Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.
Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.
Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.
Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.
Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
.
“Saya rela menjadi istri ketiga. Saya tidak menuntut apa pun dari Pak Gilang, selain status yang jelas."
Lila menatap ke arah Almira sambil menggelengkan kepalanya. Seharusnya Almira tidak menyetujui permintaan Rini, bukan?
Tapi…
"Benar, kamu tidak menuntut apapun?” Mata Almira memicing menatap Rini. “Gajinya Gilang?"
"Mbak Mira!” teriak Lila tidak percaya.
Rini mengangguk tegas. "Saya tidak butuh gaji Pak Gilang," jawabnya semakin tegas. "Saya hanya minta satu hal. Saya tidak lagi menjadi pembantu di rumah ini."
"Apa maksudmu?" teriak Lila tidak terima. "Kamu mau jadi nyonya di rumah ini?"
"Saya tidak bermaksud seperti itu, Mbak," jawab Rini tetap sopan. "Saya hanya tidak mau lagi diperintah-perintah oleh Mbak Lila. Tapi saya akan tetap melayani Bu Rosidah, karena beliau adalah ibu mertua saya, dan Pak Gilang, karena beliau adalah suami saya."
Ucapan Rini itu bagaikan tamparan keras bagi Lila. Rini telah berani menantangnya secara terbuka.
"Kamu..." Lila terdiam, tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan kemarahannya.
Almira menghela napas panjang, lalu menatap Gilang dengan tatapan yang terlihat sendu. "Gilang," ucap Almira, dengan nada yang dingin dan menusuk. "Apa kamu akan memberikan satu madu lagi untukku?”
Gilang merasa bingung dengan pertanyaan Almira. Di satu sisi ia merasa senang bisa bebas menikah dengan Rini. Tapi di sisi lain, dia tidak boleh menunjukkan itu secara terang-terangan.
“Mbak…?” Lila kembali menggelengkan kepala ke arah Almira.
"Aku pusing dengan perdebatan kalian,” seru Gilang. “Aku mau kerja. Terserah kalian mau bikin seperti apa.”
Almira mencibir dalam hati melihat pria itu pergi bahkan sebelum sarapan. "Dasar pecundang,” maki Almira dalam hati.
"Apakah artinya, Bu Mira menyetujui tuntutan saya?" tanya Rini dengan wajah antusias.
"Tidak!” tolak Lila tegas. “Aku tidak setuju. Dan kalian tidak akan bisa menikah tanpa ijin dariku!"
“Memangnya, dulu mbak Lila nikah sama Pak Gilang pake persetujuan Bu Mira?" Rini menatap Lila dengan sorot meremehkan.
“Kamu!" Lila menunjuk Rini dengan ujung telunjuknya. Rahang wanita itu mengeras menahan amarah. Rini mengupas kulit wajahnya secara tidak manusiawi.
Rini bergerak mendekati Almira dan duduk bersimpuh di hadapan wanita itu. "Terima saya, Bu. Saya akan jadi madu yang baik. Saya akan tetap melayani Ibu dengan baik.”
"Aku tidak mengerti, Rini?” ucap Almira yang sesungguhnya sudah tidak bisa menahan tawa. "Bagaimana bisa kamu punya keinginan seperti itu? Kamu tahu Gilang itu suamiku, dan kamu juga harusnya tahu. Aku, punya madu satu saja rasanya sakit. Malah sekarang kamu ingin menambah sakit ku?"
Rini menatap penuh permohonan. "Saya tidak ingin menyakiti Ibu. Tapi saya butuh keadilan."
"Apa Ibu akan membiarkan saja Gilang beristri lagi?” Almira menatap ke arah Bu Rosidah.
"Ibu…” Wanita tua itu tak bisa berkata-kata. Juga tak bisa memutuskan. Dalam hatinya ada rasa bimbang. Hubungannya dengan orang tua Lila….
Melihat kebimbangan Bu Rosidah, Rini dengan sigap mendekatinya dan bersimpuh di dekat kursi yang diduduki oleh wanita itu, dan meletakkan tangannya dengan lembut di atas pangkuan Bu Rosidah.
"Percayalah, Bu," ucap Rini, dengan suara yang lembut bak rayuan pulau kelapa "Saya akan menjadi menantu yang baik, yang bisa melayani Ibu dengan sepenuh hati. Tidak seperti seseorang yang hanya duduk diam bermain HP," lanjutnya sambil melirik ke arah Lila.
Mata Lila membola mendengar kata-kata Rini. Ia merasa tersindir dan sangat marah. Ucapan Rini itu seolah menelanjangi kelemahannya selama ini, yang memang sama sekali tak pernah sekalipun melayani ibu mertuanya.
Lila merasa posisinya di rumah itu semakin terancam. Jika Bu Rosidah menyetujui permintaan Rini, maka tamatlah riwayatnya di rumah itu.
Bu Rosidah menatap Rini dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tampak terkejut, namun juga sedikit tertarik dengan tawaran Rini. Ia selama ini memang merasa kurang diperhatikan oleh Lila dan Almira, yang lebih sibuk dengan urusan masing-masing.
"Rini," ucap Bu Rosidah. Suaranya pelan namun jelas. "Apa kamu benar-benar serius dengan apa yang kamu katakan? Kamu rela menjadi istri ketiga Gilang dan melayani Ibu dengan sepenuh hati?"
"Tentu saja, Bu," jawab Rini, meyakinkan. "Saya tidak akan pernah mengecewakan Ibu. Saya akan berusaha menjadi menantu yang terbaik yang pernah Ibu miliki."
Bu Rosidah terdiam memikirkan tawaran Rini. Ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan menantu yang bisa disuruh ini dan itu.
“Kalau nanti saya jadi istri Pak Gilang, Pak gilang tidak perlu menggaji saya. Uang yang harusnya untuk gaji saya bisa buat Ibu belanja, ke salon, senang-senang, gimana?”
Bu Rosidah menatap Rini dengan mata berbinar.
Almira menyemburkan makanan yang baru saja masuk ke mulutnya.
Riana terbelalak.
Lila mengepalkan tangannya.
"Baiklah," ucap Bu Rosidah, akhirnya. "Ibu setuju dengan permintaanmu, Rini. Ibu akan membujuk Gilang untuk menikahimu."
"Terima kasih banyak, Bu," ucap Rini. Wanita itu memeluk kaki Bu Rosidah dengan erat. Kepalanya yang tertunduk di pangkuan, menyembunyikan seringai lebar di bibirnya.
“Ibu!" teriak Lila marah.
"Ibu!” Almira ikut berteriak. Raut tidak rela yang tentu saja hanya pura-pura.
"Bagaimana bisa Ibu setuju?!" teriak Lila sambil menunjuk ke arah Rini yang masih bersandar di kaki Bu Rosidah. "Dia cuma pembantu, Bu."
Almira berdiri dan mendekati Bu Rosidah. "Ibu, apakah Ibu tidak mau berpikir ulang? Kalau Gilang menikah lagi, bagaimana dengan nama baik keluarga kita?" Suaranya terdengar begitu lirih.
"Hilih…" Bu Rosidah mencebik. "Orang luar tidak akan tahu kalau kalian gak koar-koar,” ucap Bu Rosidah.
“Ibu mau mengingkari perjanjian antara ibu dan ibuku?” tanya Lila dengan suara tertahan. Tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Bu Rosidah menatap Lila dengan tatapan dingin dan tegas. "Lila, Ibu sudah cukup sabar dengan sikapmu selama ini," ucap Bu Rosidah, dengan nada yang tajam. "Kamu sebagai menantu tak pernah melayani ibu dengan baik! Lagi pula perjanjianku dengan ibumu hanya menikahkanmu dengan Gilang, bukan berarti Gilang tidak bisa menikah lagi."
"Tapi, Bu..." Lila mencoba membela diri.
"Cukup, Lila!" potong Bu Rosidah, dengan suara yang keras. "Ibu sudah memutuskan, Gilang akan menikahi Rini. Dan kamu tidak berhak untuk menentang keputusan Ibu!"
Lila terdiam, wajahnya memerah padam karena marah.
"Almira," panggil Bu Rosidah, beralih menatap Almira. "Ibu tidak mau mendengar bantahan apapun!”
Almira tersenyum sinis dalam hati. Bu Rosidah hanya ingin memanfaatkan Rini untuk kepentingan pribadinya. Tapi ia tidak peduli, karena ia juga memiliki rencana sendiri.
“Baik, Bu," jawab Almira berpura-pura sedih. "Saya akan menerima apapun. keputusan Ibu."
"Bagus," balas Bu Rosidah dengan senyum puas. "Kalau begitu, kita semua sudah sepakat. Gilang akan menikahi Rini.”
"Lalu, kapan rencana pernikahan mereka?" tanya Almira.
"Nanti aku tanya Gilang dulu," jawab Bu Rosidah. " Lebih cepat lebih baik."
Semua larut dalam pikiran masing-masing.
Almira kembali tersenyum dalam hati. "Baiklah, rencanakan secepatnya. Aku akan menyiapkan hadiah!"
Bu Rosidah yang membayangkan hidupnya bak nyonya besar yang selalu dilayani.
Riana yang bingung dengan situasi yang terjadi.
Lila menatap Rini dengan tatapan yang penuh kebencian. Ia bersumpah, ia akan membalas dendam pada Rini dan membuat hidup gadis itu menderita.
Sementara itu, Gilang tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Hatinya bertanya-tanya, ada kejadian apa di rumah? Bayangan pernikahan dengan Rini membuatnya sering tersenyum sendiri. Ia tidak tahu, badai apa yang sedang menantinya di depan.
Bongko langsung Gilang 😀
Rosidah langsung stroke
Lila langsung brojol bayine
Riana langsung semaput, ternyata pas diperiksa semaput mergo meteng
Wis paket komplit arep riyoyo siap dinikmati 😀😀
Gagal maning gagal maning... Kagak jadi belah duren lagi si gilang🤣🤣🤣
Sambil berdiri semua pengang perutnya... ini gimana konsepnyaa/Facepalm//Facepalm/
"kali ini aku akan membiarkan pria lain...." kata tidak nya mana🧐🧐