*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resonance 2 - Ikrar di Pembaringan
Deru angin di telingaku nyaris menutupi suara detak jantungku sendiri yang menggila. Rasanya seperti genderang perang yang ditabuh tanpa henti di dalam rongga dadaku, ritmenya menyatu dengan derap kaki Kuda Batuku yang tak kenal lelah menghantam tanah.
Sudah satu hari satu malam aku memacunya tanpa henti, sejak penguji Tarker berwajah kaku itu menyampaikan pesannya dengan nada formalitas yang terasa begitu kejam:
Ibumu sakit dan tak sadarkan diri.
Kata - kata itu terus terngiang, berputar-putar tanpa henti, setiap suku katanya terasa seperti cambukan. Setiap pohon yang kulewati, setiap kelokan di jalan setapak, seolah membisikkan kalimat yang sama, mengejek kelalaianku.
Seharusnya aku tidak pergi, pikirku untuk yang keseribu kalinya, rasa penyesalan yang dingin dan tajam mencengkeram hatiku. Aku menuduh diriku sendiri atas setiap tarikan napas Ibu yang mungkin kini terasa berat. Seharusnya aku sadar sejak awal.
Pikiranku terlempar kembali ke beberapa minggu yang lalu, ke sore hari yang hangat di rumah kami yang beraroma herbal kering dan kayu pinus. Aku sedang bersemangat menata peralatanku untuk ujian seleksi Tarker—sebuah Elixir penyembuh yang baru kusempurnakan, kompas perak peninggalan ayah, dan gulungan peta kosong yang terasa penuh dengan janji petualangan.
Ibu duduk di kursinya di dekat jendela, merajut selimut dengan benang berwarna senja. Aku ingat betul bagaimana ia sesekali berhenti untuk terbatuk pelan. Aku ingat bagaimana tangannya sedikit gemetar saat ia meraih cangkir tehnya, sesuatu yang kuabaikan karena kuanggap hanya karena udara yang mulai dingin.
Aku menatapnya saat itu, semangatku sedikit goyah oleh keraguan yang tiba-tiba muncul. Meninggalkannya sendirian terasa salah. Ia pasti melihat keraguan di mataku, karena ia meletakkan rajutannya dan menatapku dengan senyumnya yang paling menenangkan, senyum yang selalu berhasil meredakan semua badai di dalam diriku.
"Ini mimpimu sejak kecil, Fiora," katanya saat itu, suaranya lembut namun penuh keyakinan. "Melihat tempat-tempat yang hanya ada di dalam peta tua, memberi nama pada bunga yang belum pernah dilihat orang lain.
“Pergilah. Jika kau di sini terus, Elixir-mu yang luar biasa ini hanya akan dipakai oleh warga desa Paleside saja. Sebarkanlah kebaikanmu ini kepada lebih banyak orang."
Dan aku, dengan bodohnya, percaya. Aku memilih untuk percaya pada kata-katanya yang penuh dukungan, dan mengabaikan pucat wajahnya yang bersembunyi di balik mentari sore.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba memaksa kepanikan dan rasa bersalah itu turun ke perutku, mengubahnya menjadi bahan bakar. Kukencangkan otot pahaku yang sudah kaku dan hampir tidak ada rasanya, mengabaikan protes dari setiap sendiku.
Fokus.
Hanya itu yang kubutuhkan sekarang. Fokus pada kecepatan. Setiap detik berharga. Aku memacu tungganganku lebih kencang lagi, tubuh lelahku menyatu dengan ritme derap kakinya. Kuda Batuku ini, pasti merasakan kepanikanku. Ia berlari seolah nyawanya juga bergantung pada kecepatan kami, napasnya yang berat mengepulkan uap putih di udara pagi yang dingin.
Kami melintasi perbukitan yang bergulung, melewati dataran terbuka di mana angin bertiup kencang, dan Hutan Palenwood yang familier. Biasanya, aku merasa tenang di bawah naungan pohon-pohon ini, tapi sekarang, setiap bayangan terasa seperti pertanda buruk.
Saat aku akhirnya melihat gerbang Paleside di kejauhan,jJantungku justru semakin berdebar kencang, seolah akan meledak. Di depan rumahku, terlihat beberapa orang berkumpul, membuat firasat buruk yang sejak tadi menyelimuti kini semakin menggila.
Aku mengenali mereka—Pak Tua Garris si pembuat roti, Ibu Restia dari rumah sebelah, beberapa tetangga lain.
Tidak. Kumohon, tidak.
“Fiora! Nak, hati-hati!" teriak Pak Garris saat melihatku memacu kuda seperti orang kesetanan.
Aku tidak lagi mempedulikan wajah-wajah mereka atau peringatan mereka agar aku berhati-hati. Dunia telah menyempit hanya pada satu pintu kayu di ujung jalan itu.
Tanpa menunggu Kuda Batuku berhenti sepenuhnya, aku melompat turun. Kakiku, yang sudah kaku karena berjam-jam di atas pelana, mendarat dengan tidak sempurna. Aku tersandung, lututku menghantam tanah berlumpur, dan aku setengah merangkak dengan kedua tangan menahan tanah yang kupijak.
Tapi aku tidak peduli.
Aku langsung berlari sekuat tenaga, mengabaikan seruan kaget dari para tetangga. Aku menerobos masuk ke dalam rumah, pintu kayu yang tidak tertutup rapat terbanting menghantam dinding.
"Ibu!"
Aku berlari melewati ruang tamu, langsung menuju kamar ibuku di belakang. Aroma elixir oles dan uap herbal yang pekat menyambutku.
Ibu terduduk di tempat tidur, terbungkus selimut tebal, ditemani beberapa wanita tetangga. Wajahnya pucat pasi dan ia tampak sangat lemah, jauh lebih kurus dari yang kuingat.
Tapi ia hidup. Ia sadar.
Matanya yang sedikit cekung itu terbuka, dan saat melihatku berdiri di ambang pintu dengan napas tersengal dan pakaian penuh lumpur, sebuah ekspresi terkejut bercampur khawatir terukir di wajahnya yang letih.
“Fiora? Kau baik saja nak?”
Seluruh kekuatan di kakiku seolah lenyap seketika. Ketegangan yang menopangku selama perjalanan ini menguap, dan lututku lemas hingga aku hampir terjatuh. Suara para tetangga yang menyapaku terdengar seperti dengungan dari kejauhan. Dengan langkah yang goyah dan air mata yang kini tak bisa kutahan lagi, aku berjalan ke arahnya.
Aku memeluknya erat, menumpahkan semua rasa takut, penyesalan, dan kelegaan yang luar biasa di bahunya. Aku menangis sekeras-kerasnya, isak tangisku yang tak terkendali memenuhi ruangan. Rasanya seperti menjadi anak kecil tersesat yang baru saja menemukan orang tuanya yang hilang di pasar.
"Ibu di sini, Nak. Ibu baik-baik saja"
Ibu mengelus rambutku yang kusut dengan tangannya yang letih, sebuah sentuhan yang terasa begitu nyata dan menenangkan.
“Ewan juga berkabar, dia bilang akan segera pulang.”
Mendengar nama Kak Ewan disebut, aku semakin erat memeluk Ibu. Kelegaan ini terasa berlipat ganda. Kak Ewan akan pulang, dan Ibu masih bersamaku. Aku merasa seolah baru saja diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya.
Di dalam kehangatan pelukannya, di tengah aroma yang familiar dari ibuku, aku membuat janji di dalam hati. Sebuah sumpah yang lahir dari penyesalan yang paling dalam dan kelegaan yang membahagiakan ini.
Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, Bu.
Mimpiku tidak lebih penting dari dirimu. Tarker, petualangan, dunia yang luas... semua itu tidak ada artinya jika kau tidak ada. Biarkan saja Elixir ini hanya berputar di sekitar desa, hanya untuk menyembuhkan luka para penebang kayu atau demam anak-anak Paleside.
Aku tidak peduli. Aku akan selalu ada di sini, di sisimu...
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu
Pas kita lari, dia datang
Mau betumbuk kah mereka?😭