Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Racun di Balik Kata Manis
Pagi itu, suasana kampus terasa sangat mencekam bagi Lia. Devan bersikeras mengantarnya sampai ke depan pintu kelas, bahkan mencium keningnya di depan banyak orang—sebuah gestur yang biasanya membuat Lia tersipu, namun kali ini terasa seperti sebuah salam perpisahan yang penuh kecemasan.
"Jangan bicara pada siapa pun yang tidak kamu kenal. Baron ada di bangku belakang kelasmu, dia menyamar jadi mahasiswa pindahan," bisik Devan serius sebelum pergi.
Kuliah berlangsung membosankan, namun pikiran Lia terus tertuju pada nama Clara. Siapa wanita itu sebenarnya? Seberapa besar pengaruhnya pada Devan hingga Devan tampak begitu terguncang?
Saat jam istirahat, Lia memutuskan untuk pergi ke kantin. Baron mengikutinya dari jarak yang cukup jauh agar tidak terlalu mencolok, namun tetap waspada. Saat Lia sedang mengantre minuman, seorang wanita dengan gaya yang sangat elegan—sangat kontras dengan mahasiswi pada umumnya—berdiri di sampingnya.
Wanita itu mengenakan dress merah marun yang pas di badan, rambut merahnya tergerai indah, dan aroma parfumnya sangat mahal sekaligus mengintimidasi.
"Caramel Macchiato, kan? Pilihan yang manis untuk gadis semanis kamu," suara wanita itu lembut, namun dingin seperti es.
Lia menoleh dan jantungnya hampir berhenti. Itu wanita di mobil merah kemarin. Tanpa kacamata hitamnya, Lia bisa melihat matanya yang cantik namun tajam, penuh dengan kilat kecerdikan.
"Siapa Anda?" tanya Lia, mencoba tegar meski tangannya gemetar.
Wanita itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun menyakitkan di telinga Lia. "Ah, sopan sekali. Namaku Clara. Tapi kurasa Devan sudah menyebut namaku, bukan? Meskipun mungkin dia hanya menceritakan bagian buruknya saja."
Baron yang melihat situasi itu segera mendekat, namun Clara hanya meliriknya dengan remeh. "Santai saja, Baron. Aku tidak membawa senjata. Aku hanya ingin menyapa 'adik kecil' ini."
Clara kembali menatap Lia, lalu tangannya yang lentik menyentuh liontin mawar di leher Lia. Lia tersentak mundur, namun Clara lebih cepat. Ia memperlihatkan pergelangan tangannya. Di sana, melingkar sebuah gelang dengan liontin mawar yang identik dengan kalung Lia.
"Tahukah kamu, Lia? Devan memberikan mawar ini padaku tiga tahun lalu. Dia bilang, mawar ini adalah simbol cintanya yang takkan pernah mati," Clara tersenyum sinis. "Lucu ya, bagaimana dia memberikan simbol yang sama pada gadis yang berbeda. Apa dia bilang kamu spesial? Dia mengatakan hal yang sama padaku dulu."
"Jangan dengarkan dia, Nona Lia!" seru Baron tegas. "Dia ular!"
Clara mengabaikan Baron. Ia mendekat ke telinga Lia, berbisik dengan nada yang penuh racun. "Kamu hanya pelarian, Sayang. Devan itu pria yang penuh rasa bersalah. Dia menjagamu karena dia merasa gagal menjagaku dulu. Dia tidak mencintaimu, dia hanya mencintai rasa 'butuh' yang kamu berikan padanya. Kamu merasa aman bersamanya? Itu ilusi. Dunianya akan menghancurkanmu, sama seperti dia menghancurkanku."
Lia terdiam, matanya mulai memanas. Kata-kata Clara menusuk tepat di rasa tidak percaya dirinya. Selama ini, Lia selalu bertanya-tanya mengapa pria sehebat Devan bisa jatuh cinta pada gadis biasa seperti dia. Apakah benar dia hanya pelarian?
"Pergi dari sini, Clara! Sebelum Bos datang dan membuatmu menyesal!" ancam Baron.
"Oh, aku pergi. Aku punya janji temu dengan masa lalu," Clara mengedipkan mata ke arah Lia. "Sampai jumpa di pesta dansa yang sebenarnya, Lia. Oh, dan satu saran: jangan terlalu percaya pada janji seorang pria yang hidup di atas mesin motor. Mereka hanya mencintai angin, bukan orang yang menunggu di rumah."
Clara melenggang pergi dengan anggun, meninggalkan Lia yang terpaku dengan hati yang hancur berkeping-keping. Bayang-bayang keraguan yang selama ini ia sembunyikan kini tumbuh menjadi monster yang menakutkan.
Sore harinya, saat Devan menjemputnya, Lia hanya diam seribu bahasa.
"Lia, ada apa? Baron bilang Clara menemuimu," Devan tampak sangat khawatir, ia mencoba memegang tangan Lia namun Lia menariknya perlahan.
"Apa aku hanya pelarian, Devan?" tanya Lia pelan, matanya menatap lurus ke depan.
Devan tertegun. "Apa yang dia katakan padamu?"
"Dia punya liontin yang sama. Dia bilang kamu memberinya janji yang sama. Apa benar kamu bersamaku hanya karena kamu merasa bersalah padanya di masa lalu?"
"Lia, dengarkan aku—"
"Jangan bohong, Devan! Katakan yang sejujurnya!" teriak Lia dengan air mata yang tumpah.
Devan memukul kemudi motornya dengan frustrasi.
"Masa laluku dengan dia adalah sebuah kesalahan besar, Lia! Dia mengkhianatiku, dia hampir menghancurkan Black Roses! Aku menjagamu karena aku mencintaimu, bukan karena dia!"
"Tapi kamu memberikan barang yang sama!" suara Lia bergetar. "Bagaimana aku bisa tahu kalau aku bukan sekadar pengganti sosok 'Ratu' yang hilang?"
Pertengkaran itu menjadi yang pertama dan yang paling hebat dalam hubungan mereka. Devan mencoba menjelaskan, namun egonya yang tinggi dan rasa sakit masa lalunya membuatnya sulit untuk terbuka sepenuhnya. Sementara itu, Lia terlalu takut untuk mempercayai bahwa ia cukup berharga untuk dicintai tanpa alasan lain.
Malam itu, mereka berpisah dalam keheningan yang menyakitkan. Lia mengurung diri di kamar, menatap kalung mawarnya yang kini terasa seperti beban berat. Ia tidak tahu bahwa Clara sedang duduk di sebuah bar, menatap foto Devan dan Lia di ponselnya sambil tersenyum puas.
"Babak pertama selesai," gumam Clara. "Sekarang, mari kita lihat bagaimana sang Serigala Hitam berjuang saat hatinya mulai ragu."