NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Tempat Ia Bisa Jadi Dirinya

Hari itu suasana di dalam mobil tidak lagi sama.

Gina menangis.

Bukan tangisan kecil yang ditahan—melainkan tangisan yang benar-benar pecah, memenuhi ruang sempit di antara mereka.

Azmi yang sedang menyetir perlahan mengurangi kecepatan mobil.

Ia ragu.

“Apa… perlu kita menepi dulu?” tanyanya pelan.

Tangisan Gina mereda sedikit. Ia menggeleng, masih mengusap wajahnya dengan lengan seragam.

“Enggak.”

Beberapa detik hening.

Lalu—

“Kita ke mall aja,” ucap Gina tiba-tiba.

Azmi menoleh sekilas. “Mall?”

Tanpa berkata apa-apa, Azmi meraih kotak tisu di dashboard dan mengulurkannya pelan ke arah Gina.

“Nih… lap dulu air matamu.”

Gina mengambilnya.

“Aku mau ke mall,” ulangnya, kali ini lebih tegas.

Tanpa banyak tanya, Azmi membelokkan setir.

“Ya udah. Kita ke sana.”

Di kepalanya masih penuh tanda tanya.

Kenapa mall?

Kenapa sekarang?

Namun ia tidak bertanya lagi.

...----------------...

Begitu sampai, perubahan itu terasa jelas.

Gina yang tadi menangis… kini berjalan lebih cepat. Senyumnya muncul lagi, meski belum sepenuhnya utuh.

Azmi memperhatikan dari belakang.

Aneh.

Melihat Gina tersenyum saja sudah cukup membuat dadanya terasa lebih ringan.

“Ayo ke toko itu,” kata Gina tiba-tiba, menarik ujung lengan baju Azmi.

Azmi menurut.

“Iya. Ayo.”

Mereka masuk ke toko.

Lampu terang. Rak rapi. Deretan tas, sepatu, gaun, aksesoris—semuanya mahal dan berkilau.

Gina langsung bergerak.

Tangannya menyentuh satu per satu barang. Memilih. Menggantung. Mengambil lagi.

Seolah sedang melupakan sesuatu.

“Ayo, ke ruang ganti,” ucapnya.

Azmi mengerjap. “Hah? Oh… iya.”

Ia duduk di kursi tunggu depan fitting room.

Menunggu.

Tirai terbuka.

Gina keluar dengan gaun pertama.

“Gimana? Cocok?”

“Udah bagus,” jawab Azmi jujur.

Gina menatap cermin, memiringkan badan.

“Enggak deh,” gumamnya.

Tirai tertutup lagi.

Beberapa menit.

Tirai terbuka.

“Kalau yang ini?”

“Lumayan,” jawab Azmi.

“Ah… ganti lagi.”

Tutup lagi.

Dan begitu seterusnya.

Waktu berjalan tanpa terasa.

Azmi masih duduk di tempat yang sama, dimintai pendapat setiap kali tirai terbuka.

Aneh.

Ia tidak merasa bosan.

Tidak kesal.

Yang ia rasakan justru… hangat.

Karena setiap kali Gina keluar dari ruang ganti, senyumnya makin nyata.

Tangis tadi seperti perlahan menghilang.

Dan di situlah Azmi mulai mengerti.

Ini bukan soal baju.

Bukan soal belanja.

Ini cara Gina bernapas.

Cara dia lari.

Cara dia menenangkan diri dari dunia yang terlalu menekan.

Dan entah kenapa—

Azmi tidak keberatan berada di sana.

Menunggu.

Melihatnya memilih.

Melihatnya tersenyum.

Seolah selama ia ada di situ… Gina boleh menjadi dirinya sendiri.

...----------------...

Tirai ruang ganti kembali terbuka.

Kali ini Gina keluar dengan pakaian yang lebih sederhana. Tidak semewah sebelumnya, tidak mencolok—tapi justru membuatnya terlihat jauh lebih elegan.

Cantik dengan cara yang tenang.

“Gimana… yang ini?” tanyanya, sedikit ragu.

Azmi terdiam sesaat.

Matanya berhenti di sana—pada Gina yang berdiri di depannya, tersenyum kecil, menunggu penilaian.

“Cantik,” jawabnya pelan, nyaris tanpa sadar.

Gina tersenyum lebih lebar.

“Oke. Aku pakai yang ini.”

Mereka lalu berjalan menuju kasir.

Setelah membayar, mereka keluar toko dan menuju parkiran. Azmi berjalan di belakang Gina, kedua tangannya penuh membawa tas belanja.

Ia sempat menghela napas pendek.

“Aku kira kamu cuma mau beli baju yang terakhir itu,” katanya.

“Ternyata… semua yang tadi kamu coba dibeli juga.”

Gina menoleh, senyum usil muncul di wajahnya.

“Aku nggak pernah bilang bakal beli satu doang.”

Azmi tertawa kecil.

Entah kenapa, melihat Gina tersenyum seperti itu membuat hatinya ikut ringan.

Beda dengan tadi di mobil.

Beda jauh.

“Kamu suka es krim?” tanya Gina tiba-tiba.

Azmi mengangkat alis.

“Lumayan. Memangnya kenapa?”

Gina menatapnya sebentar, lalu menunjuk ke arah luar mall.

“Kita ke toko es krim, yuk.”

“Aku tahu tempat yang paling enak di kota ini.”

Azmi tersenyum.

“Oke,” jawabnya santai.

“Ayo.”

Mereka akhirnya tiba di toko es krim.

Di depan freezer kaca, Gina berdiri sambil menunduk sedikit, matanya menyusuri deretan rasa yang berwarna-warni. Azmi berdiri di sampingnya, ikut memperhatikan, meski lebih sering memperhatikan Gina daripada es krimnya.

“Tempat ini biasa aku datengin sama temen-temen,” ucap Gina santai.

Ia menunjuk satu per satu.

“Ini kesukaan Siva. Gelato cokelat. Katanya pahit dikit bikin kelihatan dewasa.”

Azmi terkekeh kecil.

Gina bergeser.

“Yang ini Diana. Cookies and cream. Dia paling nggak bisa jauh dari yang manis.”

Lalu jari Gina berhenti di rasa lain.

“Kalau ini Dio. Choco mint.”

Ia tertawa kecil.

“Menurut banyak orang rasanya aneh. Tapi… ya cocok sih sama orangnya. Dio emang aneh.”

Azmi ikut tertawa, mengangguk pelan.

“Dan ini…” Gina menunjuk satu lagi.

“Kesukaan ku. Strawberry.”

Nada suaranya berubah sedikit lebih lembut.

“Aku selalu ambil yang ini.”

Tangannya lalu bergeser lagi.

Namun kali ini… berhenti.

Ia tidak langsung bicara.

Ada jeda kecil.

Azmi memperhatikannya, menunggu.

“…Ini kesukaan Ica,” ucap Gina akhirnya.

“Vanilla.”

Suaranya pelan. Tidak dingin, tapi tidak juga hangat.

Hanya… datar.

Azmi mengangguk pelan.

“Oh… Ica suka yang simpel, ya.”

Gina tersenyum tipis.

“Iya.”

Jawabannya singkat.

Namun di balik itu, ada sesuatu yang terasa mengganjal—rasa kecil yang tidak bisa ia jelaskan.

“Kalau kamu suka rasa apa?” tanya Gina sambil tetap menatap freezer.

Azmi terdiam sejenak, benar-benar berpikir.

“Sebenernya… aku nggak terlalu suka es krim,” jawabnya jujur.

Gina menoleh.

“Tapi… demi kamu aku coba deh,” lanjut Azmi ringan.

“Vanilla aja.”

Gina mengangguk kecil.

“Oke. Kita pesan, ya.”

Ia berbalik menuju kasir, sementara Azmi memilih duduk di kursi dekat jendela, menunggu.

Dari luar, semuanya terlihat biasa.

Namun saat punggungnya membelakangi Azmi, senyum Gina perlahan memudar.

Langkahnya tetap tenang. Suaranya tetap stabil saat memesan.

Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang terasa turun pelan.

Bukan karena Azmi bilang tidak suka es krim.

Bukan juga karena pilihan rasanya.

Melainkan… karena rasa itu.

Vanilla.

Rasa yang barusan ia sebut milik Rahmalia.

Dan Azmi memilihnya tanpa ragu.

Gina menatap kasir, pura-pura sibuk menghitung uang.

Padahal pikirannya berputar ke mana-mana.

Ia tahu.

Ia sadar.

Sejak awal pun sudah paham.

Perhatian Azmi… bukan sepenuhnya untuknya.

Ada orang lain di sana.

Sahabatnya sendiri.

Rahmalia.

Namun anehnya—

semakin ia sadar akan hal itu, semakin sulit baginya untuk benar-benar melepas.

Seolah hatinya sudah terlanjur menggenggam sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar ia miliki.

1
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa gina ini anak pertama 🤔
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
Agryena
aku mampir thor/Hey/
Agryena: Waktu aku baca, ceritanya bagus kak! meskipun aku baru baca sampai eps 6 sih hehe...mungkin nanti aku lanjutin bacanya! Semangat terus ya thor!
total 2 replies
Kaka's
ih malah ngatain.. 🤣🤣
Kaka's
🤣🤣🤣 yo gass
Kaka's
permen marshmallow ini yang kenyal yah??🤭
Serena Khanza
dio tipe cowok yang sering banget ditemui jaman real kek nya dimana-mana ada yg kek dio.. kadang suka gak bisa ditebak dia bercanda atau serius..
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Rahmalia harus bisa beda kan antara rasa suka atau cuma sebatas kagum
Fra
Ik He's Siva son, i just can't prove it
Serena Khanza
dari keseluruhan bab ini kayak ada sesuatu ya rahmalia sama dio terus gina sama azmi..
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Serena Khanza: iya kak ku menunggu 🥰💪🏻💪🏻
semangat kak 💪🏻💪🏻💪🏻
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Azmi dan Rahmalia cocok deh thor 🤭🤭
Hunk: Udah yakin nih milih kapal mereka.🤣
total 1 replies
Kaka's
😑😑 pasalnya udah ampe 300 an.. pake ayat lagi.. rinci amat tuh anggota dewannya buat aturan. 🤣
Hunk: Terima kasih sudah membaca kak, semoga suka dengan cerita saya🤣
total 1 replies
Kaka's
udah telat masih aja lirik waketosnya 🤣🤣..
Fra
Ini bukan menyemengati ya pren, ancaman halus ini 😩😩
Fra
Orang tua semacam ini bener-bener bisa bikin anak stres berat dan tertekan. Padahal tempat yang diduduki anaknya sekarang bisa aja juga diinginkan orang lain yang belum bisa ngeraih itu semua. Keep Strong, Gina💪🏻 🥹
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
gina baru di tatap gitu aja sama Azmi langsung salting 🤣🤣
Hunk: Wkwk Gina emang gampang salting kalau udah ditatap Azmi langsung 😭
total 1 replies
Fra
Awal-awal aku pikir cuma cerita remaja biasa ih, ternyata ada intrik kaum elite. Aku suka kakak ini dan karyanya 😋
Fra
Dio x Gina juga manis ihh
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
Panda
masih slice of life khas anak sekolah

slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat

cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔
Panda: kann gueeee baca yeeee hueheheheh

oke sep sama sama
total 4 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
sikap Dio ini bisa bikin cwek salah sangka dan akhir nya baper 🤭🤭
Hunk: Iya, Dio memang tipenya gitu—kadang tanpa sadar sikapnya bikin orang lain salah nangkep. Niatnya biasa aja, tapi kesannya jadi beda 😅
total 1 replies
Lukman Mubarok
real life makan di kelas di jam pelajaran🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!