"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Akhir dari Sebuah Sumpah
MOBIL SUV hitam yang dikendarai Marco meluncur pelan melewati jalanan berbatu di daerah industri Queens yang terbengkalai. Di sini, lampu jalanan banyak yang mati, menyisakan keremangan yang hanya ditembus oleh lampu depan mobil dan pendar pucat salju yang mulai turun lebih lebat. Bangunan-bangunan gudang tua berdiri seperti raksasa yang membusuk di sisi jalan, dipenuhi coretan grafiti dan kaca jendela yang pecah.
Di kursi belakang, Aria Vane—atau sekarang lebih dikenal sebagai Aria Moretti—menatap lurus ke depan. Gaun merah darahnya tertutup oleh mantel wol hitam panjang, namun ia masih bisa merasakan dingin yang merayap di kulitnya. Tangannya meraba pistol Beretta perak yang terselip di balik ikat pinggangnya.
Di sampingnya, Dante Moretti tampak seperti malaikat maut yang sedang menunggu waktu. Ia tidak memakai rompi anti-peluru kali ini; ia hanya mengenakan setelan jas hitam yang sempurna, seolah ia sedang bersiap untuk menghadiri pemakaman. Dan mungkin, memang itulah tujuannya malam ini.
"Kau tidak harus masuk, Aria," ucap Dante, suaranya rendah dan dalam, hampir tenggelam oleh deru mesin mobil. "Kau sudah melakukan bagianmu di museum tadi. Biarkan aku dan anak buahku menyelesaikan sisa kotorannya."
Aria menoleh ke arah suaminya. "Dia adalah ayahku, Dante. Dia yang menjualku, dia yang mencoba membunuhku di pelabuhan, dan dia yang menyerang rumahmu di Sisilia. Jika malam ini adalah akhir darinya, aku ingin menjadi orang terakhir yang dia lihat."
Dante menatap mata Aria cukup lama, mencari keraguan di sana, namun ia hanya menemukan tekad yang membara sekeras baja yang ditempa. Dante mengangguk perlahan. Ia mengambil tangan Aria, mencium punggung tangannya dengan lembut, namun matanya tetap dingin.
"Maka jadilah bayanganku. Jangan pernah menjauh lebih dari satu langkah dariku," perintah Dante.
Mobil berhenti di depan sebuah pabrik pengolahan logam yang sudah tidak beroperasi. Pintu gerbangnya yang berkarat sedikit terbuka, memperlihatkan jejak ban mobil yang masih baru di atas lapisan salju.
Dante memberi isyarat kepada tim taktisnya yang sudah berada di posisi melalui radio. Dalam hitungan detik, belasan pria bersenjata bergerak dengan senyap seperti hantu di kegelapan. Tidak ada suara tembakan peringatan. Hanya suara gerendel pintu yang dibuka dan langkah sepatu bot di atas lantai beton.
Dante dan Aria melangkah masuk melalui pintu samping. Bau minyak mesin, karat, dan udara yang lembap menyambut mereka. Di tengah ruangan besar yang hanya diterangi oleh beberapa lampu halogen redup, terlihat sebuah meja kayu panjang yang dikelilingi oleh beberapa pria bersenjata.
Dan di sana, di ujung meja, duduk Julian Vane.
Julian terlihat jauh lebih tua daripada saat terakhir kali Aria melihatnya di altar pernikahan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya tampak pucat di bawah cahaya lampu yang berkedip. Di depannya terdapat botol wiski yang sudah setengah kosong dan beberapa tumpukan dokumen yang tampak kacau.
Saat ia melihat Dante dan Aria masuk, Julian tidak lari. Ia justru tertawa—sebuah tawa yang terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Selamat datang, Pengantin Baru," ucap Julian sambil mengangkat gelas wiskinya. "Aku tidak menyangka Lucchese begitu cepat menjualku. Ternyata loyalitas di New York sama murahnya dengan pelacur di Times Square."
Dante berhenti sekitar sepuluh meter dari meja itu. Anak buahnya sudah mengepung ruangan, menodongkan senjata ke arah pengawal Julian yang kini tampak ragu untuk menarik pelatuk.
"Kau melakukan kesalahan besar, Julian," ucap Dante. Suaranya bergema di ruangan yang luas itu, menciptakan efek yang sangat mengintimidasi. "Menyerang bentengku di Sisilia adalah hukuman mati. Dan menggunakan Lucchese untuk mencuci uang Moretti? Itu adalah penghinaan yang tidak akan pernah dimaafkan oleh klan mana pun."
Julian berdiri dengan goyah. Matanya beralih ke arah Aria. "Aria... putriku yang cantik. Lihatlah dirimu sekarang. Mengenakan warna Moretti, berdiri di samping monster yang seharusnya kau benci. Apakah kau lupa bahwa pria ini membelimu seperti ternak?"
Aria melangkah maju satu tindak, keluar dari bayang-bayang Dante. "Kau tidak punya hak untuk memanggilku putri, Julian. Kau kehilangan hak itu saat kau menyerahkanku kepada Dante Moretti sebagai tumbal untuk utang judimu. Dan kau benar-benar menghancurkannya saat kau mencoba membunuhku di pelabuhan."
"Aku melakukan itu untuk keluarga!" teriak Julian, tangannya gemetar. "Keluarga Vane sedang runtuh! Aku butuh modal, aku butuh perlindungan! Aku pikir jika kau mati, Moretti akan menganggap itu sebagai serangan dari pihak ketiga, dan aku bisa mengambil alih kendali tanpa harus membayar utangku!"
"Keluarga?" Aria tertawa pahit, suaranya bergema dengan nada yang sama dinginnya dengan Dante. "Satu-satunya keluarga yang kau pedulikan adalah dirimu sendiri. Kau menjual ibuku demi kontrak pelabuhan, dan kau menjualku untuk menyelamatkan nyawamu yang tidak berharga."
Aria mengeluarkan pistol Berettanya dan mengarahkannya tepat ke dada Julian.
Dante tetap diam di tempatnya, membiarkan Aria mengambil alih panggung. Ia adalah pelindung di belakangnya, siap untuk melepaskan neraka jika ada satu saja pengawal Julian yang bergerak.
"Aria, turunkan senjata itu," ucap Julian, suaranya kini melunak, mencoba menggunakan manipulasi lamanya. "Kita bisa membicarakan ini. Aku masih punya akses ke akun rahasia di Kepulauan Cayman. Jutaan dolar. Semuanya bisa jadi milikmu jika kau membantuku keluar dari sini."
"Aku sudah memiliki semua yang aku butuhkan, Julian," jawab Aria. "Aku memiliki kekuatan yang tidak pernah kau miliki. Aku memiliki perlindungan dari seorang Moretti. Dan yang paling penting, aku memiliki bukti semua kejahatanmu yang sudah dikirimkan ke kantor Jaksa Agung New York lima menit yang lalu."
Wajah Julian berubah menjadi pucat pasi. "Kau... kau melakukan itu?"
"Tentu saja," sahut Aria. "Dante ingin kau mati, Julian. Dia ingin darahmu membasahi lantai ini. Tapi aku? Aku ingin kau membusuk di penjara, melihat namamu dihapus dari sejarah, dan merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang paling hina di dunia ini tanpa sepeser pun uang."
Julian menatap Dante, memohon belas kasihan. "Dante, kau seorang pria terhormat... kau tidak akan membiarkan istrimu mempermalukanmu seperti ini, bukan? Bunuh saja aku sekarang! Jangan biarkan polisi menangkapku!"
Dante melangkah maju, berdiri di samping Aria. Ia menaruh tangannya di bahu istrinya, sebuah gerakan yang menunjukkan dukungan total.
"Istriku sudah memberikan keputusannya, Julian," ucap Dante pelan. "Dan di duniaku, keinginan Nyonya Moretti adalah hukum. Jika dia ingin kau membusuk di penjara, maka itulah yang akan terjadi. Namun..."
Dante memberikan isyarat kepada Marco. Marco maju dan menaruh sebuah amplop di meja depan Julian.
"Di dalam itu adalah foto-foto dan laporan otopsi ibu Dante," bisik Aria. "Dan bukti bahwa kau yang membantu Lorenzo Moretti menyembunyikan racun arsenik itu sepuluh tahun lalu."
Dante menatap Julian dengan mata yang kini dipenuhi oleh kebencian yang murni. "Kau tidak hanya menjual keluargamu sendiri, Julian. Kau membantu membantai ibuku. Jadi, meskipun kau akan masuk penjara, aku pastikan kau tidak akan pernah sampai ke hari persidanganmu dengan tenang."
Dante mengambil pistol dari tangan Aria, mengembalikannya ke saku istrinya, lalu ia sendiri mengeluarkan pistol kaliber .45 miliknya. Ia menembak kedua lutut Julian dengan kecepatan yang mengerikan.
DOOR! DOOR!
Julian jatuh tersungkur, menjerit kesakitan yang memilukan. Pengawalnya yang tersisa segera menjatuhkan senjata mereka, tidak berani melawan kekuatan Moretti yang sudah mengepung mereka sepenuhnya.
"Ayo pergi, Aria," ucap Dante, suaranya kembali lembut seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tugas ringan. "Tugas kita di sini sudah selesai. Polisi akan sampai dalam tiga menit."
Dante merangkul pinggang Aria, membimbingnya keluar dari pabrik yang dingin itu. Di belakang mereka, suara jeritan Julian perlahan menghilang, tergantikan oleh suara sirene polisi yang mulai terdengar di kejauhan.
Mereka kembali ke dalam mobil SUV. Salju kini turun sangat lebat, menutupi jejak-jejak kekacauan yang baru saja terjadi. New York tampak begitu tenang di bawah selimut putih, sangat kontras dengan badai yang baru saja reda di dalam hati Aria.
Dante menarik Aria ke dalam pelukannya di kursi belakang. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan Aria menyandarkan kepalanya di dadanya. Aria bisa merasakan detak jantung Dante yang stabil, sebuah detak yang memberinya rasa aman yang aneh.
"Apakah ini sudah berakhir, Dante?" tanya Aria pelan.
Dante mengecup puncak kepala Aria. "Untuk Julian Vane, ya. Dia tidak akan pernah keluar dari sistem hukum New York hidup-hidup. Aku sudah memastikan dia akan berada di blok sel yang paling berbahaya, dikelilingi oleh orang-orang yang berutang nyawa padaku."
Aria menghela napas panjang. Beban yang selama ini menghimpit pundaknya seolah terangkat. Namun, ia tahu bahwa ini bukanlah akhir dari perjalanannya. Menjadi seorang Moretti berarti ia akan selalu berada di tengah pusaran kekuasaan dan bahaya.
"Tadi... saat kau membiarkanku menghadapinya sendirian... terima kasih," ucap Aria.
"Kau bukan lagi wanita yang aku temui di altar itu, Aria," sahut Dante. "Kau adalah ratu di duniaku sekarang. Dan seorang ratu harus bisa menghukum musuhnya sendiri agar rakyatnya tahu siapa yang memegang kendali."
Mobil melintasi jembatan Brooklyn, menyuguhkan pemandangan lampu-lampu Manhattan yang berkilau. Di tengah keheningan itu, Dante mengambil sebuah kotak beludru kecil dari sakunya.
Ia membukanya, memperlihatkan sebuah cincin zamrud hijau tua yang dikelilingi berlian hitam. Sangat berbeda dengan cincin pernikahan formal yang diberikan Julian saat pernikahan mereka yang pertama.
"Apa ini?" tanya Aria.
"Ini adalah cincin milik ibuku," ucap Dante, suaranya terdengar sedikit parau. "Dia memberikannya kepadaku sebelum dia meninggal, memintaku untuk memberikannya kepada wanita yang berhasil menaklukkan iblis di dalam diriku."
Dante mengambil tangan Aria dan menyematkan cincin itu di jari manisnya. "Cincin yang kau pakai saat pernikahan kita adalah cincin penuh kebohongan. Ini adalah cincin kejujuran. Sumpah berdarah kita sudah terpenuhi, Aria. Sekarang, kita mulai sumpah yang baru."
Aria menatap cincin itu. Zamrud hijaunya tampak berkilau indah di bawah cahaya lampu jalanan yang masuk ke kabin mobil. Ia menatap Dante, dan untuk pertama kalinya, ia melihat kelembutan yang tulus di mata pria itu.
"Apa sumpah barunya?" tanya Aria.
Dante menarik Aria lebih dekat, hingga bibir mereka hampir bersentuhan. "Bahwa dunia ini bisa terbakar, musuh bisa datang dan pergi, namun kau tidak akan pernah sendirian lagi. Moretti tidak akan pernah meninggalkan miliknya."
Aria tersenyum, sebuah senyuman yang penuh dengan kekuatan dan harapan. Ia memajukan wajahnya dan mencium Dante—sebuah ciuman yang tidak lagi dipenuhi oleh rasa takut atau keterpaksaan, melainkan oleh penerimaan akan takdir mereka yang saling bertautan.
Dua Minggu Kemudian
Kehidupan di Vila Danau Como kembali normal, namun dengan dinamika yang baru. Aria tidak lagi dilarang masuk ke ruang kerja Dante. Sebaliknya, ia kini memiliki mejanya sendiri di sana. Ia mengelola seluruh aspek legal dan yayasan sosial yang kini benar-benar beroperasi dengan dana dari pemulihan aset keluarga Vane.
Julian Vane dikabarkan tewas di dalam penjara seminggu setelah penangkapannya—sebuah "kecelakaan" di kamar mandi yang tidak pernah dipertanyakan oleh siapa pun. Keluarga Lucchese di New York telah menyatakan gencatan senjata permanen dengan Moretti setelah kehilangan jalur logistik utama mereka.
Sore itu, Aria sedang berdiri di balkon kamar mereka, menatap matahari terbenam yang memantul di permukaan danau yang tenang. Ia mengenakan gaun sutra hijau yang serasi dengan cincin di jarinya.
Langkah kaki yang mantap terdengar di belakangnya. Dante muncul, mengenakan pakaian kasual—kaos hitam dan celana jins—sesuatu yang jarang sekali ia pakai. Ia memeluk Aria dari belakang, menaruh dagunya di bahu wanita itu.
"Memikirkan apa?" tanya Dante.
"Memikirkan bagaimana hidup bisa berubah begitu cepat," jawab Aria. "Satu bulan lalu aku adalah seorang wanita yang ketakutan akan masa depannya. Sekarang... aku merasa seperti aku memiliki dunia ini."
Dante mengeratkan pelukannya. "Kau memang memiliki dunia ini, Aria. Dan aku hanyalah pengawalmu yang setia."
Aria tertawa kecil. "Pengawal yang sangat posesif, maksudmu?"
"Itu adalah bagian dari deskripsi pekerjaanku," canda Dante.
Tiba-tiba, Agostino muncul di pintu balkon dengan wajah yang sedikit serius. "Tuan Dante, Nyonya... ada tamu di bawah."
"Siapa?" tanya Dante, kembali ke mode siaga.
"Seorang pria bernama Alessandro Moretti. Saudara laki-laki ayah Anda yang sudah lama menghilang di Amerika Selatan," jawab Agostino. "Dia mengatakan dia datang untuk menuntut hak waris atas tanah di Sisilia."
Aria bisa merasakan tubuh Dante menegang. Badai yang satu baru saja reda, namun sepertinya awan gelap baru sudah mulai berkumpul di cakrawala.
Dante menatap Aria, dan Aria mengangguk kecil. Ia sudah siap. Apapun yang datang—baik itu keluarga yang lama hilang, pengkhianat baru, atau perang kekuasaan—ia akan menghadapinya sebagai seorang Moretti.
"Bawa dia ke ruang tamu," perintah Dante. "Berikan dia minuman. Kami akan segera turun."
Dante menoleh ke arah Aria. "Siap untuk babak berikutnya, Istriku?"
Aria mengambil pistol kecilnya dari meja rias, memasukkannya ke dalam saku gaunnya yang tersembunyi, lalu menggandeng tangan Dante. "Aku tidak pernah merasa lebih siap dari ini, Dante."
Mereka berdua berjalan menuju tangga, siap menghadapi ancaman baru dengan kepala tegak. Karena di dunia mafia, kedamaian hanyalah jeda singkat di antara peperangan. Dan bagi pasangan Moretti, peperangan adalah tempat di mana cinta mereka justru tumbuh semakin kuat.