Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Sisi melangkah masuk ke dalam mansion dengan senyum manis. Namun langkahnya terhenti begitu melihat Lucien dan ayahnya duduk di ruang tamu, menenggak minuman keras bersama.
Baru sebentar aku pergi, Ayah sudah mengajak Lucien minum. Sial, memalukan.
Sisi hendak melangkah maju, tetapi tubuhnya membeku ketika mendengar ucapan ayahnya kepada Lucien.
“Jaga putriku, Menantu. Aku tahu kalian tidak saling mencintai, tapi kuharap kalian bisa saling memperlakukan dengan baik. Tahan saja sikap Sisi dia memang keras kepala. Tapi hatinya murni dan baik,” ujar ayahnya, diselingi tawa lemah.
Sisi tidak tahu harus merasa apa. Namun satu hal yang pasti, ia tidak akan tersentuh oleh kepedulian yang terdengar palsu itu. Jika ayahnya benar-benar peduli, pria itu tidak akan membiarkannya menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai.
“Akan kulakukan, Ayah,” jawab Lucien serius, lalu menatap Sisi tepat di mata.
Sisi segera memutus tatapan itu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk dan duduk. Begitu ia duduk, lengan Lucien langsung melingkar di pinggangnya. Sisi sedikit terkejut, perlakuan seperti ini bukan sesuatu yang biasa baginya.
Dan ia tahu, ia tidak boleh terbiasa.
Karena semua ini hanyalah sandiwara.
Namun entah mengapa, ada nyeri samar di dadanya setiap kali ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini hanya akting.
Elowen datang membawa sepiring buah sebagai camilan. Sisi kembali terkejut ketika Lucien dengan tenang meletakkan beberapa butir anggur di piringnya.
“Makanlah. Aku tahu kau suka ini,” ucapnya.
Sisi tertegun. Matanya hampir membulat ketika Lucien tersenyum, senyum yang terlalu manis untuk sekadar sandiwara.
Astaga… rasanya ingin datang ke rumah ini bersamanya setiap hari, hanya untuk melihat senyum itu. Meski palsu.
Sial.
Sisi membalasnya dengan senyum tipis, lalu memakan anggur itu. Mereka kembali mengobrol dengan ayahnya. Sesekali Sisi ikut bergabung saat pembicaraan menyentuh dunia bisnis. Meski seorang desainer interior, ia tetap memahami hal-hal di luar bidangnya.
Namun lebih sering, pikirannya melayang setiap kali Lucien kembali menambahkan anggur ke piringnya dan menatapnya dengan senyum yang sama.
Sialan.
Bagaimana pria itu tahu bahwa ia menyukai anggur? Bukankah Lucien selalu bersikap seolah tidak peduli padanya?
Sisi menahan napas saat Lucien membungkuk mendekat.
“Berhenti bertanya-tanya bagaimana aku tahu apa yang kau suka,” bisiknya pelan. “Apa pun yang kau suka adalah hal yang kubenci. Jadi berhenti berasumsi.”
Ucapan itu langsung mengingatkan Sisi betapa pria itu membenci wanita.
Ia memilih diam. Tidak menjawab. Tidak melanjutkan makan.
Apakah ia munafik jika berharap?
Tentu saja ia berharap.
Meski hanya sedikit.
***
Sisi meminta izin pada suaminya untuk mengambil sesuatu di kamarnya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh pasangan itu untuk berbincang dengan Lucien tentang kemungkinan bantuan bagi perusahaan mereka.
Namun Lucien hanya menatap gelas minumannya tanpa ekspresi, memutar cairan di dalamnya perlahan.
Membuang waktu, batinnya.
Selvara menyeringai ketika menyadari Sisi tidak ada. Tanpa ragu, ia duduk di samping Lucien dengan senyum menggoda. Namun pria itu bahkan tidak meliriknya.
Wajah Selvara langsung merengut.
“Permisi. Kalau Anda ingin istirahat, kami punya kamar tamu yang nyaman,” ucap Selvara lembut, mencoba merayu.
“Aku nyaman di sini. Kau boleh pergi kalau mau,” potong Lucien datar sambil meneguk minumannya.
“Kami akan istirahat dulu,” pamit ayah dan ibu Selvara sebelum naik ke atas.
Lucien hanya mengangguk singkat. Elowen sempat melirik Selvara dan mengedipkan mata, seolah memberi isyarat.
Selvara tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap wajah Lucien. Sejak pertama melihat pria itu, ia langsung terpikat, meski pria itu kini adalah suami kakak tirinya.
Seandainya aku yang terpilih, pasti aku yang ada di pelukan pria sempurna ini.
“Lucien, apa kau bosan? Mau ke taman?” ajak Selvara.
Lucien menghela napas singkat. Ia menoleh ke arah kamar yang dimasuki Sisi, lalu menjawab singkat, “Baik.”
Mereka berjalan keluar.
“Lucien, apa kau sangat mencintai kakakku?” tanya Selvara tiba-tiba.
Lucien berhenti dan menatap sebuah tanaman besar di taman.
“Ini bunga langka?” tanyanya tenang, sengaja mengalihkan topik.
Selvara tidak menyadarinya.
“Aku tidak ta--” Ucapannya terputus ketika Lucien melangkah menjauh. Selvara mendengus kesal, lalu mengejarnya.
“Aku hampir saja menjadi istrimu.”
Lucien berhenti. Alis tebalnya mengerut.
“Apa maksudmu?”
“Seharusnya aku yang menjadi kencan butamu. Ibuku mempertimbangkan kakakku karena dia kehilangan ibunya sejak kecil. Agar tidak terlihat memihak, ibu memberi kesempatan pada kakakku,” ujar Selvara panjang lebar.
“Adik tiri?” tanya Lucien datar.
“Benar. tapi berpura-pura seperti kakak-adik kandung. Lagipula… sebelum ibunya meninggal, ada kabar bahwa dia punya pria lain. Ayah bahkan meragukan apakah Sisi benar-benar anak kandungnya.”
Ekspresi Lucien berubah, namun bukan reaksi yang diharapkan Selvara.
“Bagaimana kau begitu yakin aku akan memilihmu jika kau yang datang?” tanya Lucien tajam.
Wajah Selvara memucat.
“Percaya diri pada penampilanmu? Kecerdasanmu? Sikapmu?” lanjut Lucien dingin. “Apa pun sumber kesombonganmu, itu tidak berarti apa-apa bagiku. Kalau bukan dia, itu tidak otomatis menjadi kau.”
Kata-katanya menghantam Selvara tanpa ampun. Air mata langsung jatuh.
Namun Lucien tidak peduli.
Ia berbalik dan meninggalkan Selvara sendirian di taman.