NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedalaman Pasifik dan Dilema Kapal Selam Sempit

​Samudra Pasifik tidak pernah terlihat begitu mengintimidasi. Di atas permukaan, ombak bergulung setinggi tiga meter, menghantam apa pun yang berani melintas. Namun, seribu kaki di bawah sana, sebuah kapal selam pribadi berwarna hitam pekat bernama “The Steel Daster” membelah arus dengan kesunyian yang mematikan.

​Di dalam ruang kendali yang dipenuhi lampu indikator neon berwarna biru, Bella Damayanti sedang fokus pada tuas kemudi. Wajahnya serius, matanya tak lepas dari radar sonar. Di sampingnya, Maya Adinda sedang duduk di kursi penumpang yang empuk, namun ekspresinya jauh dari kata nyaman.

​"Bel, gue baru tahu kalau gue punya fobia ruang sempit," keluh Maya sambil mencoba mengoleskan moisturizer di tangannya yang gemetar. "Kenapa kapal selam ini baunya kayak toko onderdil motor? Dan kenapa nggak ada jendela buat liat ikan lumba-lumba?"

​"Ini kapal selam tempur, May, bukan akuarium berjalan," sahut Bella tanpa menoleh. "Dan bau itu adalah minyak hidrolik. Kalau lo mau jendela, lo harus keluar dan berenang bareng hiu di luar sana. Mau?"

​Maya langsung bungkam, merapatkan dasternya yang kini sudah berganti model: The Deep-Sea Widow, berbahan neoprene yang bisa menahan tekanan air ekstrem, dengan pola sisik ikan yang bisa berubah warna untuk kamuflase bawah air.

​Di bagian belakang kapal selam, yang berfungsi ganda sebagai dapur darurat dan gudang logistik, Siska Paramita sedang sibuk. Ia tidak peduli dengan tekanan air atau ruang sempit. Fokusnya adalah pada sebuah kuali kecil yang terpasang permanen di meja berbahan baja.

​"Tekanan di bawah sini bener-bener ngebantu proses pengempukan daging," gumam Siska sambil mengamati suhu kualinya. "Gue lagi eksperimen 'Rendang Presto Kedalaman Seribu Kaki'. Kalau berhasil, ini bakal jadi mahakarya kuliner spionase."

​Tiba-tiba, suara sonar berbunyi nyaring. Piiip... Piiip... Piiip!

​"Kita nggak sendirian," ujar Bella, suaranya mendadak dingin. "Ada tiga objek bergerak cepat mendekat dari arah jam empat. Ukurannya kecil, tapi kecepatannya di atas 60 knot."

​"Hiu?" tanya Maya penuh harap.

​"Bukan hiu. Itu torpedo mikro berpemandu akustik," jawab Bella. "Pegangan!"

​Bella membanting tuas kemudi ke kiri. The Steel Daster miring secara ekstrem, membuat Maya terlempar ke arah tumpukan bantal, sementara Siska dengan cekatan menangkap kualinya agar rendangnya tidak tumpah.

​BOOM!

​Ledakan terjadi di dekat lambung kapal, menciptakan guncangan yang hebat. "Mereka menyerang! Siska, aktifkan sistem pertahanan 'Bumbu Ledak'!" perintah Bella.

​Siska segera menekan tombol di samping kompornya. Dari bagian belakang kapal selam, keluar puluhan tabung kecil berisi cairan kimia pekat hasil racikannya. Cairan itu meledak di air, melepaskan awan tinta hitam yang sangat pekat dan berminyak, mengacaukan sensor sonar torpedo lawan.

​"Lari ke arah palung!" seru Bella. Ia memacu mesin kapal hingga batas maksimal.

​Setelah aksi kejar-kejaran yang membuat jantung Maya nyaris pindah ke tenggorokan, mereka berhasil mencapai zona sunyi di bawah tebing bawah laut Pulau Benang Putus. Pulau ini tidak ada di peta GPS konvensional karena dikelilingi oleh anomali magnetik yang kuat.

​Bella mendaratkan kapal selam di sebuah gua bawah air yang terhubung langsung dengan laboratorium rahasia. Saat pintu palka dibuka, mereka disambut oleh udara yang dingin dan steril.

​"Oke, Janda-janda. Misi kita sederhana: hancurkan server 'Daster WiFi' dan bawa keluar data intelijennya. Jangan terdistraksi oleh apa pun," instruksi Bella sambil menyiapkan payung titaniumnya yang kini dilengkapi dengan ujung pelontar jangkar.

​Mereka mulai menyusuri koridor gua yang sudah dibeton rapi. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan serat-serat optik yang berpendar, tampak seperti sistem saraf raksasa.

​"Tempat ini lebih modern dari kantor agensi di Jakarta," bisik Siska sambil menggenggam sutil titaniumnya.

​Tiba-tiba, lampu koridor menyala terang. Di ujung jalan, berdiri sebuah sosok yang sangat mereka kenal. Pria itu mengenakan setelan jas putih rapi, rambutnya klimis, dan ia sedang memegang secangkir kopi mahal.

​"Don Toro?!" teriak Maya dan Siska serempak.

​"Bukan, sayang-sayangku," pria itu berbalik. Wajahnya memang mirip Don Toro, tapi jauh lebih tirus dan matanya berwarna perak—mata prostetik. "Saya adalah Don Titanium, kakak kembar Don Toro yang jauh lebih pintar, lebih kaya, dan tentu saja... lebih berbahaya."

​Don Titanium menyesap kopinya dengan tenang. "Adikku, Toro, adalah kegagalan genetik. Dia terobsesi dengan bawang dan barang loak. Tapi saya... saya terobsesi dengan kendali. 'Daster WiFi' ini bukan hanya mencuci otak, tapi ia mengubah setiap manusia menjadi pemancar data hidup. Bayangkan, seluruh dunia dalam satu jaringan yang saya kendalikan."

​"Dalam mimpi lo, Titanium!" Bella melesat maju, mengayunkan payungnya.

​Don Titanium hanya menjentikkan jarinya. Dari langit-langit, turun puluhan "Daster Drone"—pakaian kosong yang digerakkan oleh kerangka robotik tipis. Mereka bergerak dengan sinkronisasi sempurna, menyerang Bella dengan gerakan karate yang sangat presisi.

​"Maya! Gunakan Bedak Elektromagnetik!" teriak Bella sambil menangkis pukulan drone.

​Maya mengambil bedak padatnya, tapi kali ini ia menekan tombol "Super-Static". Ia melemparkan bedak itu ke tengah-tengah kerumunan drone. ZAP! Serbuk bedak itu menciptakan medan listrik statis yang membuat sirkuit drone tersebut korsleting.

​"Makan itu, robot baju!" Maya bersorak.

​Siska maju menghadapi Don Titanium. Pria itu ternyata memiliki lengan mekanis yang sangat kuat. Saat Siska mengayunkan sutilnya, Don Titanium menangkapnya dengan tangan kosong.

​"Sutil? Kamu membawa alat masak ke perang teknologi?" ejek Don Titanium.

​"Ini bukan cuma sutil, Don!" Siska menekan tombol di gagangnya. ZIIIIINNNGG! Ujung sutil itu bergetar dengan frekuensi ultrasonik tinggi, menghancurkan cangkir kopi di tangan Don Titanium dan membuat lengan mekanisnya mengalami overheat.

​"Aaaaakh! Panas!" Don Titanium mundur, memegang lengannya yang berasap.

​Bella berhasil mencapai ruang server utama. Di tengah ruangan, sebuah daster putih bercahaya tergantung di dalam tabung hampa udara. Itulah prototipe The WiFi Widow.

​"Bella, tunggu!" suara Master Tailor terdengar lewat saluran komunikasi rahasia. "Jangan hancurkan daster itu dulu! Ada data penting tentang lokasi 'Benang Hitam' di seluruh dunia yang tersimpan di memori pusat daster itu. Kalau lo hancurkan sekarang, kita kehilangan jejak mereka selamanya!"

​"Tapi kalau gue nggak hancurin, Don Titanium bakal mengaktifkan sinyal global dalam tiga menit!" balas Bella panik.

​Di saat itulah, Maya menunjukkan bakat terpendamnya. Ia melihat konsol komputer yang rumit. Sebagai mantan guru TK yang sering menghadapi anak-anak yang hobi main game ilegal di tablet sekolah, Maya punya pemahaman unik soal antarmuka digital.

​"Bel, biar aku yang urus!" Maya duduk di depan komputer, jemarinya menari di atas keyboard. "Aku bakal coba buat 'jalur bypass' pake protokol keamanan yang biasanya aku pake buat blokir situs porno di lab komputer TK dulu!"

​"Maya, ini serius!" seru Bella.

​"Aku juga serius, Bel! Liat nih... enter... delete... spam..." Maya bekerja dengan kecepatan yang mengejutkan. "Aku bakal mengunggah data intelijennya ke cloud milik agensi kita, sambil menyuntikkan virus 'Baby Shark' ke sistem utama Don Titanium!"

​Di luar, Don Titanium yang sudah pulih mencoba menyerang Siska kembali. Namun, tiba-tiba seluruh layar di laboratorium berubah menjadi gambar animasi hiu kuning yang menari-nari dengan musik yang sangat kencang.

​Baby shark, doo doo doo doo doo doo...

​"TIDAK! APA YANG KAMU LAKUKAN PADA SISTEMKU?!" teriak Don Titanium sambil memegangi kepalanya yang mulai pusing karena musik yang berulang-ulang.

​"Data sudah terkirim, Bel! Sekarang, hancurkan!" teriak Maya.

​Bella tidak ragu lagi. Ia melemparkan peledak termit ke tabung hampa udara. BOOOOOM! Daster WiFi itu meledak, menghancurkan seluruh sistem saraf optik di pulau tersebut.

​Gua mulai bergetar. Batuan mulai runtuh. "Kita harus keluar! Sekarang!"

​Mereka berlari kembali ke gua bawah air. Don Titanium berteriak dalam kemarahan di belakang mereka, namun ia tertimbun oleh reruntuhan servernya sendiri.

​Mereka melompat masuk ke The Steel Daster. Bella menyalakan mesin, dan kapal selam itu melesat keluar tepat saat seluruh laboratorium di dalam pulau meledak hebat, menciptakan pusaran air raksasa di permukaan samudra.

​Beberapa jam kemudian, di kedalaman laut yang lebih tenang, suasana di dalam kapal selam kembali kondusif. Bella masih memegang kemudi, tapi bahunya sudah rileks.

​Siska membuka tutup kualinya. Aroma yang luar biasa nikmat memenuhi ruang sempit kapal selam. "Rendang Kedalaman Seribu Kaki... sudah matang."

​Maya mengambil piring plastik dengan semangat. "Wah, baunya enak banget! Siska, kamu emang penyelamat perutku!"

​Mereka bertiga makan bersama di tengah kesunyian samudra. Meskipun mereka baru saja menghancurkan konspirasi global, bagi mereka, momen makan bersama ini adalah kemenangan yang sesungguhnya.

​"Data yang Maya kirim tadi sudah dikonfirmasi oleh agensi," ujar Bella sambil mengunyah daging rendangnya yang sangat empuk. "Daftar lokasi 'Benang Hitam' sudah ada di tangan kita. Dan tebak di mana target selanjutnya?"

​"Jangan bilang di kutub," gumam Maya.

​"Hampir benar," Bella tersenyum licik. "Islandia. Ada laporan soal 'Daster Gunung Berapi' yang bisa memicu erupsi secara manual. Mereka mau menggunakan panas bumi buat bikin senjata pemusnah massal."

​Siska menghela napas, tapi matanya berbinar. "Islandia ya? Aku dapet info di sana ada teknik mengasap daging di dalam lubang vulkanik. Kita harus coba."

​Maya mengeluh sambil menyeka sisa bumbu rendang di bibirnya. "Islandia... salju lagi, daster wol lagi. Tapi nggak apa-apa deh, denger-denger di sana banyak pria Nordik yang ganteng-ganteng mirip Thor. Aku siap!"

​Bella tertawa, memacu The Steel Daster menuju permukaan. "Bersiaplah, Janda-janda. Kita punya dunia yang harus dijahit kembali, satu misi dalam satu waktu."

​Kapal selam itu muncul ke permukaan, disambut oleh fajar yang indah di tengah Samudra Pasifik. Perjalanan menuju Bab 50 masih sangat jauh, tapi dengan rendang di perut dan sahabat di samping, tidak ada yang mustahil bagi The Justice Widows.

1
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!