Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Angin malam yang dingin berdesir di sela-sela hutan bambu, membawa aroma debu pertarungan dan amis darah yang perlahan memudar.
Bambu-bambu tinggi saling bergesekan, mengeluarkan suara lirih seperti bisikan arwah yang belum tenang. Di kejauhan, kabut tipis merayap turun dari lereng gunung, menelan bayangan-bayangan hitam yang berdiri berjaga.
Di dalam Kuil Awan Tua, cahaya lampion milik anggota Matahari Hitam berpendar redup. Nyala apinya bergoyang pelan, memantulkan bayangan panjang di dinding batu yang sudah retak dimakan usia.
Di tengah aula, di depan altar tua yang tidak lagi memiliki patung dewa, berdiri seorang pria tua bertubuh tegap yang membawa tongkat kepala naga berwarna hitam kehijauan.
Liang Shan perlahan membuka matanya.
Rasa sakit menjalar dari tulang belakang hingga ke ujung jari. Setiap tarikan napas terasa seperti menggerakkan pecahan besi di dalam tubuhnya.
Hawa sakti yang tadi bergejolak kini mulai tenang, berkat totokan jarum perak Han Xiang yang masih tertancap di beberapa titik nadinya, serta petikan kecapi Yue Niang yang baru saja berhenti.
"Kau sudah siuman, Tuan Muda Liang," suara pria tua itu terdengar berat namun penuh hormat.
Dia melangkah maju setengah langkah, lalu menjura dengan tulus, punggungnya membungkuk dalam sudut yang dalam, sebuah penghormatan yang jarang diberikan kepada orang muda.
"Namaku Lauw Bun. Aku adalah panglima sayap kiri dari pasukan mendiang Ayahmu."
Liang Shan mengertakkan gigi dan berusaha duduk. Han Xiang segera menopang bahunya, membantu tubuhnya yang masih gemetar. Pemuda itu menahan napas, lalu menatap pria tua di depannya dengan sorot mata tajam, sorot mata seseorang yang telah kehilangan terlalu banyak untuk langsung percaya.
"Bagaimana kau bisa menemukanku?" tanyanya dingin. "Dan mengapa kalian baru muncul sekarang, setelah keluargaku musnah belasan tahun yang lalu?"
Lauw Bun tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, napas seorang lelaki yang telah memikul rahasia terlalu lama. Matanya yang keruh menerawang, seakan menembus dinding kuil dan kembali ke masa lalu yang penuh darah.
"Bukan kami tidak ingin muncul, Tuan Muda. Ayahmu adalah seorang pria yang sangat bijaksana. Sebelum tragedi pembantaian itu terjadi, dia sudah mencium bau busuk pengkhianatan di dalam istana."
Lauw Bun kemudian duduk bersila di hadapan Liang Shan, memulai ceritanya yang telah terkubur selama dua dekade.
"Dua puluh tahun yang lalu, ayahmu menemukan bukti bahwa Kaisar yang bertahta saat ini bukanlah keturunan asli, melainkan hasil dari pertukaran bayi yang diatur oleh Menteri Wei Zong dan seorang tokoh misterius dari dunia persilatan hitam,"
"Ayahmu memegang surat wasiat asli dari mendiang Kaisar sebelumnya. Namun, dia tahu bahwa musuh terlalu kuat. Jika langsung melawan, maka seluruh keturunannya akan segera dihabisi."
"Oleh karena itu," lanjut Lauw Bun, "Ayahmu memerintahkan kami untuk membubarkan diri dan bergerak di bawah tanah. tangannya.
"Lalu selama ini, apa saja yang telah kalian lakukan?"
"Sama seperti dulu, kami selalu mengawasi gerak-gerik istana dengan bantuan mata-mata yang ada di sana. Selain itu, kami juga sesekali memantau keberadaanmu saat berada di bawah bimbingan Tuan Agung Jin,"
Liang Shan tersentak mendengar kalimat terakhir. Dia tidak menyangka bahwa Lauw Bun juga mengetahui hal tersebut.
"Apakah guruku tahu tentang kalian?"
"Tentu saja, Tuan Muda. Dia tahu, bahkan aku sendiri pernah bicara dengannya beberapa kali,"
"Tapi, kenapa guru tidak pernah menceritakan hal ini sejak dulu?"
"Mungkin karena waktunya belum tepat,"
Liang Shan kembali termenung untuk beberapa saat. Masalah ini ternyata benar-benar pelik. Pemuda itu tidak pernah menyangka bahwa semuanya akan serumit ini.
Lauw Bun menarik napas panjang, wajahnya berubah menjadi sangat serius. "Aku harus memberitahumu satu hal yang sangat penting. Nama Permata Tiga Hati hanyalah sebuah samaran untuk mengecoh musuh. Sebenarnya, pusaka itu terdiri dari lima serpihan."
Han Xiang dan Yue Niang terkejut mendengar ucapan itu. Liang Shan pun tertegun.
"Lima? Jadi tiga bagian yang aku seret dengan nyawaku ini belum cukup?"
"Belum, Tuan Muda," jawab Lauw Bun. "Tiga pecahan yang kau miliki baru berisi sebagian kecil nama pejabat rendah yang terlibat. Masih ada dua pecahan lagi yang paling penting."
"Di mana kedua pecahan itu?" tanya Liang Shan dengan suara yang bergetar karena emosi.
"Pecahan keempat, yang disebut Serpihan Hati Singa, berada di tangan seorang ketua Perguruan Bulan Sabit di wilayah selatan yang kini sedang menyamar. Dan pecahan kelima, Serpihan Darah Naga, konon berada di dalam makam terlarang di bawah istana kekaisaran,"
"Jika kelima pecahan itu disatukan di bawah cahaya bulan purnama, maka sebuah daftar rahasia yang berisi setiap nama pengkhianat dan para pendekar dunia persilatan yang terlibat akan muncul."
Liang Shan menarik napas dalam. Kebenaran ini terasa jauh lebih berat daripada Golok Sunyi Mengoyak Langit yang dibawanya.
"Selain itu," Lauw Bun menatap ke arah tangan Liang Shan yang mulai membiru lagi, "Hanya dengan menyatukan kelima pecahan itu, kau akan menemukan instruksi tentang cara membalikkan aliran racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang yang kini menggerogoti jiwamu,"
Liang Shan berdiri perlahan, dibantu oleh Han Xiang. Ia menatap ke arah kegelapan hutan bambu, ke arah dunia persilatan yang sangat luas dan penuh dengan tipu daya.
"Jadi, perjalananku baru saja dimulai," gumam Liang Shan.
"Benar, Tuan Muda," ujar Lauw Bun. "Aku dan pasukan Matahari Hitam akan mendukungmu dari bayang-bayang. Namun, dunia persilatan adalah tempat di mana pedang bicara lebih keras daripada kata-kata. Kau harus mengembara, mencari dua pecahan terakhir itu, dan menghadapi setiap musuh yang akan menghalangi jalanmu."
Liang Shan menoleh ke arah Han Xiang, matanya yang tadi dingin kini sedikit melunak.
"Xiang-er, perjalanan ini akan sangat berbahaya. Aku akan mencari obat untuk penyakitku dan menuntaskan dendam ayahku. Kau tidak perlu ..."
Han Xiang segera membungkam bibir Liang Shan dengan jari telunjuknya.
"Aku sudah mengatakannya, Liang Shan. Aku akan ikut denganmu. Jika kau butuh senjata, kau punya golokmu. Jika kau butuh penyembuh, kau punya aku. Dan jika kau butuh suara, Yue Niang akan menyanyi untuk kita."
Yue Niang mengangguk mantap, lalu memeluk kecapinya dengan erat.
"Apa yang dikatakan oleh Nona Han benar, Tuan Muda," kata Yue Niang. "Lagi pula, aku cukup bisa memainkan ilmu silat, jadi kau tidak perlu terlalu khawatir tentangku."
Melihat keteguhan itu, Liang Shan akhirnya mengangguk pasrah.
Di bawah langit malam yang sunyi, akan dimulailah pengembaraan Liang Shan yang sesungguhnya.
Seorang pendekar muda yang membawa penyakit mematikan, namun menyimpan kekuatan yang mampu menggetarkan seluruh pondasi kekaisaran.
Dunia persilatan yang luas kini menanti, dan setiap langkah Liang Shan akan meninggalkan jejak darah dan kebenaran yang takkan pernah bisa dihapuskan oleh waktu.