NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERASAANKU DIUJI OLEH MEREKA

Dua bulan kemudian...

Setelah hari itu, dimana aku sudah memberikan jawaban yang menjadi keputusanku kepada Ustadz Furqon, aku tetap melaksanakan semua tanggung jawabku terhadap semua murid mengaji di pendopo miliknya dengan baik.

Kulaksanakan semua tanggung jawab dan tugasku juga di rumah dan juga dilingkungan sosialku. Merawat bapak, mengurus semua kebutuhan bapak, serta menjalankan keseharian seperti biasa.

Meskipun sudah kudapatkan kejelasan dan kuputuskan untuk menjadi pembina asrama di pondok pesantren Ustadz Furqon, bukan berarti lantas kulalaikan semuanya yang ada di sini.

Aku juga mendapatkan beragam respon serta dukungan dari semua orang yang mengenalku, tentang pekerjaanku kelak di Jawa Timur itu. Dan Alhamdulillah, secara garis besar, banyak yang mendukung keputusanku.

Meskipun ada juga respon serta reaksi yang merasa tak setuju, merasa akan kesepian, merasa akan kurang lengkap jika tak ada aku di desa ini.

Sebagian besar yang seperti itu adalah murid-murid mengajiku di pendopo Ustadz Furqon.

Seperti apa yang mereka ungkapkan padaku di hari ini...

Tepat dua bulan setelah aku datang memberikan jawaban yang bulat kepada Ustadz Furqon waktu itu...

"Bu, Ibu, aku denger katanya Bu Nisa mau pindah ngajar ya?" tanya Dodi, salah seorang murid mengajiku.

"Iya Bu, katanya Bu Nisa mau pindah ya?" tanya muridku yang lain lagi.

"Yaaah... Kalo gitu nanti kita siapa yang ngajarin ngaji dong Bu?" respon yang lain lagi.

"Jangan pindah dong Bu... Kita udah seneng kalo diajari sama Ibu kan... Ya Bu ya... Jangan pindah ya..." kata yang lain lagi.

Mereka berkumpul di sekelilingku, ada yang sambil duduk, ada yang sambil memegang buku, ada yang sambil berdiri, namun semua dengan ekspresi yang hampir sama.

Mereka nampak agak sedih, tak rela, tak ingin jika aku pergi pindah mengajar...

Dan jujur, aku yang bertahun-tahun bergelut dengan mereka, mengajarkan, membimbing, menuntun, serta membagikan ilmu untuk mereka, jadi merasa tak tega juga hatiku.

Akhirnya, aku berusaha berikan jawaban yang bisa membuat mereka bisa lebih tenang, dan tak lagi sedih...

"Dodi, Haris, Farhan, Hanum, semuanya... Jangan sedih ya..." ucapku sambil memandangi mereka dengan tatapan yang sejuk dan penuh perasaan.

"Bener kok, Ibu emang mau pindah ngajar. Ke Jawa Timur. Ibu mau ikut sama Ustadz Furqon buat jadi pembina di asrama pondok pesantrennya nanti..."

Aku berhenti sejenak, menatap wajah-wajah polos mereka yang memperhatikanku...

"Tapi... Ibu pindah ngajar, bukan karena Ibu gak sayang lagi sama kalian, bukan karena Ibu gak mau ngajar kalian lagi, bukan itu ya... Jangan salah paham loh..." tambahku.

"Terus kenapa Bu? Apa karena kita bandel ya? Jadinya Bu Nisa mau pindah... Gitu?" ucap Hanum.

"Eh, gak gitu kok Num, jangan ngomong gitu... Ibu pindah ngajar karena..."

Aku tertahan sejenak... Seketika suaraku tak bisa kukeluarkan...

Aku melihat Hanum mulai meneteskan air matanya. Meski dia tak langsung terisak menangis.

Sungguh, pemandangan dan suasana siang ini... Terasa seperti sebuah pukulan dua arah bagiku...

Aku merasa sisi keibuanku, perasaanku, seperti sedang diuji dengan berat. Ditambah sisi lain, keputusanku yang sudah bulat untuk menatap masa depan.

"Hanum... Kenapa nangis?" tanyaku.

Disusul beberapa muridku menengok ke arah Hanum. Tapi mereka semua tak ada yang bercanda melihat Hanum menetes air matanya. Seolah mereka semua merasakan apa yang dirasakan oleh kawannya itu.

"Aku sedih Bu Nisa... Hiks Hiks... Bu Nisa nanti gak ada di sini lagi buat ngajarin ngaji... Hiks..." jawab Hanum, dengan bibirnya yang menahan ekspresi untuk menangis dengan kencang.

Dan mulai terdengar suara beberapa muridku yang lain juga mulai agak tersedu-sedu pelan.

Ya Alloh...

Aku seperti merasa mereka semua adalah anak-anakku, padahal aku bukan ibu kandung mereka atau salah satu dari mereka.

Tapi... Aku merasa seperti seorang ibu yang akan meninggalkan anak kesayangannya, pergi jauh meninggalkan mereka.

"Udah-udah... Jangan sedih ya... Ibu tau kok kalian merasa gak rela kalo Ibu pindah ngajar. Tapi... Ini emang udah jadi keputusan Ibu. Insya Alloh, nanti pasti ada kok yang gantiin Ibu buat ngajar ngaji di sini." aku mencoba menjelaskan supaya mereka bisa mengerti.

"Tapi siapa Bu yang bakal gantiin Ibu?" Tanya Dodi.

"Iya Bu, nanti galak gak guru barunya?" tanya Haris.

"Iya, nanti kalo galak, aku gak mau ngaji lagi ah..." respon muridku yang lain.

"Iya-iya, aku juga gak mau ah kalo gurunya galak." respon yang lain lagi.

Aku jadi menatap mereka satu-persatu saat keluar ucapan-ucapan polos itu.

Tapi aku menatapnya dengan sedikit tersenyum. Meski pun batinku merasakan kesedihan juga. Ditambah lagi Hanum dan beberapa murid perempuan lain tampak mengusap air mata mereka.

Aku merasakan benar-benar disayangi oleh semua muridku dengan tulus.

"Insya Alloh, gak galak kok. Pasti nanti guru barunya lebih sayang sama kalian. Lebih perhatian, lebih lembut, lebih seru juga belajarnya." jawabku.

"Emang Bu Nisa udah tau siapa orangnya?"

"Iya, Bu Nisa udah tau ya?"

"Wah, siapa Bu orangnya?"

"Iya Bu, kasih tau kita dong!"

Semua respon itu langsung kudapatkan dari mereka setelah mendengar jawabanku tadi. Aku semakin tertawa kecil sambil menutup mulutku.

"Ibu belum tau sih... Tapi Insya Alloh nanti pasti baik dan sayang juga sama kalian kok." jawabku.

"Yah... Kirain udah tau Bu Nisa..." respon Farhan.

"Hehehe... Belum tau Ibu..." jawabku terkekeh sedikit.

"Ya udah, ayok-ayok, diterusin dulu nulisnya. Ini malah jadi kelamaan ngobrol sama Ibu. Nanti gak selesai loh nulis materinya itu..." ucapku yang kembali meminta mereka untuk fokus lagi ke pelajaran hari ini.

Akhirnya mereka satu persatu kembali duduk di tempatnya masing-masing. Sambil mulai lagi menulis, dan akhirnya ada lagi canda tawa di antara mereka.

Aku tetap membimbing dan mengajarkan mereka dengan baik. Penuh kasih sayang seolah kepada anak sendiri. Padahal, jangankan punya anak, menikah pun aku belum...

Hehehe... 🤭🤭🤭

Singkat cerita, pelajaran hari ini pun selesai. Semua muridku sudah dijemput satu persatu oleh orang tuanya. Ada juga yang pulang berbarengan dengan temannya saja karena rumah yang sama arahnya.

Dan aku pun berpamitan kepada Bu Fatimah, setelah kurapikan semua peralatan mengaji di pendoponya.

Ustadz Furqon sudah berangkat terlebih dahulu ke Jawa Timur, sudah mulai fokus mengurus semua persiapan penerimaan calon santri dan santriwati di pondok pesantrennya yang baru diresmikan setengah bulan lalu.

Aku juga diberitahu oleh Bu Fatimah, bahwa di sana juga sudah ada calon-calon ustadz-ustadzah yang akan pengajar, tenaga tata usaha, bahkan sudah ada bagian untuk memasak di dapur asrama putra maupun asrama putrinya.

Aku bersyukur mendengar semua kemajuan dan persiapan pondok pesantren dari suami Bu Fatimah itu yang tampak semakin matang.

Menunjukkan kesungguhan dan niat tulus Ustadz Furqon untuk kemajuan pendidikan, khususnya dunia pendidikan keislaman...

1
Akbar Aulia
Nisa Baek" ya disana nanti
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
tinggal nunggu keberangkatan
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
sepertinya bisa nanti akan menetap di Jawatimur sama iko
Ayuk Witanto
Alhamdulillah di kasih ijin
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
pasti si iko ada rasa sama kamu nis
Ayuk Witanto
si Gilang minta di getok tuh...makin lama makin jail gak bisa di kasiani
Ayuk Witanto
bener2 si Gilang
Ayuk Witanto
kerasukan
Ayuk Witanto
si Gilang harus di musnahkan
Ayuk Witanto
si Gilang perlu di pulangkan
Ayuk Witanto
si Gilang ini meresahkan
Ayuk Witanto
kok agak aneh ya
Ayuk Witanto
rumahnya di pucuk
Ayuk Witanto
Risa sakit apa yah
Ayuk Witanto
mencurigakan...kok tau dayang putri
Ayuk Witanto
kok ngomongnya gitu si risa
Ayuk Witanto
pasti saudara pak Handoyo punya pesugihan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!