Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Realita di Lorong Kumuh dan Si Anonim
"Bisa berhenti maki-maki motor gue nggak? Dia punya kuping, Every. Nanti kalau dia ngambek di tengah jalan, lo yang repot," River mendengus, tangannya sibuk menarik tali helm di bawah dagu Every.
Every mendongak dengan wajah yang hampir tenggelam di dalam helm kebesaran itu. "Gue nggak maki-maki, gue cuma menyatakan fakta! Motor ini nggak ergonomis, nggak efisien, dan secara desain... ini bencana buat perempuan yang pakai rok! Kenapa lo nggak bisa pake mobil yang normal, River Armani?!"
"Karena mobil normal nggak bisa bikin lo peluk gue sekencang tadi," River menyeringai, sengaja menarik tali helm itu sedikit lebih ketat sampai Every terpekik.
"RIVER! Gue nggak bisa napak, ini motor tinggi banget! Gimana cara gue naik tanpa kelihatan kayak orang mau manjat pohon?!" Every mencengkeram bahu River saat pria itu mencoba menstabilkan mesin seberat 200 kilo itu.
"Satu kaki di step, tangan di bahu gue, terus ayunkan badan lo. Jangan kaku kayak kanebo kering!" River menarik tangan Every, memaksa gadis itu naik. Begitu Every berhasil duduk di jok belakang dengan posisi yang canggung, ia langsung memukul helm River dari belakang.
"Jalan! Sebelum gue berubah pikiran dan pesan taksi!"
---
Satu jam kemudian, suasana berubah drastis.
River memarkir motornya di pinggir jalan buntu yang becek. Mereka masuk ke sebuah gang sempit di daerah pemukiman padat yang aromanya bercampur antara limbah rumah tangga dan asap dapur.
Every refleks merapatkan tubuhnya ke punggung River. Tangannya mencengkeram ujung jaket kulit pria itu tanpa sadar.
"Kenapa? Takut rok mahal lo kena lumpur?" sindir River, namun ia tidak melepaskan tangan Every yang menempel di jaketnya.
"Gue cuma... nggak biasa sama pencahayaannya yang minim," Every berbisik, matanya waspada melihat tikus yang berlari di balik tumpukan kardus. "Lo yakin ini tempat tinggal mahasiswa fakultas teknik itu? Ini nggak manusiawi, River."
"Selamat datang di dunia nyata, Every Riana. Di mana nggak semua orang punya ruang belajar dengan AC dan lampu estetik," River berhenti di depan sebuah pintu kayu yang lapuk. "Ini rumah Gibran. Dia tinggal sama tiga adiknya di sini. Satu kamar, satu dapur, satu harapan: beasiswa yang baru aja lo coret namanya."
Every terdiam. Ia melihat Gibran keluar dengan kaos dalam yang basah karena keringat, sedang mengangkat ember air. Gibran terkejut melihat mereka, namun hanya bisa menunduk malu.
"Every, tatap dia," River menarik Every agar berdiri tepat di depannya, mengurung gadis itu di antara tubuhnya dan dinding gang yang sempit. "Bilang ke dia kalau sistem lo jauh lebih berharga daripada kesempatan dia buat lulus tepat waktu."
"River, jangan paksa gue kayak gini..." suara Every mulai goyah, namun ia tetap berusaha menegakkan kepalanya. "Gue punya prosedur. Kalau gue loloskan dia tanpa dokumen yang lengkap, gue mengkhianati amanah yayasan."
"Persetan sama amanah yayasan!" River menekan tangannya ke dinding, memenjarakan Every. Jarak mereka kini begitu intim di tengah lorong yang remang.
Every bisa merasakan panas tubuh River yang melindunginya dari dinginnya malam di pemukiman kumuh itu.
"Lo lihat sekeliling lo. Anak-anak ini makan pake apa kalau kakaknya nggak kuliah? Lo mau mereka jadi preman pasar cuma karena lo terlalu kaku sama kertas?"
Every menarik kerah jaket River, menariknya lebih dekat hingga napas mereka beradu. "Lo pikir gue nggak punya hati?! Gue juga mau bantu mereka! Tapi gue butuh cara yang nggak bakal bikin gue didepak dari BEM oleh ayah Axel!"
"Keluar dari zona nyaman lo sekali saja," bisik River, matanya menatap bibir Every yang bergetar kemudian Every gigit karena gugup.
Every tidak melepaskan cengkeramannya pada jaket River. Alih-alih menjauh, ia justru menyandarkan dahinya di dada River, mencari perlindungan dari kenyataan pahit yang baru saja menampar egonya. Lorong sempit itu mendadak terasa sangat panas.
......................
Gibran menatap tumpukan dus sembako dan tas belanja berisi jajanan bermerek yang memenuhi ruang tamunya yang sempit.
Di atas meja, sebuah amplop cokelat tebal berisi uang tunai dalam jumlah yang cukup untuk membayar UKT tiga semester sekaligus tergeletak begitu saja.
"Bang River, gila... gue nggak tahu harus bilang makasih gimana," ujar Gibran dengan suara bergetar saat River muncul di depan pintunya sore itu. "Gue tahu ini dari Bang River, kan? Cuma Abang yang tahu kondisi gue sedalam ini."
River mengernyit, matanya menyapu isi ruangan yang mendadak terlihat seperti gudang supermarket mewah. "Gue emang keren, Bran, tapi gue nggak pernah ngirim gandum organik sama susu almond impor kayak gini. Itu bukan gaya gue."
"Ah, Abang rendah hati terus," sahut teman Gibran sambil tertawa. "Siapa lagi kalau bukan Armani yang bisa buang duit segini banyak buat orang macem gue?"
River diam. Ia tahu persis siapa satu-satunya orang yang punya akses logistik secepat ini dan punya selera belanja barang-barang "bermerek" bahkan untuk urusan donasi.
---
River menendang pintu kantor BEM hingga terbuka, membuat Recha tersentak hampir menjatuhkan tumpukan map.
Every masih duduk dengan tenang di kursinya, matanya terpaku pada layar laptop seolah tidak ada hal yang lebih penting di dunia ini selain grafik statistik.
"Lo apain Gibran, Every Riana?" tanya River tanpa basa-basi. Ia melangkah maju, menumpukan kedua tangannya di meja Every, menginterupsi pandangan gadis itu.
Every mendongak, ekspresinya sedatar air di dalam gelas. "Gue? Gue lagi kerja. Gue nggak punya waktu buat urusan personal mahasiswa lo itu."
"Jangan bohong. Sembako premium, uang tunai tanpa jejak, dan jajanan yang harganya lebih mahal dari makan siang anak-anak motor gue. Itu kerjaan lo, kan?" River menyipitkan mata, mencoba mencari celah di balik wajah angkuh Every.
"Gue nggak tahu apa yang lo omongin, River," Every bersedekap, suaranya terdengar sangat arogan. "Kalau ada orang kaya yang kurang kerjaan kirim makanan ke sana, mungkin itu salah satu pengagum rahasia lo. Lagipula, buat apa gue buang-buang duit buat orang yang bahkan nggak bisa dapet IPK 3,25?"
River melirik Recha yang mendadak sangat sibuk membolak-balik kertas kosong. "Recha, lo tahu sesuatu?"
"Eh, anu... saya cuma bantu Every beresin arsip, Kak River. Nggak ada catatan pengeluaran BEM buat donasi kok," jawab Recha cepat, suaranya sedikit meninggi karena gugup.
"Lihat?" Every memotong dengan nada pedas. "BEM bekerja secara profesional. Kita nggak bagi-bagi santunan ilegal. Jadi, berhenti nuduh gue dan keluar dari sini. Bau jaket kulit lo bikin gue pusing."
River menarik napas panjang, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Every, berbisik rendah. "Lo boleh berdalih seribu alasan, Every. Tapi gue tahu lo. Gengsi lo itu lebih besar dari gedung rektorat ini, tapi lo nggak sejahat itu buat biarin Gibran mati kelaparan."
"Keluar, River!" Every menunjuk pintu dengan jari telunjuknya yang lentik.
Every menggenggam peluit peraknya erat-erat. Ia menatap Recha yang masih setia menunggunya. "Recha, pastikan nggak ada struk atau jejak digital apa pun soal belanjaan semalam. lo harus pastikan, tidak ada pertanyaan lagi tentang ini!"
"Siap, Every. Tapi... apa kamu nggak mau River tahu kalau kamu yang bantu Gibran?"
Every berdiri, kembali ke mode Ketua BEM yang kaku. "Enggak."