NovelToon NovelToon
Monarch: The King Who Refused To Die

Monarch: The King Who Refused To Die

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sistem / Fantasi
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Sughz

Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.

Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.16. Morvain

Morvain akhirnya terlihat—tembok batu kelabu menjulang, gerbang kerajaan yang sibuk dengan antrian gerobak dan kereta para pedagang. Kerajaan perbataasan yang menjadi pintu penghubung untuk dua kekaisaran, menjadikan Morvain sebagai kerajaan terpadat dan tersibuk di kekaisaran.

Gerobak kelompok Theo memasuki pemeriksaan, prajurit penjaga cukup ketat saat pemeriksaan—mencatat setiap barang dan nama setiap orang, lalu memberi jalan.

Theo menatap sekeliling dengan mata tenang.

Tidak semegah ibu kota kekaisaran, tapi terlihat lebih banyak prajurit bayaran di sepanjang jalan.

[TING]

"Apa anda akan menetap lama di sini tuan?”

‘Entahlah, kuharap tidak ada kejadian merepotkan.’ jawab Theo.

Gerobak masih melaju di jalanan ibu kota.

.

Kelompok Theo berhenti distrik perdagangan. Bau kulit mentah, logam, dan rempah bercampur di udara.

“Kami akan menjual barang-barang kami dulu,” ucap Derrik. “Pasarnya ada di sisi barat,”

Melric mengangguk

“Kalau beruntung kita bisa mendapat harga bagus di sana.”

Theo menoleh mereka.

“Jadi kita berpisah di sini, terima kasih untuk tumpangan kalian.”

“Kau mau kemana? Apa kau tahu daerah sini?” tanya Edrin.

Theo menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya perlu mencari Mercenary Hall, kan?”

“Edrin bisa memandumu,” ucap Derrik. “Dia paham dengan tempat ini,”

“Jangan sampai tersesat lagi.” tambah Melric.

Theo hanya tersenyum lalu melangkah pergi.

.

Edrin berjalan di depan, langkahnya pasti, jelas ini bukan pertama kalinya dia menginjakkan kaki di Morvain.

“Ibu kota Morvain tak sebesar ibu kota kerajaan lain,” ucap Edrin. “Tapi kalau kau tak tahu jalur, kau bisa berputar-putar seharian”.

Theo memperhatikan kiri kanan.

“Terlihat ramai,” komentar Theo.

“Karena tempat ini pintu antara dua kekaisaran, banyak dari mereka akan menetap lama di sini.” jawab Edrin.

“Kau mau mencari Mercenary Hall tingkat apa?” tanya Edrin.

“Aku masih ditingkat perunggu” jawab Theo. “Jadi lebih baik tingkat yang banyak kontrak perunggu.”

“Hmmm.” Edrin menerawang.

“Mungkin kau harus ke Waystone Hall” kata Edrin. “Aku akan menunjukan jalannya.”

Edrin melangkah dengan cepat.

Theo mengikutinya dengan tenang

.

Setelah berjalan cukup lama, Theo dan Edrin sampai di distrik pinggiran kota.

Bangunan dua lantai, berpapan nama Waystone Hall di atasnya.

“Kita harus berpisah di sini,” ucap Edrin. “Aku harus cepat kembali ke ayahku, kau bisa mengurusnya sendiri, kan?

Theo mengangguk.

“Kalau kau mau bertemu kami, kau bisa datang ke distrik perdangan yang tadi.” kata Edrin lagi, lalu akan melangkah pergi.

“Ah, tunggu sebentar,” ucap Theo menahan langkah Edrin.

“Ada apa Ash, apa kau takut masuk sendiri?” tanya Edrin heran.

“Bukan,” jawab Theo singkat.

“Edrin... Apa kau mau menjadi telingaku?” tanya Theo.

Edrin bingung.

“Apa maksudmu, Ash?”

“Pikirkan saja itu dengan insting dan otak pintarmu,” ucap Theo. “Aku akan menemuimu setelah menyelesaikan beberapa kontrak.”

Theo melangkah masuk ke dalam bangunan, meninggalkan Edrin yang kebingungan.

Di dalam, suasana riuh oleh suara diskusi dan tawa rendah.

Theo langsung menuju meja administrasi.

Seorang wanita tersenyum ramah.

“Apa kau ingin mengambil kontrak?”

“Yah,” Theo menyerahkan tokennya.

Senyum wanita itu menghilang saat melihat token theo yang masih polos tanpa ukiran.

“Kau bisa memilih kontrak kerja yang ada di Contract Board di sana,” ucap perempuan itu dengan sinis, menunjuk papan di pinggiran ruang.

Tanpa memikirkan sifat wanita itu, Theo berjalan ke papan yang di tunjuk.

Theo membaca setiap kontrak di sana—pengawalan, pembersihan hewan, patroli desa kecil, pengintaian.

‘Lily, menurutmu kontrak apa yang harus kuambil?’ tanya Theo.

[TING]

“Saya rasa anda harus mengambil pengawalan.”

‘Kenapa?’

[TING]

“Itu tak terlalu merepotakan”

Theo mengangguk, lalu mengambil secara acak kontrak pengawalan, dan berjalan lagi menuju meja administrasi lalu menyerahkan kontrak.

Wanita itu menerimanya, membacanya sekilas.

“Datanglah ke disrik barat, dan temui pria beranama Tavin.” jelas wanita itu, lalu menyerahkan token dan gulungan kontrak resmi pada Theo.

Theo hanya mengangguk dan melangkah pergi.

.

Saat sampai di distirk barat, Theo berkeliling menanyakan keberadaan Tavin, tak butuh waktu lama untuk menemukannya.

“Apa kau yang bernama Tavin?” tanya Theo pada seseorang yang sedang sibuk mengangkut beberapa kotak kayu.

Tavin menatap Theo.

“Apa kau prajurit bayaran?”

“Yah.” jawab Theo singkat.

Tavin meletakkan kotak ke tanah.

“Haaa, syukurlah kau datang.” ucap Tavin. “Kupikir kami akan kekurangan orang untuk mengawal.”

“Apa ada prajurit bayaran lain selain aku?” tanya Theo.

“Yah, ada dua orang, mereka di sana” jawab Tavin, menunjuk pada dua orang yang sedang berbincang.

“Kita akan berangkat ke desa Lowridge sebentar lagi, kau juga bisa menunggu di sana.” ucap Tavin, mengangkat kotak kayu lagi.

“Aku akan menunggu di sebelah sini.” jawab Theo, duduk di kursi dekatnya.

.

Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Theo dan kelompok Tavin berangkat meninggalkan Morvain. Dirombongan ini berisi enam orang, tiga orang prajurit bayaran dan sisanya adalah kelompok milik Tavin.

Theo menunggangi kuda yang di siapkan oleh Tavin.

Seorang pria mendekati Theo dari belakang.

“Hei, apa kau baru mendaftar menjadi prajurit bayaran?”

Theo menoleh singkat.

“Yah,” jawabnya singkat.

“Bukankah berarti kita seumuran, namaku Calder,” katanya. “Siapa namamu?”

“Ash,” jawab Theo singkat.

“Waah, kau anak yang cukup dingin Ash.” kata Calder. “Pria yang di sana bernama Oren, kami penduduk asli dari Morvain.” menunjuk pria yang menunggangi kuda di seberang gerobak.

“Dari mana asalmu, Ash?” tanya Calder.

Theo menoleh Calder.

“Apa kau yakin aku harus menjawab pertanyaan itu?”

“Ah, benar juga. Hahaha,” Calder tertawa dan menggaruk kepalanya.

“Oh, apa kau tahu tentang kejadian di Oakrest, Ash?” tanya Calder.

“Oakrest?”

“Yah, katanya baru-baru ini di Oakrest ada pembantaian Feral Wolf yang di pimpin Grimhowl, bukankah itu keren?” kata Calder, nadanya penuh dengan antusias.

“Apa yang keren dari membunuh anjing-anjing itu?” tanya Theo.

“Ah, kau mungkin merasa itu bukan apa-apa karena belum bertemu dengan kawanan serigala itu.” ucap Calder. “Grimhowl itu...” Calder berbicara tanpa henti, menceritakan peristiwa di desa Oakrest.

Theo mendengus, mendengarkan suara cerewet Calder.

“Dan apa kau tahu apa yang paling menarik cerita itu?” tanya Calder. “Yang membantai kawanan itu ternyata seorang porter.”

Mendengar itu, Theo langsung menoleh pada Calder.

Lalu menghembuskan napasnya dengan kesal.

‘Harusnya ku biarkan mereka mati di makan anjing-anjing itu.’ gumam Theo.

Perjalanan resmi pertama Theo diawali dengan ocehan yang tidak berhenti

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!