Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.2
Shen Yu tidak berlari ke dalam hutan malam itu. Kakinya gemetar, bukan hanya karena dinginnya angin malam, tetapi karena realitas yang membentur kesadarannya. Hutan di malam hari adalah wilayah kematian bagi manusia fana; serigala, ular berbisa, atau bahkan bandit bisa saja bersembunyi di sana. Jika dia mati konyol dimakan binatang buas, mimpinya menjadi Kultivator akan berakhir menjadi tumpukan tulang belulang.
Ia kembali ke kamarnya, berbaring di atas dipan jerami yang keras. Matanya menatap langit-langit kayu yang gelap, telinganya menangkap suara dengkuran halus ayahnya dari kamar sebelah.
"Aku harus sabar," bisiknya pada diri sendiri, mencengkeram selimut erat-erat. "Kultivasi membutuhkan ketenangan hati, begitu kata buku itu."
Ia tidak tidur sedetik pun.
Saat ayam jantan pertama berkokok, ketika langit timur baru saja berubah dari hitam menjadi abu-abu pucat, Shen Yu bangkit. Ia bergerak tanpa suara seperti kucing, mengambil keranjang anyaman bambu dan sebuah parang kecil berkarat di dapur.
Jika ayahnya bertanya, ia punya alasan sempurna: persediaan kayu bakar menipis, dan kayu terbaik didapat saat embun pagi masih turun.
Shen Yu melangkah keluar. Udara pagi Desa Qinghe menusuk tulang, kabut tebal menyelimuti jalan setapak, membuat dunia terlihat samar dan misterius.
Ia berjalan cepat menuju perbatasan hutan. Semakin dekat ia ke lokasi jatuhnya cahaya semalam, semakin aneh suasana di sekitarnya. Hutan yang biasanya riuh oleh suara serangga pagi kini sunyi senyap. Terlalu sunyi. Burung-burung seolah enggan berkicau, seakan alam sedang menahan napas karena takut.
Sekitar dua kilometer masuk ke dalam hutan, hidung Shen Yu menangkap bau tajam. Bukan bau kayu busuk atau tanah basah, melainkan bau ozon seperti udara sesaat setelah petir menyambar bercampur dengan bau amis logam yang samar.
Ia mempererat genggamannya pada gagang parang. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga terdengar di telinganya sendiri.
Ia menyibakkan semak belukar yang hangus. Daun-daun di sini tidak hijau, melainkan layu dan menghitam, seolah kehidupan telah dihisap paksa dari mereka.
Di sana, di sebuah bukaan kecil di antara pepohonan tua, tanah telah terbongkar hebat membentuk kawah dangkal. Asap tipis masih mengepul dari pusat kawah.
Dan di tengah kekacauan itu, bersandar pada sebuah batu besar yang retak, duduklah seseorang.
Itu adalah seorang pria berjubah biru langit kini robek dan bernoda darah merah kehitaman. Rambut panjangnya berantakan, dan sebuah pedang perak tergeletak patah menjadi dua di sampingnya.
Shen Yu terdiam, kakinya membeku. Ini adalah pertama kalinya ia melihat seorang Kultivator dengan mata kepalanya sendiri. Sosok yang dalam dongeng digambarkan agung bak dewa, kini tampak lebih rapuh daripada pengemis di pasar desa.
Pria itu terbatuk, memuntahkan darah segar. Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya terkulai lemas. Matanya yang tajam tiba-tiba terbuka, langsung menatap ke arah semak tempat Shen Yu bersembunyi.
Tatapan itu bagaikan pedang. Shen Yu merasa seolah-olah jiwanya sedang ditelanjangi.
"Siapa di sana?" suara pria itu lemah, namun membawa tekanan yang membuat lutut Shen Yu goyah. "Keluar!"
Shen Yu tahu ia tidak bisa lari. Dengan tangan gemetar, ia melangkah keluar dari persembunyian, mengangkat keranjang bambunya tinggi-tinggi sebagai tanda ia bukan ancaman.
"A-aku hanya pencari kayu bakar, Tuan Abadi," suara Shen Yu serak. "Aku... aku melihat cahaya semalam."
Mata kultivator itu menyipit, memindai Shen Yu dari atas ke bawah. Menyadari itu hanya seorang bocah fana tanpa energi Qi sedikitpun, kewaspadaannya sedikit menurun, digantikan oleh rasa sakit yang luar biasa.
"Air..." desis pria itu.
Tanpa berpikir dua kali, Shen Yu menurunkan keranjangnya. Ia mengambil tabung bambu berisi air minum yang ia bawa dari rumah, lalu berlutut di samping pria itu dengan hati-hati. Ia membantu meminumkan air itu ke bibir sang kultivator yang pecah-pecah.
Pria itu minum dengan rakus, lalu mengatur napasnya yang berat. Ia mengeluarkan sebutir pil kecil berwarna hijau dari balik jubahnya dan menelannya, namun wajahnya tetap pucat pasi. Luka di dadanya terlalu parah; ada energi gelap yang merayap di sekitar lukanya, mencegah penyembuhan.
"Terima kasih, Nak," ucap pria itu pelan. Ia menatap Shen Yu lagi, kali ini dengan rasa ingin tahu yang aneh. "Kau tidak takut padaku? Orang biasa biasanya lari ketakutan melihat darah dan aura pembunuh."
"Aku takut," jawab Shen Yu jujur, menatap langsung ke mata pria itu. "Tapi aku lebih takut hidup tanpa mengetahui apa yang ada di balik langit."
Kultivator itu tertegun sejenak. Ia tertawa kecil, tawa yang berakhir dengan batuk darah lagi. "Menarik. Seorang bocah petani dengan ambisi sebesar gunung."
Pria itu merogoh saku jubahnya dengan tangan gemetar, mengeluarkan sebuah benda. Itu adalah kepingan giok berwarna hijau lumut, berbentuk bundar namun retak di bagian tengahnya, seolah pernah dipukul benda keras. Giok itu tampak tua dan tidak berharga.
"Dengarkan aku," bisik kultivator itu, suaranya makin memudar. "Musuhku... mereka mungkin masih mencari. Aku tidak bisa bertahan lama di sini."
Ia menjejalkan giok retak itu ke tangan Shen Yu yang kasar.
"Anak kecil… kau punya mata yang ingin menentang langit. Giok ini... simpanlah. Jangan tunjukkan pada siapa pun, bahkan orang tuamu. Jika kau punya takdir, benda ini akan membimbingmu."
"Tuan, apa ini?" tanya Shen Yu bingung, merasakan dingin yang aneh dari giok itu meresap ke telapak tangannya.
"Pergilah! Sekarang!" Pria itu tiba-tiba mendorong Shen Yu dengan sisa tenaganya. Wajahnya menegang, merasakan sesuatu mendekat dari kejauhan. "Lupakan kau pernah melihatku. Lari!"
Shen Yu tersentak mundur. Naluri bertahan hidupnya menjerit. Ia memasukkan giok itu ke dalam balik bajunya, menyambar keranjang dan parangnya, lalu berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan hutan itu.
Ia tidak menoleh ke belakang. Namun, baru seratus langkah ia berlari, sebuah ledakan energi yang jauh lebih besar dari sebelumnya mengguncang hutan di belakangnya, disertai teriakan terakhir yang memilukan.
Shen Yu terus berlari, air mata ketakutan dan kegembiraan bercampur di wajahnya. Ia menyentuh dadanya, merasakan giok dingin itu menempel di kulitnya.