Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Atas Pangkuan
Viona mengerang. Sensasi pening seperti dihantam godam menghujam kepalanya saat kelopak matanya perlahan terbuka. Cahaya matahari yang menembus gorden tipis di rumah baru mereka terasa sepuluh kali lebih terang dan menyakitkan dari biasanya.
Bau parfum woody yang sangat familier menyeruak masuk ke indra penciumannya. Viona menoleh perlahan, dan jantungnya hampir melompat keluar dari rusuknya.
Di sampingnya, Noah tertidur lelap. Posisi pria itu menyamping ke arahnya dengan separuh tubuh tertutup selimut, memamerkan punggung dan bahu kokoh yang bertelanjang dada. Guratan ototnya terlihat begitu jelas di bawah cahaya pagi.
Deg.
Dada Viona mencelos. Ingatannya tentang semalam sangat buram. Yang ia ingat hanya musik, tawa, dan rasa hangat tangan Noah di pinggangnya. Dengan panik, ia segera menyibak selimut, memeriksa kondisinya sendiri.
Aman. Ia masih mengenakan gaun hitam yang sama, meski sudah sangat kusut.
Viona menghela napas lega. Dengan gerakan super pelan, ia berusaha turun dari ranjang, berharap bisa kabur ke kamar mandi sebelum Noah bangun dan menanyakan hal-hal memalukan. Namun, baru saja kakinya menyentuh lantai dingin...
"Viona... gue minta lo berhenti ke club," suara berat dan serak khas bangun tidur milik Noah memecah keheningan.
Langkah Viona terhenti seketika. Ia membeku, tidak berani menoleh. Noah masih di sana, tetap merem dengan lengan yang kini menutupi matanya, tapi auranya terasa sangat menuntut.
"Ke-kenapa?" tanya Viona gagap. Jantungnya mendadak berdisko lagi, bukan karena musik, tapi karena suasana canggung ini.
Noah menghela napas panjang, akhirnya membuka matanya yang tampak merah karena kurang tidur. Ia mengubah posisinya menjadi telentang, membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos sepenuhnya di depan mata Viona yang salah tingkah.
"Lo gila kalau udah di club," jawab Noah datar, tapi ada penekanan di setiap katanya.
Viona berbalik, mencoba membela diri. "Gila gimana? Gue cuma menari, Noah! Gue cuma menikmati musik—"
"Menari?" Noah memotong dengan tawa sinis yang pendek. Ia duduk di tempat tidur, membuat otot perutnya terlihat semakin jelas.
"Lo nggak cuma menari, Viona. Lo hampir bikin satu club berantem karena mereka semua nggak bisa berhenti ngeliatin lo, dan lo... lo hampir bikin gue hilang kendali semalam."
Viona terdiam. Matanya terpaku pada tatapan tajam Noah. Ia baru sadar, Noah tidak sedang marah karena merasa direpotkan, tapi Noah marah karena sesuatu yang jauh lebih dalam.
"Mulai sekarang, nggak ada clubbing tanpa pengawasan ketat dari gue. Dan kalau bisa, nggak usah sekalian," lanjut Noah tegas, sambil bangkit berdiri dan berjalan melewati Viona menuju kamar mandi, meninggalkan Viona yang terpaku dengan wajah yang sekarang jauh lebih panas daripada rasa pening di kepalanya.
Viona masih berdiri mematung di samping ranjang, sementara suara gemericik air shower dari kamar mandi menandakan Noah sedang membersihkan diri. Ia memegang kepalanya yang berdenyut, mencoba menyusun kepingan memori yang tercecer.
"Gue ngapain ya semalam..." gerutunya dengan suara bergetar.
Lalu, satu per satu ingatan itu muncul seperti cuplikan film horor bagi harga dirinya.
Bayangan remang-remang club kembali hadir. Ia ingat menarik kerah kemeja Noah dengan kasar. Ia ingat mendorong dada bidang pria itu sampai Noah terjatuh terduduk di sofa VIP yang empuk. Dan yang paling parah...
Mata Viona membelalak. Tangannya spontan menutup mulut. Ia ingat dirinya dengan berani naik ke pangkuan Noah, duduk di sana seolah-olah dunia milik berdua, lalu menyerang bibir sahabatnya itu dengan ciuman yang... brutal.
"Lo udah gila ya, Vio?" gumamnya merutuki diri sendiri. Wajahnya kini merah padam sampai ke telinga.
Ingatan itu semakin tajam. Ia ingat bagaimana jemarinya yang gemetar namun tak sabaran itu memaksa membuka kancing kemeja Noah. Satu... dua... tiga kancing terlepas. Ia ingat merasakan kulit hangat Noah di bawah telapak tangannya. Ia ingat Noah sempat berusaha menahannya, tapi Viona malah makin menjadi-jadi karena pengaruh alkohol yang sudah menguasai otaknya.
Pantas aja Noah bertelanjang dada pas bangun tadi! Kemejanya pasti udah jadi korban keganasan gue, batin Viona merana.
Seketika, Viona ingin menghilang dari muka bumi. Bagaimana dia bisa menatap wajah "Pak Dosen" itu lagi setelah dia melakukan hal sesarap itu? Pantas saja Noah bilang dia "gila" di club. Pantas saja Noah melarangnya pergi lagi.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Noah keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, rambutnya basah kuyup, dan butiran air masih mengalir di dadanya yang... ya Tuhan, kancing yang dibuka Viona semalam meninggalkan jejak memori yang terlalu nyata.
Noah berhenti melangkah saat melihat Viona masih di sana dengan wajah yang tampak ingin meledak.
"Udah inget?" tanya Noah singkat, suaranya dingin tapi ada kilatan menggoda di matanya.
Viona menelan ludah susah payah. "N-Noah... gue... semalam itu... alkoholnya..."
Noah melangkah mendekat, mengabaikan jarak aman di antara mereka sampai Viona terpojok ke pinggiran meja rias. Ia menunduk, berbisik tepat di depan wajah Viona.
"Lain kali kalau mau buka baju gue, nggak usah nunggu mabuk, Vio. Dan satu lagi..." Noah menjeda, jarinya menyentuh bibir bawah Viona dengan lembut.
“Ciuman lo semalam... berantakan banget. Perlu gue ajarin cara yang bener?"
Viona memutar tubuhnya cepat, menatap Noah dengan mata membelalak tak percaya. Wajahnya yang sudah merah padam kini terasa semakin panas.
"Lo selama ini begitu di club?" tanya Noah. Nada suaranya terdengar penasaran, tapi ada sedikit nada menyelidik yang tidak bisa disembunyikan.
"Gila! Enggak ya!" teriak Viona spontan. Ia bahkan sampai melempar bantal kecil ke arah Noah, yang dengan mudah ditangkap oleh pria itu. "Gue baru kali ini mabuk sampai begitu, Noah! Biasanya gue tahu batas!"
Mendengar pengakuan itu, senyum Noah pelan-pelan mekar di belakang Viona. Ada rasa lega yang luar biasa sekaligus rasa puas yang aneh di hatinya. Jadi, hanya dia yang pernah melihat sisi "buas" Viona yang satu itu.
Noah melangkah maju, kembali mengikis jarak. Kali ini auranya tidak lagi seperti dosen yang sedang menceramahi mahasiswa, tapi lebih seperti seorang pria yang sedang memberikan klaim atas miliknya.
"Lo nggak boleh ke club selain sama gue! Ini perintah!" kata Noah tegas, suaranya rendah dan dalam. "Gue nggak mau ada cowok lain yang ngelihat lo kayak gitu, apalagi sampai lo perlakukan kayak gitu."
Viona mengerucutkan bibirnya, hendak membalas, tapi kata-kata Noah selanjutnya langsung membungkamnya.
"Dan... lain kali jaga perilaku lo, Viona. Gue juga laki-laki normal." Noah berhenti tepat di depan Viona, menatap matanya dalam-dalam.
"Bagus gue nggak terkam lo balik semalam. Kalau gue buat goal beneran kemarin, lo bakal ngamuk sebulan sama gue karena merasa gue ambil kesempatan."
Viona menelan ludah susah payah. Ia teringat betapa kerasnya dada Noah semalam di bawah telapak tangannya. Membayangkan Noah yang biasanya tenang itu benar-benar hilang kendali dan "menerkamnya" balik membuat perut Viona terasa mulas karena sensasi yang aneh.
"Gue... gue kan nggak sadar," bisik Viona pelan, suaranya mendadak menciut.
"Makanya, jangan pernah nggak sadar di depan orang lain selain gue," sahut Noah. Ia mengacak rambut Viona sebentar, sebuah gestur kecil yang biasanya terasa seperti persahabatan, tapi kali ini terasa jauh lebih intim.
"Mandi sana. Bau alkohol lo masih kecium sampai sini. Gue tunggu di bawah, kita harus ke kampus jam sepuluh," ucap Noah sambil berlalu, meninggalkan Viona yang masih terpaku memegangi dadanya yang berdegup kencang.
Viona menyentuh bibirnya sendiri. Hampir saja, batinnya. Semalam adalah garis tipis yang hampir mereka lewati, dan Viona sadar, sejak malam itu, tidak ada yang akan benar-benar sama lagi di antara mereka.