Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Tanpa Pesta (pernikahan privat)
Ayah terkekeh kecil.
“Benar juga.”
Suasana yang tadinya terasa berat perlahan mencair, meski tidak sepenuhnya. Tawa ayah bukan tawa lepas—lebih seperti usaha kecil untuk memberi napas di tengah keputusan besar yang baru saja diambil. Ibuku melangkah ke dapur, langkahnya tenang, seolah pagi ini hanyalah pagi biasa. Padahal bagiku, semuanya terasa berbeda.
Aku masih duduk di tempat yang sama. Punggungku tegak, tapi bahuku terasa kaku. Tanganku saling menggenggam, dingin, meski matahari pagi sudah cukup terang menyusup lewat jendela.
Schevenko tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Sikapnya membuatku sadar—ia memberiku ruang, bukan jarak. Dua hal yang sering disalahartikan, tapi terasa sangat berbeda ketika kau berada di posisi ini.
“Aku mau kamu benar-benar yakin,” kata ayah lagi, kali ini menatapku.
“Bukan karena kami, bukan karena keadaan.”
Aku mengangguk pelan.
“Zahra tahu, Yah.”
Tapi dalam hati, aku tidak sepenuhnya yakin apakah aku benar-benar tahu. Yang kutahu hanya satu: aku tidak sedang dipaksa. Tidak ada teriakan, tidak ada ancaman, tidak ada air mata yang diperas. Yang ada hanyalah arus keadaan yang pelan tapi kuat, mendorongku ke satu arah yang belum pernah kubayangkan sebelumnya.
Ibuku kembali membawa nampan kecil berisi teh hangat. Uapnya naik perlahan, aromanya menenangkan. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di sampingku.
“Kamu gemetar,” katanya pelan.
Aku baru sadar ketika ia menyentuh tanganku. Benar saja.
“Aku gugup,” jawabku jujur.
Ibuku tersenyum tipis.
“Wajar.”
Schevenko akhirnya bicara lagi.
“Kita tidak harus terburu-buru dalam hati, meski langkahnya cepat.”
Kalimat itu membuatku menoleh padanya. Ada sesuatu di caranya berbicara—tidak mendikte, tidak memerintah. Seolah ia pun sedang melangkah di tanah yang sama asingnya.
Ayah berdiri, berjalan pelan ke jendela. Ia memandang keluar, ke halaman kecil rumah kami yang sudah ia rawat sejak aku masih kecil.
“Pernikahan ini,” katanya tanpa menoleh, “bukan tentang pesta. Bukan tentang orang-orang. Ini tentang tanggung jawab.”
Ia berbalik menatap Schevenko.
“Dan tanggung jawab itu besar.”
Schevenko mengangguk.
“Saya tidak menganggapnya ringan, Pak.”
Sunyi kembali turun. Tapi kali ini sunyi yang lebih tenang. Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba meredam gelombang di dadaku.
“Kalau nanti…” aku ragu sejenak sebelum melanjutkan,
“kalau nanti aku merasa asing dengan semuanya?”
Ayah tersenyum lembut.
“Berarti kamu sedang tumbuh.”
Ibuku mengusap punggung tanganku.
“Kamu tidak kehilangan siapa dirimu, Zahra. Kamu hanya menambah peran.”
Kata-kata itu tidak langsung membuatku berani. Tapi cukup untuk membuatku tidak mundur.
Aku menatap Schevenko lagi. Kali ini sedikit lebih lama. Ia membalas tatapanku, tidak tajam, tidak mendesak. Hanya hadir.
“Aku belum siap jadi istri sepenuhnya,” kataku pelan.
“Tapi aku siap belajar.”
Ia mengangguk.
“Itu lebih dari cukup.”
Jam dinding kembali berdetak. Satu ketukan demi satu ketukan, seperti menghitung langkahku sendiri. Tidak ada gaun putih. Tidak ada undangan. Tidak ada musik. Hanya ruang tamu sederhana, keluarga kecilku, dan keputusan yang akan mengubah caraku menyebut hari esok.
Beberapa menit berlalu tanpa ada yang berbicara. Ayah berdiri lebih dulu, mengambil ponselnya, lalu keluar sebentar ke teras. Aku tahu, ia sedang menghubungi seseorang—penghulu yang ia kenal sejak lama. Ibuku membereskan meja kecil di tengah ruang tamu, memindahkan cangkir-cangkir teh agar rapi, seolah ruang itu sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang sakral, meski tanpa hiasan apa pun.
Aku duduk diam. Lututku terasa lemas. Tanganku kembali saling menggenggam, kali ini lebih erat.
Schevenko duduk tidak jauh dariku, menjaga jarak yang sama seperti sejak tadi. Tidak mendekat, tidak pula menjauh. Aku menyadari satu hal kecil yang membuat dadaku menghangat—ia tidak mencoba menenangkanku dengan sentuhan. Ia membiarkanku merasakan semuanya dengan utuh.
Tak lama, ayah masuk kembali.
“Penghulu akan datang sebentar lagi,” katanya singkat.
Ibuku menoleh padaku.
“Kamu mau ke kamar sebentar? Biar tarik napas.”
Aku mengangguk pelan dan berdiri. Langkahku menuju kamar terasa aneh—seperti berjalan ke tempat yang sangat kukenal, tapi dengan tubuh yang sudah berbeda. Di dalam kamar, aku duduk di tepi ranjang. Cermin kecil di dinding memantulkan wajahku yang pucat tapi tenang.
Aku bukan bahagia.
Aku juga tidak sedih.
Aku berada di antara—di titik sunyi sebelum hidup benar-benar berbelok.
Ibuku masuk pelan. Ia membenarkan jilbabku, merapikan lipatan yang sedikit miring.
“Kali ini yang di butuhkan bukan terlihat cantik, kalo sekedar cantik kamu sudah memilikinya sejak lahir” katanya lembut.
“Cukup jujur.”
Aku mengangguk.
Ketika kami kembali ke ruang tamu, suasana sudah berubah. Seorang pria paruh baya duduk di salah satu kursi—penghulu. Wajahnya ramah, suaranya tenang. Ayah duduk di sampingnya, Schevenko duduk tegak di hadapannya.
Aku duduk di samping ibuku.
“Apakah semuanya sudah siap?” tanya penghulu.
Ayah mengangguk.
“InsyaAllah.”
Aku mendengar jantungku sendiri. Keras. Teratur. Seperti ingin memastikan aku masih sadar.
Penghulu mulai berbicara, menjelaskan dengan singkat. Tidak panjang. Tidak bertele-tele. Kata-katanya sederhana, tapi setiap kalimatnya terasa berat. Aku mendengarkan, tapi sebagian pikiranku seperti melayang—bukan pergi, hanya… mengambang.
Schevenko terlihat tenang. Tangannya bertumpu di lutut, punggungnya tegak. Saat ia melirik ke arahku sebentar, aku menunduk. Bukan karena takut, tapi karena dadaku terlalu penuh.
“Ayah sebagai wali, apakah siap?” tanya penghulu.
Ayah menjawab mantap.
“Siap.”
Aku menggenggam tangan ibuku lebih erat. Ia membalasnya dengan genggaman yang hangat.
Ijab kabul dimulai.
Aku mendengar ayah mengucapkan kata-kata itu—perlahan, jelas, tanpa ragu. Setiap suku katanya jatuh ke ruang tamu seperti palu kecil yang mematri sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Lalu giliran Schevenko.
Suara itu terdengar tenang. Tidak tergesa. Tidak terbata. Satu tarikan napas, lalu kalimat yang membuat dunia seolah berhenti sebentar.
“Sah.”
Kata itu keluar hampir bersamaan dari beberapa mulut.
Aku terdiam.
Tidak ada kembang api di dadaku. Tidak ada lonjakan emosi yang meledak. Yang ada hanyalah keheningan panjang—hening yang dalam, seperti air tenang setelah badai kecil.
Ibuku mengusap pundakku. Matanya berkaca-kaca.
“Alhamdulillah.”
Ayah menarik napas panjang, lalu tersenyum—senyum lega yang jarang kulihat.
Schevenko menoleh ke arahku. Kali ini lebih lama.
“Zahra,” katanya pelan.
Aku mengangkat wajahku.
“Mulai hari ini,” lanjutnya,
“aku bertanggung jawab. Bukan untuk menguasai hidupmu. Tapi menjaganya.”
Aku tidak langsung menjawab. Tenggorokanku terasa sempit. Lalu aku mengangguk.
“Terima kasih,” kataku lirih.
Penghulu menutup dengan doa singkat. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak. Hanya ucapan syukur yang mengalir pelan di antara kami.
Aku menunduk, menyadari satu hal yang akhirnya jelas—
aku sudah menikah.
Bukan dengan pesta.
Bukan dengan gaun putih.
Tapi dengan kesadaran penuh bahwa hidupku telah bergeser satu langkah ke depan.
Dan langkah itu…
tidak bisa kuambil kembali.