maira.

Ia melangkah pelan ke depan. “Kamu teriak-teriak nyalahin mbak, padahal yang salah jelas-jelas suamimu. Udah diterima kerja bukannya terimakasih malah berbuat yang nggak-nggak. Kamu berani ngomong keras kayak gini ya karena otak kamu kosong!.”

Dini melotot tak terima. Belum sempat ia menyela, Maira sudah lebih dulu melanjutkan. “Lihat suamimu. Bahkan sekarang aja cuma bisa nunduk, bisanya cuma sembunyi di ketiak istri!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!