NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Selingkuh / Mafia / Konflik etika
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Brand Ambassador

Karena mereka sudah bertemu secara langsung, Elia merasa ini saat yang tepat untuk menjelaskan perihal email yang dikirim Aurel. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya sempat melihat beberapa postingan Bianca saat mempromosikan sebuah produk, dan menurut penilaiannya, hasilnya cukup bagus serta memiliki potensi.

“Oh ya, Dave. Nanti setelah ini kita bicara sebentar, ya,” ujar Elia dengan nada tenang.

“Baiklah,” jawab Dave singkat.

Karena kerja sama ini bersifat profesional, Dave berusaha menjaga sikapnya. Ia menekan segala perasaan yang selama ini terpendam terhadap Elia, memilih untuk bersikap netral dan fokus pada urusan pekerjaan semata.

“Oh iya, ngomong-ngomong, kapan kau siap bekerja sama dengan kami?” tanya Elia antusias.

Bianca tersenyum tipis. “Secepatnya. Kalau bisa, hari ini juga aku siap.”

“Begitu ya, baiklah. Aku boleh meminta nomor ponselmu, kan?” tanyanya.

“Oh, tentu saja, Nyonya.” Bianca mengeluarkan dompet kulit dari dalam tasnya, lalu menyerahkan sebuah kartu nama yang tertera nama serta nomor ponselnya.

Elia menerima kartu tersebut dan memperhatikannya sejenak. “Baiklah, kau tunggu di sini sebentar, ya.”

Elia beranjak dari duduknya, lalu memberi kode pada Dave agar berbicara secara empat mata. Keduanya kemudian masuk ke ruangan pribadi Dave.

Rasa penasaran langsung menyelimuti Bianca. Ia mendekat dan menempelkan daun telinganya ke dinding, berusaha mendengar pembicaraan di dalam. Namun usahanya sia-sia. Tak ada satu pun suara yang terdengar, terlebih karena dinding ruangan itu telah dilapisi peredam suara.

“Kau yakin ingin menjadikan Bianca sebagai brand ambassador produk kosmetik kita?” tanya Dave dengan nada datar, meski sorot matanya menyimpan keraguan.

“Kurasa tak ada yang perlu diragukan,” jawab Elia tenang. “Dia cantik, kulitnya terlihat sehat, dan caranya mempromosikan sebuah produk sangat profesional. Itu menunjukkan dedikasi. Aku menyukai hal semacam itu.”

Dave terdiam sejenak. Sebenarnya, ia masih menyimpan banyak keraguan. Bukan karena kemampuan Bianca, melainkan karena situasi yang akan tercipta. Menjadikan Bianca sebagai brand ambassador sama saja dengan menyiapkan bom waktu untuk dirinya sendiri. Bianca akan berkomunikasi langsung dengan Elia, bekerja dalam satu lingkup yang sama. Cepat atau lambat, hubungan yang selama ini ia sembunyikan akan terkuak.

“Bagaimana kalau ternyata dia juga tak mampu mendongkrak angka penjualan kosmetik kita?” ungkap Dave. “Hanya menilai dari beberapa postingan saja jelas tak menjamin dia bisa meningkatkan penjualan, bukan?”

Kalimat itu sengaja ia lontarkan, berharap bisa menanamkan keraguan di benak Elia—cukup untuk membuatnya membatalkan rencana kerja sama dengan Bianca.

Elia menatap Dave sesaat sebelum menjawab. “Dave, sepertinya kau salah mengartikan peran seorang influencer,” jelasnya tenang. “Mereka berbeda dengan tim marketing yang dibebani target penjualan dan dituntut menaikkan angka secara langsung.”

Elia melanjutkan, “Tugas mereka bukan menjual, melainkan memperkenalkan. Membuat orang tahu bahwa DaveSkin itu ada, dikenal, dan perlahan dipercaya. Soal penjualan, itu akan mengikuti dengan sendirinya.”

Dave mengangguk pelan sambil berpikir. Ia harus mengakui, Elia memang cerdas—mampu mempertimbangkan sesuatu dengan matang tanpa terburu-buru.

“Baik kalau begitu. Kita kesampingkan dulu soal Bianca sebagai brand ambassador,” ucapnya akhirnya. “Lalu bagaimana dengan campaign yang kau buat? Apakah sudah ada peningkatan?”

Elia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, lalu menunjukkan grafik penjualan sejak dirinya bergabung. Angkanya memang belum melesat tajam, namun sudah tampak perubahan ada pergerakan, ada harapan.

“Karena itu aku membutuhkan seorang influencer,” jelas Elia. “Semakin banyak orang yang tahu tentang sebuah produk, semakin besar pula rasa penasaran mereka terhadap kualitas dan manfaatnya.”

Ia menatap Dave mantap. “Penjualan mungkin belum melonjak sekarang, tapi fondasinya sudah mulai terbentuk.”

Tidak ada lagi alasan untuk Dave menolak. Semuanya telah diperincikan dengan matang. Elia juga sudah meminta Dave untuk mengubah kemasan lama nya yang menurut Elia kurang menarik. Lalu ditambah lagi dengan formula terbaru agar tidak hanya sekedar membuat wajah cantik tapi juga sehat.

Selesai membahas mengenai hal tersebut kini tinggal kebagian intinya yaitu masalah tarif untuk membayar Bianca yang akan di gaet sebagai Brand Ambassador.

"Kenapa kita tidak tanyakan langsung saja pada orang nya?" usul Dave.

"Boleh juga."

Keduanya keluar secara bersamaan dari dalam ruangan. Dan Elia yang kembali duduk bersebrangan dengan Bianca. Untuk menentukan tarif yang sesuai.

"Maaf Bianca apa sebelumnya kau mempunyai seorang manager atau asisten yang mengurus urusan kontrak kerjasama?"

Bianca menggeleng pelan. "Sebelumnya ada, namun karena sempat vakum. Aku tidak lagi memakai jasanya."

Elia mengerutkan kening dan menatap Bianca heran. "Lalu siapa yang akan menghandle setiap endorsment yang masuk jika tidak ada yang membantu mu?".

"Aku yang akan mengurusnya sendiri. Aku tidak ingin terikat dengan seseorang karena trauma pernah di kecewakan." Bianca terpaksa berbohong. Karena ia menyambungkan pernyataan Dave yang mengatakan jika dia sebelum sempat membalas pesan karena sedang ada endorsment lain.

Elia mengangguk paham. "Baiklah, berapa tarif yang kau minta untuk bekerjasama dengan kami?" tanyanya terus terang.

"Eh, Nyonya saya jadi tidak enak jika harus menyebutkan angka. Saya yakin DaveSkin akan mempertimbangkan dengan baik karena melihat potensi saya sebagai influencer."

"Tidak usah sungkan, katakan saja."

Bianca menarik napas pelan. "Bagaimana kalau di angka satu juta baht". Ujarnya dengan hati-hati.

Elia tampak berfikir. Jika dilihat dari pengikut nya di sosial media dia cukup banyak dan terkenal. Setiap postingan yang ia tampilkan juga selalu menjadi bahan sorotan. "Bagaimana Dave, kau setuju? Atau harus mempertimbangkan kembali?".

Dave berdeham, ia tidak keberatan dengan angka yang di ajukan oleh Bianca. Apalagi wanita itu adalah simpanan nya. "Baiklah, aku setuju. Buatkan saja surat kontrak nya sekarang."

Elia mengiyakan permintaan itu dan meminta izin untuk meminjam komputer kerja Dave guna menyusun surat kontrak. Urusan semacam ini bukanlah hal yang sulit baginya. Selain mahir merancang campaign, Elia juga telah dibekali pengetahuan tentang cara menyusun kontrak kerja sama dengan benar.

“Hmm, Elia ini rupanya polos juga,” gumam Bianca dalam hati. “Dia bisa dengan mudah dikelabui oleh orang lain, bahkan oleh suaminya sendiri. Aku jadi tidak sabar untuk segera menandatangani kontrak tersebut.”

Setelah selesai menyusun surat kontrak, Elia segera mencetaknya. Dokumen itu terdiri dari beberapa lembar, berisi pasal-pasal yang harus dibaca dan dipahami oleh Bianca.

“Bianca, silakan dibaca terlebih dahulu,” ujar Elia sambil menyodorkan beberapa lembar kertas tersebut.

Bianca membaca setiap kalimat dengan saksama. Ia tidak merasa keberatan dengan satu pun pasal yang tercantum di dalamnya.

“Baiklah, aku setuju,” ucapnya sambil meraih pulpen yang telah disediakan, lalu membubuhkan tanda tangannya.

“Oke, Bianca. Mulai hari ini kau resmi menjadi bagian dari DaveSkin. Aku ucapkan selamat bergabung, dan semoga kau bisa bekerja secara profesional selama masa kontrak berlangsung.” Keduanya pun saling bersalaman sebagai tanda kesepakatan.

Elia juga menjelaskan bahwa setelah ini Bianca akan diarahkan kepada tim marketing untuk mendapatkan pengarahan mengenai produk yang akan dipromosikannya. Nantinya, tim marketing akan menyiapkan ide konten yang akan diperankan langsung oleh Bianca.

“Terima kasih, Nyonya Elia dan Tuan Dave. Senang bisa bekerja sama dengan kalian,” ucap Bianca.

Bianca langsung diajak Elia menuju ruangan marketing di lantai lima. Aurel yang melihat hal itu pun terperangah kaget.

“Eh, Nyonya, bukankah saya belum mengatakan apa pun pada Anda?” ucap Aurel heran.

“Aurel, mulai sekarang Bianca telah resmi bergabung dengan kita. Beliau sudah menandatangani kontrak sebagai brand ambassador baru DaveSkin,” jelas Elia.

Aurel segera mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah dan memperkenalkan diri. “Selamat bergabung, Nona Bianca,” ucapnya.

Bianca membalas uluran tangan tersebut, berusaha bersikap ramah meski sebenarnya ia tidak menyukai berada dalam situasi seperti ini.

Jam makan siang pun tiba. Elia kembali ke ruangan Dave untuk makan siang bersama. Ia tak pernah absen membawakan bekal setiap harinya. Apalagi kini mereka berada di gedung perusahaan yang sama hampir setiap hari, membuat Elia semakin bersemangat untuk memasak.

“Bagaimana, kau suka dengan menu hari ini?” tanya Elia.

Dave mengangguk pelan. “Tentu. Bagaimana dengan Bianca? Apa dia sudah diperkenalkan kepada tim marketing kita?”

“Sudah. Dia harus mengikuti arahan dari tim untuk membuat konten. Di samping itu, ia juga dituntut untuk menciptakan ide-ide kreatif,” jawab Elia.

Beberapa jam sebelumnya, Bianca telah diarahkan ke ruangan lain, sebuah ruangan yang memang dikhususkan untuk pemotretan.

“Nona, kepalanya bisa dimiringkan sedikit?” ucap seorang fotografer sambil mengarahkan pose agar terlihat lebih pas.

Beberapa gaya diambil dengan hasil yang sangat memuaskan. Bianca berpose layaknya model profesional. Ia tampak anggun dengan riasan wajah soft glam yang tetap terlihat natural.

Lelah setelah menghabiskan banyak tenaga di depan kamera, Bianca meminta izin kepada tim untuk beristirahat sejenak.

“Sialan! Mereka tidak memberikan jeda sama sekali. Perutku sudah sangat lapar,” gerutunya sambil melangkah masuk ke dalam lift menuju lantai sepuluh.

Sesampainya di depan ruangan Dave, Bianca langsung masuk tanpa mengetuk pintu.

“Oh, maaf. Aku pikir kalian sedang tidak makan siang,” ucapnya.

Elia dan Dave menoleh ke arahnya bersamaan, lalu mempersilakannya masuk.

“Bianca, apa kau sudah makan?” tanya Elia.

“Belum, Nyonya,” jawab Bianca dengan nada sedikit malu-malu.

“Makanlah. Aku membuat bekal makan siang untuk Dave. Dia bilang ini enak,” ujar Elia.

“Tidak perlu repot-repot, saya bisa makan di luar,” balas Bianca.

“Sudah, makan saja bersama kami. Tidak perlu membeli di luar, belum tentu sehat untukmu,” ucap Dave dengan nada yang terdengar peduli.

“Dave benar, ayo silakan dicicipi,” timpal Elia.

Saat perhatian Elia terfokus menata makanan untuk Bianca, Dave memberi isyarat agar Bianca menurut. Bibir Bianca sempat manyun, karena sebenarnya ia ingin makan siang berdua saja dengan Dave.

“Nah, ini coba,” ujar Elia sambil menyodorkan piring berisi nasi dan lauk-pauknya.

“Terima kasih, Nyonya.” Bianca mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya.

Masakannya enak juga. Pantas saja Dave terlihat begitu lahap, gumamnya dalam hati.

“Bagaimana, enak atau tidak?” tanya Elia.

“Sangat enak, Nyonya. Apa ini Anda yang membuatnya sendiri?” tanya Bianca.

Elia mengangguk cepat. “Tentu. Aku lebih suka membuatnya sendiri dengan tanganku daripada membeli.”

“Anda benar, itu jauh lebih baik,” sahut Bianca.

“Apa kau juga pandai memasak?” tanya Elia.

Pertanyaan itu membuat Dave seketika terbatuk-batuk. Elia dengan sigap menuangkan air putih dan menyodorkannya kepadanya.

“Hati-hati makannya. Ini, minumlah,” ujarnya.

Bianca hanya menunduk malu. Sejak berpacaran dengan Dave, ia bahkan belum pernah menyiapkan makanan. Jika lapar, ia lebih memilih membeli masakan dari luar.

“Aku tidak terlalu pandai memasak,” ujar Bianca pelan.

“Kalau begitu, kau harus belajar memasak dari sekarang. Karena kekasih atau suamimu pasti akan senang jika disuguhkan makanan hasil tanganmu sendiri,” ucap Elia dengan senyum yang penuh arti.

Bianca tidak menyahut. Ia hanya tersenyum getir sambil menatap ke arah Dave, yang juga tengah memerhatikan nya. Batin Bianca terasa terpukul seolah menerima tamparan yang tak pernah benar-benar dilayangkan, namun begitu menyakitkan.

Setibanya di apartemen, Bianca melempar tasnya dengan kasar ke atas tempat tidur. Ia gagal pulang bersama Dave dan terpaksa naik taksi karena tidak membawa kendaraannya. Kebetulan, mobil Elia juga sedang berada di bengkel, sehingga wanita itu harus pulang berdua dengan Dave.

“Sialan! Harusnya aku yang pulang bersama Dave,” umpat Bianca dengan kesal.

Ponselnya bergetar, menandakan pesan masuk. Bianca segera meraih ponsel itu dan membuka isinya. Pesan tersebut ternyata berasal dari Elia. Dalam pesan itu dijelaskan bahwa Bianca tidak harus datang ke kantor setiap hari. Cukup dengan membuat konten secara rutin di media sosial. Nantinya, Bianca hanya perlu hadir saat ada seminar atau event tertentu, seperti peluncuran kemasan terbaru DaveSkin.

“Suatu hari nanti, aku tidak akan hanya menjadi brand ambassador itu saja, tapi juga menguasai semua yang dimiliki Dave. Elia, lihat saja. Aku akan membuat Dave semakin muak denganmu,” ucap Bianca sambil tertawa puas.

Bayangan menjadi nyonya dengan limpahan aset dan harta memenuhi pikirannya, membuat senyum licik itu kian mengembang di wajahnya.

1
kalea rizuky
mana karma. buat jalang enaknaja dia dia sukain alex dan bahagia punya anaknya rela q mending di buat kegugudan trs rahim. rusak itu baru adil
kalea rizuky
laki bejat selingkuh ampe nidurin
sutiasih kasih
demi jalang.... n ancamannya km gercep ambil tindakan dave....
hadeuh dave.... ank siapa yg brtanggung jawab siapa🤣🤣🤣
Nnar Ahza Saputra
alex bertindak,, itu kn anak.ny alex,,,
kalea rizuky
cpet bkin Cerainthor gk sbar nunggu Dave gila
sutiasih kasih
lanjut thor
sutiasih kasih
lagian... istri sah di anggp musuh... di hindari....
eeee mlah lbh milih mnjatuhkn pilihan ke jalang....
istri di cuekin... eeee sm si jalang prhatian bgt...
skrg minta ksempatan.... g tau malu n g tau diri km dave.... elia km kasih barang bekasan jalang...
🙄🙄
Cookies
lanjut
Cookies
lanjut thor
kalea rizuky
nyesel mu g guna uda makan itu jalang bergilir lu doyan kam
sutiasih kasih
mkanya jgn nafsu yg km gedein dave.... smpe" buta mata dan hatimu...
udah g usah drama dave... bukankah perempuan pujaanmu adalah bianca...
jdi kmbali lah ke bianca...😅😅
sutiasih kasih
jgn prnah ada kata kmbali elia...
rugi dpt bekasan si bianca jalang...
dave g cocoj dpt perempuan sebaik km elia...
dave cocoknya dpt perempuan jalang..
sutiasih kasih
istri cantik... paket komplit... harus brsaing dgn perempuan yg cm modal selangkangan🙄🙄
sutiasih kasih
ya elah.... bini di rumsh nungguin dgn setia....
suami lgi main lndir sm jalang di luar....
ntar jalangnya hamil....
istri sah harud ngalah dan prgi...
Melinda Cen
lanjut perbnykkan eps nya dong
Nnar Ahza Saputra
gugat cerai aza... pergi nd menjauh,,,
Melinda Cen
lanjut
Melinda Cen
yeee akhirnya Dave menyesal. jgn mau kembali lg elia
Cookies
lanjut
Melinda Cen
lanjut thor, semoga elia berpisah dengan Dave. dan Dave kan menyesal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!