Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Matahari mulai merendah di ufuk barat saat taksi online yang ditumpangi Citra berhenti di depan gerbang raksasa Mansion Aditama.
Citra melangkah masuk dengan tenang, berusaha mengatur ritme napasnya. Di tangan kanannya, terdapat dua paper bag berlogo butik desainer menengah dan satu tas belanja kecil dari gerai kosmetik premium. Ia sudah bersiap secara mental menghadapi interogasi atau sindiran suaminya malam ini.
Saat Citra membuka pintu kayu jati kamar utama yang berat, Putra ternyata sudah pulang lebih awal dari biasanya. Pria itu duduk bersandar santai di sofa kulit tunggalnya, sebelah kakinya disilangkan dengan angkuh. Kemeja kerja mahalnya sudah sedikit berantakan, dan dasinya telah dilonggarkan kasar. Di tangannya, Putra memegang ponsel dengan layar yang menyala terang.
Mendengar suara pintu terbuka, tatapan setajam elang milik Putra langsung terarah pada wajah Citra, lalu turun menguliti barang bawaan di tangan istrinya.
Hening sejenak mencekam ruangan itu. Putra menatap layar ponselnya lagi, seolah sedang menghitung ulang rentetan notifikasi transaksi dari black card miliknya yang baru saja digunakan Citra siang tadi.
Tiba-tiba, tawa sumbang meluncur dari bibir Putra. Tawa itu bukan tawa bahagia atau geli, melainkan tawa merendahkan yang sangat dingin, sarkastis, dan penuh ejekan. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, menatap Citra dari atas ke bawah seolah sedang melihat tontonan badut sirkus yang sangat murahan.
"Tujuh juta enam ratus ribu rupiah," ucap Putra mengeja nominal itu pelan-pelan dengan nada mengejek yang kental. Ia melempar ponselnya ke atas meja kaca di depannya hingga berbunyi benturan keras. "Dari limit kartu VIP yang nyaris tak terbatas, kamu pergi ke mal eksklusif seharian penuh hanya berani menggesek tujuh juta?"
Citra menghentikan langkahnya di tengah ruangan. Jantungnya berdebar pelan, namun ia memaksa wajahnya tetap sedatar tembok. Ia meletakkan paper bag itu di atas karpet berbulu tebal.
"Saya sudah membeli pakaian rumahan yang baru dan perawatan wajah seperti yang Mas Putra perintahkan tadi pagi," jawab Citra datar, berusaha agar suaranya tidak memancing keributan yang tidak perlu.
Putra bangkit berdiri dengan gerakan elegan namun mematikan. Ia berjalan perlahan mendekati Citra. Tubuh tingginya menjulang, mengintimidasi ruang gerak Citra seperti biasa. Matanya memindai dua potong gaun rumahan berbahan linen dan sekotak skincare di dalam tas belanja itu dengan tatapan luar biasa meremehkan.
"Kamu pikir gaun tujuh jutaan itu bisa menutupi auramu yang kusam dan kampungan?" Putra mendengus sinis, senyum miringnya terlihat sangat kejam mengiris hati. "Saya menyuruhmu memperbaiki diri, Citra. Saya kira kamu punya sedikit saja otak untuk pergi ke desainer kelas atas, membeli satu set perhiasan berlian, atau setidaknya memborong gaun pesta yang layak dipakai berdiri di samping saya saat kolega Papa datang. Tapi ternyata, ini yang kamu bawa pulang?"
"Saya rasa gaun ini sudah sangat layak untuk dipakai sehari-hari di rumah, Mas. Bahannya bagus, jahitannya rapi, dan potongannya sopan," sanggah Citra dengan nada tenang, yang entah kenapa justru semakin membuat Putra muak dan jengkel karena tak melihat ketakutan di mata istrinya.
"Layak menurut standar siapa? Standar orang kampung pinggiran yang biasa pakai baju bekas?" potong Putra tajam, suaranya naik satu oktaf. Ia melipat kedua tangannya di dada yang bidang. "Mental miskinmu itu sepertinya sudah mendarah daging ya, Citra? Diberi akses kekayaan yang diimpikan semua wanita pun, otak sempitmu tetap tidak bisa mencerna bagaimana caranya hidup menjadi orang kelas atas."
Kata-kata itu menohok tepat di ulu hati, namun Citra mematung, menahan diri mati-matian untuk tidak memalingkan wajah atau meneteskan air mata. Ia membalas tatapan merendahkan Putra dengan sorot mata yang kosong tak terbaca.
"Kamu tahu apa masalah terbesarmu yang membuat saya muak?" lanjut Putra, kali ini nadanya merendah namun jauh lebih menusuk, seolah sedang menasihati orang bodoh yang tak punya masa depan. "Kamu itu cuma cangkang kosong yang terbiasa hidup susah dan menderita. Jiwa miskinmu itu akan terus menempel seperti parasit di tubuhmu. Sampai kapan pun, selamanya kamu tidak akan ada kemajuan. Kamu akan tetap menjadi wanita kampungan yang tangannya gemetar melihat label harga barang branded, terlepas dari seberapa banyak tumpukan uang yang saya lemparkan ke wajahmu."
Mendengar hinaan bertubi-tubi yang merendahkan harga diri dan silsilah keluarganya itu, reaksi Citra sungguh di luar dugaan Putra.
Tidak ada air mata yang menggenang. Tidak ada bantahan emosional yang meledak-ledak. Tidak ada dada yang naik turun menahan amarah. Citra hanya berdiri mematung di sana dengan wajah sedingin pualam.
Silakan tertawa, Mas. Silakan sebut aku miskin, parasit, dan tak punya selera kelas atas, batin Citra berteriak kencang, meski bibirnya terkatup rapat.
Di balik wajah datarnya, otak pragmatis Citra justru menari-nari penuh kemenangan. Putra terlalu sibuk mengejek nominal tujuh juta dari kartu debitnya untuk meninggikan egonya sendiri. Saking sibuknya merendahkan Citra, pria jenius dan arogan itu sepenuhnya lupa dan luput mempertanyakan nasib amplop putih tebal berisi puluhan juta uang tunai yang ia lemparkan pagi tadi. Uang tak terlacak yang kini sudah aman berada di tangan Bu Sari, ibu yang paling disayanginya, untuk memperbaiki atap rumah yang bocor dan membeli obat rematik kualitas terbaik.
"Maaf kalau nominal belanjaan saya tidak sanggup memenuhi standar dan selera kelas atas Mas Putra," ucap Citra pada akhirnya, memecah keheningan dengan suara yang sangat tenang, nyaris seperti robot tak bernyawa. "Lain kali, saya akan belajar menghabiskan uang Mas Putra lebih rakus lagi agar jiwa miskin saya ini tidak membuat Mas malu di depan teman-teman sosialita Mas."
Sarkasme halus dan tak terduga itu membuat rahang Putra seketika mengeras kaku. Pria itu benci, sangat benci, melihat Citra yang terlalu tenang dan seolah kebal terhadap hinaannya hari ini. Ia lebih suka melihat istrinya hancur, menangis, dan memohon belas kasihan di bawah kakinya.
"Jangan banyak bicara. Mulutmu itu mulai tidak sopan," geram Putra kasar, kilat amarah mulai terpancar di matanya. "Singkirkan barang-barang murahmu itu dari pandangan saya. Lalu masuk ke kamar mandi, siapkan air panas di bathtub sekarang juga, dan bantu saya mandi. Punggung saya pegal seharian bekerja untuk memberimu makan."
Perintah terakhir itu membuat jantung Citra seketika mencelos. Memandikan Putra? Sejak kejadian air kopi mendidih itu, Putra tidak pernah lagi menyuruhnya masuk ke area bathtub.
"Ba-baik, Mas," jawab Citra patuh, suaranya sedikit bergetar kali ini.
Sambil menunduk memungut tas belanjanya, seulas senyum tipis sangat tipis hingga tak terlihat oleh Putra terukir di sudut bibir Citra yang pucat. Biarlah Putra merasa menang mutlak di atas keangkuhannya hari ini. Biarlah Putra merasa menjadi dewa yang berkuasa menilai jiwa dan mental seseorang. Karena pada akhirnya, Citra tahu persis siapa yang sebenarnya bodoh dalam permainan ini.
Citra bergegas masuk ke dalam kamar mandi utama yang luas dan berlapis marmer hitam itu. Tangannya dengan cekatan memutar keran air panas, menuangkan sabun cair beraroma pinus kesukaan suaminya, dan memastikan suhu airnya pas.
Tak lama, pintu kaca kamar mandi terbuka. Putra melangkah masuk hanya dengan mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Tubuh atletis dan perut six-pack pria itu terekspos jelas. Citra segera menundukkan pandangannya, menatap lantai marmer, tidak berani menatap tubuh suaminya secara langsung.
Putra melangkah masuk ke dalam bathtub yang penuh busa, duduk bersandar dengan mata terpejam, menikmati air hangat yang merilekskan otot-ototnya yang tegang.
"Tunggu apa lagi? Gosok punggung saya."
Citra meraih spons mandi yang lembut. Dengan tangan sedikit gemetar dan napas tertahan, ia berlutut di sisi luar bathtub. Perlahan, ia mulai menggosok punggung lebar suaminya dengan gerakan memutar. Kulit Putra terasa hangat dan kencang di bawah sentuhan tangannya yang dibatasi oleh spons berbusa.
"Lebih keras sedikit. Kamu belum makan atau bagaimana?" tegur Putra ketus.
Citra menekan sponsnya sedikit lebih kuat. Ia melakukan tugasnya dalam keheningan yang mencekam. Jarak mereka sangat dekat. Citra bisa mencium aroma maskulin bercampur sabun dari tubuh pria yang begitu membencinya ini. Setiap kali tangan Citra tak sengaja menyentuh kulit Putra secara langsung, tubuh pria itu sedikit menegang, namun Putra tidak menyuruhnya berhenti.
Di balik uap air panas yang mengepul di kamar mandi itu, Citra terus menggosok punggung suaminya bagaikan pelayan yang paling patuh. Namun di dalam kepalanya, ia merangkai rencana-rencana pelarian, membayangkan hari di mana ia tak perlu lagi berlutut di lantai marmer dingin ini demi melayani pria yang menganggapnya tak lebih berharga dari kotoran di sepatunya.
Mohon klik suka sebelum lanjut baca 🙏🙏🥰
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih