Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 11: Pernyataan sang Eksekutor
Reggiano membuka matanya dengan sentakan kecil. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma melati yang sangat kuat dan kehangatan yang asing. Ia tidak lagi berada di aspal yang keras atau di bawah guyuran hujan asam.
Ia berbaring di atas tempat tidur yang terbuat dari jalinan akar pohon yang empuk di dalam ruang rahasia di bawah toko Seraphine. Di atasnya, ribuan bunga kecil bercahaya memberikan penerangan redup.
"Jangan bergerak dulu," suara Seraphine terdengar dari sudut ruangan. Ia sedang menghancurkan beberapa daun di dalam lesung batu.
"Tulang rusukmu baru saja menyatu kembali, Tuan Herbert. Jika anda memaksanya, Tuan akan merasakan sakit yang luar biasa."
Reggiano mencoba duduk, namun kepalanya terasa berat. Ia melihat tangannya yang bersih, tidak ada darah, tidak ada luka bakar. Ia menatap Seraphine dengan tatapan yang campur aduk antara bingung dan waspada.
"Bagaimana anda menemukanku?" tanya Reggiano, suaranya parau.
Seraphine mendekat, membawa mangkuk berisi cairan hijau bening. "Tanah memberitahuku saat darahmu menyentuh aspal. Di kota ini, tidak ada yang jatuh tanpa sepengetahuanku, terutama seseorang yang membawa aroma tokoku kemana-mana."
Reggiano terdiam, menyadari bahwa wanita di depannya ini jauh lebih berbahaya, dan lebih indah, daripada faksi mana pun di Organisasi.
Reggiano menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur yang terasa hidup, akar-akar itu seolah berdenyut pelan, mengikuti irama napasnya sendiri. Ia memperhatikan Seraphine yang sedang bergerak dalam keheningan, membelakangi dirinya. Gerakan wanita itu tidak memiliki sisa-sisa kegelisahan manusia; tidak ada suara langkah kaki yang terseret, tidak ada napas yang terengah, hanya keanggunan yang tidak alami.
Cahaya hijau dari tanaman di sekeliling mereka memantul di rambut Seraphine, menciptakan aura yang membuatnya tampak transparan, seolah-olah ia terbuat dari jalinan cahaya dan sari pati tumbuhan.
"Siapa anda sebenarnya, Nona Florence?" suara Reggiano terdengar rendah, bergetar oleh rasa yang tak mampu ia definisikan. Bukan lagi sekadar rasa ingin tahu seorang detektif, melainkan ketakutan seorang pria yang menyadari bahwa ia telah menyentuh sesuatu yang sakral.
Seraphine berhenti menumbuk obat. Ia tidak berbalik, namun bahunya sedikit merosot.
"Saya adalah apa yang anda lihat, Tuan Herbert. Tidak lebih, tidak kurang."
Reggiano tertawa getir, tawa yang menyakitkan di dadanya yang baru saja pulih.
"Saya baru saja melihatmu berjalan menembus api yang sanggup melelehkan baja. Saya melihatmu memanggil akar dari balik beton kota yang mati. Manusia tidak melakukan itu. Manusia berdarah, manusia menua, dan manusia mati di pinggir jalan seperti anjing, seperti yang seharusnya terjadi padaku tadi."
Reggiano bangkit berdiri dengan susah payah. Ia melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di belakang Seraphine. Aroma dari tubuh wanita itu, campuran tanah basah, mawar yang baru mekar, dan sesuatu yang sangat purba, membuat kepalanya pusing.
Rasa mual akibat bau darah yang ia rasakan di dermaga tadi mendadak lenyap, digantikan oleh rasa tenang yang mematikan.
"Saat Nona menyentuhku tadi," bisik Reggiano, tangannya ragu-ragu hendak menyentuh bahu Seraphine namun tertahan di udara.
"Saya tidak merasakan panas tubuh. Saya merasakan... kehidupan. Kehidupan yang begitu besar hingga membuatku merasa seperti debu. Nona Florence, anda tidak berasal dari dunia yang penuh dengan asap dan peluru ini, kan?"
Seraphine berbalik perlahan.
Matanya menatap langsung ke dalam mata perak Reggiano.
Di dalam pupil mata Seraphine, Reggiano tidak melihat pantulan dirinya sendiri. Ia melihat hamparan hutan yang luas, ribuan tahun musim berganti, dan kehancuran peradaban yang bangkit lalu tumbang.
"Dunia ini bukanlah milik kalian, Tuan Herbert. Jauh sebelum kalian membangun gedung-gedung tinggi yang memuakkan ini dan menamainya seenak kalian, disini adalah tempat tinggal kehidupan ku. " suara Seraphine kini terdengar menggema, seolah-olah seluruh ruangan itu ikut berbicara bersamanya.
"Kalianlah yang bukan berasal dari sini. Kalian datang dengan hawa nafsu yang serakah, merobek kulit bumi, membunuh satu sama lain, lalu bertanya-tanya mengapa kalian merasa kesepian dan sakit."
Reggiano merasakan tangannya gemetar. "Lalu mengapa? Mengapa menyelamatkanku? Saya adalah bagian dari pembunuhnya. Saya adalah orang yang paling banyak menumpahkan darah di atas tanahmu."
Seraphine mengulurkan tangan, menyentuh pipi Reggiano yang bersih dari luka namun masih terasa dingin. "Karena di dalam kegelapanmu, ada satu titik yang menolak untuk mati. Dan... karena Elena membutuhkanmu. Bumi tidak pernah membuang sesuatu yang masih memiliki harapan untuk mekar."
Reggiano memejamkan mata, membiarkan sentuhan dingin namun menghidupkan itu meresap ke kulitnya.
Perasaan itu sangat asing, sebuah kombinasi antara kesedihan diatas penderitaan dan ketakutan yang dalam. Ia merasa seperti seorang prajurit yang jatuh cinta pada dewi yang ia tahu akan menghancurkannya, atau menyelamatkannya dengan cara yang tak sanggup ia mengerti.
"Nona Florence, anda membuatku takut," bisik Reggiano jujur, sebuah pengakuan yang tak pernah ia berikan pada siapapun, bahkan pada dirinya sendiri.
"anda membuat dunia yang kukenal terasa seperti kebohongan."
"Dunia yang anda kenal memang kebohongan, Tuan," sahut Seraphine lembut, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Reggiano.
"Dan sekarang, anda sudah melihat kebenaran. Tuan tidak bisa kembali menjadi Eksekutor biasa setelah ini. Tanah sudah mengenal namamu dan tanah tidak akan membiarkanmu pergi, anda harus membunuh semua orang yang terlibat sampai ke akar-akarnya."
Reggiano tidak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Tanpa peringatan, ia menarik Seraphine masuk ke dalam dekapannya. Ia memeluknya dengan erat, hampir putus asa, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu.
Reggiano tidak mencari gairah, ia mencari detak jantung, mencari suhu tubuh, mencari apa pun yang membuktikan bahwa wanita ini nyata dan bisa disentuh, bukan sekadar ilusi dari otaknya yang hancur akibat benturan.
"Nona Florence, anda dingin sekali," bisik Reggiano, suaranya parau tertahan di bahu Seraphine.
"Kenapa anda tidak sehangat manusia?"
Seraphine tidak menolak.
Ia membiarkan tangan kokoh Reggiano melingkarinya, meski tubuhnya terasa seperti marmer yang sejuk di bawah sentuhan pria itu.
"Kehangatan manusia berasal dari darah yang dipompa oleh rasa takut dan waktu yang terbatas, Tuan Herbert. Sangatlah mustahil untuk saya bisa memiliki keduanya."
Reggiano melonggarkan pelukannya sedikit, menatap mata hijau yang tidak berkedip itu dengan intens.
"Siapa sebenarnya Antonio dan Cecilia? Mereka tercatat sebagai orang tuamu. Nona bilang tidak kenal mereka, tapi nama anda menggunakan nama mereka."
"Mereka hanya nama yang dipinjam dari nisan yang sudah berlumut," jawab Seraphine lugas. "Dunia kalian gila dan sensitif. Saya butuh identitas agar kalian tidak membakar toko ini karena ketakutan. Mereka adalah manusia yang pernah mencintai tanah ini, jadi saya meneruskan nama mereka agar mereka tidak terlupakan."
"Dan foto itu? Tahun 1976?" desak Reggiano lagi, suaranya meninggi. "Wajahmu di sana sama persis dengan yang kulihat sekarang. Sepertinya anda tidak menua satu hari pun sementara dunia di sekitarmu membusuk?"
"Pernahkah Tuan bertanya mengapa pohon ek di tengah hutan tetap sama sementara rumput di bawahnya mati setiap musim?" Seraphine balik bertanya, jemarinya mengusap rahang Reggiano yang kaku.
"Saya tidak menua karena saya tidak mengejar waktu dan memiliki nafsu yang serakah. Tuan ku menciptakan ku menjadi bagian dari siklus yang lebih besar dari sekadar lahir dan mati."
Reggiano menggelengkan kepalanya, napasnya memburu. "Nona, bicara seolah-olah adalah bumi itu sendiri. Jika Nona sehebat itu, jika anda tidak butuh siapa-siapa, kenapa anda membiarkanku masuk? Kenapa anda membiarkan Elena menyentuh tanamanmu?"
"Karena anda adalah satu-satunya manusia yang datang kepadaku bukan untuk meminta kekayaan atau umur panjang, melainkan hanya untuk mencari rasa roti yang jujur," jawab Seraphine. "Dan Elena... dia memiliki frekuensi yang sama denganku. Dia rapuh, tapi murni. Dia adalah bunga yang tumbuh di celah beton, Reggiano. Aku melindunginya karena dia layak untuk mekar."
Reggiano mencengkeram lengan Seraphine, matanya berkaca-kaca oleh kebingungan yang menyiksa. "Apa aku sedang gila? Apa aku sebenarnya sudah mati di jalan layang itu dan ini hanyalah khayalanku sebelum masuk neraka?"
Seraphine tersenyum tipis, tangannya menangkup wajah Reggiano, memaksa pria itu menatap kedalaman matanya yang hijau zamrud.
"Anda hidup, Tuan Herbert... Lebih hidup daripada saat anda memegang senjatamu. Rasakan ini."
Seraphine menarik tangan Reggiano dan menempelkannya tepat di tengah dadanya.
Reggiano tertegun.
Di sana, ia tidak merasakan detak jantung yang cepat dan berisik seperti manusia. Ia merasakan getaran yang dalam, lambat, dan sangat kuat, mirip dengan getaran bumi saat badai petir atau gemuruh air terjun di kejauhan.
"Itu bukan detak jantung," bisik Reggiano ngeri sekaligus takjub.
"Itu adalah denyut kehidupan yang anda coba hancurkan setiap hari dengan pelurumu," sahut Seraphine.
"Sekarang anda tahu rahasianya. Apakah anda masih ingin memelukku, atau anda ingin lari dari monster yang baru saja menyelamatkan nyawamu?"
Reggiano tidak melepaskan tangannya. Sebaliknya, ia justru merapatkan tubuhnya, membiarkan dahi mereka bersentuhan. "Aku sudah menghabiskan hidupku di antara monster yang nyata, Seraphine. Monster yang membunuh tanpa alasan. Jika anda adalah monster, maka anda adalah monster paling indah yang pernah kutemui. Dan aku tidak akan lari."
Reggiano masih menempelkan telapak tangannya di dada Seraphine, merasakan denyut purba yang asing itu. Ia menarik napas panjang, mencoba mengendalikan kecurigaan yang sudah mendarah daging sebagai seorang anggota Organisasi. Di dunianya, tidak ada yang gratis. Setiap nyawa yang diselamatkan biasanya ditukar dengan nyawa yang lain.
"Lalu apa harganya, Nona Florence?" tanya Reggiano, suaranya kembali tajam dan waspada.
Seraphine sedikit memiringkan kepalanya. "Harga?"
"Jangan naif. Saya tahu bagaimana dunia bekerja," desak Reggiano, cengkeramannya di lengan Seraphine mengeras.
"Kesembuhan seperti ini... tulang yang menyatu dalam hitungan jam, luka bakar yang hilang tanpa bekas... ini bukan keajaiban cuma-cuma. Siapa yang harus mati untuk ini? Apa anda mengambil 'jatah' umur orang lain untuk ditanamkan padaku? Atau anda meminta bayaran darah?"
Seraphine menatap Reggiano diam sejenak, lalu tiba-tiba, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. Itu adalah suara yang renyah, sangat manusiawi, dan sama sekali tidak cocok dengan ketegangan di ruangan itu.
"Darah? Bayaran nyawa?" Seraphine menggeleng, tawanya belum habis.
"Tuan Herbert, anda benar-benar terlalu banyak menonton film mata-mata rendahan atau membaca buku ritual terlarang."
Reggiano terpaku, merasa sedikit bodoh.
"Aku serius. Hukum pertukaran itu ada."
"Oh, tentu saja ada harganya," sahut Seraphine, kini ia melepaskan tangan Reggiano dan melangkah mundur ke arah meja kerjanya dengan raut wajah yang mendadak dibuat sangat serius.
"Harganya sangat mahal, Tuan Herbert. Sangat berat."
Reggiano menegang, otot-ototnya bersiap untuk mendengar persyaratan yang mengerikan.
"Katakan padaku. Apapun itu, aku akan membayarnya."
Seraphine berbalik, menunjuk ke arah tumpukan karung gandum di sudut ruangan dengan wajah galak yang dibuat-buat.
"Bagaimana ya, anda harus membantu mengadon tiga puluh loyang roti gandum mulai subuh besok. Lalu anda tidak boleh menggunakan kekuatan ototmu yang biasa anda pakai untuk mematahkan leher orang pokoknya. Tuan, harus melakukannya dengan kasih sayang. Jika rotinya payah, aku akan mempertimbangkan untuk mematahkan rusukmu kembali."
Reggiano berkedip berkali-kali. "Apa?"
"Dan satu lagi," tambah Seraphine, menahan senyum di sudut bibirnya.
"Anda harus mencuci piring-piring bekas krim madu yang sangat lengket itu. Saya benci bagian itu, dan kurasa seorang Eksekutor hebat sepertimu punya ketelitian yang cukup untuk memastikan tidak ada sisa gula yang tertinggal."
Reggiano melepaskan napas yang sejak tadi ia tahan, bahunya merosot lemas. "Anda sedang bercanda denganku di saat saya sedang mempertaruhkan kewarasan saya sendiri?"
"Habisnya, wajahmu itu lucu sekali saat sedang ketakutan," goda Seraphine, ia kembali mendekat dan menepuk pelan pipi Reggiano.
"Dunia tidak sekejam yang anda kira, Tuan Herbert. Tanah tidak butuh nyawamu, dia sudah punya cukup banyak mayat. Tanah hanya butuh dirawat. Membantu di toko ini jauh lebih bermanfaat bagi keseimbangan alam daripada anda menawarkan darah musuhmu padaku."
Reggiano mendengus, namun sudut bibirnya ikut terangkat sedikit. "Jadi, Eksekutor paling ditakuti di kota ini sekarang resmi menjadi buruh cuci piring di toko roti?"
"Anggap saja itu rehabilitasi untuk tanganmu yang terlalu sering memegang pelatuk dan belati, Tuan Herbert." sahut Seraphine riang, ia menyerahkan mangkuk obat tadi ke tangan Reggiano.
"Sekarang minum ini. Habiskan, atau harganya akan ku tambah dengan membersihkan kandang ulat sutra di taman belakang."
Reggiano menerima mangkuk itu, menatap cairan hijau di dalamnya, lalu menatap Seraphine.
Rasa takutnya belum sepenuhnya hilang, tapi entah mengapa, candaan wanita itu membuatnya merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ia punya kesempatan untuk kembali menjadi manusia biasa.