NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Kehormatan

Maka, jika ia memiliki kakak seperguruan, sosok itu semestinya adalah seorang tua renta, berjanggut panjang, alis putih menjuntai, dengan aura kebijaksanaan yang lahir dari ratusan tahun pengalaman. Namun yang berdiri di hadapan mereka hanyalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun—wajahnya muda, sorot matanya jernih, dan sikapnya tenang bagaikan danau di pagi hari.

Sofyan Drajat adalah orang pertama yang sadar dari keterpanaan. Ia menelan ludah, lalu bertanya dengan nada tak percaya,

“Sanro Maega… apakah Anda keliru? Apakah benar anak muda ini adalah kakak seperguruan Anda?”

Namun Sanro Maega sama sekali tak menggubris pertanyaan itu. Ia melangkah maju, berdiri tegak, lalu membungkukkan tubuhnya dengan penuh hormat ke arah pemuda tersebut.

“Sanro Maega memberi hormat kepada Kakak Seperguruan,” ucapnya lantang.

Seolah disambar petir, pikiran semua orang kembali berguncang hebat.

Pemandangan itu sungguh tak masuk akal. Dengan usia dan kedudukan Sanro Maega, seharusnya dialah yang menjadi guru, bahkan mungkin kakek guru dari pemuda ini. Namun kenyataannya, ia justru berdiri dengan penuh hormat, memanggilnya Kakak Seperguruan tanpa sedikit pun keraguan.

Sanro Maega tak peduli pada tatapan heran, cemburu, atau bahkan meremehkan dari orang-orang di sekitarnya. Kekaguman dan rasa hormatnya kepada Kakak Seperguruan ini lahir dari dasar hati, dari pengakuan akan ilmu sejati, bukan dari usia atau jabatan.

Fauzan Arfariza—demikian nama pemuda itu—mengangguk perlahan.

“Apakah kau sudah memeriksa kondisi mereka?” tanyanya tenang.

“Sudah, Kakak Seperguruan,” jawab Sanro Maega penuh hormat. “Ketiga orang ini jatuh koma akibat invasi Energi yang tak stabil. Sayangnya, kemampuan medis saya terbatas. Saya tak sanggup menyembuhkan mereka. Mohon Kakak Seperguruan berkenan turun tangan.”

Ia lalu mempersilakan Fauzan mendekati ranjang pasien.

Dengan tenang, Fauzan menyapu tubuh ketiga orang itu menggunakan kesadarannya. Dalam pandangan batinnya, tubuh mereka diselimuti kabut kelabu pekat—tanda jelas invasi Energi yang kacau yang telah menekan Energi Vital mereka hingga titik terendah.

“Diagnosis-mu benar,” ujar Fauzan. “Mereka memang terkena invasi Energi yang tak stabil.”

Topan Sugara, yang sejak tadi terdiam, akhirnya angkat suara.

“Kakak Seperguruan… bolehkah saya bertanya? Bagaimana kondisi anak buah saya? Apakah penyakit ini sulit disembuhkan?”

“Tidak serius,” jawab Fauzan singkat. “Cukup beberapa jarum.”

Ia lalu mengeluarkan seperangkat jarum perak. Tangannya bergerak mantap, penuh ketepatan, saat ia mulai menusukkan jarum-jarum itu ke tubuh polisi pertama yang masih terbaring tak sadarkan diri.

Ahmad Sudrajat tampak gelisah. Ia menarik lengan Sanro Maega dan berbisik,

“Sanro… apa ini benar-benar bisa dipercaya?”

Dalam hatinya, ia diam-diam berpikir, Jangan-jangan Sanro Maega sudah terlalu tua dan tertipu. Anak muda seusia ini mungkin bahkan belum menghafal seluruh resep dasar. Bagaimana mungkin ia bisa mengobati orang?

Wajah Sanro Maega mengeras.

“Ucapan apa itu? Jika Kakak Seperguruan turun tangan, penyakit apa pun pasti sembuh. Mana mungkin tidak bisa dipercaya!”

Ahmad Sudrajat hendak membalas, namun tiba-tiba matanya terbelalak. Ia melihat teknik penjaruman Fauzan—gerakan tangan yang luwes namun tegas, pola tusukan yang seakan menari mengikuti hukum langit dan bumi.

“Ini… ini… ini Sembilan Jarum Kebangkitan?” serunya terbata. “Apa ini nyata? Atau aku sedang berhalusinasi?”

Sanro Maega tersenyum bangga.

“Tentu saja nyata. Sembilan Jarum Kebangkitan adalah keahlian khas Kakak Seperguruan.”

Sebagai seorang Dokter pengobatan tradisional, Sofyan Drajat sangat memahami betapa berharganya teknik itu. Matanya langsung dipenuhi rasa iri dan dengki yang sulit disembunyikan.

Fauzan saat ini menggunakan rangkaian keenam dari Sembilan Jarum Kebangkitan—Mengusir Kejahatan.

Energi Murni dalam dantiannya berputar cepat. Energi yang semula netral berubah menjadi Energi Yang yang panas dan murni. Bersama teknik jarum, energi itu mengalir deras, menghantam dan mengusir Energi kotor dari tubuh pasien tanpa ampun.

Lima menit kemudian, Fauzan mencabut jarum-jarum perak itu.

Hampir seketika, polisi yang semula terbaring koma membuka mata, lalu duduk tegak.

Ia menatap sekeliling dengan bingung.

“Kapten… kenapa saya di sini? Bukankah saya sedang menyelidiki lokasi kejadian?”

Topan Sugara menahan napas lega.

“Kau tiba-tiba pingsan saat penyelidikan. Kami membawamu ke rumah sakit.”

Kini, tak satu pun dari mereka yang meragukan kemampuan Fauzan. Dua rumah sakit telah angkat tangan, namun pemuda ini menyembuhkan pasien hanya dengan beberapa jarum dan waktu singkat.

Sanro Maega tertawa kecil penuh kebanggaan.

“Bagaimana? Bukankah sudah kukatakan? Tak ada penyakit yang tak bisa disembuhkan Kakak Seperguruanku.”

Tak lama kemudian, Fauzan juga menyembuhkan dua polisi lainnya. Ketiganya bangkit dalam kondisi prima, seolah tak pernah jatuh koma.

Saat itulah Karaeng Fatimah masuk dari luar. Ia tertegun melihat rekan-rekannya telah pulih sepenuhnya. Ia hanya pergi sebentar untuk memarkir kendaraan, namun segalanya telah selesai.

Melihat semua orang mengerumuni Fauzan bagaikan bintang mengelilingi bulan, ia melangkah maju.

“Bagaimana keadaan mereka? Apakah akan ada efek samping di kemudian hari?”

“Tidak ada,” jawab Fauzan. “Mereka telah pulih sepenuhnya. Namun satu hal—jangan mendatangi tempat itu pada malam hari. Jika harus bekerja, lakukanlah sekitar tengah hari.”

Ia belum pernah menginjakkan kaki di komunitas Orang Kapal, namun ia bisa menebak bahwa tempat itu memiliki Energi jahat yang amat pekat. Mereka yang Energi-nya lemah akan tumbang terlebih dahulu. Jika berlama-lama, yang lain pun akan menyusul.

Pardi Sugara kini sepenuhnya percaya. Ia melirik jam. Waktu hampir tengah hari.

“Dokter Fauzan, terima kasih atas bantuan Anda. Waktu kami sempit. Kami harus segera menyelesaikan penyelidikan.”

Rombongan itu pun pergi dengan tergesa. Karaeng Fatimah ikut meninggalkan bangsal tanpa menambah beban bagi Fauzan.

Setelah mereka pergi, Ahmad Sudrajat menatap Fauzan dengan sungguh-sungguh.

“Dokter Fauzan, apakah Anda tertarik bergabung dengan rumah sakit kami? Jika Anda bersedia menjadi dokter konsultan, silakan ajukan syarat apa pun.”

Hatinya bergejolak. Jika pengobatan tradisional memiliki tokoh seperti ini, kejayaannya pasti bangkit kembali di wilayah Jakarta.

Mendengar itu, jantung Sofyan Drajat berdegup keras. Selama ini dialah yang dianggap paling ahli. Jika pemuda ini masuk, posisinya pasti terancam.

Fauzan menggeleng pelan.

“Saya menghargai niat baik Anda, Bapak. Namun saya terbiasa hidup bebas. Saya tak ingin terikat.”

Ia ingin memajukan pengobatan tradisional, namun bukan dengan terjerat intrik lembaga.

Sinar kecewa melintas di wajah Ahmad Sudrajat Hutapea. Namun ia belum menyerah.

“Bagaimana jika demikian: kami mengangkat Anda sebagai Dekan Kehormatan Rumah Sakit Pengobatan Tradisional ini. Kami hanya akan meminta bantuan Anda untuk kasus-kasus paling sulit. Gaji bulanan lima puluh juta Rupiah.”

Rasa iri kembali menyala di mata Irman Drajat.

Fauzan berpikir sejenak. Ia memang akan tetap menolong jika diminta. Kini ada kompensasi pula.

“Baik,” katanya akhirnya. “Saya terima.”

“Luar biasa!” seru Ahmad Sudrajat. “Surat pengangkatan akan kami kirim dalam beberapa hari.”

Ia lalu menambahkan,

“Kami akan menilai para calon dokter magang. Saya ingin Anda dan Sanro Maega ikut menilai.”

Sanro Maega menoleh pada Fauzan.

“Jika Kakak Seperguruan berkenan, saya siap.”

Mengingat Herlambang Ahda dan Natasya Dermawan yang ia temui di bawah, senyum tipis terukir di bibir Fauzan.

“Baik,” katanya. “Kebetulan saya sedang senggang.”

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!