Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 : Harapan baru
Arinta dan Alena kini sudah berada di dalam perjalanan. Yani tentu masih ikut dengan mereka, belum ada pemutusan kerja, dan Alea sedang duduk di depan, di pangkuan Alena. Gadis kecil itu bersenandung riang menatap ke arah jalan dan sesekali menunjuk ke luar dengan antusias.
Selama perjalanan menuju Bandung, Alea tampak bahagia sekali, kontras dengan beberapa waktu saat di apartemen. Dia memang masih terlihat senang tapi keceriaannya begitu berbeda tanpa Arinta.
"Len, nanti kita berhenti di warung makan dulu, ya?" Arinta menoleh ke samping sesaat untuk melihat ke arah sang istri yang tampaknya lebih fokus melihat ke arah depan.
"Terserah saja...," jawabnya singkat.
Arinta hanya menghela napas kecil melihat sikap Alena yang dingin. Wajar dan dia memaklumi itu. Tak perlu diambil hati karena ini adalah resiko yang harus ia terima.
Tak ada pembicaraan lebih setelahnya, suasana begitu hening. Yani yang duduk di belakang berusaha mengalihkan perhatiannya dengan bermain ponsel, dan Alea yang sibuk berceloteh seorang diri. Alena menimpali gadis kecilnya beberapa kali untuk mengalihkan fokus dari Arinta.
Mobil itu melaju cepat di tol Cipularang tanpa hambatan. Yani dan Alea tampaknya sudah tertidur. Alena masih terjaga meski dia sangat lelah. Dia sedang lelah akan semua hal.
"Kalau mau tidur juga gak apa-apa, Len...," ujar Arinta yang tampaknya menyadari kelelahan di wajah wanita itu.
"Aku belum mengantuk," jawab Alena denial, padahal matanya sudah terasa sangat berat.
"Ini masih jauh Len, nanti di Bandung kamu malah capek duluan," ujar Arinta mencoba memberikannya nasihat. "Kamu tidur aja, kalau sudah sampai di kota Bandung bakal aku bangunin." Arinta mengulurkan tangannya mengusap lembut kepala Alena yang tertutup hijab merah-muda.
Alena tersentak, namun reflek dia menepis tangan suaminya itu.
"Apaan sih?" Ujarnya dengan perasaan risih yang tak bisa disembunyikan.
Arinta terdiam mendapati sikap Alena yang tiba-tiba seperti itu. Lamat ditatapnya raut wajah perempuan itu. Dahinya berkerut, bibirnya melengkung masam dan sorot matanya menunjukkan ketidaknyamanan.
"Maaf...," ucap Arinta pada akhirnya.
Pada akhirnya Arinta lebih memilih fokus dengan jalanan dan membiarkan Alena larut dalam pikirannya sendiri dulu. Arinta tau ini tidak akan mudah dan dia harus lebih berusaha lagi untuk membuktikan diri akan keseriusannya.
.
.
Akhirnya setelah menempuh waktu selama 2 jam, mereka lolos dari jalan tol dan memasuki kawasan Bandung. Arinta sempat berputar-putar dulu untuk mencari rumah makan terdekat hingga menemukan salah satu tempat khas sunda dan memutuskan untuk makan di sana. Ia pun berbelok, lalu menghentikan laju mobilnya.
Merasa sudah parkir dengan aman, Arinta menoleh ke arah Alena. Ia sedikit mengguncangkan bahu wanita itu agar terbangun.
"Len, bangun..., turun dulu yuk, kita makan di sini," ujarnya dengan sikap yang lembut.
"Hmm? Kita udah sampai?" Alena terbangun, kepalanya masih sedikit pusing lalu melihat ke sekitar. Bingung kenapa mobil berhenti tiba-tiba.
"Belum, tapi mampir dulu ke rumah makan. Emang kamu gak laper?" Ujar Arinta dengan santai.
Alena reflek membangunkan Alea yang masih tertidur dan tak lama Yani yang di belakang pun terbangun dan menatap sekitar dengan kebingungan.
Arinta kemudian langsung turun dari kursi kemudi sambil berkata, "Turun dulu yuk, kita makan di sini sebentar." Kemudian ia segera menutup pintu mobil.
"Mamih, kita sudah sampai?" Tanya Alea yang masih setengah mengantuk.
"Belum sayang, kita mau makan dulu yuk turun...," jawab Alena sambil berusaha menurunkan si kecil lebih dahulu, baru kemudian ia turun dari dalam mobil dan menutup pintu.
Yani terlihat sudah berada di luar sambil membawa tas si kecil dan segera menghampiri Alea yang berdiri.
Arinta memilih untuk berjalan lebih dahulu ke dalam restoran tersebut dan langsung berbicara pada pelayan kasir. Tak lama Alena menyusul sambil menuntun Alea dengan Yani yang berada sedikit di belakangnya.
Begitu masuk ke dalam seorang pelayan sudah berjalan ke arah mereka dan segera mengantar untuk naik ke lantai dua, di mana di sana tempat makannya lebih privat dan dibagi menjadi beberapa bilik khusus.
"Silahkan Pak." Pelayan itu membuka salah satu ruangan bilik.
Ruangan itu terlihat cukup sederhana, tembok bilik terbuat dari anyaman bambu, di dalamnya ada sebuah meja panjang khusus untuk lesehan dengan alas tikar dan ada beberapa bantal di bawahnya. Sementara di atasnya ada lampu dan di pinggiran dekat ventilasi ada kipas angin sederhana.
Arinta pun segera masuk ke dalam diikuti oleh Alena, Alea dan Yani lalu duduk.
"Yayy!! Alea mau di pojok Papih!" Gadis kecil itu bersorak dan berjalan ke arah sisi jendela yang terbuka.
"Aduh, hati-hati dong Alea! Jangan lari, nanti kesandung kamu!" Alena langsung gusar dan menahan tangan Alea agar tidak berlari.
"Alea duduk dulu ya, sini sama Papih...." Arinta tersenyum dan menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.
Tanpa berbicara lagi atau pun protes si kecil segera berlari menuruti ucapan Arinta. Hanya Alena yang mendelik agak kesal karena putri kecilnya susah sekali untuk diberitahu kalau sedang terlalu bersemangat.
"Alea, jangan lari-lari, nanti kamu jatuh!" Itu adalah ungkapan kecemasannya sebagai seorang ibu yang hanya tak ingin anaknya tersandung lalu jatuh, tapi mungkin hal itu ditanggapi dingin oleh Arinta.
"Udahlah, Len. Jangan selalu dimarahi seperti itu, dia lagi merasa senang, biarkan dia merasa sedikit bebas dari setiap aturan yang kamu buat," ujarnya yang mungkin niatnya baik, karena Alena terlalu tegang. Tapi yang terjadi selanjutnya sungguh berbeda dari ekspetasi Arinta.
"Aku gak mau anakku mengikuti Ayahnya yang bersikap seenaknya gak tau aturan, makanya aku mendidik dia disiplin sejak kecil," jawab Alena begitu menusuk.
Apa maksudnya aku gak tau aturan??
Arinta berpikir dalam hati, berusaha mencerna kenapa Alena sampai menyebutnya 'tidak tau aturan.' Apa yang sebenarnya sedang dia bicarakan???
"Maksud kamu apa bilang aku gak tau aturan?" Tanya Arinta sedikit tersinggung.
"Kamu memang gak tau aturan, kerja seenaknya 'kan dulu sampai kamu sendiri susah cari kerja dan kita sempat hidup susah. Aku gak mau anakku nanti mengalami hal itu kayak kamu, cukup aku saja yang merasakan," ungkap Alena secara tiba-tiba dia membahas masa lalu.
"Kok, kamu ngomongnya begitu sih, Len?" Nada suara Arinta langsung tinggi. Dia agak tak terima dengan perkataan Alena yang sudah menyentuh harga dirinya.
"Itu fakta, dan aku bicara seperti itu supaya kamu tau apa yang selama ini aku rasakan!" Ketusnya dengan penuh kekesalan.
Arinta terdiam namun tangannya mengepal. Merasa marah, dadanya bergemuruh, namun pada akhirnya kobaran api itu berusaha ia padamkan sendiri demi anaknya sendiri.
Alea yang menyaksikan pertengkaran keduanya hanya bisa terdiam. Tampaknya ia merasa bersalah. Gadis kecil yang tadinya duduk dengan wajah ceria seketika berubah. Dia berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Alena.
"Mamih, jangan berantem lagi...," ujarnya dengan polos. "Alea duduk sama Mamih deh," sambungnya yang bersikap manis. Dia segera duduk di sebelah Alena yang langsung tersenyum dan mencium kening sang putri.
Yani yang menjadi saksi pertengkaran keduanya tak berani berkomentar. Ia berusaha untuk berkamuflase di antara bilik bambu. Pura-pura tak mendengar dan tak melihat.
Namun, tak lama pelayan restoran itu pun tiba, membawakan semua pesanan yang sudah diminta Arinta tadi diawal.
Begitu masuk ke dalam bilik itu, si pelayan wanita bisa langsung merasakan ketegangan suasananya yang begitu hening. Ia mencoba tersenyum ramah, menyapa dan melayani dengan baik. Tapi ia hanya mendapat respon singkat dari si tamu pria, yaitu Arinta. Sementara seorang perempuan tampak canggung, dan perempuan lain yang duduk dekat jendela bersikap acuh dengan wajah kesal.
Apa yang terjadi??? Bukankah mereka tadi baik-baik saja saat masuk?
Pelayan itu pun langsung merasa canggung namun tetap profesional. Ia dengan cepat menyelesaikan tugasnya lalu segera pergi karena tak nyaman.
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang