NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjemput Raya

kembali di gudang, Vino meledak dalam tawa kemenangan yang keras sekali—bahkan sampai membungkuk karena perutnya sakit. Ia tidak bisa menahan kebahagiaan karena berhasil menjahili sang pemimpin yang biasanya sangat sulit digoyahkan itu.

.

"HAHAHA! AKU BERHASIL! AKU BENAR-BENAR BERHASIL!" teriak Vino sambil menunjuk-nunjuk ke arah Misca dengan tidak sopan—sesuatu yang tidak akan pernah berani dilakukan orang lain selain dia.

Bima dan teman-temannya hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka, tidak percaya bahwa ada orang yang berani seperti itu pada Misca. Jeka hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum geli—ia sudah terlalu terbiasa dengan kelakuan Vino yang kadang over the line tapi selalu lolos karena status sahabat terdekatnya.

Misca hanya mendengus pelan sambil mematikan rokoknya di asbak yang ada di meja samping kursinya. Ia lalu berdiri, menghabiskan sisa kopinya dalam satu tegukan, dan berjalan menuju pintu dengan langkah santai.

Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Vino," panggilnya dengan suara yang sangat tenang—terlalu tenang.

Vino langsung berhenti tertawa, merasakan ada sesuatu yang berbahaya dalam nada suara Misca.

"Nanti, kamu yang bayar semua makanan di festival," ujar Misca dengan nada yang masih sangat datar.

"APA?! MIS, TUNGGU—"

Tapi Misca sudah keluar dari gudang sebelum Vino sempat memprotes. Suara mesin motor sport-nya terdengar menyala, lalu perlahan menjauh meninggalkan gudang.

Jeka tertawa lepas untuk pertama kalinya hari itu. "Makanya, Vin. Jangan main-main sama Misca. Dia selalu punya cara untuk balas dendam dengan cara yang paling menyakitkan—di dompet."

Vino merosot ke lantai dengan wajah pucat. "Tapi... tapi kan untuk kebaikan dia juga! Aku cuma mau dia deket sama Raya!"

"Dan sekarang kamu harus bayar harga untuk 'kebaikan' itu," timpal Jeka sambil menepuk bahu Vino dengan simpatik. "Selamat menderita, sahabatku."

Bima dan teman-temannya hanya bisa tertawa kecil melihat interaksi unik antara ketua mereka dengan sahabat-sahabatnya. Mereka mulai mengerti bahwa di balik sosok dingin dan menakutkan Misca, ada sisi yang lebih manusiawi—sisi yang hanya ditunjukkan pada orang-orang tertentu yang sudah ia percaya sepenuhnya

Di rumah keluarga Misca yang besar dan mewah, suasananya sangat tenang. Laras dan Danu, orang tua Misca, sedang duduk santai di ruang keluarga yang luas sambil menikmati teh mereka. Danu sedang membaca koran bisnis, sementara Laras sedang memeriksa email pekerjaan di laptopnya.

Tiba-tiba, Misca muncul dari pintu depan dengan langkah yang tenang tapi terdengar jelas di rumah yang sunyi itu. Ia berjalan menghampiri kedua orang tuanya tanpa ekspresi, seperti biasa.

"Aku akan pergi ke festival di Alun-Alun malam ini," ujar Misca tanpa basa-basi, langsung to the point seperti biasanya.

BRAK!

Danu sampai menjatuhkan koran yang sedang dibacanya ke lantai. Laras hampir tersedak teh hangatnya yang baru saja ia teguk. Kedua orang tua itu menatap putra semata wayang mereka dengan ekspresi shock yang luar biasa—seolah Misca baru saja mengatakan ia akan terbang ke bulan.

"Misca?" Laras adalah orang pertama yang berhasil berbicara setelah shock beberapa detik. "Kamu... serius mau ke festival? Festival yang ramai itu?"

Misca mengangguk sekali, sangat singkat. "Ya."

"Dengan siapa? Apa kamu yakin mau berada di keramaian?" tanya Danu sambil bangkit dari duduknya, mencoba menutupi keterkejutannya dengan terlihat lebih tenang. Tapi tangannya yang gemetar saat mengambil kembali korannya menunjukkan betapa terkejutnya ia.

"Dengan teman-temanku," jawab Misca dengan nada yang masih sangat datar. "Aku perlu melakukan observasi lapangan tentang dinamika sosial di keramaian."

Meskipun alasannya terdengar sangat kaku dan teknis—sangat khas Misca yang selalu membingkai segala sesuatu dengan logika dan efisiensi—kedua orang tuanya tahu bahwa ini adalah perkembangan yang luar biasa positif.

Laras dan Danu saling berpandangan dengan mata yang berbinar. Mereka tahu, putra mereka yang sangat tertutup dan jarang sekali bersosialisasi di luar urusan sekolah , akhirnya mau mencoba keluar dari zona nyamannya.

Laras berdiri dan menghampiri Misca, lalu menyentuh pipi putranya dengan lembut—sebuah gestur kasih sayang yang jarang ia lakukan karena Misca tidak terlalu suka dengan kontak fisik. "Tentu saja, Nak. Kamu boleh pergi. Ibu senang sekali kamu mau keluar dengan teman-temanmu."

Danu ikut menghampiri dan menepuk bahu Misca dengan bangga. "Hati-hati di jalan, ya. Jangan pulang terlalu larut. Dan..." ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang, "ini, buat jajan di sana. Beliin apa aja yang kamu mau."

Misca menatap uang yang disodorkan ayahnya. "Aku punya uang sendiri."

"Aku tahu," jawab Danu sambil tersenyum. "Tapi ini dari Ayah. Anggap saja bonus karena kamu akhirnya mau pergi ke acara sosial. Ambil saja."

Misca akhirnya menerima uang itu dan memasukkannya ke saku celananya. "Terima kasih."

"Oh, dan Misca," panggil Laras saat Misca sudah hampir berbalik untuk pergi ke kamarnya. "Kamu... menjemput seseorang? Atau berangkat sendiri?"

Misca terdiam sejenak. Ada sedikit—sangat sedikit—perubahan di ekspresinya yang biasanya sangat datar. Sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi dengan jelas.

"Aku akan menjemput... teman," jawabnya akhirnya dengan sangat hati-hati memilih kata.

Laras dan Danu sekali lagi saling berpandangan—kali ini dengan senyum yang lebih lebar dan penuh arti. Mereka tahu, "teman" yang dimaksud Misca mungkin bukan sekadar teman biasa. Tapi mereka bijak untuk tidak menggali lebih dalam dan membuat Misca tidak nyaman.

"Baiklah, Nak. Enjoy your time," ujar Danu sambil kembali duduk, berusaha keras menahan senyum lebar yang ingin merekah di wajahnya.

Misca mengangguk sekali lagi, lalu naik tangga menuju ke kamarnya dengan langkah yang sama tenangnya—seolah percakapan tadi adalah hal yang sangat biasa.

Tapi begitu ia sampai di kamarnya dan menutup pintu, Misca berdiri terdiam di tengah ruangan selama beberapa detik. Ia menatap pantulannya di cermin besar yang ada di sudut kamar—menatap wajahnya sendiri yang terlihat sama datarnya seperti biasa.

"Kenapa aku melakukan ini?" gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Ia tahu jawabannya. Ini bukan cuma soal memberi waktu istirahat untuk otaknya yang terus bekerja tanpa henti. Ini bukan cuma soal menghormati ajakan teman-temannya.

Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat ia setuju untuk pergi—dan bahkan setuju untuk menjemput Raya, meskipun itu berarti ia harus keluar dari zona nyamannya lebih jauh lagi.

Misca menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang tidak produktif itu. Ia berjalan ke meja belajarnya dan membuka laptop, berencana untuk mengecek laporan terakhir tentang pergerakan The Phantom.

Tapi pikirannya terus melayang. Ke festival nanti malam. Ke teman-temannya yang pasti akan sangat excited. Ke makanan-makanan yang akan mereka coba. Dan... ke Raya yang akan ia jemput.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Misca merasa sedikit—sangat sedikit—nervous tentang sesuatu yang bukan berkaitan dengan pertarungan atau strategi.

Dan perasaan itu... aneh tapi tidak sepenuhnya tidak menyenangkan.

Malam pun tiba. Pukul 19.30 tepat—karena Misca selalu tepat waktu dalam segala hal—motor sport hitamnya yang mengkilap berhenti tepat di depan pagar rumah Raya. Suara mesin motor yang halus namun bertenaga itu terdengar sangat jelas di jalanan yang mulai sepi.

Misca turun dari motornya dengan gerakan yang sangat tenang dan natural. Ia mengenakan jaket kulit hitam tipis di atas kaus putih polos, celana jins hitam, dan sepatu boots yang terlihat sangat cocok dengan motor sport-nya. Rambutnya yang biasanya agak berantakan kali ini terlihat lebih rapi—meskipun ia tidak akan mengakui bahwa ia sempat berdiri di depan cermin selama lima menit hanya untuk memutuskan apakah ia perlu merapikan rambutnya atau tidak.

Motor sport hitamnya tampak berkilau dan gagah di bawah lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Mesin masih menyala dengan suara rendah yang terdengar sangat keren.

Di teras rumahnya yang sederhana, Raya sudah menunggu dengan gugup. Ia sudah siap sejak setengah jam yang lalu—terlalu excited dan nervous untuk bisa duduk tenang di dalam rumah. Ia mengenakan gaun biru muda pilihannya kemarin, rambutnya diikat setengah ke belakang, dan wajahnya sedikit di-makeup natural oleh Dhea tadi sore lewat video call.

Saat melihat Misca turun dari motor dengan penampilan yang terlihat sangat... keren dan berbeda dari biasanya, jantung Raya langsung berdegup lebih kencang. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Misca berjalan mendekati pagar dengan langkah santai. Ia berhenti di depan pagar, menatap Raya yang berdiri di teras dengan pandangan yang sulit dibaca.

"Motormu... keren sekali," komentar Raya sambil tersenyum kecil—lebih sebagai usaha untuk memecah kecanggungan yang ia rasakan. Ia berjalan keluar dari pagar, membawa tas kecil selempang di bahunya.

Misca melirik sekilas ke motornya, lalu kembali menatap Raya. "Motor ini ringan dan lincah, jadi lebih gampang buat lewat jalan kecil kalau macet," jawabnya dengan nada yang sangat praktis dan teknis—sangat khas Misca yang selalu melihat segala sesuatu dari sisi efisiensi dan fungsi.

Tapi kemudian, ada jeda kecil sebelum ia menambahkan dengan suara yang sedikit lebih pelan, "Kamu... terlihat berbeda."

Raya langsung merasa wajahnya memanas. Itu adalah pujian, kan? Atau Misca hanya mengomentari fakta objektif? Dengan Misca, selalu sulit untuk membedakan.

"A-ah, iya. Dhea yang bantu pilih," jawab Raya sambil berusaha keras tidak terlihat terlalu gugup. "Aku jarang pakai gaun, jadi... agak aneh mungkin."

"Tidak aneh," potong Misca cepat—mungkin terlalu cepat—sebelum ia menyadari apa yang baru saja ia katakan. Ia seolah berusaha menutupi kecanggungannya sendiri dengan segera menyodorkan helm cadangan ke arah Raya. "Pakai ini."

Raya menerima helm itu dengan tangan yang sedikit gemetar—bukan karena takut naik motor, tapi karena nervous. Ia memasang helm itu dengan sedikit canggung karena ini pertama kalinya ia menggunakan helm fullface yang cukup besar.

Misca memperhatikan Raya yang kesulitan mengencangkan tali helm. Tanpa banyak bicara, ia melangkah lebih dekat dan mengambil alih tali helm itu. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan presisi, ia membantu Raya mengencangkan tali helm sampai pas—tidak terlalu ketat tapi juga tidak terlalu longgar.

Jarak antara wajah mereka sangat dekat saat Misca melakukan itu. Raya bisa mencium aroma cologne yang sangat subtle dari Misca—aroma yang maskulin tapi tidak berlebihan. Jantungnya berdegup semakin kencang.

"Sudah," ujar Misca setelah selesai, lalu ia dengan cepat mundur beberapa langkah—seolah baru menyadari betapa dekatnya mereka tadi.

Mereka naik ke motor. Misca duduk di depan dengan postur yang sangat tegak dan natural—jelas terlihat bahwa ia sudah sangat terbiasa dengan motor ini. Raya duduk di belakang dengan jarak yang cukup jauh, tidak berani terlalu dekat. Kedua tangannya memegang pegangan di belakang jok dengan erat.

"Pegangan yang kuat. Aku akan jalan," ujar Misca sambil menoleh sedikit ke belakang.

Motor mulai melaju dengan smooth dan tenang. Tapi saat mereka sampai di tikungan pertama, Raya yang tidak terbiasa naik motor sport sedikit kehilangan keseimbangan. Secara refleks, ia langsung memegang pinggang Misca untuk menjaga keseimbangan—pegangan yang erat karena takut jatuh.

Misca merasakan tangan Raya di pinggangnya. Tubuhnya sedikit menegang untuk sesaat, tapi ia tidak berkomentar apa-pun. Ia bahkan sedikit memperlambat kecepatannya—memastikan Raya merasa aman dan nyaman.

Selama perjalanan, tidak banyak kata yang terucap antara mereka. Namun, keheningan di atas motor itu tidak terasa canggung—justru terasa nyaman dan tenang. Angin malam yang sejuk menerpa wajah mereka yang terlindung helm, suara mesin motor yang halus menjadi background music alami, dan lampu-lampu yang mereka lewati menciptakan suasana yang hampir... romantis.

Raya bisa merasakan kehangatan tubuh Misca melalui jaket yang ia kenakan. Ia sesekali mencuri pandang pada punggung tegap Misca—punggung yang terlihat sangat kokoh dan bisa diandalkan. Ada perasaan aman yang aneh yang ia rasakan saat bersama Misca—perasaan bahwa tidak ada yang bisa menyakitinya selama ia bersama pemuda ini.

Misca, di sisi lain, sangat fokus pada jalanan—tapi sebagian dari pikirannya tidak bisa tidak menyadari kehadiran Raya di belakangnya. Sentuhan tangan Raya di pinggangnya terasa... berbeda. Tidak mengganggu, tapi juga tidak bisa ia abaikan sepenuhnya.

Ia berkendara dengan sangat hati-hati—jauh lebih hati-hati daripada biasanya. Setiap lubang di jalan ia hindari, setiap tikungan ia ambil dengan sangat smooth, setiap pengereman ia lakukan dengan sangat lembut. Ia tidak sadar bahwa ia sedang berusaha keras membuat Raya merasa seaman dan senyaman mungkin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!