NovelToon NovelToon
Menjadi Madu Dalam Semalam

Menjadi Madu Dalam Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.

"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Di lantai yang berbeda, sebuah mukjizat terjadi. Mata Kirana perlahan terbuka setelah berminggu-minggu terlelap dalam kegelapan koma. Jemarinya bergerak lemah di atas sprei. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih dan bau antiseptik yang menyesakkan.

Suara Kirana nyaris hilang, seperti gesekan kertas "Ma... Mas... Alen..."

Monika yang sedang berjaga langsung bangkit, air matanya tumpah melihat menantunya sadar. "Kiran! Alhamdulillah, Sayang... Kamu sadar."

Namun, saat Kirana menoleh ke arah pintu, ia tidak menemukan sosok yang ia cari. Matanya yang sayu mencari-cari, menyadari bahwa Alendra tidak ada di sana.

Kirana: "Mas Alen... di mana... ma?"

Monika terdiam, ia tak berani mengatakan bahwa suaminya baru saja dilarikan ke IGD karena kondisi fisik yang hancur akibat merindukan wanita lain.

" sebentar ya nak, mama panggil dokter sebentar" ucap Monica langsong menekan tombol urgent .

___

Sementara itu, di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, Tono duduk di teras sambil memandangi sepucuk surat tanpa alamat pengirim yang baru saja ia terima pagi tadi. Itu adalah surat ketiga dari Patricia.

Tangan gemetarnya mengusap kertas surat itu "Anak kita, Ma... Dia bilang dia sehat. Dia bilang dia sedang belajar Al-Qur'an." kata Tono pelan.

Selena mendekat, ia duduk di samping Tono sambil menyeka air mata dengan ujung daster.

"Tapi kenapa dia tidak mau kita tahu di mana dia, Pa? Kenapa dia menyembunyikan dirinya sendiri seolah dia orang jahat? Padahal Tuan Alendra hampir mati mencarinya."

Tono menggeleng sedih, suaranya berat "Cia merasa dirinya noda bagi keluarga Suhadi. Dia tidak mau melukai Nyonya Kirana lagi. Anak itu... dia membawa beban yang terlalu besar sendirian." ucapnya sendu ,air matanya tumpah, di saat enaknya berubah menjadi orang baik, tapi cobaannya bertubi-tubi.

Di dalam surat itu, Patricia hanya menulis: "Papa, Mama, doakan Cia agar bisa menjaga amanah Allah yang sekarang ada di rahim Cia. Cia baik-baik saja di bawah lindungan-Nya."

***

Setelah Alendra mendapatkan penanganan, ia sadarkan diri dalam kondisi diinfus. Ardiansyah berdiri di sampingnya dengan wajah tegang.

"Bang Alen, mbak Kirana sudah sadar. Dia mencarimu."

Alendra hanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Tubuhnya terasa mati rasa. Setiap kali ia mencoba bangkit, rasa mual itu kembali datang, sebuah pengingat bahwa di luar sana, istrinya yang lain sedang membawa darah dagingnya.

Suara Alendra bergetar, air matanya mengalir ke telinga "Ardi... aku harus apa? Aku mencintai mereka dengan cara yang berbeda, tapi aku justru membunuh mereka berdua secara perlahan. Kirana sadar, tapi jiwaku tetap ikut hilang bersama Patricia."

" itu artinya kau tidak mencintai mbak Kirana Bang,kalau di pikiran mu hanya tertuju pada Patricia, begitu saja kamu tidak tahu, kau memang benar-benar bodoh, tidak bisa mengerti arti cinta yang sebenarnya, perasaan mu pada mbak Kirana hanya sebatas suka sesaat karena sebagai pelarian, kau benar-benar bodoh, para reader saja tahu,... Aku tidak yakin, cinta itu bisa terbagi " umpat Ardiansyah dalam hati, ia merasa kesal dengan kakaknya.

***

Di pesantren, Patricia sedang duduk di depan jendela kamarnya, memandangi bulan sabit. Ia mengusap perutnya yang kini mulai menunjukkan bentuk sedikit menonjol di bawah pusar , Ia tidak tahu suaminya sedang terbaring di rumah sakit karena merasakan penderitaan yang ia alami.

Patricia tersenyum getir, membisikkan doa. "Mas Alen, kalau memang Mbak Kirana sudah sadar, kembalilah padanya. Cintai dia. Biarkan aku dan anak ini menjadi rahasia indah antara aku dan Tuhanku."

Patricia memeluk dirinya sendiri. Meski raganya di pesantren yang damai, batinnya tetap tertambat pada pria yang kini sedang sekarat merindukannya di Jakarta....

___

Dua hari berlalu, Lantai rumah sakit yang steril itu menjadi saksi bisu bagi langkah-langkah lambat kursi roda yang didorong oleh seorang perawat. Kirana duduk di sana, tubuhnya tampak begitu ringkih, terbalut selimut rumah sakit yang tidak mampu menyembunyikan tulang-tulangnya yang semakin menonjol. Wajahnya yang dulu bersinar dengan keanggunan kini pucat pasi, namun matanya memancarkan tekad yang luar biasa.

Vonish dokter masih terngiang di telinganya, “Kanker ini sudah menyebar ke organ lain, Nyonya. Kami hanya bisa memberikan perawatan paliatif untuk mengurangi rasa sakitnya.”

Kirana tahu, waktunya di dunia ini hanyalah tinggal hitungan hari, mungkin minggu. Namun, ia merasa beruntung. Saat ia tersadar dari koma, hal pertama yang ia dengar dari bisik-bisik perawat adalah kabar bahwa Patricia, wanita yang menghantui pikirannya, telah menghilang tanpa jejak. Sebuah senyum tipis sempat tersungging di bibirnya kala itu. Ia berpikir, di sisa hembusan napasnya, ia akhirnya bisa memiliki Alendra sepenuhnya, tanpa bayang-bayang gadis belia itu.

Perawat membuka pintu kamar tempat Alendra dirawat. Di dalam, Alendra terbaring lemah dengan selang infus yang menempel di punggung tangannya. Ia tertidur, namun tidurnya tidak nyenyak. Dahinya berkerut, dan peluh dingin membasahi pelipisnya.

Kirana memberi isyarat agar perawat meninggalkannya sendirian. Dengan sisa tenaganya, Kirana memutar roda kursi rodanya mendekati ranjang suaminya. Ia ingin menyentuh tangan Alendra, ingin merasakan kehangatan pria yang ia cintai. Matanya berkaca-kaca melihat keadaan suaminya yang begitu lemah.

" maafkan aku mas, gara-gara aku koma, dan kamu mengetahui penyakit ku yang sebenarnya, kamu jadi seperti ini, aku tahu , kamu masih sangat mencintaiku, kau terlalu memikirkan ku sampai samu seperti ini, maafkan aku mas ...hiks ..maaf" gumamnya pelan. Hatinya merasa sakit melihat suaminya terbaring lemah, gara-gara dirinya.

Namun, saat tangannya hampir mencapai kulit Alendra, bibir pria itu bergerak.

Alendra mengigau, suaranya parau dan penuh penderitaan "Cia... Patricia... Sayang, jangan pergi... Aku mohon, kembali..., aku merindukan mu, sayang... pulang,... maafkan aku, Cia... jangan menyiksaku seperti ini, tolong,kembalilah sayang"

Tangan Kirana membeku di udara. Jantungnya terasa diremas oleh tangan yang tak kasat mata.

"Di mana kamu, Sayang? Aku sakit... perutku sakit... Aku merindukanmu, Cia... Maafkan aku... Maafkan butiran debu ini..."

Kirana menarik kembali tangannya, mendekapnya di dada. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi kain bajunya. Hatinya hancur berkeping-keping. Ternyata, meski Patricia tidak ada secara fisik, wanita itu telah mengambil seluruh jiwa Alendra. Bahkan dalam tidurnya, Alendra tidak menyebut nama Kirana, istri yang telah bersamanya hampir setahun ini. Alendra justru meratapi hilangnya gadis yang hanya ia temui kembali dalam semalam penuh tragedi.

Kirana berbisik getir, bibirnya bergetar. "Ternyata aku tetap kalah, Mas. Meski aku sedang meregang nyawa, hatimu tetap bukan milikku. Kamu lebih menderita mencarinya daripada melihatku kembali dari kematian." tubuh Kirana bergetar hebat, air matanya keluar tanpa bisa terbendung,ia membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara tangisnya...suami yang ia kira sakit karenanya, ternyata sakit karena madunya

1
Yuyun Srie Herawati
hmm gila sama kamu mbak Cia
Meiny Gunawan
up yg bnyk atuh thor...
nunik rahyuni
lha..wes konangan to...kurang ahli dalam penyamaran🤣🤣🤣🤣
@Mita🥰
yeeee semoga CIA peka klu itu alen
@Mita🥰
wah Alen bandung Bondowoso ...atau Roro Jonggrang 🤭🤭
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
alen bertranformasi jd bandung bondowoso siap beraksi, sblm ayam berkokok dan suara adzan menggema🤣
Yasmin Natasya
lanjut,up yang banyak thor 😁🙏
Nur Ayra
sangat bagus alurnya , 💪🥰🥰
Yuyun Srie Herawati
wahh nanti mbak Cia malah cinta sama kang Asep
@Mita🥰
semangat ya CIA .....Abang Alen selalu ada tuk mu
@Mita🥰
Alhamdulillah klu alendra yang dulu udah kembali🫣🫣🫣
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣 kang Asep Alon" 🤣🤣
Ulandary Ulandary
up lagi min
Nie
alhamdulillah kamu balik lagi ke asal Alen 😁🤭
Sukarti Wijaya
kekonyolannya ale muncul lg😄
@Mita🥰
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
wouw da cerita baru n sdh 23 bab 👍👍..Happy Valentine days../Heart//Heart/ disimpen dulu bentar lagi Ramadhan...Tks thor tetap semangat ..🙏🙏
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
up lg thor, jgn bikin penasaran😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!