Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.12
Dan lalu...
Bodat berteriak.
“KEJAR.”
Teriakan itu tidak didahului pemikiran,dan melewati logika. Tidak meminta persetujuan siapa pun. Ia keluar begitu saja seperti refleks primitif manusia saat merasa terancam tapi tidak tahu harus berbuat apa. Teriakan itu memantul di udara pagi desa yang seharusnya tenang. Ayam-ayam yang tadi berkeliaran langsung berhamburan, mengepak panik seolah ikut memahami bahwa sesuatu telah salah. Daun pisang bergoyang keras, bukan hanya karena angin, tapi karena kekacauan mendadak yang diciptakan oleh sekelompok manusia yang pikirannya masih terjebak di sisa-sisa malam aneh. Dan entah kenapa, semua ikut. Bukan karena setuju atau karena berani. Tapi karena dalam situasi seperti itu, diam terasa jauh lebih menakutkan daripada bergerak. Diam berarti mendengar terlalu jelas suara napas sendiri. Diam berarti memberi ruang bagi pikiran untuk berlari lebih liar daripada kaki. Diam berarti membiarkan bayangan itu—apa pun bentuknya—menentukan langkah selanjutnya. Bergerak, meski salah arah, terasa lebih aman.
Pintu dibuka, Kayunya berderit keras, seolah ikut kaget melihat penghuninya mendadak berubah jadi kawanan panik. Derit itu panjang, nyaring, dan tidak perlus, eperti komentar sarkastik dari rumah tua yang seolah berkata, oh, sekarang kalian mau sok berani?
Mereka berhamburan keluar seperti pasukan tanpa strategi, tanpa formasi, tanpa rencana cadangan. Tidak ada yang memimpin, memastikan siapa di depan, siapa di belakang. Tidak ada yang sempat berpikir, ini ide buruk. Langkah kaki beradu dengan tanah lembap, sebagian terpeleset, sebagian hampir menabrak satu sama lain. Ada yang berlari terlalu cepat hingga napasnya tersengal dalam lima detik pertama, ada yang berlari sambil menoleh ke belakang, seolah takut ada sesuatu yang mengejar balik.
“JANGAN PENCAR,” teriak Udin.
Ia sudah berteriak sambil berlari, yang membuat instruksi itu kehilangan sebagian besar wibawanya. Suaranya terpecah oleh napas sendiri. Kata-kata itu keluar lebih sebagai harapan daripada perintah. Sebagai koordinator, ia tahu betul aturan dasar situasi genting, tetap bersama, jangan panik, namun tubuhnya jelas tidak menerima memo yang sama dengan otaknya.
Sudah terlambat, bayangan itu bergerak cepat, menyelinap ke balik pohon pisang di samping posko. Gerakannya lincah, Terbiasa. Seperti bukan pertama kali dikejar atau mengejar. Daun pisang yang besar dan lebar bergeser kasar, menciptakan suara srrkk yang terlalu jelas untuk diabaikan. Batang pohon itu berderit pelan, seolah baru saja disentuh sesuatu yang berat namun gesit.
“ITU KE SANA,” teriak Paijo sambil menunjuk ke arah yang salah.
Ia menunjuk penuh keyakinan, dengan gestur dramatis, seolah benar-benar melihat sesuatu. Padahal yang ia lihat hanyalah daun pisang yang bergoyang tertiup angin dan rasa takutnya sendiri. Keyakinannya menular secara salah. Dua orang hampir mengikuti arah tunjukannya sebelum sadar bahwa yang ditunjuk Paijo bahkan tidak mengarah ke sumber suara apa pun.
Surya nyaris tersandung. Kakinya terseret akar kecil yang seharusnya tidak berbahaya, tapi di situasi ini terasa seperti jebakan maut. Ia mengumpat pelan, namun suaranya tenggelam oleh teriakan lain yang tidak jelas arahnya.
Ani tertawa panik bukan karena lucu, tapi karena tubuhnya kehabisan cara menyalurkan adrenalin. Tawa itu pecah pendek, tinggi, lalu berubah jadi napas terengah. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena campuran takut dan absurd.
Juned tetap merekam sambil berlari, gambarnya goyang brutal seperti gempa magnitudo emosional. Tangannya gemetar, jari-jarinya kaku, namun refleksnya sebagai pemburu konten tetap bekerja. Lensa menangkap potongan kaki, tanah, daun, dan sesekali wajah seseorang yang tampak seperti baru saja menyesal ikut. Jika video itu ditonton orang lain, mungkin akan terlihat seperti dokumentasi bencana. Dan jika ditonton mereka sendiri nanti, mungkin akan dihapus atau disimpan diam-diam. Sebagai pengingat bahwa mereka pernah sebodoh ini.
“AKU LIAT EKOR...”
Suara itu keluar entah dari siapa, entah dari mana. Terdengar setengah tercekik, setengah yakin.
“EKOR APA?”
“ENTAH!”
Jawaban itu jujur. Dan justru karena itu, tidak menenangkan siapa pun. Kata ekor bergema di kepala masing-masing dengan bentuk berbeda. Ada yang membayangkan sesuatu berbulu. Ada yang membayangkan sesuatu licin. Ada yang membayangkan sesuatu yang seharusnya tidak punya ekor sama sekali. Kejar-kejaran berlangsung tidak sampai satu menit. Bukan karena mereka cepat. Tapi karena bayangan itu berhenti sendiri. Tepat, Mendadak. Tanpa aba-aba di balik semak.
Semak itu tidak besar. Bahkan bisa dibilang biasa. Namun di saat seperti itu, setiap ruang gelap, sekecil apa pun, terasa seperti mulut yang siap menelan. Daun-daun bergetar pelan. Ranting kecil bergerak, lalu diam. Mereka mengepung. Lingkaran terbentuk asal-asalan. Ada yang terlalu dekat. Ada yang terlalu jauh. Ada yang berdiri dengan tangan gemetar tapi mencoba terlihat gagah. Tidak ada yang benar-benar siap untuk apa pun yang mungkin muncul.
Dengan napas terengah dan jantung yang serasa mau copot. Keringat dingin mengalir, meski matahari mulai naik, Udin maju pelan. Langkahnya hati-hati, terlalu terkontrol, seperti orang yang tahu bahwa satu gerakan salah bisa memicu lari massal kedua. Ia menelan ludah, mengatur napas, lalu memasang suara yang menurutnya terdengar tegas, meski di telinganya sendiri terdengar seperti orang pura-pura dewasa.
“Siapa pun kamu,” katanya sok tegas, “keluar baik-baik.”
Kalimat itu menggantung di udara, Tidak ada jawaban yang keluar ataupun gerakan. Bahkan daun pun seolah berhenti berisik. Detik terasa lebih panjang dari biasanya. Tidak ada angin. Tidak ada serangga. Desa seakan menahan napas bersama mereka.
Bodat menyingkap semak. Gerakannya cepat, seperti ingin segera mengakhiri ketegangan, apa pun hasilnya. Ia sudah siap menerima apa saja, teriakan, lompatan, atau sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Ototnya tegang, rahangnya mengeras.
Dan…
Tiba-tiba Sunyi, Tidak ada bayangan, Tidak ada siluet, Tidak ada apa-apa, Lalu tawa pecah. Tawa yang awalnya ragu, makin lama kian membesar lalu tidak terkendali. Tawa itu datang seperti air bah setelah bendungan retak. Lepas. Tidak sopan. Tidak beraturan. Campuran lega, malu, dan kelelahan.
“ASTAGA,” kata Susi sambil memegangi perut.
“ITU CUMA..”
Seekor kambing berwarna hitam, Kurus, Dengan lonceng kecil di leher.
Klonk… klonk…
Suara lonceng itu terdengar sangat tidak bersalah. Sangat tidak horor. Sangat… memalukan.
Kambing itu menatap mereka balik. Tenang. Sedikit mengunyah. Seolah bingung kenapa pagi-pagi ada sekelompok manusia napasnya ngos-ngosan mengelilinginya. Tatapannya datar. Tanpa rasa bersalah. Tanpa rasa takut.Seolah berkata, kalian ini kenapa sih?
“…”
“…”
“…”
Tidak ada yang langsung bicara. Beberapa detik dihabiskan hanya untuk mencerna kenyataan bahwa sumber teror barusan bisa dimasak jadi sate. Surya menunduk, menekan dahinya dengan telapak tangan.
“Gue dikejar kambing?” gumam Surya.
Suaranya lirih. Hancur. Seperti harga dirinya baru saja diinjak pelan.
“Kambing ngejar siapa?” balas Bodat. “Kita yang ngejar.”
Ani tertawa sampai jongkok. Tertawa lepas dan begitu keras. Tertawa seperti orang yang baru lolos dari ujian hidup dan sadar paniknya tidak masuk akal. Tawanya menular. Satu dua ikut tertawa, meski sebagian besar masih menahan sisa malu. Juned menurunkan kamera.
“Ini… ini nggak akan laku.”
Ia memeriksa layar sekilas, lalu menghela napas panjang, antara lega dan kecewa. Pemilik kambing datang tergopoh. Langkahnya cepat, napasnya agak terengah, tapi wajahnya santai. Ia mengenakan kaus lusuh dan sandal jepit. Tidak ada aura misterius. Tidak ada musik latar menyeramkan. Hanya warga desa biasa yang kehilangan kambing.
“Maaf, Nak,” katanya sambil tersenyum. “Itu kambing saya. Suka naik atap.”
“NAIK ATAP?” ucap mereka serentak, nada mereka terdengar kompak.
“Iya. Namanya Bagas.”
Kambing itu mengembik pelan, seolah memperkenalkan diri.
Klonk… klonk…
Udin mengusap wajah. Tangannya menutup mata sebentar, lalu turun pelan, seperti ingin memastikan dunia masih nyata.
“Jadi… semua ini…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya karena merasa tidak perlu untuk dilanjutkan.
“Bagas,” kata Bodat datar.
Nama itu jatuh seperti vonis. Mereka kembali ke posko dengan langkah lesu dan tawa sisa. Beberapa masih cekikikan kecil. Beberapa menggeleng-geleng tidak percaya. Beberapa lainnya memilih diam, mungkin sedang berdamai dengan harga diri masing-masing.
Kini suasana terasa lebih ringan, Tapi tidak sepenuhnya aman.
“Jadi,” kata Palui, “kita aman.”
Nada suaranya setengah berharap, setengah menantang semesta untuk membantah.
“Untuk sekarang,” sahut Juleha.
Kalimat itu tidak diucapkan untuk menakut-nakuti, hanya fakta sederhana.
Karena meski salah paham itu berakhir konyol, Semua sadar satu hal, Kalau kambing saja bisa bikin mereka panik seperti itu, Bagaimana nanti kalau yang lewat di jendela, bukan kambing.
...🍃🍃🍃...
Bersambung....