Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 : Permintaan
Hening mencekam menyelimuti aula. Nyonya Besar Wu sudah mengangkat dagunya, menunggu putranya menyeret Qinqin ke gudang belakang untuk dihukum seperti biasanya.
Namun, Wu Lian justru berbalik menghadap para pelayan yang memegang ember-ember kayu itu.
Sembari menunjuk ember dengan pedang nya, ia berkata lantang."Singkirkan semua sampah ini!" perintah Wu Lian. Suaranya keras, getarannya membuat nyali para pelayan menciut.
"Lian'er! Apa yang kau lakukan?" teriak Nyonya Besar Wu tidak percaya. "Wanita ini sudah berani membantahku! Dia harus belajar tata krama lagi dari awal!"
Wu Lian menatap ibunya dengan tatapan datar yang sulit ditembus. "Ibu, setahun ini aku membiarkanmu mengatur rumah ini karena aku pikir kau membimbingnya. Tapi sekarang aku tahu, Qinqin bukan pelayan. Dia adalah istriku, Nyonya dari kediaman ini. Jika ada yang harus mencuci pakaian di rumah ini, panggil buruh cuci. Jangan sentuh istriku lagi."
Qinqin sedikit tertegun. Ia tidak menyangka Jenderal Es ini akan bicara sevulgar itu di depan ibunya sendiri. Ada rasa hangat yang menggelitik di dadanya. Jangan - jangan Jenderal Es ketularan sifat Qinqin?! Ah qinqin tidak peduli, yang penting dia menang dan mendapatkan perhatian dari suami nya.
Qinqin melangkah maju, mengangkat sedikit ujung hanfu ungu milik nya, kemudian berdiri di samping Wu Lian, lalu menatap Nyonya Besar Wu dengan senyum yang sangat manis namun mematikan. "Dengar itu, Ibu Mertua? Mr. Jenderal bilang aku terlalu berharga untuk menyentuh ember berkerak itu. Sayang sekali ya, rencanamu hari ini gagal total."
Nyonya Besar Wu gemetar karena geram. Mata nya melotot dan konde nya sampai bergetar. Ia menghentakan kaki ke tanah, membuat sepatu sutra nya rusak, dan kemudian membalas. "Kau!kau sudah mencuci otaknya! Lian'er, kau tega memperlakukan ibumu seperti ini demi wanita liar ini?"
"Aku tidak memperlakukan Ibu dengan buruk," sahut Wu Lian tenang. "Aku hanya mengembalikan posisi yang seharusnya. Mulai hari ini, Qinqin yang akan memegang kunci gudang dan mengatur keuangan rumah tangga. Ibu bisa beristirahat di paviliun belakang dan menikmati masa tua dengan tenang." suara Wu Lian mengalun lembut, namun menusuk ke jantung Nyonya Wu yang paling dalam.
Mengambil kunci gudang berarti mengambil kekuasaan penuh di kediaman Wu. Meski saat itu kunci gudang telah direbut Qinqin, tapi mendengar perintah dari anak nya sendiri benar benar diluar dugaan. Nyonya Besar Wu hampir saja pingsan jika tidak segera dipapah oleh pelayan setianya.
"Ayo, Qinqin," ajak Wu Lian sambil menarik lembut tangan Qinqin, menuntunnya melewati aula.
"Da-dasar setan!" gumam Nyonya Wu geram setelah pasangan suami istri itu berlenggang menjauhi aula.
Para pelayan berusaha membuat wanita itu tidak rubuh. Ia memegang dada nya, "Lihat saja nanti, jika tidak bisa dikendalikan, maka akan diganti saja!" Celoteh nya pada diri sendiri. Nyonya Wu tidak takut jika Menteri Perdagangan(ayah Qinqin) mengetahui jika anak nya diperlakukan tidak adil. Lagipula , Qinqin tidak akan berani berkomentar selama ada putra nya---Wu Lian.
Nafas Nyonya Wu tidak beraturan. Tekanan darah nya semakin tinggi. "Panggil tabib!" Perintah nya pada salah satu dayang nya.
***
Saat berjalan menuju Paviliun, Qinqin langsung melepaskan tangannya dan bertepuk tangan pelan. "Luar biasa, Jenderal Es! Aku tidak tahu kau punya bakat menjadi anak durhaka yang sangat keren."
Wu Lian menghela napas panjang seolah baru saja menyelesaikan perang besar. "Jangan bicara sembarangan. Aku hanya melakukan apa yang benar. Aku berutang maaf padamu untuk setahun penderitaanmu di sini."
Qinqin mendekat, menatap Jenderal itu dengan mata bulat. "Hanya maaf? Tidak ada kompensasi lain? Aku sudah mencuci ribuan pasang kaos kakimu yang bau itu, tahu."
Wu Lian menatap Qinqin, matanya sedikit melunak. "Katakan, apa yang kau inginkan sebagai ganti rugi?"
Qinqin mengetuk-ngetuk dagunya, matanya berkilat nakal. "Hmm... bagaimana kalau kau mengabulkan tiga permintaanku tanpa bantahan? Apapun itu."
Wu Lian memicingkan mata, waspada dengan jebakan istrinya. "Apapun? Termasuk jika kau memintaku menyerahkan kepalaku?"
"Dih, siapa juga yang mau kepalamu? Terlalu keras untuk dijadikan bantal," sahut Qinqin sambil tertawa. "Permintaan pertama... aku ingin kau menemaniku ke pasar malam di pusat kota malam ini. Badanku pegel, tapi kalau belanja dan sedikit hiburan, aku bisa sembuh. Oh ya, jangan lupa gunakan pakaian biasa saja dan tanpa pengawalan pengawal bayangan. Bagaimana?"
Wu Lian terdiam sejenak. Pasar malam adalah tempat yang ramai dan berisik, sangat bukan gayanya. Tapi melihat mata emas Qinqin yang penuh harap, ia hanya bisa mendengus pasrah. "Baiklah. Bersiaplah saat matahari terbenam."
"Yeyy, good husband!" Pekik Qinqin semangat.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂