Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWURAN.
"Bisa tidak dalam sehari saja kamu tidak membuat kepalaku berdenyut?" gumam Adnan sambil memijat pelipisnya saat melihat layar ponselnya bergetar di tengah rapat direksi yang krusial.
Nayla tidak mengangkat telepon itu. Ia sedang sibuk menyalurkan emosinya pada sebuah kaleng minuman kosong di pinggir jalan. Sepatunya menghantam kaleng itu dengan teknik tendangan voli yang sempurna. Kaleng itu meluncur cepat, membelah udara, dan berhenti tepat setelah menghantam kepala seorang pria berambut gondrong yang sedang duduk di atas motornya.
"Woy! Siapa ini yang cari mati?" teriak pria itu sambil memegangi dahinya yang memerah.
Nayla berhenti melangkah. Ia berdiri dengan tangan masuk ke saku jaket, menatap pria itu dengan pandangan malas. "Gue. Kenapa? Kalengnya nggak sengaja lewat, mungkin dia benci lihat muka lo."
Pria itu turun dari motor, disusul tiga temannya yang keluar dari warung kopi. "Bocah ingusan ya. Pakai jilbab tapi kelakuan kayak setan. Ganti rugi satu juta atau lo ikut kita sekarang!"
Nayla tertawa sumbang. Ia teringat wajah kaku Adnan dan motor bebek pink yang menghina harga dirinya. Amarahnya memuncak ke ubun-ubun. "Satu juta? Buat benjol sekecil itu? Lo mau operasi plastik atau mau beli otak baru? Sini, biar gue kasih diskon."
"Kurang ajar! Tangkap ini cewek!" perintah si gondrong.
Pria pertama merangsek maju, mencoba mencengkeram bahu Nayla. Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat oleh mata awam, Nayla memutar tubuhnya, menangkap pergelangan tangan pria itu, dan membantingnya ke aspal dengan teknik osoto gari yang brutal. Belum sempat dua pria lainnya bereaksi, Nayla melompat dan mendaratkan tendangan lutut tepat di ulu hati pria kedua.
"Ayo, siapa lagi? Gue lagi butuh samsak buat ngelampiasin dendam sama es balok!" tantang Nayla sambil memasang kuda-kuda rendah.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, empat pria dewasa itu terkapar di pinggir jalan dekat gerbang SMA Garuda Bangsa. Nayla berdiri di tengah-tengah mereka, merapikan letak hijabnya yang sedikit miring tanpa napas yang terengah-engah. Namun, tepuk tangan sinis terdengar dari arah gerbang. Itu adalah Reno, preman sekolah yang minggu lalu dikalahkan Nayla.
"Hebat, Nay. Tapi sayang, Pak Kepsek nonton aksi panggung lo dari tadi," ucap Reno sambil menunjuk ke arah balkon lantai dua sekolah.
Nayla mendongak. Di sana, Pak broto, kepala sekolah yang terkenal galak, berdiri dengan wajah sehitam arang.
___
Di ruang rapat kantor pusat Hasyim Group, suasana mendadak hening saat Sekretaris Adnan, Maya, masuk dengan wajah pucat dan membisikkan sesuatu ke telinga bosnya.
"Pak, ada telepon darurat dari SMA Garuda Bangsa. Katanya wali murid atas nama Nayla Safira harus segera datang. Ada insiden tawuran dan pengeroyokan," bisik Maya.
Adnan menggebrak meja, membuat para direktur tersentak. "Tawuran? Anak itu benar-benar tidak bisa diam! Batalkan rapatnya sekarang."
para pemegang saham pada Heran, ada yang berbisik. Emangnya pak Adnan ada anak yang sudah SMA?riuh pemegang saham, penasaran.
"Anaknya pak?"
"Istriku. Keluarga lebih penting. Saya harus mengurus istri saya," ucap Adnan refleks sambil menyambar jasnya.
"Maaf Pak,"
Adnan mendengus kasar, wajahnya memerah karena malu dan marah yang bercampur aduk. "Sama saja! Dia itu beban hidup yang baru saja saya beli!"
Sepuluh menit kemudian, mobil mewah Adnan mengerem mendadak di depan gerbang sekolah. Dengan langkah lebar dan aura yang sanggup membekukan ruangan, Adnan masuk ke ruang kepala sekolah. Di sana, ia melihat Nayla duduk santai sambil menggoyangkan kakinya, sementara di sudut ruangan, empat pria berwajah babak belur sedang diobati.
"Bagus sekali, Nayla. Baru tiga hari jadi istri, kamu sudah jadi tersangka penganiayaan," ucap Adnan dingin saat memasuki ruangan.
"Eh, Mas Suami sudah datang! Cepat banget, Mas. Kangen ya?" sapa Nayla dengan nada tengil yang membuat Pak Broto tersedak ludahnya sendiri.
"Selamat siang, Pak Adnan Hasyim. Mohon maaf kami memanggil Anda. Tapi Nayla ini terlibat perkelahian dengan warga sekitar tepat di depan sekolah," jelas Pak Broto dengan nada sungkan karena tahu siapa Adnan.
"Dia bukan terlibat perkelahian, Pak. Dia yang menghajar mereka semua sendirian," ralat salah satu guru yang melihat rekaman CCTV.
Adnan menatap Nayla dengan pandangan menghunus. "Jelaskan."
Nayla berdiri, menghampiri Adnan lalu berbisik. "Mereka minta satu juta buat kaleng bekas, Pak. Saya sebagai istri yang hemat kan nggak mau buang-buang uang suami. Jadi saya bayar pakai pukulan saja, lebih ekonomis."
"Hemat katamu? Kamu tahu berapa harga namaku kalau sampai berita ini masuk koran?" desis Adnan. Ia kemudian menatap Pak Broto. "Saya akan menanggung semua biaya pengobatan mereka dan kerusakan yang ada. Saya minta masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan."
"Tentu, Pak Adnan. Tapi Nayla harus tetap mendapat poin pelanggaran," ujar Pak Broto.
Setelah urusan administrasi selesai, Adnan menarik lengan baju Nayla dan menyeretnya menuju parkiran. Nayla mencoba melepaskan diri sambil protes.
"Aduh, pelan-pelan dong! Sakit tahu! Pak Adnan ini kalau mau pegangan tangan bilang saja, jangan ditarik begini," omel Nayla.
"Masuk ke mobil sekarang!" perintah Adnan sambil membuka pintu penumpang depan.
"Nggak mau! Saya mau naik angkot saja. Saya masih marah soal motor bencong itu!"
Adnan berhenti, ia menatap Nayla dengan tatapan yang membuat nyali Nayla sedikit menciut. "Motor itu sudah saya suruh tarik. Sekarang diam dan masuk, atau saya akan telepon ayahmu dan bilang kalau kamu membuat kerusuhan lagi."
Nayla langsung bungkam. Nama ayahnya adalah kelemahannya. Ia masuk ke mobil dengan wajah cemberut yang ditekuk sedalam mungkin. Di dalam perjalanan, suasana sangat mencekam. Adnan menyetir dengan kecepatan tinggi, tangannya mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih.
"Wanita itu harusnya lembut, Nayla. Bukan jadi tukang pukul di jalanan," buka Adnan setelah lima menit hening.
"Lembut itu kalau lawannya manusia, Pak. Kalau lawannya preman pemeras ya harus keras. Bapak sih enak, duduk di kantor ber-AC, nggak tahu rasanya hampir diculik," balas Nayla ketus.
"Diculik? Mereka mencoba menculikmu?" Adnan mendadak menginjak rem, membuat tubuh Nayla terdorong ke depan.
"Ya iyalah! Mereka bilang kalau nggak bayar, saya harus ikut mereka. Makanya saya banting. Masa saya harus diam saja sambil bilang 'Iya Mas silakan culik aku'?"
Adnan terdiam. Kemarahannya perlahan luntur, digantikan oleh rasa bersalah yang menusuk. Ia tidak tahu bahwa Nayla dalam bahaya nyata. Ia hanya melihat kekacauan yang ditimbulkannya.
"Kenapa tidak telepon saya?" tanya Adnan, suaranya kini sedikit melunak.
"Hape saya mati. Lagian, Bapak kan benci sama saya. Paling kalau saya telepon, Bapak cuma bilang 'Urus saja sendiri, dasar bocah tengil'," ejek Nayla sambil menatap ke luar jendela.
Adnan menghela napas panjang. Ia meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu. "Turunlah. Kita sudah sampai."
Nayla mengernyit. "Lho, kok ke dealer motor?"
"Pilih motor mana pun yang kamu mau. Tapi satu syarat: jangan pernah berkelahi lagi tanpa seizin saya," ucap Adnan sambil menyerahkan kartu kredit hitamnya pada Nayla.
Nayla menatap kartu itu, lalu menatap Adnan dengan mata berbinar. "Serius? Semua motor? Moge yang mesinnya seribu cc juga boleh?"
"Nayla, jangan melunjak," peringat Adnan.
Nayla tertawa lepas, ia refleks mencium pipi Adnan dengan gemas sebelum menyadari apa yang ia lakukan. "Makasih ya, Pak Es Balok! Bapak emang suami paling keren meskipun galaknya minta ampun!"
Nayla berlari masuk ke dealer dengan semangat, meninggalkan Adnan yang terpaku di depan mobilnya. Adnan menyentuh pipinya nya yang baru saja dicium Nayla. Ada getaran aneh yang menjalar, sebuah perasaan hangat yang mulai merusak tatanan logika dingin yang selama ini ia agungkan.
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥