NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM PEMBERSIHAN

Rajendra sampai di kantor jam delapan malam.

Gedung ruko sudah sepi, toko-toko di lantai bawah sudah tutup, hanya lampu jalan yang menerangi area parkir depan.

Dia naik tangga cepat ke lantai dua, buka pintu kantor dengan tangan yang sedikit gemetar.

Nyalakan semua lampu. Ruangan terasa berbeda di malam hari—lebih sunyi, lebih dingin, bayangan lebih panjang.

Lima belas menit kemudian, Arief datang dengan tas ransel penuh peralatan. Wajahnya serius, tidak ada jokes seperti biasanya.

"Gue udah telepon Rian. Dia lagi di jalan."

"Bagus. Kita tunggu dia dulu, terus kita scan semuanya."

Sepuluh menit kemudian, Rian datang dengan laptop dan hard drive eksternal.

"Oke, gue di sini. Jadi situasinya gimana?"

Rajendra menjelaskan informasi dari Bu Siti. Tentang rencana Dera. Tentang file yang akan auto-activate besok malam.

Arief dan Rian mendengarkan dengan wajah serius.

"Kalau mereka plant malware," kata Arief sambil buka laptopnya, "kemungkinan besar lewat hack attempt kemarin. Waktu mereka coba brute force admin panel, mungkin mereka berhasil inject script atau backdoor."

"Tapi mereka gak berhasil login," kata Rian. "Password salah semua."

"Gak perlu login untuk inject malware. Bisa lewat SQL injection, bisa lewat exploit vulnerability di plugin yang kita pakai, banyak cara."

Rian mengangguk.

"Oke. Gue scan database dulu. Lu scan file system. Kita cari apa aja yang suspicious."

Mereka mulai bekerja.

Arief duduk di depan komputer server, menjalankan antivirus scan dan malware detection tools. Layar penuh dengan code yang scroll cepat.

Rian buka laptopnya, connect ke database LokalMart, mulai query semua table untuk cari anomali.

Rajendra duduk di mejanya sendiri, tidak bisa berbuat banyak secara teknis, tapi monitor progress mereka.

Jam sembilan malam, Arief menemukan sesuatu.

"Bro, ada file aneh di folder uploads. File PHP yang gak seharusnya ada di sana."

Rian berdiri, berjalan ke komputer Arief, melihat layar.

"Itu backdoor. Classic webshell. Mereka bisa execute command apapun lewat file ini."

"Kapan file ini masuk?"

Arief cek timestamp.

"Dua hari lalu. Jam tiga pagi. Exactly waktu yang sama dengan hack attempt."

"Berarti mereka berhasil upload file ini meski gak bisa login."

"Yeah. Dan ini belum activated. Masih dormant. Tapi ada scheduled task yang akan trigger file ini besok malam jam sepuluh."

Rajendra berdiri, berjalan mendekat.

"Kalau file ini activated, apa yang akan terjadi?"

Arief membuka file dengan text editor, membaca code-nya.

Wajahnya berubah pucat.

"Ini... ini akan otomatis generate transaksi palsu di database kita. Transfer dana dari rekening LokalMart ke rekening offshore. Dan setelah itu, file akan kirim anonymous tip ke polisi cyber crime dengan bukti transaksi ini."

Rian bersiul pelan.

"Fucking hell. Ini sophisticated. Mereka bikin framing otomatis."

Rajendra merasakan amarah dan takut campur jadi satu di dadanya.

"Bisa kita delete file ini sekarang?"

"Bisa. Tapi gue mau trace dulu siapa yang upload ini. Mungkin ada jejak."

Arief mulai analyze log file server, mencari IP address yang upload file backdoor itu.

Sepuluh menit kemudian, dia menemukan.

"IP-nya sama dengan hack attempt kemarin. Dari internet cafe Tanah Abang."

"Dead end berarti."

"Gak sepenuhnya. Gue bisa extract metadata dari file ini. Siapa tahu ada info tentang komputer yang dipake buat create file ini."

Arief menjalankan tools forensic, extract metadata dari file PHP.

Layar menampilkan informasi detail: tanggal create, software yang dipakai, bahkan username komputer yang create file itu.

Username: DERA-PC

Rajendra menatap layar dengan mata melebar.

"Dera-PC. Itu komputer dia. Dia yang bikin file ini di komputernya sendiri."

"Bodoh banget," komentar Rian. "Orang yang bikin malware biasanya pake komputer clean atau virtual machine. Ini amatir."

"Atau terlalu confident," kata Arief. "Dia pikir file ini gak bakal ketahuan."

Rajendra meraih ponselnya.

"Gue harus screenshot ini. Ini bukti."

Arief screenshot layar metadata, kirim ke ponsel Rajendra.

"Oke. Sekarang kita delete file ini?"

"Delete. Dan strengthen security biar mereka gak bisa plant file lagi."

Arief delete file backdoor, lalu mulai update security settings. Change password database, install firewall lebih ketat, disable unnecessary services, patch semua vulnerability yang dia temukan.

Rian membantu dari sisi database, encrypt semua data sensitif, backup semuanya ke multiple locations.

Jam sebelas malam, mereka selesai.

"Oke," kata Arief sambil stretch lengan ke atas. "System clean. Security upgraded. Mereka gak bisa masuk lagi dengan cara yang sama."

"Bagus," kata Rajendra. "Terima kasih, guys. Serius. Kalau bukan kalian, gue gak bakal tahu file ini ada sampai terlambat."

"Sama-sama, bos. Kita tim."

Rian menutup laptopnya.

"Tapi lu tahu kan, sekarang lu punya bukti solid bahwa Dera yang plant malware ini. Username komputernya jelas tertulis di metadata. Lu bisa report ke polisi."

Rajendra berpikir.

"Gue bisa. Tapi polisi butuh waktu untuk investigate. Dan sidang besok pagi. Gue gak punya waktu untuk report sekarang."

"Terus lu mau gimana?"

"Gue simpan bukti ini dulu. Setelah sidang selesai, regardless hasilnya, gue akan report semua. Dokumen palsu, laporan palsu, cyber attack, semua. Dengan bukti yang lengkap."

Arief mengangguk.

"Smart. Kalau lu report sekarang, mereka bisa claim ini fabricated evidence untuk influence sidang besok. Lebih baik tunggu sampai sidang selesai."

"Exactly."

Mereka packing barang masing-masing, bersiap pulang.

Tapi sebelum keluar, Rajendra bicara lagi.

"Rief, Rian. Gue mau bilang sesuatu."

Mereka berdua berhenti, menatap Rajendra.

"Kalau besok gue kalah di sidang, LokalMart mungkin akan struggle. Gue gak akan punya dana besar untuk scale. Gue gak akan bisa gaji kalian sebesar sekarang. Mungkin kalian harus cari kerjaan lain yang lebih secure."

Arief menggeleng.

"Bos, stop. Kita gak join LokalMart karena uang. Kita join karena kita percaya sama lu. Sama visi lu. Menang atau kalah besok, kita tetap di sini."

Rian menambahkan.

"Yeah. Gue udah sering pindah-pindah kerja. Gue bosen tempat yang aman tapi boring. Gue lebih suka tempat yang challenging dan meaningful. LokalMart itu dua-duanya. Jadi gue stay."

Rajendra merasakan sesuatu hangat di dadanya.

"Thanks, guys."

"Jangan thanks. Sekarang pulang, istirahat. Besok lu harus fresh buat sidang."

Mereka keluar kantor bersama, turun tangga, keluar gedung.

Di luar, Jakarta malam masih ramai dengan kendaraan dan orang-orang yang pulang dari tempat hiburan.

Arief dan Rian naik motor ojek online. Rajendra naik taksi.

Di dalam taksi, Rajendra menatap ponselnya yang menampilkan screenshot metadata file backdoor.

Username: DERA-PC.

Bukti jelas.

Besok setelah sidang, dia akan bawa semua bukti ini ke polisi. Tidak peduli dia menang atau kalah di sidang, Dera harus bertanggung jawab atas semua yang dia lakukan.

Tapi sekarang, fokus dulu ke sidang besok.

Satu hari lagi.

Besok jam sepuluh pagi, semua akan berakhir.

Sampai kamar kos jam dua belas malam, Rajendra langsung tidur tanpa ganti baju.

Terlalu lelah. Terlalu banyak yang terjadi hari ini.

Tapi setidaknya sekarang dia tidur dengan lebih tenang, knowing bahwa ancaman cyber sudah di-handle.

*****

Sementara itu, di apartemen Dera, malam semakin larut tapi Dera belum tidur.

Dia duduk di depan laptop dengan wajah tegang, refresh halaman monitoring tool yang seharusnya kasih notifikasi kalau file backdoor-nya berhasil di-execute.

Tapi tidak ada notifikasi.

File seharusnya standby, waiting untuk di-trigger besok malam.

Tapi ada sesuatu yang terasa salah.

Dia coba akses webshell lewat browser, tapi tidak bisa connect.

File not found.

Dera merasakan sesuatu dingin di perutnya.

File itu hilang?

Dia coba akses dengan cara lain, tapi tetap tidak bisa.

File sudah di-delete.

"Fuck!" dia memukul meja keras.

Jessica yang tidur di kamar terbangun, keluar dengan wajah ngantuk.

"Ada apa? Kenapa teriak?"

"File gue di-delete. Mereka ketahuan. Entah gimana, tapi mereka tahu dan mereka delete file itu."

Jessica menatapnya dengan mata melebar.

"Berarti rencana kita gagal lagi?"

"Gagal. Fuck. Fuck!"

Dera berdiri, berjalan mondar-mandir dengan frustasi.

"Gimana mereka bisa tahu? Gue udah hati-hati. Gue pakai script yang sophisticated. Gue schedule trigger-nya pas timing yang perfect."

Jessica duduk di sofa, wajahnya pucat.

"Dera, maybe kita harus stop. Ini sudah terlalu banyak gagal. Maybe universe trying to tell us something."

Dera menatapnya dengan tatapan tajam.

"Universe gak ada. Yang ada cuma effort dan execution. Kita gagal karena kita kurang hati-hati, bukan karena universe."

"Tapi—"

"Gak ada tapi. Besok sidang. Kalau kita kalah di sidang, kita masih punya satu cara terakhir."

"Cara apa?"

Dera tidak menjawab langsung. Dia menatap keluar jendela apartemennya yang menghadap ke lampu-lampu kota Jakarta.

"Physical approach."

Jessica terdiam, wajahnya berubah lebih pucat.

"Maksud lu... apa?"

"Lu gak perlu tahu detail. Yang penting, besok setelah sidang, kalau hakim putuskan Rajendra menang, gue akan pastikan dia gak bisa enjoy kemenangan itu."

"Dera, please. Jangan lakuin sesuatu yang bodoh—"

"Bodoh? Bodoh itu ngalah setelah kita udah usaha segini jauh! Bodoh itu biarkan Rajendra menang dan kita jadi pecundang selamanya!"

Jessica menunduk, air mata mulai turun.

Dera menarik napas, mencoba calm down, lalu duduk di samping Jessica, meraih tangannya.

"Jess, dengar. Aku janji ini terakhir. Setelah ini, menang atau kalah, kita move on. Oke?"

Jessica menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Lu janji?"

"Aku janji."

Tapi di mata Dera, tidak ada kepastian.

Hanya keputusasaan dan obsesi yang sudah terlalu dalam untuk berhenti.

[ END OF BAB 32 ]

1
mini
aduh akubkurang srek thor gda chemistry sama dina😁✌️
aidios: hahaha iya kak maaf ya, memang jalan ceritanya ini lebih fokus ke balas dendamnya si rajendra 🤣
total 1 replies
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!