NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 **Hari libur**

Tringg... Tringg

Suara alarm berbunyi nyaring, memecah keheningan pagi di sebuah kamar bernuansa lembut. Tirai jendela belum sepenuhnya terbuka, cahaya matahari hanya masuk sedikit, cukup untuk menerangi ranjang besar tempat seorang gadis mungil tertidur dengan posisi menyamping. Rambutnya sedikit berantakan, selimutnya naik sampai ke dada, dan napasnya teratur—tanda bahwa ia masih tenggelam dalam tidur paling nyenyak.

Di luar kamar, langkah kaki terdengar mendekat.

Tokk... Tokk...

"Dek bangun dek udah pagi!” teriak Elzion dari luar kamar gadis tersebut.

Namun tak ada sahutan dari dalam.

Elzion mengernyitkan dahi, menempelkan telinganya ke pintu sebentar.

"Kemana nih bocil?"tanyanya pada diri sendiri.

Tangannya meraih gagang pintu.

CEKLEK...

"Nggak dikunci ternyata "ucap Elzion ucap Elzion pelan saat pintu terbuka dengan mudah.

Ia melangkah masuk dan langsung melihat pemandangan

yang sama sekali tidak mengejutkan—Ila masih tertidur pulas, bahkan alarm yang terus berbunyi tidak sedikit pun mengganggunya.

"Ataga nih anak masih tidur" ucap Elzion menggelengkan kepalanya.

Ia mendekat ke ranjang, berdiri di sampingnya, lalu menepuk pelan lengan Ila.

"Dek bangun, " ucapnya.

Tak ada respons.

Elzion lalu menepuk pipi Ila dengan lembut. “Ila…”

Masih nihil.

Ia menatap wajah adiknya beberapa detik, lalu senyum jahil perlahan muncul di wajahnya. Sebuah ide nakal langsung terlintas di kepalanya.

Tanpa aba-aba...

“KEBAKARAN KEBAKARAN DEK BANGUN ADA KEBAKARAN,” teriak Elzion.

Dalam hitungan detik, tubuh Ila langsung tersentak.

"KEBAKARAN KEBAKARAN AYOK AYAH BUNDA ABANG BERLINDUNG KEBAKARAN "teriakIira terbangun panik.

"Hahahah hahah"tawa lepas Elzion.

Ila berkedip beberapa kali, otaknya mulai bekerja. Saat ia sadar tidak ada api, tidak ada asap, dan Elzion sedang tertawa puas di depannya—wajah Ila langsung berubah kesal.

“AAABBAAAAAANNNGGG!” teriak Ila sekuat tenaga.

“iisss ngeselin,” ucap kesal Ila sambil mengambil bantal dan melemparinya ke arah Elzion bertubi-tubi.

“Hahahha abisnya kamu susah bangat di bangunin,” tawa Elzion sambil menghindari bantal-bantal itu.

“Au ah Ila tak like Abang El,” kesal Ila dengan wajah cemberut dan bibir manyun.

Elzion akhirnya menghentikan tawanya, mendekat, lalu mengusap kepala Ila sebentar.

“Udah udah Abang minta maaf ya princesa, kamu mandi gih ditunggu yang lain buat sarapan,” ucap Elzion.

"Iya,” ucap Ila singkat, nadanya masih kesal.

Elzion berbalik menuju pintu, tapi sebelum keluar ia menoleh lagi dengan senyum usil.

“Ya udah sana, tuh liat ada ilernya iiihhh.”

“Hah?!”

Ila refleks mengusap sudut bibirnya dengan panik.

Tak ada apa-apa.

Saat Ila sadar dirinya dijahili lagi, Elzion sudah keburu lari keluar kamar.

“AAABBBAAANNNGGG AL!” teriak Ila tak suka dari dalam kamar.

“Huhu Ila tak like Abang El dasar nyebelin,” ucap Ara geram sambil menghentakkan kaki kecilnya.

Di luar kamar—

“Hahaha bocil bocil,” tawa Elzion saat keluar dari lift, masih merasa menang.

Namun langkahnya terhenti.

Tiga sosok berdiri di depannya dengan tatapan tajam.

“Gluk.”

Elzion menelan ludah kasar.

“Hehhehe Bundaa,” ucap Elzion dengan senyum kaku.

“Kamu apain adek mu hah,” marah Bunda Zeline dengan suara tegas.

“Aduh aduh aduh ampun bun, ampun,” ucap Albert kesakitan karena telinganya dijewer sang bunda.

“Kamu apain princess?” tanya Bunda Zeline tajam.

“Hehehe El jailin princes sedikit bun,” kekeh Elzion menahan perih.

“Lagian dia sudah di bangunin bun, bun boleh lepas nggak jeweran nya sakit bun telinga El,” ucap Elzion memelas.

Bunda Zeline akhirnya melepaskan jeweran itu.

"Dah duduk sana tunggu Adek dulu,” ucap Bunda Zeline.

Elzion langsung duduk manis di sofa, menelan ludah kasar saat menyadari tatapan Bryan dan Alzian mengarah padanya dengan dingin.

“Gini nih kalo jailin kesayangan Weylin,” batin Elzion ngeri.

TAK..

TAK..

TAK..

Dari lantai atas, suara langkah kaki kecil mulai terdengar—

pertanda sang princess akan segera turun.

"AYAHH...," teriak Ila saat melihat sang ayah itu segera berlari dan memeluk tubuh ayah nya erat.

"ayah kapan pulang, Ila rindu tau. "Ila mencebikkan bibirnya pertanda dia kesal karena ayah nya pergi lama, padahal hanya beberapa hari saja. Melihat ayahnya ada di rumah pagi ini membuat Ila senang, dia ingin bermanja dengan ayah nya karena jarang dia bisa bermanja.

Bryan terkekeh mendengar kalimat 'rindu' dari putrinya, dulu waktu Ila pendiam dia tidak pernah mendengar kata 'rindu' dari putrinya, entahlah padahal dia menyayangi anaknya itu walaupun culun, tapi Aqila mengganggap orang-orang termasuk keluarga nya sendiri tidak menyukai dirinya yang culun maka dari itu Aqila acuh dan diam saja.

Ayah kerja sayang. "Bryan mengusap lembut rambut Ila.

Ila ngedusel didada bidang sang ayah, "orang dewasa selalu bekerja lama, Ila gak suka jadi dewasa dan Ila gak mau bekerja, "cemberut Ila.

Bryan lagi-lagi terkekeh, "Ila tetaplah jadi putri kecil ayah, Ila tidak perlu bekerja karena ayah yang akan bekerja dan memberi Ila uang yang banyak," ucapnya dengan sayang, dia suka putrinya yang manja dan bergantung pada nya, dia berjanji akan membuat Ila selalu senang. Walaupun putrinya sudah besar dan sudah kelas X SMA itu tidak masalah jika putrinya seperti anak-anak yang manja, itu menggemaskan. Bryan berpikir kalau anaknya seperti anak-anak yang manja maka Ila akan lama untuk menikah dan dia bisa puas bersama putrinya itu.

"Ayah akan beri Ila uang yang banyak?" tanya Ila menatap ayahnya itu dengan sayang.

"Hm, ayah akan beri uang yang banyak untuk Ila." gemes Bryan lalu mengecup pipi chubby Ila.

Ila berbinar lalu dia mengeratkan pelukan nya pada Bryan, "sayang ayah banyak-banyak "seru Ila dan membuat Bryan tertawa kecil.

"Ayah juga syang sama kamu princess," Ila ngedusel didada bidang sang ayah mencari kenyamanan dani pria yang sekarang menjadi orang tuanya ini, di kehidupan nya dulu Ila suka dibentak dan dimarahi oleh ayah kandungnya sendiri sehingga membuat keadaan psikis nya terganggu sedikit maka dari itu sikapnya seperti anak-anak sekarang ini, Ila perlu kasih sayang dari orang tuanya dan orang-orang terdekatnya jadi dia manja dan hiperaktif.

"Ayah kita beli jajan ayoo," ajak Ila yang tiba-tiba ingin keluar rumah.

"Kamu belum sarapan sayang, kita sarapan terlebih dulu baru beli jajan sama abang yaa.. "tawar Bryan, bukannya dia tidak ingin mengantarkan putrinya untuk keluar tapi dia sedang lelah karena dia baru pulang dari luar kota tengah malam.

"Ayah capekk? Huhu kasian ayah lelah cari uang buat Ila," Ila paham dengan keadaan ayahnya yang sedang lelah itu jadi dia tidak akan memaksakan Ayahnya untuk mengantar nya keluar, lagian dia punya abang kembar yang selalu bersama nya.

Bryan terkekeh, "ayah harus cari uang banyak buat Ila jajan banyak." ucapnya.

"Ila mau jajan banyak-banyak hihi,"

Uhh sungguh putrinya ini sungguh menggemaskan, pikir Bryan.

"Sekarang kita sarapan dulu, kamu harus sarapan sebelum pergi." ajak Bryan.

Skip

****************

Ila menghampiri keluarganya di ruang tamu dengan berlari kecil. Langkah kakinya ringan, rambutnya sedikit bergoyang mengikuti gerak tubuh mungilnya, wajahnya cerah seolah penuh rencana sejak pagi.

“Jangan lari-lari, princesa,” tegur Bryan dan Alzian berbarengan.

Ila langsung memperlambat langkahnya, berhenti tepat ketika kakinya sudah menginjak karpet ruang tamu. Ia menoleh, lalu mengangguk kecil dengan ekspresi patuh yang menggemaskan.

“Abangg, Ila mau beli jajan…” serunya sambil menatap Alzian dan Elzion bergantian, matanya berbinar penuh harap.

Elzion langsung mengernyit, menatap perut kecil adiknya yang masih terlihat bulat karena sarapan tadi.

“Cil, perut masih besar gitu masih mau jajan?” heran Elzion yang melihat adiknya itu selalu bisa memuat makanan walau perutnya sudah berisi.

“Perut Ila masih lapar…” sahut Ila polos tanpa rasa bersalah.

Elzion menghela napas panjang, menatap Ila dari ujung kepala sampai kaki.

“Liat sekali lagi itu perut, dan adek bilang masih laper? Yaudah makan nasi lagi,” sewot Elzion. Wajahnya jelas menunjukkan kebingungan yang bercampur kesal. Ia memang tipe yang mudah terpancing oleh logika aneh adiknya.

Ila mendongak, menatap Elzion dengan wajah sangat serius, seolah ingin menjelaskan hal penting.

“Ila udah kenyang kalau makan nasi, Ila itu lapar karena belum makan jajanan,” sahutnya mantap.

Elzion terdiam.

Matanya melebar, mulutnya sedikit terbuka.

Otaknya berusaha mencerna kalimat yang menurutnya sama sekali tidak masuk akal. Masa iya seseorang bisa kenyang makan nasi, tapi masih lapar karena belum makan jajanan? Apa memang begitu cara kerja perut perempuan?

Sementara itu, Zeline, Bryan, dan Alzian justru terkekeh mendengar penjelasan polos Ila.

“Anak ini…” gumam Bryan sambil tersenyum geli.

Elzion masih ingin mengeluarkan “kata-kata mutiara” versi kakak kesal, namun—

Tok tok tok

Suara ketukan pintu membuat semua perhatian beralih ke arah depan.

“Ila mau buka,” ucap Ila spontan sambil turun dari sofa dan hendak beranjak pergi.

Namun baru selangkah, pergelangan tangannya dicekal lembut oleh Alzian.

“Biar Elzion yang buka,” ucap Alzian, lalu menarik Ila dan mendudukkannya di atas pangkuannya.

Ila menurut saja, langsung bersandar nyaman di dada Alzian.

“Ck,” Elzion berdecak mendengar perlakuan protektif saudara kembarnya itu, tapi ia tetap berjalan ke arah pintu.

Ceklek

Begitu pintu terbuka, tampaklah beberapa wajah yang sudah sangat dikenalnya.

“Ngapain?” tanya Elzion malas melihat wajah teman-temannya itu.

“Mau bertamu lah,” sahut Dian santai.

“Tumbenn,” ucap Elzion. Ia memang heran—teman-temannya jarang datang ke rumah karena biasanya mereka berkumpul di markas sendiri. Hari ini terasa aneh.

“Kangen dedek gemes,” sahut Liam tanpa beban.

Tatapan Elzion langsung berubah tajam. Lanka yang duduk tak jauh dari situ ikut melirik Liam dengan ekspresi datar.

“Kalau cuma mau nemuin adek gue, lebih baik kalian pulang,” usir Elzion tanpa perasaan. Sifat protektifnya muncul begitu saja.

“Gak asik lo bro,” protes Juna, diangguki oleh Dian dan Liam.

“Siapa?” tanya Zeline yang berjalan menghampiri karena melihat Elzion lama berdiri di depan pintu.

“Pagi, Tante,” sapa mereka sopan serempak.

“Eh kalian, kenapa nggak masuk? Elzion ajak teman-temannya masuk,” ucap Zeline ramah.

Ketiganya langsung tersenyum, menatap Elzion dengan wajah penuh kemenangan.

Elzion berdecak kesal. “Masuk,” ketusnya, lalu berjalan lebih dulu ke ruang tamu.

“Hai, dedekkk,” sapa Liam ceria pada Ila yang sedang ngedusel di dada Alzian.

Ila mengangkat kepalanya perlahan, menatap siapa yang menyapanya tadi.

“Hai abang-abang,” Ila tersenyum manis.

“Huhh, pagi-pagi udah dikasih senyum dedek gemes,” ucap Dian terpesona.

“Manis banget, astagaa,” sahut Liam.

“Pipinya gemoyy,” tambah Juna tanpa sadar.

Alzian dan Lanka sama-sama berdecak pelan.

Tatapan mereka jelas tidak suka melihat teman-temannya terlalu mengagumi Ila.Gadis kecil mereka.

Ya—gadis kecil mereka.Lanka bahkan sudah terang-terangan mengklaim Ila sebagai miliknya sejak lama.

Bryan terkekeh melihat pemandangan itu.

Tak lama, Zeline datang membawa minuman dan beberapa cemilan, meletakkannya di atas meja.

Setelah itu, Zeline mengajak suaminya untuk beristirahat di kamar, tahu betul Bryan masih kelelahan setelah perjalanan bisnis.

“Ara—eh, Ila mau jajanan kan? Ini cemilannya dimakan,” ujar Alzian lembut.

Ila yang tadi membenamkan wajahnya di dada Alzian langsung mengintip kecil ke arah meja.

Namun hanya sebentar.

“Ila mau ciki-ciki dan coklat, bukan itu,” gumamnya, lalu kembali membenamkan wajahnya.

“Masih mau keluar buat beli jajan, hm?” tanya Alzian.

Ila mengangguk pelan.

“Nanti ya, saat teman-teman abang pulang. Gak baik loh ada tamu tapi kita malah keluar,” jelas Alzian.

Ila kembali mengangguk. 

Ila masih duduk manis di pangkuan Alzian, tapi matanya tidak diam. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri, memperhatikan setiap orang di ruang tamu itu—Elzion yang duduk bersedekap dengan wajah jutek, Lanka yang sibuk memainkan ponsel tapi sesekali melirik ke arahnya, lalu Dian, Juna, dan Liam yang tampak terlalu antusias setiap kali Ila bergerak sedikit saja.

“Abang,” panggilnya lirih.

“Hmm?” Alzian menunduk, otomatis mengelus rambut Ila.

"Ila mau mau ke kamar dulu yah,"ijin Ila sambil mendongak ke arah Alzian.

"Mau ngapain hm?," Alzian bertanya dengan nada lembutnya.

"Ada deh hihi..," ujar Ila sambil terkekeh lucu 

Elzion memejamkan mata sesaat. “Fix. Dia bikin ulah.” gumamnya.

Beberapa menit Ila pergi namun tak kunjung kembali lagi tapi, tiba-tiba terdengar suara—

“BUUK!”

Sesuatu jatuh.

Disusul suara kecil yang sangat familiar.

“Oops.”

Semua orang langsung berdiri.

“Ila!” seru Alzian dan Elzion bersamaan.

Mereka berlari ke arah suara dan mendapati Ila duduk di lantai, boneka besar di pangkuannya, sementara vas bunga kecil tergeletak miring di sampingnya.

Ila menatap mereka dengan wajah polos.

“Vas nya lagi tidur,” ucapnya santai.

Hening.

Lalu Dian tertawa terbahak. “Ya ampun, ada-ada aja itu bocil.”

Juna sampai menepuk lutut. “Kenapa lucu banget sih ini bocah?”

Liam mengangguk setuju. 

Elzion memijat pelipisnya. “Ila…”

Ila mendongak. “Iya abang?”

“Itu vas hampir pecah.”

“Oh.” Ila menunduk, lalu mengelus vas itu pelan. “Maafin Ila ya.”

Alzian menutup wajahnya sebentar. “Princes, lain kali hati-hati ya.”

“Iya,” jawab Ila patuh, lalu tiba-tiba bertanya, “Tapi Ila boleh bawa bonekanya ke ruang tamu kan?”

Semua terdiam.

Lanka akhirnya angkat suara. “Boleh.”

Ila langsung tersenyum cerah dan berdiri, menggenggam tangan Lanka tanpa izin.

“Abang Lanka Tampan,” katanya polos.

Lanka tersentak, wajahnya sedikit memanas. “Hm.” Lanka berdehem sambil tersenyum kecil.

Elzion menatap tangan mereka dengan tatapan tidak suka. “Pegang tangan abang El aja napa.”

Ila menoleh. “Gak mau Abang El galak.”

“HEH—”

Suasana kembali pecah oleh tawa.

Hari libur itu berubah jadi penuh suara, tawa, dan kekacauan kecil khas Ila— dan entah kenapa, tak satu pun dari mereka benar-benar ingin menghentikannya.

...----------------...

...----------------...

1
Marsya
lupa namanya,tapi itu ketua dari abg2 ila klau gx slah,ampun dech bisa2nya lupa namanya🤣🤣🤣🤣
Little Girl ୭ৎ 。⁠*⁠♡.
maaf KA aku salah nulis tokoh harusnya Zeline bukan Radella.
Dewiendahsetiowati
Radella ini siapa Thor?
Dewiendahsetiowati
dapat ganti keluarga yang menyayangi
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!