Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Nyanyian dari Kafe Semesta
Sudah satu minggu sejak terakhir kali dirinya tidak sengaja menabrak Rangga, Senja tidak lagi melihat sosok pria berompi oranye itu di parkiran kantor.
Setiap kali memarkirkan mobil, matanya refleks mencari ke arah tikungan tempat mereka pertama kali bertemu. Berharap akan melihat Rangga lagi. Tapi, yang ada hanyalah Pak Bejo, tukang parkir senior yang wajahnya selalu terlihat lelah.
Karena rasa penasaran yang tidak bisa dibendung, Senja akhirnya memberanikan diri menghampiri Pak Bejo sore itu, sambil membawa sebotol air mineral dingin.
"Pak, Mas Rangga sudah tidak kerja di sini lagi?" tanya Senja setelah berbasa-basi sebentar.
Pak Bejo menerima botol itu dengan senang hati. "Oalah, Mbak Senja. Rangga sudah balik ke habitat aslinya, Mbak. Kemarin dia cuma bantu saya sebentar karena saya sakit."
"Habitat asli? Memangnya Mas Rangga kerja di mana, Pak?"
"Dia itu penyanyi, Mbak. Suaranya bagus sekali. Kalau malam Minggu begini, biasanya dia manggung di Kafe Semesta daerah Legian. Mbak cari saja di sana kalau mau ketemu," jawab Pak Bejo sambil tersenyum lebar.
Senja tertegun. Penyanyi? Pikirannya langsung melayang membayangkan pria yang ia tabrak itu memegang mikrofon, bukan lagi mengatur barisan motor.
...----------------...
Malam Minggu di Bali selalu penuh dengan hingar bingar. Senja yang biasanya lebih suka menghabiskan waktu dengan menggambar sketsa bangunan di kamarnya, kini justru terjebak dalam kemacetan menuju Legian. Ada dorongan aneh di hatinya untuk melihat Rangga dengan identitas barunya itu.
Begitu sampai di Kafe Semesta, telinganya langsung disambut petikan gitar akustik yang lembut. Kafe itu tidak terlalu besar, tapi sangat hangat dengan lampu-lampu gantung berwarna kuning temaram. Senja memilih meja paling pojok, berusaha agar kehadirannya tidak terlalu mencolok.
Di atas panggung kecil, ia melihat sosok itu.
Rangga tampak sangat berbeda. Ia mengenakan kaos hitam polos yang pas di tubuhnya, rambutnya tertata sedikit acak tapi terlihat keren di bawah sorotan lampu panggung.
Saat jemarinya mulai memetik senar gitar, suasana kafe mendadak hening.
Rangga mulai bernyanyi. Suaranya berat, sedikit serak, tapi terasa sangat tulus saat membawakan lagu tentang kerinduan. Senja terpaku. Ia tidak menyangka tukang parkir yang tempo hari meringis kesakitan itu bisa terlihat begitu berkarisma saat sedang bermusik.
Saat lagu berakhir, Rangga menyeka keringat di dahinya. Matanya menyapu ruangan, dan tiba-tiba pandangannya terkunci pada sosok Senja. Rangga sempat terlihat terkejut selama beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah senyum lebar terukir di wajahnya.
"Terima kasih semuanya," ucap Rangga ke mikrofon, matanya masih menatap Senja. "Sesi pertama selesai, kita lanjut lima belas menit lagi."
Rangga segera meletakkan gitarnya dan berjalan menghampiri meja Senja.
"Mbak Arsitek? Benar-benar kejutan. Saya pikir Mbak salah alamat," sapa Rangga sambil tertawa kecil.
Senja tersenyum canggung. "Pak Bejo yang bilang Mas Rangga di sini. Saya cuma mau memastikan kalau lutut Mas sudah benar-benar sembuh."
Rangga menarik kursi di depan Senja tanpa ragu.
"Sudah sembuh total, Mbak. Apalagi sekarang yang nanya langsung orang yang menabrak saya."
"Mas sudah lama jadi penyanyi?" tanya Senja, mencoba mengalihkan pembicaraan karena merasa wajahnya mulai memanas.
"Lama juga, Mbak. Tapi ya begini saja, dari kafe ke kafe. Mimpi saya sih ingin punya studio sendiri, ingin jadi DJ atau produser, biar tidak cuma menyanyikan lagu orang lain terus," Rangga bercerita dengan binar mata yang penuh ambisi.
Senja mendengarkan dengan saksama. Baginya, ambisi Rangga terasa sangat murni. "Mas punya bakat. Kalau didukung dengan alat yang benar, Mas pasti bisa lebih sukses dari ini."
"Alat musik itu mahal, Mbak. Buat makan sehari-hari saja saya harus pintar-pintar bagi waktu. Tapi nggak apa-apa, jalani saja dulu," sahut Rangga pelan, suaranya terdengar pasrah tapi tetap tenang.
Entah karena suasana kafe yang romantis atau karena hatinya yang memang mudah tersentuh, Senja tiba-tiba merasa ingin menjadi bagian dari mimpi pria itu. "Mas... kalau Mas mau, aku bisa bantu. Aku punya sedikit tabungan. Mungkin kita bisa mulai beli alat-alatnya pelan-pelan."
Rangga terdiam. Menatap Senja lama sekali, seolah sedang mencari kejujuran di mata wanita itu. "Kenapa kamu baik sekali, Mbak? Kita bahkan baru kenal."
"Karena aku percaya sama Mas. Dan aku ingin lihat Mas sukses di atas panggung yang lebih besar," jawab Senja tulus.
Malam itu, percakapan mereka mengalir begitu saja. Rangga tidak lagi memanggilnya "Mbak", dan Senja merasa sekat-sekat di hatinya perlahan runtuh.
Tiga minggu berlalu dengan sangat cepat. Hubungan mereka berkembang jauh lebih intens dari yang dibayangkan Senja. Hampir setiap sore Senja menemani Rangga latihan, bahkan ia benar-benar membelikan perlengkapan musik yang Rangga butuhkan. Bagi Senja, uang itu tidak ada artinya dibanding senyum bahagia yang terpancar dari wajah calon suaminya.
Puncaknya terjadi di pinggir pantai Jimbaran. Rangga mengajak Senja makan malam sederhana dengan jagung bakar dan es kelapa muda di atas pasir.
"Senja," panggil Rangga. Suaranya terdengar lebih serius dari biasanya.
"Iya, Mas?"
Rangga mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Di dalamnya ada sebuah cincin perak yang sangat sederhana.
"Aku tahu aku belum punya apa-apa sekarang. Aku cuma laki-laki yang hidupnya masih menumpang di kebaikan kamu. Tapi kalau kamu mau sabar, aku ingin kita jalani masa depan bareng-bareng. Kamu mau menikah denganku?"
Senja merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak. Air mata haru mulai menggenang di sudut matanya. Ia tidak peduli Rangga punya apa atau tidak. Ia hanya merasa Rangga adalah satu-satunya orang yang membutuhkannya dengan tulus di pulau ini.
"Iya, Mas. Aku mau," jawab Senja mantap.
Rangga langsung memeluk Senja erat, mencium keningnya berkali-kali. "Terima kasih, Sayang. Aku janji, aku akan kerja keras. Aku akan ratukan kamu di rumah kita nanti."
Senja tersenyum dalam pelukan itu. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung karena bisa membantu pria yang ia cintai dari titik nol. Ia membayangkan betapa indahnya nanti saat mereka pindah ke rumah pribadinya di Semarang dan memulai hidup baru.
Senja benar-benar tidak menyadari bahwa janjinya untuk "sabar" menemani dari nol akan dibalas dengan pengkhianatan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan dalam mimpi buruknya sekalipun.
Senja tidak tau, biasanya kesuksesan akan merubah watak seseorang, ia begitu mempercayai Rangga dengan segenap hatinya, entah dirinya buta karena cinta, atau memang Senja adalah pribadi yang mudah tersentuh.
Bersama Rangga ia merasa kekosongan karena kehilangan ayahnya kini terisi.
awas jangan smpai nyesel iya
rangga udah keterlaluan
bawa semua bukti" nya kalau rangga itu ga baik biar segera diproses