NovelToon NovelToon
Dragon Emperor: Rebirth Of The Alchemist

Dragon Emperor: Rebirth Of The Alchemist

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Suasana di alun-alun Kota Batu Hijau masih terasa panas, meski matahari mulai terbenam di ufuk barat. Bau darah samar masih tercium di atas panggung batu arena, saksi bisu dari kebrutalan yang baru saja terjadi.

Wang Tian, Patriark Keluarga Wang, berdiri dengan tubuh gemetar. Aura Ranah Pengumpulan Qi Tingkat 9 Puncak miliknya bergejolak tidak stabil, membuat udara di sekitarnya bergetar. Matanya merah menyala menatap punggung Lin Xiao yang berjalan santai menjauh.

"Lin Hai!" Wang Tian meraung, suaranya seperti guntur yang membelah langit sore. "Kau... Kau membiarkan anakmu melakukan kekejaman seperti itu?! Menghancurkan masa depan Lei'er sama saja dengan menyatakan perang total terhadap Keluarga Wang!"

Lin Hai berbalik. Dia berdiri melindungi putranya, wajahnya keras bagai batu karang. "Perang? Jangan munafik, Wang Tian! Semua orang melihatnya. Putramu berniat membunuh Xiao'er dengan teknik Cakar Pembelah Jantung. Dia bahkan menggunakan teknik terlarang untuk membakar darahnya. Jika Xiao'er tidak kuat, yang menjadi mayat di sana adalah putraku!"

"Hutang darah harus dibayar darah!" Wang Tian mengangkat tangannya, energi Qi terkumpul membentuk cakar raksasa di udara, siap menghantam rombongan Keluarga Lin.

"Cukup!"

Sebuah suara tenang namun penuh tekanan terdengar dari tribun tertinggi.

Sosok pria paruh baya dengan jubah resmi kerajaan berdiri. Itu adalah Tuan Kota, Liu Ming. Dia mengangkat satu jari, dan tekanan spiritual yang luar biasa—jauh di atas Wang Tian dan Lin Hai—turun menimpa alun-alun.

Ranah Inti Emas (Golden Core)!

Cakar energi Wang Tian hancur seketika menjadi butiran cahaya. Wang Tian sendiri terdorong mundur tiga langkah, wajahnya memucat.

"Ini adalah turnamen resmi yang diawasi oleh Kekaisaran," ujar Tuan Kota Liu datar. "Aturan adalah aturan. Di atas panggung, hidup dan mati adalah nasib. Wang Lei kalah karena kemampuannya tidak cukup. Jika kau menyerang pemenang sekarang, kau menantang otoritas Tuan Kota."

Wang Tian mengepalkan tinjunya hingga darah menetes. Dia tahu dia tidak bisa melawan Tuan Kota. Liu Ming adalah utusan langsung dari Sekte Awan Putih, latar belakangnya terlalu kuat.

"Baik..." Wang Tian menunduk, menyembunyikan kilatan dendam di matanya. "Saya mengerti aturan Tuan Kota. Tapi ingat ini, Lin Hai... Kota Batu Hijau tidak cukup besar untuk dua harimau. Mulai hari ini, Keluarga Wang dan Keluarga Lin tidak akan bisa hidup di bawah langit yang sama."

Wang Tian berbalik, memerintahkan bawahannya untuk memungut tubuh Wang Lei yang tak sadarkan diri seperti sampah, lalu pergi dengan membawa aura kematian yang pekat.

Lin Hai menghela napas lega saat tekanan Tuan Kota menghilang. Dia menatap putranya. "Ayo pulang, Xiao'er. Malam ini akan panjang."

Malam itu, kediaman Keluarga Lin diterangi ratusan lampion. Namun, tidak ada pesta pora. Suasananya tegang. Para penjaga berpatroli dengan senjata lengkap, dan formasi pelindung kediaman diaktifkan sepenuhnya.

Di Aula Utama, Lin Hai duduk di kursi patriark. Lin Xiao duduk di sebelah kanannya—posisi yang menegaskan statusnya sebagai Pewaris Mutlak. Di hadapan mereka, para tetua duduk dengan wajah gelisah.

"Patriark! Ini bencana!" seru Tetua Ketiga dengan suara panik. "Wang Tian tidak akan tinggal diam. Bisnis obat-obatan kita di selatan sudah mulai diserang sore ini. Kita harus menyerahkan Lin Xiao untuk meredakan amarah mereka!"

"Diam!" bentak Lin Hai. Dia memukul meja hingga retak. "Menyerahkan anakku? Apa kau lupa margamu adalah Lin, bukan Wang?! Jika kita menyerahkan Xiao'er, Keluarga Wang tidak akan berhenti. Mereka akan menganggap kita lemah dan memakan kita sampai tulang!"

Lin Zhen, sang Tetua Agung, duduk diam di sudut. Matanya menatap Lin Xiao dengan sorot yang sulit diartikan—takut, benci, namun juga takjub. Dia melihat bagaimana Lin Xiao menghancurkan Wang Lei. Dia sadar, jika dia melawan Lin Xiao secara terbuka sekarang, lehernya sendiri mungkin akan patah.

"Tetua Agung," panggil Lin Xiao tiba-tiba.

Lin Zhen tersentak. "A-apa?"

"Kau terlihat kecewa karena aku menang," ujar Lin Xiao santai sambil memutar cangkir teh di tangannya. "Jangan lupa taruhan kita. Mulai besok, posisi Pewaris Muda adalah milikku secara mutlak. Dan kau berhutang permintaan maaf pada ayahku."

Wajah Lin Zhen memerah, tapi dia tidak berani meledak. Dia menelan harga dirinya bulat-bulat. "Aku... aku memegang janjiku. Tapi jangan senang dulu, Bocah. Besok adalah Fase Kedua Turnamen: Perburuan. Hutan adalah tempat tanpa hukum. Wang Tian pasti sudah menyiapkan kuburanmu di sana."

"Biarkan dia menyiapkan," jawab Lin Xiao dingin. "Aku hanya khawatir kuburannya tidak cukup muat untuk menampung semua mayat yang akan kukirim padanya."

Kepercayaan diri Lin Xiao membuat para tetua terdiam. Aura yang dipancarkannya bukan aura seorang pemuda 16 tahun, melainkan aura seorang jenderal perang yang sudah kenyang minum darah musuh.

Setelah rapat bubar, Lin Xiao kembali ke paviliunnya. Xiao Yun menyambutnya dengan mata bengkak karena menangis bahagia.

"Tuan Muda! Anda hebat sekali! Semua pelayan membicarakan tendangan Anda!"

Lin Xiao tersenyum tipis, mengusap kepala pelayan setianya itu. "Istirahatlah, Xiao Yun. Jangan biarkan siapa pun mendekati kamarku malam ini. Bahkan Ayah sekalipun."

"Baik, Tuan Muda!"

Di dalam kamar yang sunyi, Lin Xiao duduk bersila di atas tempat tidur. Dia mengeluarkan pedang hitam Xuan dan meletakkannya di pangkuan.

Dia memejamkan mata, kesadarannya tenggelam ke dalam lautan jiwa.

Di sana, Kitab Keabadian melayang megah, memancarkan cahaya keemasan. Halaman baru telah terbuka setelah kemenangannya melawan Wang Lei.

[Hadiah Misi Diterima] [Teknik Pedang Naga Langit - Bab Pertama: Naga Membelah Laut]

Informasi membanjiri otak Lin Xiao. Gambar-gambar hologram seorang pendekar bayangan yang memperagakan gerakan pedang muncul di benaknya.

Gerakannya sederhana, tapi mengandung prinsip Dao yang mendalam. Bukan tentang kecepatan semata seperti Pedang Kilat Hantu, tapi tentang Momentum dan Ledakan.

"Seperti ombak laut yang tenang di permukaan, tapi menyimpan kekuatan penghancur di dasarnya," gumam Lin Xiao, memahami esensi teknik itu.

Dia mengambil pedang Xuan. Kali ini, dia tidak mengalirkan Qi biasa. Dia mengalirkan Qi Naga yang telah dia tempa dari Inti Piton Sisik Besi.

Vwoom.

Pedang hitam itu bergetar. Pola-pola air di permukaan pedang tiba-tiba menyala dengan cahaya biru gelap. Berat pedang yang semula 50 kilogram, tiba-tiba terasa seringan bulu di tangan Lin Xiao.

"Ini resonansi!" mata Lin Xiao berbinar. "Ternyata pedang ini memiliki elemen air yang kuat. Sangat cocok dengan teknik Naga Membelah Laut."

Lin Xiao turun dari tempat tidur. Kamarnya sempit, tapi dia butuh mencoba satu gerakan.

Dia mengangkat pedang itu perlahan. Napasnya seirama dengan denyut pedang.

"Tebas."

Dia mengayunkan pedang itu secara vertikal. Pelan. Tanpa tenaga fisik yang terlihat.

Namun, saat pedang itu turun, udara di depannya terkompresi.

SREEEK!

Tidak ada ledakan. Hanya suara seperti kain sutra yang dirobek.

Lantai kayu di depan Lin Xiao terbelah rapi. Retakan itu menjalar terus ke dinding, menembus dinding kayu yang tebal, hingga keluar ke halaman.

Cahaya bulan masuk melalui celah dinding yang baru saja terbelah itu. Potongan dindingnya begitu halus, seolah-olah dipotong laser.

"Kuat," puji Lin Xiao. "Ini baru tingkat dasar. Jika aku menguasainya sepenuhnya, aku bisa membelah baju zirah Qi lawan dari jarak sepuluh meter."

Dia kembali duduk. Qi-nya terkuras hampir setengah hanya untuk satu tebasan itu. Teknik tingkat tinggi memang boros energi. Dia harus memulihkan diri untuk besok.

Besok adalah hari pembantaian.

1
jamanku
ga sabar nunggu
Op L
lanjutkan tor
Yuu Li
gas
Yuu Li
oke
Yuu Li
makinnnn seruuuu👍
Lucy Sandy
makin seru👍👍👍
Lucy Sandy
lanjutkan sampai tamat
Roy Kkk
ceritanya menarik
Roy Kkk
bagus👍👍👍👍👍
Roy Kkk
matap bangat karyamu
King Salman
bagus
Jinan 2
cepat update
Raikuu 1
bagus
Rayhan Purwanto
lanjutkan
Lamia Dante
semangat namatin
Lamia Dante
bagus ceritanya👍👍👍
Jake King
luar biasa ceritanya
Jake King
makin sery👍
Op L
ceritannya seru
Op L
makin seru lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!