NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Transmigrasi
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Nakama Baru

"EH?!" seluruh kru Topi Jerami berteriak bersamaan, kecuali Luffy yang masih tersenyum lebar.

"LUFFY! KAU TIDAK BISA LANGSUNG MENERIMA ORANG ASING BEGITU SAJA!" Nami menarik telinga Luffy dengan keras.

"Ittai ittai ittai! Tapi dia keren, Nami!" Luffy protes sambil tangannya merentang karena ditarik. "Dia punya kekuatan laba-laba! Aku selalu ingin punya anggota kru yang bisa terbang!"

"Aku tidak terbang, aku berayun dengan jaring," koreksi ku sambil mengangkat tangan, menunjukkan jaring yang keluar dari pergelangan tanganku.

Usopp mundur selangkah dengan wajah pucat. "Bu-Buah Iblis?! Kau pengguna Buah Iblis?!"

"Ya," jawabku sambil mengangguk. "Aku memakan Spider Fruit. Aku bisa menembakkan jaring tanpa batas, punya kekuatan dan kecepatan lebih, dan juga Spider Sense—semacam kemampuan untuk merasakan bahaya sebelum datang."

Zoro menyipitkan mata. "Spider Sense? Observation Haki?"

"Mirip, tapi tidak sama," jawabku. "Ini lebih spesifik untuk bahaya yang mengancamku langsung. Seperti insting bertahan hidup yang diperkuat."

Sanji menghembuskan asap rokok. "Kemampuan yang mengesankan. Tapi itu tidak menjawab pertanyaan penting—kenapa kau ingin bergabung dengan kami? Kau bahkan belum kenal kami."

Aku terdiam sejenak. Bagaimana aku bisa menjelaskan? Bahwa aku datang dari dunia lain? Bahwa aku tahu semua tentang mereka dari anime dan manga? Bahwa aku sudah mengagumi mereka sejak kehidupan lamaku?

Tentu saja aku tidak bisa bilang begitu.

"Karena..." aku memilih kata-kata dengan hati-hati. "Karena aku melihat kalian bertarung untuk orang lain. Aku dengar cerita tentang bagaimana kalian menyelamatkan desa dari Arlong. Bagaimana kalian melawan ketidakadilan meskipun itu berarti melawan dunia. Aku ingin berlayar dengan orang-orang yang punya keberanian seperti itu."

Nami menatapku dengan tatapan lembut sejenak, lalu menggeleng. "Tapi kau masih orang asing. Kita tidak tahu apa-apa tentangmu."

"Kalau begitu, tanyakan," jawabku sambil menatap mereka semua. "Tanyakan apapun yang ingin kalian tahu. Aku akan jawab dengan jujur."

Zoro melangkah maju, tangannya masih di gagang pedangnya. "Dari mana kau berasal?"

"Pulau Kumo, sebuah pulau kecil di East Blue," jawabku. "Aku tinggal di sana sejak orang tuaku meninggal setahun lalu."

"Berapa umurmu?" tanya Nami.

"Lima belas tahun."

"Apakah kau punya bounty?" tanya Sanji.

"Belum. Ini pertama kalinya aku benar-benar berlayar. Meskipun aku sempat bertarung dengan beberapa bajak laut dan Marine di perjalanan ke sini."

Usopp maju dengan dada membusung, mencoba terlihat berani meskipun lututnya gemetar. "A-apa kau punya niat jahat terhadap kru ini?!"

"Tidak sama sekali," jawabku tegas. "Aku ingin melindungi kru ini, bukan menyakiti."

Luffy tertawa keras. "Shishishi! Lihat? Dia baik! Ayo kita terima dia!"

"KITA BUTUH LEBIH DARI ITU, LUFFY!" Nami menggebrak kepala Luffy lagi.

Tiba-tiba, suara tenang berbicara dari balik tiang utama. "Aku punya pertanyaan."

Aku menoleh dan melihat seorang wanita berambut hitam panjang—Nico Robin—melangkah keluar dari bayangan. Matanya yang tajam menatapku dengan intensitas yang membuatku sedikit tidak nyaman.

"Kenapa kau mengejar kami dengan begitu desperatnya?" tanya Robin. "Kau bahkan rela melawan Marine dan Smoker—seorang Logia user yang sangat berbahaya—hanya untuk mengejar kami. Ada alasan yang lebih dalam dari sekedar 'ingin bergabung', bukan?"

Pertanyaan yang tajam.

Semua mata tertuju padaku, menunggu jawaban.

Aku menarik napas dalam. "Karena... aku kesepian."

Semuanya terdiam.

"Aku kehilangan orang tuaku," lanjutku dengan suara pelan. "Aku hidup sendirian di pulau kecil selama setahun. Orang-orang desa baik padaku, tapi aku selalu merasa... hampa. Seperti ada sesuatu yang hilang. Lalu aku mendengar cerita tentang kalian—tentang kru yang saling melindungi, yang menganggap satu sama lain sebagai keluarga meskipun bukan darah. Aku ingin itu. Aku ingin punya keluarga lagi."

Nami menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kenji..."

"Dan..." aku melanjutkan. "Aku punya impian. Impian untuk berlayar keliling dunia, melihat semua yang ditawarkan laut ini, dan menjadi seseorang yang bisa melindungi orang-orang yang kupedulikan. Aku tidak ingin hidup dengan penyesalan. Aku ingin hidup dengan petualangan."

Luffy menatapku lama, lalu tersenyum—bukan senyum lebar seperti biasanya, tapi senyum yang hangat dan tulus.

"Kenji," kata Luffy. "Kau ingin jadi nakama ku?"

"Ya," jawabku tanpa ragu.

"Kalau begitu, selamat datang di Kru Topi Jerami!" Luffy mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Kau sekarang adalah nakama kami!"

"LUFFY!" Nami berteriak lagi.

Tapi Zoro mengangkat tangannya, menghentikan protes Nami. "Tunggu, Nami. Aku setuju dengan Luffy kali ini."

"Eh? Zoro?"

Zoro menatapku. "Matanya jujur. Dia tidak berbohong tentang impiannya. Dan kita memang butuh anggota yang kuat. Kemampuannya akan berguna."

Sanji menghela napas. "Aku juga setuju. Meskipun dia cowok lagi—aku berharap anggota baru itu cewek cantik—tapi dia punya tekad yang kuat. Itu yang penting."

Usopp masih ragu, tapi kemudian mengangguk pelan. "Ka-kalau Kapten memutuskan, aku ikut saja..."

Robin tersenyum tipis. "Dia menarik. Aku ingin melihat apa yang bisa dilakukan Spider Fruit."

Nami menatap mereka semua, lalu menghela napas panjang. "Baiklah, baiklah. Tapi Kenji!" dia menunjuk ku dengan tajam. "Kalau kau mengkhianati kami, aku akan menagih hutang 10 juta Berry darimu!"

"A-aku bahkan tidak punya hutang!" protesku.

"Sekarang kau punya!" Nami menyeringai.

Semua orang tertawa—bahkan aku ikut tertawa. Ini terasa... menyenangkan. Hangat. Seperti benar-benar diterima.

Luffy melompat dan merangkul bahuku dengan keras. "Yosh! Kenji! Kau sekarang nakama ku! Ayo kita rayakan dengan pesta!"

"Pesta?! Kita baru saja kabur dari Smoker!" Nami berteriak.

Tapi Luffy tidak peduli. Dia sudah berteriak memanggil Sanji untuk membuat makanan.

Sanji menghela napas tapi tersenyum. "Baiklah, baiklah. Aku akan buat makanan untuk menyambut anggota baru." Dia menatapku. "Kau ada alergi atau pantangan makanan?"

"Tidak ada," jawabku sambil tersenyum lebar.

"Bagus!" Sanji berjalan ke dapur.

Zoro duduk bersandar di dinding, menatapku. "Kenji, kalau kau sudah jadi bagian dari kru ini, kau harus siap. Grand Line bukan tempat untuk anak-anak. Kau akan menghadapi musuh yang lebih kuat dari Marine yang tadi."

"Aku tahu," jawabku serius. "Dan aku siap."

"Bagus," Zoro menutup matanya. "Selamat datang, nakama."

Usopp tiba-tiba melompat ke depanku dengan mata berbinar. "Kenji! Kenji! Bisa tunjukkan jaringmu lagi? Aku ingin lihat! Apa kau bisa membuat bentuk-bentuk keren? Apa jaringnya lengket? Apa—"

"Usopp, nafas," kata Nami sambil menarik Usopp menjauh.

Aku tertawa. Ini persis seperti yang kubayangkan—bahkan lebih baik.

Robin mendekatiku dengan langkah tenang. "Kenji-kun, aku punya pertanyaan tentang Spider Fruit mu."

"Silakan," jawabku.

"Apakah kau sudah mengeksplorasi semua kemampuannya?" tanya Robin. "Buah Iblis punya potensi yang sangat luas. Bahkan kemampuan yang tampak sederhana bisa berkembang jadi sangat kuat kalau dilatih dengan benar."

"Aku masih belajar," jawabku jujur. "Aku baru mendapatkan kekuatan ini beberapa minggu yang lalu. Aku masih menemukan teknik-teknik baru."

"Interesting," Robin tersenyum. "Aku akan senang membantumu mengeksplorasi kemampuanmu. Siapa tahu kita bisa menemukan aplikasi yang tidak terduga."

"Terima kasih, Robin-san."

Nami mendekat dengan peta di tangannya. "Kenji, karena kau sekarang anggota kru, kau harus tahu rute kita. Kita akan memasuki Grand Line melalui Reverse Mountain. Setelah itu, kita tidak tahu akan ke mana—log pose akan menentukan rute kita."

"Log Pose?" tanyaku, berpura-pura tidak tahu.

"Kompas khusus untuk Grand Line," jelas Nami. "Kompas biasa tidak bekerja di sana karena medan magnet yang kacau. Log Pose akan menunjuk ke pulau berikutnya setelah terekam magnetnya."

"Aku mengerti," jawabku sambil mengangguk.

Luffy tiba-tiba berteriak dari ujung kapal. "OI! LIHAT! ITU REVERSE MOUNTAIN!"

Semua orang berlari ke haluan kapal. Di kejauhan, aku melihat pemandangan yang luar biasa—sebuah gunung raksasa dengan air laut mengalir ke atas!

Reverse Mountain. Gerbang menuju Grand Line.

Jantungku berdebar melihatnya. Ini bukan lagi cerita di layar atau halaman manga. Ini nyata. Aku benar-benar ada di sini, akan memasuki Grand Line bersama Kru Topi Jerami.

"Itu... luar biasa," gumamku sambil menatap kagum.

"Kan?!" Luffy tertawa senang. "Keren banget! Air lautnya naik ke atas!"

"Tapi juga sangat berbahaya," kata Nami dengan serius. "Kalau kita salah navigasi sedikit saja, kapal akan hancur di bebatuan. Semua ke posisi masing-masing! Kita akan menaiki Reverse Mountain!"

Semua orang langsung bergerak—Zoro dan Sanji ke tali layar, Usopp ke meriam jaga-jaga, Robin siap membantu dengan kemampuannya.

"Kenji!" Luffy memanggilku. "Kau bantu Nami di kemudi! Gunakan Spider Sense mu untuk memberi warning kalau ada bahaya!"

"Baik!" jawabku sambil berlari ke kemudi.

Going Merry mulai memasuki aliran yang mengarah ke Reverse Mountain. Arus semakin kencang, kapal bergerak semakin cepat.

"Pegangan!" teriak Nami sambil mengendalikan kemudi dengan susah payah.

Kapal mulai naik—benar-benar naik mengikuti aliran air yang melawan gravitasi! Ini melanggar semua hukum fisika yang kupelajari di kehidupan lamaku, tapi ini adalah dunia One Piece. Hal-hal mustahil adalah hal biasa di sini.

Spider Sense ku berdering!

"NAMI! BATU BESAR DI KANAN!" teriakku.

Nami langsung memutar kemudi. Kapal menghindari batu besar yang hampir menghantam lambung.

"Bagus, Kenji!" kata Nami sambil tersenyum. "Terus beri warning!"

Kami naik semakin tinggi. Angin bertiup kencang, ombak menghantam kapal dari segala arah. Ini seperti roller coaster paling ekstrem yang pernah ada.

Spider Sense berdering lagi!

"KIRI! ADA BATU TAJAM!"

Nami memutar kemudi lagi. Kapal menghindari dengan selisih centimeter.

"SEMUA BERTAHAN!" teriak Nami. "KITA HAMPIR SAMPAI DI PUNCAK!"

Dan kemudian—

Kami sampai di puncak Reverse Mountain.

Untuk sejenak, semuanya tenang. Kapal mengapung di udara, di puncak dunia. Aku bisa melihat pemandangan yang menakjubkan—lautan luas di semua arah, langit biru yang tak berujung, dan di depan...

Grand Line.

"Whoa..." semua orang bergumam kagum.

Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Kapal mulai turun—turun dengan kecepatan yang mengerikan!

"KYAAAAA!" semua orang berteriak bersamaan.

Kami meluncur turun dengan kecepatan super, air laut menyembur ke segala arah. Angin bertiup sangat kencang sampai aku hampir terpental dari kapal.

Aku menembakkan jaring ke tiang utama dan mengikat tubuhku agar tidak terbang!

"BERTAHAAAAN!" teriak Luffy sambil merentangkan tangannya dan memegang tiang.

Dan kemudian—

SPLASH!

Kapal menghantam permukaan air Grand Line dengan keras. Air menyembur tinggi, membasahi semua orang.

Setelah beberapa detik, semuanya tenang.

Kami selamat.

Going Merry mengapung dengan tenang di air Grand Line. Langit cerah, ombak tenang, seolah tidak ada yang terjadi.

Luffy berdiri di haluan kapal, mengangkat topi jeraminya tinggi-tinggi.

"YOSH! KITA BERHASIL MASUK GRAND LINE!" teriaknya dengan semangat.

"YEAAAHHH!" semua orang berteriak kegirangan.

Aku tersenyum lebar—senyuman yang datang dari lubuk hati paling dalam. Aku berhasil. Aku benar-benar berhasil. Aku sekarang adalah bagian dari Kru Topi Jerami, berlayar di Grand Line.

Ini adalah awal dari petualangan terbesar dalam hidupku.

Luffy menoleh ke arahku dan tersenyum. "Kenji! Selamat datang di Grand Line! Ini akan jadi petualangan paling seru dalam hidupmu!"

"Aku tahu," jawabku sambil tersenyum balik. "Dan aku tidak sabar untuk memulainya bersama kalian semua."

Nami tiba-tiba berteriak dari kemudi. "OI! ADA SESUATU DI DEPAN!"

Semua orang menoleh.

Di depan kapal, muncul sesuatu yang sangat besar dari dalam air. Sesuatu yang hitam, raksasa, dengan mata yang menatap kami dengan tatapan sedih.

"Itu..." gumam Usopp dengan wajah pucat. "PAUS RAKSASA!"

Laboon.

Paus yang menunggu krunya kembali selama 50 tahun.

"Sudah dimulai," pikirku sambil tersenyum. "Petualangan di Grand Line sudah dimulai."

1
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!