NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.27

Markas Langley — 10.30 AM

Arthur Ford melempar ponselnya ke meja dengan kasar setelah membaca pesan misterius itu. Napasnya memburu, kepalanya berdenyut nyeri.

"Sean Miller," desis Arthur begitu sambungan terhubung. Suaranya rendah, mengancam seperti guntur yang tertahan. "Aku tanya sekali lagi, Sean. Di mana Megan sekarang? Jangan beri aku jawaban protokol sampahmu tentang Black Ops di London!”

"Saya tetap pada laporan saya, Sir. Megan ada di London!" tegas Sean Miller melalui telepon, meski tangannya gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan gagang teleponnya.

Di ruang komando Langley, Arthur Ford menarik napas panjang. Matanya yang merah menatap layar biometrik yang masih menunjukkan wajah "Nora Alexander".

Arthur kemudian tertawa sinis, tawa yang sanggup merontokkan nyali siapa pun. "Kau berbohong padaku, Sean. Seseorang baru saja memberitahuku bahwa kau sedang mempermainkan ku. Jika kau tidak segera kembali ke Langley sore ini untuk menjelaskan semuanya di depan komite, aku sendiri yang akan menjemputmu!"

Arthur memutus panggilan secara sepihak. Belum sempat ia duduk, asisten keamanannya masuk dengan langkah terburu-buru.

"Sir! Kami baru saja meretas jadwal penerbangan privat di terminal internasional Dulles. Sebuah jet terdaftar atas nama Obsidian Corp dijadwalkan tinggal landas menuju London pukul tujuh malam ini. Nama penumpangnya tercatat, Bradley Brown dan Nora Alexander."

Mata Arthur berkilat tajam. "Jam tujuh malam?" Sebuah senyum predator tersungging di wajahnya yang kuyu. "Bagus. Bradley Brown terlalu percaya diri di wilayahku."

Arthur menoleh ke arah tim taktisnya. "Siapkan operasi penyergapan senyap pukul 18.45. Blokir seluruh akses menuju landasan 4B. Aku ingin mereka ditangkap tepat sebelum roda pesawat itu bergerak. Dan ingat... aku ingin wanita itu dibawa kepadaku hidup-hidup untuk membuktikan identitasnya!”

***

Di teras rumah Alexandria, Bradley menyesap kopinya dengan sangat tenang. Di sampingnya, Peter sedang memantau lalu lintas data dari Langley.

"Direktur Ford baru saja memberikan perintah penyergapan pukul tujuh malam nanti di Dulles, Tuan," lapor Peter. "Sesuai rencana, mereka memakan umpan jadwal palsu yang kita tanam."

Bradley menyandarkan punggungnya, menatap langit Virginia dengan tatapan kosong. "Arthur selalu berpikir dia adalah pemburu yang hebat, padahal dia hanyalah singa tua yang sudah kehilangan indra penciumannya.”

“Baiklah, sepertinya kita harus bersiap, Tuan. Jadwal kita pukul satu siang ini.” Peter kembali mengingatkan bosnya.

***

Dulles — 13.00 PM

Washington Dulles International Airport (IAD)

Jet pribadi milik Bradley membelah langit Virginia, meninggalkan sejuta misteri tentang sosok 'Nora Alexander' yang kini menghantui benak Arthur Ford. Dari balik jendela kecil pesawat, Megan menatap nanar hamparan daun maple warna-warni yang semakin mengecil, gugur tertiup angin.

Perlahan, kehangatan tanah kelahirannya lenyap, tertutup oleh awan putih, siap digantikan oleh dinginnya salju London yang mencekam.

Di dalam kabin yang mewah, Bradley tidak fokus pada Megan. Ia duduk berhadapan dengan Peter, dikelilingi tumpukan dokumen digital dan tablet yang menampilkan grafik keuangan yang rumit.

"Jadi, mereka masih meminta kita untuk mencuci dana operasional dari proyek pelabuhan di Afrika itu, Pet?" tanya Bradley, suaranya rendah namun penuh nada mengejek.

"Benar, Tuan. Pihak kementerian bersikeras bahwa jalur Obsidian adalah yang paling bersih untuk menyamarkan aliran dana mereka dari pengawasan publik," jawab Peter sambil menunjukkan sebuah kontrak rahasia.

Bradley tertawa sinis, "Lucu sekali. Pemerintah yang setiap hari berteriak tentang penegakan hukum di televisi, justru merangkak ke arah mafia untuk meminta perlindungan dan mencuci uang kotor mereka. Mereka menyebutku iblis, padahal mereka sendiri yang memberi makan iblis itu agar tetap hidup."

Megan, yang awalnya pura-pura tertidur, kini menajamkan pendengarannya. Kalimat Bradley barusan menghantam logikanya sebagai seorang agen negara. Selama ini ia dilatih untuk percaya bahwa dunia itu hitam dan putih; pemerintah adalah cahaya, dan mafia adalah kegelapan.

Namun, mendengar fakta tentang keterlibatan "orang-orang atas" dalam dunia bawah tanah Bradley, Megan mulai merasa fondasi keyakinannya retak.

"Jadi, selama ini aku mempertaruhkan nyawaku untuk melindungi orang-orang yang justru bekerja sama dengan pria yang menculikku?" batin Megan perih.

Bradley melirik Megan dari sudut matanya, menyadari bahwa tawanannya itu mulai menyerap kenyataan pahit tentang dunia yang sebenarnya. Ia sengaja membiarkan Megan mendengar, membiarkan wanita itu paham bahwa musuh Megan yang sebenarnya bukan hanya dirinya, tapi sistem yang selama ini Megan banggakan.

Megan yang sadar Bradley sedang memperhatikannya, segera memalingkan wajah, berpura-pura sibuk merapikan mantelnya untuk menutupi kecamuk di hatinya.

Namun, suara Bradley kembali menggema, lebih berbahaya dari sebelumnya.

"Pejabat pemerintah tidak hanya bermain kotor, Meg. Mereka menghalalkan segala cara demi sebuah kursi kekuasaan. Bahkan," Bradley menjeda kalimatnya, matanya berkilat tajam menatap kosong ke depan. "Ada yang cukup tega melenyapkan orang lain hanya karena kedengkian dan ambisi jabatan."

"Anda tahu banyak tentang kebusukan para elit atas, Tuan Brown," sahut Peter sambil menutup tabletnya, memberikan nada provokasi yang pas.

Bradley menyesap wiskinya, menatap Megan yang tampak muak mendengar pembicaraannya dengan Peter soal pejabat yang minta bantuan.

"Kau pikir lencanamu itu suci, Meg? Pemerintahmu itu pelanggan tetapku," Bradley tertawa sinis. "Mereka butuh aku untuk mencuci kotoran mereka. Selama mereka masih haus kekuasaan, hukum tidak akan pernah menyentuhku. Karena jika aku masuk ke ruang interogasi, setengah dari menteri di negaramu akan mengenakan seragam oranye di hari berikutnya.”

"Jangan bawa-bawa duniaku, Brown! Duniaku tidak serendah apa yang kau pikirkan!" balas Megan sengit, meski ada keraguan yang mulai merayap di dadanya.

Bradley terkekeh, suara tawa yang terdengar seperti ejekan bagi keluguan Megan. "Kau terlalu naif di dunia yang kejam ini, Meg. Akan kutunjukkan padamu seperti apa rupa dunia yang sebenarnya nanti. Sekarang istirahatlah, London masih jauh. Aku tidak ingin bayiku kenapa-napa."

"Jangan sebut kata itu, Brown! Kau membuatku muak!" desis Megan, mencoba menjauh.

Namun, Bradley justru menarik Megan ke dalam dekapannya. Tanpa perlawanan yang berarti, ia membenamkan kepala Megan di dadanya yang bidang, posisi yang ia tahu akan memberikan rasa nyaman yang paling Megan butuhkan saat ini.

Setelah memastikan napas Megan mulai teratur dan wanita itu terlelap karena kelelahan, Bradley membetulkan posisi tidurnya dengan sangat hati-hati.

Ia mengecup kening Megan singkat, sebelum akhirnya kembali bergabung dengan Peter untuk membahas detail operasional pencucian uang dan sabotase politik yang akan mereka jalankan di London nanti.

***

Langley — 20.00 PM

Suasana di dalam rumah megah Arthur Ford terasa mencekam, jauh lebih dingin daripada udara malam Virginia di luar sana. Arthur berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, tangannya meremas gelas kristal berisi wiski.

Di belakangnya, beberapa dokumen operasional berserakan di atas karpet Persia yang mahal bukti sisa amukannya beberapa saat lalu.

Tim taktis yang ia utus ke Dulles pulang dengan tangan hampa. Tidak ada jet Obsidian, tidak ada Bradley Brown, dan yang paling menyakitkan, tidak ada Megan.

"Bagaimana mungkin mereka lenyap begitu saja?!" suara Arthur menggelegar, memecah kesunyian. "Dulles melaporkan jadwal itu ada! Tapi landasan itu kosong! Apa aku sedang mempekerjakan sekelompok agen amatir?!"

Alice melangkah pelan mendekati Arthur. Ia mengenakan gaun tidur sutra panjang yang dibalut jubah hangat, wajahnya dipasang selembut mungkin, topeng sempurna untuk menutupi debaran jantungnya yang tahu persis apa yang sebenarnya terjadi.

"Tenangkan dirimu, Arthur. Kau bisa terkena serangan jantung jika terus seperti ini," ucap Alice lembut. Ia meletakkan tangannya di bahu Arthur yang kaku, mencoba menyalurkan ketenangan yang palsu.

"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang, Alice?! Bajingan itu mempermainkanku di tanahku sendiri! Dia membawa Megan, dan aku bahkan tidak bisa menyentuh bayangannya!" Arthur berbalik, matanya merah karena amarah dan kelelahan.

"Mungkin memang benar laporan dari Sean, Arthur," Alice mulai melancarkan bisikan mautnya. "Mungkin Megan memang sedang menjalankan misi yang sangat rahasia sehingga sistem biometrik kita dikacaukan oleh MI6 untuk melindunginya. Kau tahu sendiri betapa posesifnya Sean terhadap karier Megan."

Arthur terdiam sejenak, namun rahangnya masih mengeras. "Jika Sean Miller berbohong padaku, aku akan memastikan dia membusuk di penjara terdalam yang dimiliki negara ini."

"Sshh... sudah, Sayang. Ini sudah malam," Alice mengambil gelas wiski dari tangan Arthur dan meletakkannya di meja. Ia menuntun pria itu menuju sofa, memijat bahunya dengan telaten. "Besok kau bisa memanggil Sean ke Langley secara resmi. Malam ini, kau butuh istirahat. Biarkan tim lapangan bekerja, kau tidak bisa menemukan Megan jika pikiranmu sedang dikuasai kabut amarah seperti ini."

Arthur menghela napas panjang, kepalanya menyandar pada sandaran sofa, perlahan mulai luluh oleh sentuhan Alice. Ia tidak tahu bahwa wanita yang sedang memijatnya ini adalah orang yang sama yang memberikan "lampu hijau" bagi Bradley untuk terbang. Alice tersenyum tipis di balik bahu Arthur. Baginya, Arthur Ford saat ini tak lebih dari singa tua yang giginya sudah dicabut satu per satu oleh Bradley.

Arthur mulai memejamkan mata, membiarkan pijatan lembut Alice meredakan denyut di pelipisnya. Namun, kesunyian itu pecah saat ponsel pribadi Arthur yang tergeletak di meja kayu di samping sofa bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk menyalakan layar ponsel, menampilkan deretan file gambar yang dikirim dari sebuah nomor di London.

Alice seketika menahan napas. Matanya melirik tajam ke arah layar.

Dari sudut matanya, Alice melihat potret pertama, Bradley Brown yang turun dari jet pribadi di sebuah pangkalan udara di London, Ia di kawal oleh beberapa pria berpakaian hitam tampak menggendong Megan yang tidur di dalam dekapannya. Foto-foto berikutnya menunjukkan iring-iringan itu membelah jalanan London menuju ke arah mansion Obsidian.

Tangan Arthur bergerak lambat, hendak meraih ponsel itu karena instingnya yang tajam sebagai seorang Direktur intelijen.

"Arthur..." bisik Alice, suaranya sehalus sutra terdengar menenangkan. "Jangan sekarang. Biarkan duniamu berhenti berputar sejenak, atau kau akan kehilangan kewarasanmu sebelum fajar." Alice sudah meraih rahang Arthur, mengusapnya lembut. “Biar aku lihat.”

Arthur membuka mata perlahan, saat pijatan Alice terhenti dan gadis itu sibuk dengan ponselnya. “Siapa Alice?”

Alice tersenyum lembut.“Tidak ada yang penting. Hanya spam.”

Arthur mengangguk samar, lalu kembali menyandarkan kepala ke sofa, membiarkan dirinya terlelap dalam kelelahan dan amarah yang belum selesai.

1
🇮🇹 25
kukira plok2 😒
Bintang Kejora
cie cie yg habis dapet durian runtuh🤭
Bintang Kejora
Cie muji/Chuckle/
🇮🇹 25
😒
Riska Memet
Jodoh Meg😄
Azzalea Chanifa
makin penasaran.
axm
alex debenernya suaminya megan ya 🤭
🇮🇹 25
akoh lebih takod otor apdet cuma 2 tiap hari 😭
🇮🇹 25: al menanti apdet banyak2 🌚🌚🌚
total 2 replies
Bintang Kejora
Siapa Ethan?
Bintang Kejora
Kau ini intel yang lemot, menganalisa apapun telat 😪
Bintang Kejora
Kecurigaan lo telat Sean, payah😔
Bintang Kejora
Alice bakal kena masalah sama brown lo
Bintang Kejora
waduh jangan macam2 alice, 🤭
Bintang Kejora
finaly 😀
🇮🇹 25
SERAKAH ADALAH SIFAT UMUM MANUSIA SELAIN IRI 😒
FF
😍Ada visualnya 👍
Je
up nya jangan lama'
Riska Memet
Woy Brown, puasa woy🙈😍🤣🤣
Riska Memet
Bau2 penkhianat sih🤔
Riska Memet
Fix ini Alex 😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!