NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:874
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan Terakhir

Saat Elisabet dan Armand melangkah menuju pintu, victor dan meriye berdiri sembari berkata

“Berhati-hatilah, Bos. Ada mata yang mengikuti.”

Armand mengangguk tanpa menoleh.

Elisabet menggenggam lengannya.

“Semakin dekat.”

“Dan kita tak bisa lari selamanya,” jawab Armand.

Pintu tertutup.

Rumah tua itu kembali sunyi—namun rahasia yang lama terkunci kini mulai retak.

Malam yang Hangat — Keluarga Bastian

Ruang makan rumah Bastian terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu gantung menyala temaram, memantulkan cahaya hangat di meja kayu panjang yang sudah dipenuhi hidangan rumahan sederhana—namun lengkap.

Tidak ada kemewahan berlebihan.

Tidak ada tamu.

Tidak ada agenda tersembunyi.

Hanya keluarga.

Safira duduk di samping Adrian, wajahnya masih cerah sejak sore.

“Jadi,” katanya sambil tersenyum lebar, “kalian tahu nggak siapa yang kami temui waktu jogging pagi tadi?”

Clarissa yang sedang menuang air mengangkat alis.

“Dari ekspresi kalian, pasti bukan orang asing.”

Adrian langsung menyandarkan punggung ke kursi, gaya santainya muncul.

“Teman SMA. Dimas Reno dan Alya.”

Safira mengangguk cepat.

“Mereka lagi libur juga. Kebetulan jogging di rute yang sama.”

Elisabet tersenyum kecil.

“Terus?”

“Terus mereka kaget lihat Adrian,” lanjut Safira.

Adrian langsung memotong,

“Wajar. Aku berubah.”

Clarissa mendengus pelan.

“Berubah atau besar kepala?”

“Dua-duanya,” jawab Adrian santai.

Armand terkekeh pelan.

“Dimas bilang Adrian sekarang kelihatan beda,” kata Safira. “Lebih tenang. Lebih… dewasa.”

Adrian mengangguk setuju.

“Itu karena lingkungan membentuk karakter.”

Clarissa menatapnya datar.

“Kampus taruna membentuk ego juga, kelihatannya.”

Tawa pecah di meja makan.

“Alya juga cerita soal kampusnya,” lanjut Safira. “Tugas numpuk, dosen killer, organisasi yang bikin capek tapi nagih.”

Adrian menyela,

“Dimas malah bilang masa SMA kerasa jauh banget sekarang. Tapi anehnya, pas ketemu tadi, rasanya kayak nggak pernah pisah.”

Elisabet mendengarkan sambil menata piring kosong. Tatapannya lembut, tapi matanya menyimpan sesuatu—kesadaran bahwa momen seperti ini terlalu berharga untuk dianggap biasa.

percakapan yang Tidak Sepenuhnya Terucap

Saat makan malam hampir selesai, suasana perlahan melambat. Sendok diletakkan. Gelas tinggal setengah.

Armand meletakkan tangannya di meja.

“Ayah dan Ibu mau bicara sebentar.”

Safira dan Adrian menoleh bersamaan. Clarissa langsung menegakkan duduk.

“Kami akan pergi beberapa hari,” lanjut Armand tenang.

Safira mengangguk pelan.

“Pergi ke mana, Yah?”

“Ayah ke Batam,” jawab Armand. “Ada urusan lama dengan teman.”

Elisabet menyambung dengan suara lembut,

“Ibu ke Bandung. Bertemu teman lama, sekalian mengunjungi keluarga.”

“Oh…” Safira tersenyum tipis. “Berarti rumah jadi sepi.”

Adrian menyeringai.

“Berarti rumah jadi wilayah kekuasaan kami.”

Clarissa langsung melirik tajam.

“Coba saja.”

Armand terkekeh kecil.

“Ayah percaya kalian bisa jaga diri.”

Ia menatap anak-anaknya satu per satu—lebih lama dari biasanya.

“Ibu dan Ayah cuma minta satu hal,” kata Elisabet pelan.

“Jaga satu sama lain. Jangan pulang malam. Dan kalau ada apa-apa, langsung kabari.”

Safira mengangguk.

“Iya, Bu.”

“Aku jaga mereka,” kata Adrian cepat.

Clarissa tidak langsung menjawab. Ia menatap kedua orang tuanya dengan pandangan yang sulit dibaca.

“Perginya barengan?”

“Berangkat beda waktu,” jawab Armand singkat.

Tidak ada yang bertanya lebih jauh.

Namun di balik kehangatan itu,

masing-masing menyimpan rasa yang berbeda—

tentang waktu, tentang perpisahan kecil,

dan tentang hal-hal yang tidak diucapkan di meja Makan Terakhir

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Visual Armand Bastian

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!