Diana, harus menelan pil pahit, saat ia di keluarkan dari sekolah,akibat kesalahan yang tidak pernah ia buat. hampir setiap hari ia di buly oleh teman-teman sekolahnya, terutama Rehan. lelaki Tampan yang kerap kali membuly Diana, hingga muncul kebencian di dalam hati Diana untuk pria itu.
Akibat ulah Rehan, kehidupan Diana hancur, bahkan ia harus kehilangan ibunya. dan di usir dari rumah kontrakannya, kebencian Dian semakin mendalam sampai ke tulang. hingga ia memutuskan pergi merantau dengan adiknya.
suatu hari Diana dan Rehan ketemu secara tidak sengaja.....
bagaimana kelanjutan kisah mereka.
yuk Baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeiNova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Arjuna.
" Undangan dari Desi." ucap kevin sembari meletakkan dua kertas undangan ulang tahun Desi. Teman satu kelas mereka saat masih sekolah dulu.
Rehan hanya melirik, pria itu enggan untuk menyentuh undangan tersebut.
" Tiga perempuan, yang sampai saat ini masih mengharapkan Rehan," ucap Kevin setengah tertawa.
" Siapa saja?" tanya Arjuna yang penasaran.
" Eka, Aulia dan Desi...Benarkan?"
Arjuna menanggapi dengan tawa, apa yang di katakan Kevin memang benar. Jika tiga perempuan itu selalu berusaha mendekati Rehan, yang sampai sekarang tidak menjalin hubungan dengan perempuan manapun.
" Ambil saja jika kalian mau," ucap Rehan seketika,membuat Arjuna dan Kevin tertawa
" aku sama sekali tidak berminat." seru Arjuna. Yang sebenarnya sudah punya tambatan hati.
" aku mau kembali ke kantor sekarang." pamit Arjuna.
Begitu rapat Arjuna menyembunyikan tentang Diana dan Vera, hanya dia yang selama ini tau tentang Diana. Meskipun sering kali Rehan membahas tentang Diana, pria ini tidak merespon apapun.
Benar jika Arjuna kembali ke kantor, pria ini menemui Vera yang sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai karyawan baru, banyak hal yang harus ia pelajari.
" Apa kau sudah makan siang?" tanya Arjuna pada Vera.
" Belum, nanti saja sekalian pulang."
" Jam pulang masih lama, kenapa Tidak makan siang?"
" Aku selesaikan, pekerjaan ini dulu." jawab Vera sambil memperlihatkan layar komputernya pada Arjuna.
" Selesaikan nanti aja, ayok aku antar makan siang."
" Nanti aja mas, masih nanggung nih" tolak vera
" Mas Juna udah makan siang?"
" Belum." bohong Arjuna, padahal ia sudah makan siang bersama kedua sahabatnya.
" Ayok, sekalian temani mas makan siang. Kerja sewajarnya saja, kalau waktunya makan ya makan, waktunya pulang ya pulang."
Vera cengengesan, ia melirik empat orang teman teman satu ruangannya, Yang tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing setelah selesai makan.
" Aku bilangin papa kalau kamu tidak makan siang." ancam Arjuna.
Vera hanya mendengus kesal, segera ia mematikan layar komputernya kemudian ikut bersama Arjuna. Mulailah mereka yang ada dalam ruangan berbisik penasaran antar Arjuna dan Vera ada hubungan apa karena baru satu Minggu bekerja, Arjuna sering menemui Vera.
" Saudara sepupunya mungkin."
" Bisa jadi." jawab yang lainnya.
Terkadang mereka ingin bertanya langsung pada Vera, tetapi merasa merasa sungkan. Karena baru sekarang Arjuna terlalu perhatian pada karyawan perusahaan.
Makan siang di cafe tepat berada di seberang jalan perusahaan, sengaja tidak pergi ke tempat yang jauh karena Arjuna menjaga agar Rehan atau kevin tidak melihat Vera. Sepertinya biasanya keduanya memesan makanan yang sama dan seperti biasanya Arjuna yang akan membayar makanan Mereka.
" Aku bayar sendiri aja, ya mas?"
" Makan tinggal makan, kenapa harus memikirkan untuk membayar?"
" Aku merasa tidak enak hati, karena setiap hari di traktir makan ucap Vera yang membuat Arjuna tertawa.
" udahlah, biasa aja." seru Arjuna sembari menatap Vera.
" Impian kamu setelah mendapatkan pekerjaan, apa?"
" Aku ingin membelikan kakak rumah." jawab Vera.
" Wah, hebat. Semoga impian kamu segera terkabul.Aku kasih pinjam uang buat beli Rumah mau gak?" tawar Arjuna.
Vera tercengang mendengarnya, " lelaki di hadapannya ini memang royal. Atau gampang untuk di bodohi?" batin Vera
" Ngak deh!" tolak vera
" Yah kali, aku berutang sebanyak itu, kerja aja baru satu Minggu."
Sekali lagi Arjuna menanggapi dengan tawa.
" aku serius." jawab Arjuna.
" Nggak ah, nanti apa katanya papa mas Juna kalau aku ngutang sebanyak itu. Aku nggak berani." tolak vera sekali lagi.
Arjuna tetap merayu, tapi Vera kekeh menolak. Gadis kecil ini ingin sekali mencubit bibir Arjuna, yang sejak tadi merayu dirinya.
" Mas Juna ,udah cukup umur. Kenapa belum menikah? Perasaan selama ini aku tidak pernah melihat Mas Juna bergandengan dengan perempuan. Sesekali kenalin dong sama calon istri Mas Juna."
Arjuna tertawa lagi, antara dirinya, Rehan dan Kevin. Hanya Kevin yang sering gonta-ganti pasangan. Sedangkan Rehan dan Arjuna belum pernah berhubungan sama perempuan sama sekali.
" Calon istrinya kamu, masa iya mau kenalan sama diri sendiri," ucap Arjuna membuat Vera kembali tercengang.
Vera menjawab dengan gelengan kepala.
" Ya, udahlah. Di pahami sendiri." ucap Arjuna lalu kembali tertawa.
Tiba-tiba saja jantung Vera berdegup kencang hingga membuat gadis ini salah tingkah. Ia sebenarnya paham tapi tidak mau bersuara.
Selesai makan siang, keduanya kembali ke kantor. Vera tampak gugup hendak mulai pembicaraan, sedangkan Arjuna. Sejak tadi hanya tersenyum-senyum melihat tingkah polos Vera.
" Kerja yang rajin, biar bisa beli rumah." ucap Arjuna lalu menepuk pucuk kepala Vera yang hanya setinggi dadanya.
" Aku memang pendek, tambah di gituin makin tambah pendek." protes Vera.
" Tidak apa-apa, nanti aku gantung di pohon biar tambah tinggi."
Keduanya tertawa, Vera pun pamit ke lantai tiga tempat di mana ruangan kerjanya berada. Begitupun Arjuna yang pergi ke ruangannya yang berada di lantai empat.
Sementara Diana saat ini kerjanya hanya makan tidur saja, perasaannya aneh karena biasanya ia selalu bekerja, tapi sudah satu Minggu ini hanya berdiam diri di kontrakan. Bahkan sampai adiknya pulang Diana belum juga mandi sore.
" Vera, kakak bosan di rumah, Kakak pengen balik kerja lagi." ucap diana pada adiknya.
" Nggak usah kerja, mending kakak kursus cara membuat kue aja. Kalau sudah mahir, kakak bisa membuat kue lalu di jual online."
Sejenak Diana terdiam, impiannya ingin membuka toko kue tapi,sampai sekarang ia belum memulai impiannya karena ia Hanya sibuk bekerja.
" Untuk sekarang biar aku yang bekerja, lagi pula cukup untuk kita berdua. Kak, selama ini kakak kerja banting tulang, agar aku mendapatkan pendidikan yang layak. sekarang kita gantian, aku kerja cari uang kakak cari ilmu membuat kue kue," ucap Vera panjang lebar.
" Kamu memikirkan sampai ke sana. Bahkan kakak ngak memikirkan sampai ke sana," sahut Diana.
" baik aku maupun kakak harus punya kemampuan, kita tunjukan pada dia yang telah menelantarkan kita berdua. Jika aku dan kakak mampu berdiri di atas kaki kita sendiri," ucap Vera penuh semangat.
" Meskipun, sekolah kakak tidak selesai setidaknya Kakak punya keterampilan." imbuhnya lagi.
Apa yang di katakan Vera adalah kebenaran, selama ini Diana hanya sibuk bekerja dan bekerja demi adik semata wayangnya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki.
" Jika kakak tidak bekerja, apa Tidak masalah buat kamu?" tanya Diana yang memastikan kemampuan adiknya " kakak takut membebankan kamu."
" Bertahun-tahun aku menjadi beban kakak, lantas kenapa aku harus mengeluh demi kakaku sendiri? Seberapa sih makan kakak? Sehari nggak mungkin kan sampai sekilo, iya kan?"
Diana menanggapi dengan tawa, ia mengiyakan apa yang di katakan Vera, selama ini Diana tidak pernah memikirkan dirinya, ia tidak pernah membeli baju yang bagus, barang-barang yang Bagus, bahkan alat mek up ala kadarnya saja. Penampilannya sederhana, setiap hari hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans jika berpergian.
" pergilah mandi, sudah sore" titah Diana pada adiknya.
Bukannya pergi mandi justru Vera duduk di hadapan kakaknya.
" Kak, Mas kara bilang aku adalah calon istrinya, menurut kakak dia bercanda atau serius?"
" Sekalipun dia serius,kamu harus sadar diri, kita tidak sederajat dengan Arjuna." ucap Diana yang sadar diri.
" Kenapa, kakak tidak dekati Mas Juna, lalu menikah dengannya?"
" Tidak, kami sudah sepakat untuk bersahabat. Sering kakak lihat sikap Juna padamu berbeda. Vera...."
Diana tidak melanjutkan pertanyaannya karena ia sendiri bingung.
" Ada apa kak?" tanya Vera yang merasa heran.
" Tidak apa-apa,pergi mandi sudah sore."
" Kakak aja belum mandi" sahut Vera.
Diana tertawa, ia yang baru sadar belum mandi begegas ke kamar mandi lebih dulu sebelum adiknya.
nanti bener bener diwujudkan omongan Pak Brata.