Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Angka sembilan puluh lima persen itu terus berkedip di depan mataku. Warna merahnya begitu pekat, seolah sedang memperingatkanku bahwa kematian sudah berdiri tepat di belakang punggungku. Aku bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi pelipis, namun otot-ototku justru menegang karena gairah bertarung yang dipaksakan oleh sistem.
"Ranah Transformasi Jiwa, ya?" tanyaku sembari mengatur napas yang mulai terasa berat.
Utusan Bayangan itu tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan satu jarinya di udara. Gerakan yang terlihat sangat sepele itu tiba-tiba menciptakan tekanan gravitasi yang luar biasa besar di sekelilingku. Tanah di bawah kakiku langsung amblas sedalam sepuluh senti, membuat tulang keringku berderak keras menahan beban.
[Peringatan! Tekanan eksternal melampaui batas ketahanan struktur manusia. Memulai prosedur paksa: Transformasi Penuh.]
"Tunggu, jangan sekarang!" seruku dengan gigi yang terkatup rapat.
Rasa sakit yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya menyerang sumsum tulang belakangku. Aku merasa seperti ada logam panas yang mengalir di pembuluh darahku. Punggungku melengkung tajam, dan suara retakan tulang yang patah serta tersusun kembali memenuhi telinga. Aku tidak bisa menahannya lagi, geraman binatang buas lolos begitu saja dari tenggorokanku yang kini terasa kasar.
"Oh, jadi ini wujud aslimu?" gumam Utusan Bayangan itu dengan nada yang terdengar sangat terhibur.
Kulitku sepenuhnya berubah menjadi sisik hitam legam dengan guratan emas yang menyala redup. Sepasang tanduk kecil mencuat dari dahi, dan pandanganku berubah menjadi tajam dengan spektrum warna yang berbeda. Aku bukan lagi Han Wol yang lemah, aku adalah pemangsa yang lahir dari kegelapan terdalam.
"Aku akan merobek topeng perakmu itu," ancamku dengan suara yang kini berat dan bergema.
"Cobalah kalau kau bisa, anak muda," tantang pria bertopeng itu sembari menghilang dari pandanganku.
Kecepatannya berada di level yang berbeda. Sebelum aku sempat bereaksi, sebuah hantaman telapak tangan mendarat telak di dadaku. Kekuatan itu mementalkanku hingga menabrak tiga pohon bambu besar sekaligus. Aku terbatuk, memuntahkan cairan kehitaman yang kental.
[Kerusakan terdeteksi: 15%. Regenerasi seluler dipercepat.]
"Sialan, dia terlalu cepat," umpatku sembari bangkit berdiri dengan bantuan ekorku yang kini sangat kuat.
Aku segera melesat maju, menggunakan teknik Langkah Asura yang baru saja terbuka di dalam pikiranku. Tanah yang kupijak meledak akibat dorongan kekuatanku. Aku mengayunkan cakar kananku ke arah lehernya, namun ia hanya memiringkan kepala sedikit saja untuk menghindar.
"Gerakanmu terlalu emosional," komentar Utusan Bayangan itu sembari menangkap pergelangan tanganku dengan tangan kosong.
Ia memutar lenganku hingga terdengar bunyi patah yang sangat nyaring. Aku berteriak, namun bukannya mundur, aku justru menggunakan tangan kiriku untuk menusuk perutnya. Cakarku berhasil menyentuh jubah hitamnya, namun seolah-olah aku sedang menusuk dinding baja yang tak terlihat.
"Pelindung energi," cetusku sembari menarik diri kembali.
Lengan kananku yang patah segera tersambung kembali berkat kemampuan regenerasi monster. Pria itu menatap lenganku yang sembuh dalam hitungan detik dengan mata yang sedikit melebar di balik topengnya.
"Menarik, kemampuan regenerasimu bahkan melebihi para tetua di sekteku," puji pria bertopeng itu sembari melipat tangan di dada.
"Aku belum selesai," balasku dengan mata yang menyala merah terang.
Aku merasakan energi Formasi Inti milik Jang Gwang yang tersimpan di dalam tubuhku mulai mendidih. Sistem seolah memberikan kunci akses untuk melepaskan seluruh energi itu dalam satu serangan besar.
[Protokol: Ledakan Esensi Asura siap digunakan. Risiko: Kelelahan ekstrem selama 12 jam.]
"Lakukan saja!" perintahku dalam hati.
Cahaya hitam pekat mulai terkumpul di kedua telapak tanganku, membentuk sebuah bola energi yang memancarkan aura kehancuran. Udara di sekitar kami mulai bergetar hebat, bahkan Paman Wu yang berada di dalam gubuk pasti bisa merasakan getaran ini.
"Serangan yang cukup berisiko," tukas Utusan Bayangan itu sembari mulai serius dan mengangkat kedua tangannya.
Tepat saat aku hendak melepaskan energi tersebut, sebuah suara siulan nyaring terdengar dari arah sungai. Siulan itu terdengar sangat merdu namun memiliki kekuatan yang mampu meredam energi yang sedang kukumpulkan.
"Cukup, Bayangan. Kita tidak punya waktu untuk bermain-main dengan bibit baru ini," ujar sebuah suara wanita yang terdengar sangat berwibawa.
Utusan Bayangan itu langsung menurunkan tangannya dan membungkuk hormat ke arah sungai. Aku tertegun, menatap sosok wanita yang berdiri di atas permukaan air sungai dengan gaun ungu yang melambai ditiup angin.
"Nyonya Besar?" tanya Utusan Bayangan itu dengan nada terkejut.
Wanita itu melangkah ke daratan, kakinya bahkan tidak menyentuh tanah. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah sedang melihat sebuah barang antik yang sangat langka.
"Han Wol, bukan?" tanya wanita berbaju ungu itu sembari berjalan mendekat.
"Siapa kau?" tanyaku sembari tetap menjaga posisi bertahan, meski tubuhku mulai terasa sangat lemas akibat pembatalan mendadak teknik ledakan esensi tadi.
"Aku adalah orang yang akan membuatmu tetap hidup agar bisa sampai ke Kota Guntur," sahutnya dengan senyum misterius yang menghiasi bibirnya.
Ia menjentikkan jarinya, dan seketika pandanganku mulai kabur. Rasa kantuk yang luar biasa menyerang kesadaranku, membuat bentuk monstertu perlahan meluruh kembali menjadi manusia biasa.
"Apa yang kau... lakukan..." gumamku sebelum akhirnya tubuhku ambruk ke tanah.
Hal terakhir yang kulihat sebelum kegelapan menyergap adalah wanita itu yang mengusap kepalaku dengan lembut, sementara Utusan Bayangan tetap berdiri diam seperti patung di belakangnya.
Kegelapan itu tidak bertahan selamanya. Aku terbangun dengan rasa mual yang mengocok perut, seolah-olah organ tubuhku baru saja diputar paksa oleh tangan raksasa. Pandanganku masih kabur, namun aku bisa merasakan permukaan empuk di bawah punggungku. Ini bukan tanah keras di pinggir sungai, melainkan sebuah ranjang yang sangat nyaman.
[Peringatan: Status Kelelahan Ekstrem aktif. Sisa waktu: 10 jam 15 menit.]
[Seluruh fungsi transformasi dikunci sementara.]
"Sudah bangun, Anak Nakal?"
Suara itu lembut, namun sanggup membuat bulu kudukku berdiri. Aku menoleh perlahan dan menemukan wanita berbaju ungu itu sedang duduk di dekat jendela, menyesap teh dari cangkir porselen yang terlihat sangat mahal.
"Di mana aku?" tanyaku dengan suara yang parau.
"Kau berada di dalam kereta kencana pribadiku," sahutnya sembari meletakkan cangkir teh ke atas meja kecil. "Kita sedang menuju Kota Guntur."
Aku berusaha untuk duduk, namun rasa sakit di tulang belakangku memaksaku untuk kembali berbaring. "Kenapa kau membantuku? Seorang Utusan Bayangan dari Sekte Langit Hitam tidak akan menolong orang tanpa alasan."
Wanita itu tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar seperti denting lonceng perak. "Bayangan memang bawahanku, tapi aku bukan bagian dari sekte itu secara resmi. Panggil saja aku Nyonya He Ran."
"Nyonya He Ran," gumamku mencoba mengingat-ingat nama itu di dalam ingatanku yang terbatas. "Apa yang kau inginkan dariku?"
"Potensimu," jawab He Ran singkat sembari menatapku tajam. "Aku sudah lama tidak melihat spesimen Asura yang begitu murni di dalam tubuh manusia. Biasanya, mereka akan gila dalam hitungan detik setelah transformasi pertama. Tapi kau? Kau bahkan bisa berbicara dengan sadar."
Aku mendengus pelan, merasakan denyut jantungku yang masih tidak stabil. "Aku bukan spesimen. Aku hanya ingin bertahan hidup."
"Bertahan hidup di murim membutuhkan sandaran yang kuat, Han Wol," timpalnya sembari berdiri dan berjalan mendekati ranjangku. "Sekte Awan Azure sudah mengeluarkan perintah penangkapan tingkat tinggi. Kepalamu dihargai sepuluh ribu keping emas."
Sepuluh ribu? Angka itu cukup untuk membeli sebuah kota kecil. Aku tidak menyangka bahwa membunuh seorang tetua akan membuat hargaku melonjak setinggi itu.
"Lalu kenapa kau tidak menyerahkanku saja?" tantangku sembari menatap matanya yang berwarna ungu gelap.
"Karena sepuluh ribu emas tidak ada artinya bagiku," cetusnya sembari mengusap daguku dengan jari telunjuknya yang lentik. "Aku lebih tertarik menjadikanmu sebagai kartu as-ku di Turnamen Naga Langit."
Aku mengernyitkan dahi. "Turnamen itu? Aku sedang dalam pelarian, bukan sedang mencari panggung untuk pamer kekuatan."
"Justru karena kau sedang lari, kau harus ikut," tegas He Ran sembari kembali ke tempat duduknya. "Pemenang turnamen akan mendapatkan perlindungan langsung dari Aliansi Murim selama satu tahun. Bahkan Sekte Awan Azure tidak akan berani menyentuhmu jika kau berada di bawah naungan mereka."
Rencana itu terdengar masuk akal, namun aku tahu tidak ada makan siang gratis di dunia ini. "Syaratnya?"
"Kau akan bertarung atas nama divisiku," jelas He Ran dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Dan selama turnamen, kau harus menekan bentuk monstermu semaksimal mungkin. Jika identitasmu sebagai Asura terbongkar sebelum final, aku sendiri yang akan memenggal kepalamu."
[Misi Baru Terdeteksi: Penyamaran di Naga Langit.]
[Tujuan: Masuk ke babak final tanpa memicu transformasi penuh.]
[Hadiah: Modul 'Peredam Aura' dan 20% kemajuan evolusi.]
Aku menatap jendela kereta, melihat pepohonan yang berlalu dengan cepat. Tubuhku terasa sangat lemah, namun otakku terus berputar memikirkan kemungkinan terburuk.
"Bagaimana jika aku menolak?" tanyaku pelan.
He Ran hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung ancaman mematikan. "Kereta ini dijaga oleh empat Utusan Bayangan di luar. Jika kau keluar sekarang dengan kondisi selemah itu, kau tidak akan bertahan lebih dari sepuluh menit dari kejaran murid Sekte Awan Azure yang sudah mengepung hutan ini."
Aku terdiam. Pilihan yang dia berikan sebenarnya bukanlah pilihan, melainkan sebuah perintah yang dibungkus dengan bantuan.
"Baiklah, aku ikut," putusku akhirnya.
"Bagus. Makanlah ini," perintah He Ran sembari menyodorkan sebuah pil berwarna hijau lumut. "Ini akan membantumu memulihkan meridian yang rusak, meski tidak akan mempercepat waktu istirahat monstermu."
Aku mengambil pil itu dan menelannya tanpa ragu. Rasa pahit langsung menjalar di lidahku, diikuti oleh aliran hangat yang menenangkan otot-ototku.
"Ngomong-ngomong," ucap He Ran sembari membuka tirai jendela lebih lebar. "Kita akan sampai di gerbang Kota Guntur dalam satu jam. Aku sudah menyiapkan identitas baru untukmu."
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Namamu adalah Han, seorang murid pengembara dari gunung utara yang kehilangan gurunya," selorohnya sembari memberikan sebuah topeng kain sederhana. "Sederhana, mudah diingat, dan tidak memancing kecurigaan."
Aku memegang topeng kain itu, meraba teksturnya yang kasar. "Identitas yang membosankan."
"Identitas membosankan adalah perisai terbaik bagi orang sepertimu," balas He Ran telak.
Kereta terus melaju, berguncang pelan di atas jalanan berbatu. Aku mencoba memejamkan mata, berharap rasa lelah ini segera hilang. Namun, sistem tiba-tiba memberikan notifikasi yang membuat jantungku berdegup kencang kembali.
[Peringatan: Kehadiran energi asing yang sangat kuat terdeteksi di depan gerbang kota.]
[Analisis: Target berada di Ranah Formasi Inti Tahap Puncak.]
Aku membuka mata dan menatap He Ran. "Sepertinya sambutan kita di gerbang kota akan sangat meriah."
He Ran hanya menaikkan satu alisnya, tampak tidak terganggu sama sekali. "Oh, itu pasti Tetua Penegak dari Awan Azure. Dia memang orang yang sangat tidak sabaran."
Aku mencengkeram pinggiran ranjang, merasakan hasrat monster di dalam diriku menggeliat, seolah ingin merobek segel yang dipasang oleh sistem. Jika aku bertemu dengan tetua itu sekarang, aku ragu bisa menahan diri untuk tidak berubah menjadi mesin pembunuh.
"Tenanglah, Han Wol," bisik He Ran sembari menaruh tangannya di bahuku. "Selama kau berada di dalam keretaku, tidak ada yang berani memeriksanya. Kecuali, jika kau sendiri yang membuat keributan."
Aku menarik napas panjang, mencoba menekan aura haus darah yang mulai merembes keluar. Kota Guntur sudah terlihat di kejauhan, dengan dinding batunya yang tinggi menjulang dan bendera turnamen yang berkibar tertiup angin.
Namun, tepat saat kereta kami mendekati barisan penjaga, sebuah ledakan energi menghantam tanah tepat di depan kuda penarik kereta, memaksa kusir untuk menarik rem dengan keras hingga aku hampir terpental dari ranjang.
"Nyonya He Ran! Maaf mengganggu perjalananmu, tapi kami mencari seorang pembunuh yang melarikan diri ke arah ini!" teriakan itu menggelegar, penuh dengan tenaga dalam yang sanggup merontokkan gigi orang awam.
Aku menatap pintu kereta, tanganku secara insting mulai mengepal. Ini adalah ujian pertama bagi penyamaranku, dan aku bahkan belum benar-benar pulih.