NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:372
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12Rencana di Dermaga

"Jangan bergerak! FBI!" teriak beberapa agen yang muncul dari balik kegelapan.

Kedua pria itu terkejut. Mereka mencoba lari, namun sudah terkepung. Ternyata, Hannan dan Gus Malik tidak datang untuk menyerah. Mereka telah berkoordinasi dengan otoritas Amerika untuk melaporkan adanya upaya pemerasan dan ancaman terhadap saksi kunci kasus korupsi internasional.

Hannan segera berlari menghampiri Amara dan menariknya ke dalam perlindungannya. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Hannan cemas.

Amara mengangguk, ia lemas dan bersandar di dada Hannan. Sementara itu, salah satu pria itu berteriak, "Kalian tidak tahu siapa yang kalian lawan! Dokumen itu tidak akan pernah sampai ke pengadilan!"

Gus Malik maju sambil memutar sebuah tablet di tangannya. "Oh, maaf ya. Dokumen aslinya sudah diunggah oleh Hannan ke peladen (server) aman milik Kejaksaan Agung RI dan tembusannya sudah sampai ke tangan The New York Times lima menit yang lalu. Yang dipegang Amara itu hanya tumpukan kertas kosong."

Wajah para penjahat itu pucat pasi. Rencana mereka hancur total.

***

Setelah Badai Mereda

Setelah kejadian di dermaga, nama Hannan justru tidak hancur. Berita tentang keberanian seorang ustadz muda Indonesia yang melindungi saksi kunci korupsi besar menjadi viral, bahkan masuk ke media lokal Amerika.

Namun, ketenangan itu membawa perubahan lain bagi Amara. Sejak malam itu, ia merasa sangat bersalah telah menyeret Hannan ke dalam bahaya.

Malam itu, di apartemen, Amara mendekati Hannan yang sedang bersiap untuk salat Isya.

"Mas... bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Amara pelan.

Hannan menoleh. "Apa itu, Amara?"

"Aku ingin mulai memakai hijab secara permanen. Bukan karena aku ingin bersembunyi, tapi karena aku ingin benar-benar menjadi wanita yang pantas berdiri di sampingmu. Aku ingin dunia tahu bahwa aku adalah istrimu yang bangga dengan agamamu."

Hannan tersenyum haru. Ia tidak pernah memaksa, namun hidayah itu datang sendiri menyapa hati istrinya. "Alhamdulillah. Amara, kamu sudah lebih dari pantas. Tapi jika itu keputusanmu, Mas sangat bahagia."

Hannan kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari lemarinya. "Mas punya sesuatu untukmu. Mas membelinya kemarin, berharap suatu saat kamu akan membutuhkannya."

Hannan membuka kotak itu. Isinya adalah sebuah jilbab sutra berwarna merah muda lembut—warna yang sama dengan dress yang dipakai Amara saat pertama kali mereka bertabrakan di pantai.

"Warna pink?" Amara tersenyum malu.

"Iya. Karena di mataku, kamu akan selalu menjadi gadis pink yang menabrak takdirku sore itu," jawab Hannan lembut.

***

Mahkota Kesetiaan dan Cahaya Baru

Di dalam kamar yang diterangi cahaya lampu temaram, Amara menyentuh helai kain sutra merah muda pemberian Hannan dengan ujung jarinya yang gemetar. Kain itu terasa begitu dingin dan lembut, berbanding terbalik dengan hatinya yang kini terasa hangat dan penuh letupan kebahagiaan. Di cermin besar yang berdiri di sudut kamar, Amara melihat pantulan dirinya sendiri. Wajah yang dulunya selalu nampak cemas dan lelah, kini mulai menampakkan rona kehidupan yang baru.

"Mas..." panggil Amara lirih. Suaranya hampir

tenggelam dalam keheningan malam Los Angeles.

Hannan, yang sedang merapikan sajadahnya, menoleh. Ia menatap istrinya dengan pandangan yang teduh. "Iya, Amara?"

"Bantu aku memakainya? Aku... aku masih belum pandai melilitnya dengan rapi," pinta Amara dengan wajah yang sedikit memerah.

Hannan tersenyum tipis. Ia melangkah

mendekat, menjaga jarak yang sangat sopan namun terasa begitu intim sebagai pasangan suami istri. Ia mengambil kain itu, lalu dengan sangat hati-hati meletakkannya di atas kepala Amara. Jari-jari Hannan yang panjang dan ramping bergerak dengan lincah namun lembut.

Ada getaran aneh yang dirasakan Amara saat tangan suaminya sesekali tak sengaja bersentuhan dengan kulit keningnya. Itu adalah sentuhan yang penuh hormat, bukan sentuhan penuh nafsu seperti yang pernah ia alami dari Ryan atau pria-pria di masa lalunya.

"Warna ini sangat cocok untukmu," bisik Hannan. "Seperti senja pertama kali kita bertemu. Saat itu kamu memakai baju warna ini, dan jujur saja, meski aku menundukkan pandangan, warna itu seolah membekas di ingatanku."

Amara tersenyum malu. "Jadi, ustadz yang sangat menjaga pandangan ini diam-diam memperhatikan warna bajuku?"

Hannan tertawa kecil, suara tawa yang jarang sekali ia keluarkan. "Hanya warnanya, Amara. Karena warna itu mengingatkanku pada kelembutan. Dan malam ini, saat kamu memilih untuk berhijab, kelembutan itu menjadi sempurna karena kamu melakukannya untuk mencari rida Allah."

Setelah jilbab itu terpasang rapi, Amara menatap dirinya di cermin. Ia merasa seperti terlahir kembali. Identitas lamanya sebagai Amara yang malang, yang diburu, dan yang tidak berharga, seolah luntur dan digantikan oleh sosok baru yang memiliki pelindung.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah kenyataan pahit masih menghimpit dada Hannan. Ia tahu, babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai. Berita tentang keberaniannya memang menjadi viral, namun bagi keluarga besarnya di sebuah pesantren ternama di Jawa Timur, berita tentang "Hannan yang menikahi wanita non-muslim (sebelum masuk Islam) di Amerika tanpa izin keluarga" adalah sebuah bom waktu.

"Amara," ujar Hannan setelah mereka duduk di tepi ranjang, masih dengan jarak yang terjaga. "Kita sudah melewati badai dengan Ryan dan papamu. Tapi, ada satu badai lagi yang harus kita hadapi."

Amara menatap Hannan dengan serius. "Tentang keluargamu di Indonesia, Mas?"

Hannan mengangguk. "Abah dan Ummi belum tahu. Di sana, adat dan aturan pesantren sangat ketat. Menikah tanpa restu, apalagi dengan latar belakang kita yang berbeda, adalah hal yang sangat berat bagi mereka. Besok, aku berencana melakukan panggilan video dengan mereka. Aku ingin mengenalkanmu sebagai istriku secara resmi."

Amara mencengkeram jemarinya sendiri. Rasa takut kembali menyergap. "Bagaimana kalau mereka tidak menerimaku? Bagaimana kalau mereka memintamu menceraikanku?"

Hannan menggenggam tangan Amara—kali ini dengan erat, memberi kekuatan. "Aku tidak akan pernah melepaskan tangan yang sudah aku ikat dengan janji di depan Allah, Amara. Kita hadapi bersama, sama seperti kita menghadapi moncong senjata dan ancaman Ryan kemarin. Jika Allah yang mempertemukan kita di pantai itu, maka Allah juga yang akan membukakan pintu hati Abah dan Ummi."

Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan bercerita banyak hal. Amara menceritakan masa kecilnya yang pahit, dan Hannan menceritakan masa kecilnya yang penuh dengan hafalan kitab suci. Dua dunia yang berbeda itu kini mulai melebur menjadi satu kekuatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!