Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Usulan.
Tangis bayi kecil itu kembali pecah memenuhi ruangan. Semua orang sontak terkejut, panik menyergap dalam hitungan detik. Satu per satu bergantian menimang Leonel, mencoba menenangkan, tapi hasilnya sama seperti sebelumnya. Tangis itu tidak juga reda, justru semakin keras, menusuk telinga dan hati.
“Anak Papi, tenang ya. Berhenti nangisnya, Boy. Cowok kok cengeng amat sih,” ujar Archio sambil membawa bayi mungil itu keluar ruangan. Langkahnya cepat, harapannya sederhana, semoga udara di luar bisa menenangkan Leonel.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tangisan itu terdengar semakin kencang, tergugu, membuat dada Archio ikut terasa sesak.
“Oh ya Tuhan… Leonel, ini Papi kamu. Kamu harus tenang ya, sayang.” Suaranya mulai terdengar putus asa. “Kasihan tantenya, dia mau pulang ke rumah. Tidak bisa jagain Leonel terus, oke?”
Archio sendiri sadar, kalimat itu terlalu rumit untuk bayi sekecil itu. Leonel belum mengerti apa-apa, selain rasa tidak nyaman yang terus memaksanya menangis.
Karena tak juga berhasil, dengan langkah berat Archio kembali masuk ke ruangan. Tanpa banyak kata, ia langsung menyerahkan putranya ke pangkuan Aulia.
Saat itu juga, tangis Leonel perlahan mereda.
Aulia menunduk, mendekap bayi itu erat. Bahunya bergetar halus. Air mata jatuh diam-diam, tanpa suara, bercampur dengan napasnya yang tertahan.
“Ma, bisa tunggu setidaknya sampai Leonel tidur, nggak?” tanya Aulia akhirnya membuka suara, setelah sejak tadi lebih banyak diam.
Mama Kania langsung mengangguk cepat, menyetujui usulan putrinya.
“Kalau begitu Mama urus administrasi dulu, ya.” Ia menoleh pada Mama Sofia. “Bu, boleh titip Aulia sebentar di sini?”
“Tentu saja, Kania. Dia di sini bersama kami,” jawab Mama Sofia dengan senyum lembut. Kata titip terasa lucu baginya. Justru merekalah yang seharusnya bersyukur, karena Aulia masih mau berlama-lama di sana, menggendong Leonel, setidaknya sampai bayi itu benar-benar tenang.
Setelah itu, Mama Kania melangkah keluar untuk mengurus administrasi.
Di sisi lain, Archio menatap Aulia cukup lama. Pandangannya lalu turun pada putranya yang masih terjaga, meski tangisnya sudah mereda dalam dekapan wanita itu.
Kalau aku menawarkannya menjadi ibu susu untuk putraku, dia mau tidak, ya? batinnya.
Archio melihat kehangatan yang terpancar dari mata Aulia. Ada kerinduan di sana, tersirat jelas, seperti sesuatu yang pernah hilang dan kini hadir kembali, meski belum sepenuhnya pulih. Tanpa sadar, ia membandingkan Aulia dengan mantan istrinya, wanita yang justru menolak mengakui putra yang telah ia lahirkan sendiri.
“Archio, kamu tidak berpikir mereka terlihat seperti ibu dan anak?” bisik Mama Sofia pelan di telinga putranya. “Mereka berdua sebenarnya saling membutuhkan. Leonel butuh dekapan seorang ibu dan asinya, sementara Aulia butuh anak kecil di sisinya, setidaknya untuk menyembuhkan rasa kehilangan bayinya.”
Archio terdiam. Ia sudah mengetahui garis besar tentang Aulia yang kehilangan bayinya.
“Aku juga berpikir begitu, Ma. Ingin sekali menahannya untuk putraku,” ucapnya lirih. “Tapi bagaimanapun dia tetap harus pulang ke rumahnya. Suaminya menunggu di sana.”
“Ck.” Mama Sofia berdecak pelan. “Kamu tidak tahu kisahnya. Dia sudah diceraikan itu.”
Nada suaranya terdengar terlalu bersemangat untuk topik seberat itu. Mama Sofia memang sudah lebih dulu tahu, setelah diam-diam mengulik informasi dari Jenar. Gadis muda itu sempat datang menjenguk Aulia tadi, tapi tidak berlama-lama, karena Aulia sedang berada di ruangan Leonel.
.
.
.
Mendengar itu, Archio terdiam beberapa saat. Tanpa mengatakan apa pun, ia berbalik dan keluar dari ruangan. Langkahnya cepat, sepatunya berpacu di sepanjang lorong rumah sakit, sampai akhirnya ia berhenti di depan sebuah ruangan dokter. Ia mengetuk pelan, lalu masuk begitu saja setelah mendapat izin dari dalam.
“Sera,” panggilnya singkat.
Ia duduk tanpa menunggu dipersilakan, tepat di kursi yang berhadapan dengan Dokter Sera. Wajahnya jelas menunjukkan ketidaksabaran.
“Ada apa kamu ke ruanganku?” ujar Dokter Sera tanpa basa-basi. “Bukan aku yang bertanggung jawab atas bayimu. Kau harus tahu, aku itu spesialis kedokteran jiwa bukan dokter anak” tegas Sera memperingati pria itu, kali-kali Archio lupa pada statusnya sebagai dokter psikiater.
“Justru karena kamu seorang dokter spesialis kedokteran jiwa, maka saya tidak salah masuk ruangan,” jawab Archio santai. Nada mereka menunjukkan keakraban yang sudah lama terjalin.
“Oke, baiklah, Tuan Bimantara.” Dokter Sera bersandar di kursinya. “Ada perlu apa kamu datang menemuiku?” todongnya kemudian.
“Saya mau tahu lebih banyak tentang pasien yang kamu tangani. Aulia,” kata Archio lugas.
Mendengar nama itu, Dokter Sera meletakkan berkas yang tadi dibacanya. Fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada Archio. Ada ekspresi yang sulit ditebak di wajahnya, bercampur tanya.
“Mau tahu tentang Aulia?” Dokter Sera tertawa kecil, tawa yang terdengar penuh ejekan.
“Saya… maksud saya begini, Sera,” ujar Archio sedikit terbata, paham betul arti tawa itu.
“Kamu tadi lihat sendiri, kan, bagaimana Leonel begitu lengket dengan wanita itu,” lanjutnya, berusaha tetap tenang. “Dia juga yang memberinya ASI. Dan kamu harus tahu barusan saat Leonel diambil alih oleh pengasuhnya karena Aulia harus pulang hari ini, dia menangis lagi, tidak mau dipisahkan.”
Archio menarik napas singkat sebelum melanjutkan.
“Jadi saya berpikir… sepertinya bukan ide buruk kalau wanita itu menjadi ibu susu untuk Leonel. Setidaknya, keberadaan Leonel juga bisa membantu menyembuhkan traumanya.” ujarnya memberi tahu maksudnya.
“Jadi maksudmu Aulia harus tinggal bersama kalian demi kesembuhannya,” ucap Dokter Sera sambil mengernyit, “dan secara tidak langsung itu juga menguntungkan Leonel?”
Archio mengangguk. “Nah, iya. Bukankah begitu lebih baik?”
“Iya sih,” gumam Dokter Sera pelan, lalu menatap Archio lebih tajam. “Tapi kamu tidak sedang memanfaatkan keadaan, kan? Bilang ibu susu untuk Leonel, jangan-jangan sebenarnya kamu…”
“Sera!” potong Archio cepat. “Jauh-jauh pikiranmu itu!”
“Hm?” Sera tersenyum miring. “Aku belum bicara apa-apa, padahal. Kamu yang keburu berpikir.”
Ia lalu berdiri, merapikan jas dokternya. “Aku akan bicara dengan ibunya nanti. Semoga dia setuju.”
Tanpa menunggu jawaban, Dokter Sera membuka pintu dan memberi isyarat agar Archio keluar.
...****************...
“Apa tidak apa-apa, Dok?” tanya Mama Kania dengan nada khawatir. Jujur saja, usulan Dokter Sera sedikit banyak membuatnya setuju, tapi tetap ada bagian kecil di hatinya yang ragu.
Di ruangan Leonel itu, mereka semua berkumpul. Papa Haidar, Mama Sofia, Mama Kania, Archio, dan Aulia yang masih menggendong Leonel. Suasana terasa sunyi, hanya sesekali terdengar suara napas bayi kecil yang belum sepenuhnya terlelap.
“Bu, percaya sama saya,” ujar Dokter Sera dengan nada tenang. “Dengan kehadiran Leonel, setidaknya rasa bersalah yang bersarang di benak Aulia bisa perlahan menghilang. Dia merasa masih bisa menolong orang lain.”
Dokter Sera melirik Aulia sekilas, lalu melanjutkan dengan lebih hati-hati.
“Jauh di dalam pikirannya, Aulia sudah lama hidup dengan harapan dan angan-angannya sendiri. Tentang mengasuh buah hatinya, tentang bagaimana rasanya menjadi ibu, bagaimana merawat bayi kecil. Semua itu sudah dia bangun sejak lama. Tapi ketika kenyataan pahit itu menghantamnya, dia kehilangan segalanya sekaligus.”
Dokter Sera menarik napas kecil.
“Untuk benar-benar sembuh dan bisa mengikhlaskan kehilangannya, Aulia butuh sesuatu yang bisa mengisi ruang kosong itu. Dan saya rasa, kehadiran Leonel bisa menjadi salah satu jalannya.”
Keluarga Bimantara mengangguk pelan, seolah sepakat tanpa perlu banyak kata.
Mama Sofia kemudian berdiri dari kursinya. Tanpa disangka, ia berlutut di hadapan Mama Kania dan menggenggam erat tangan wanita itu.
“Sofia, apa yang kamu lakukan? Berdiri,” ujar Mama Kania terlonjak kaget. Ia refleks hendak menarik tangan Mama Sofia agar bangkit, namun genggaman itu justru menguat. Tubuh Mama Sofia sedikit bergetar, isak pelan jatuh di pahanya.
“Kania,” ucap Mama Sofia lirih. “Saya, sebagai pihak Leonel, benar-benar memohon. Leonel butuh sosok ibu, dan dia juga butuh ASI.”
Ia mendongak, menatap Mama Kania dengan mata yang basah.
“Tolong izinkan Aulia untuk sementara tinggal di Jakarta bersama kami. Saya dan keluarga saya berjanji akan selalu ada di sampingnya, membantu dia sembuh, pelan-pelan. Boleh ya.”
Mama Kania melirik ke arah putrinya. Napasnya terhela berat, dadanya terasa sesak.
“Soal itu…” ucapnya perlahan, “sejujurnya saya tidak tahu harus bagaimana. Semua keputusan tetap ada di tangan Aulia.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian