NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Operasi dalam Kegelapan

Lorong gua itu sempit, lembap, dan hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari ponsel satelit Harry yang diletakkan di atas bongkahan batu datar. Suara ledakan dari The Citadel masih terdengar meredam, getarannya sesekali menjatuhkan butiran tanah dan kerikil kecil dari langit-langit gua yang kasar.

Aroma tanah basah bercampur dengan bau besi yang menyengat dari darah Harry memenuhi udara yang pengap. Namun, bagi Kayra, dunia saat ini seolah menyusut, hanya sebatas area satu meter di sekeliling tubuh Harry yang terbaring lemah di atas tanah dingin.

"Harry, tetaplah sadar. Jangan tutup matamu. Kau dengar aku? Lihat aku!" bisik Kayra. Suaranya berusaha tetap klinis dan tenang, meskipun tangannya yang kini bersimbah darah bergetar hebat di bawah cahaya lampu ponsel yang berkedip.

Harry meringis, napasnya pendek dan tersengal-sengal. Darah yang merembes dari luka tembak di perutnya telah membasahi sebagian besar kaus hitamnya, membuatnya tampak berkilau gelap dalam kegelapan yang pekat.

"Lakukan saja, Kayra ... aku tidak akan ... pergi ke mana-mana. Aku masih ... di sini," gumamnya, suaranya parau menahan rasa sakit yang luar biasa.

Kayra membuka tas medisnya dengan gerakan yang dipaksakan untuk tetap teratur. Ia mengutuk dalam hati karena peralatan yang ia bawa sangat terbatas, hanya peralatan dasar yang ia sambar saat melarikan diri tadi.

Ia memiliki anestesi lokal, namun tidak ada gas oksigen, tidak ada alat pemantau jantung, dan tidak ada sterilisasi yang memadai. Ini adalah bedah lapangan dalam bentuk yang paling brutal, sebuah pertaruhan nyawa di tengah kesunyian gua yang mencekam.

"Aku harus mengeluarkan pelurunya sekarang, Harry. Jika tidak, kau akan mengalami pendarahan internal yang tidak bisa kuhentikan di sini. Kau harus bertahan," Kayra menjelaskan dengan nada cepat, sambil menuangkan alkohol ke tangannya sendiri untuk sterilisasi darurat yang menyakitkan kulitnya yang lecet.

Ia mulai menyuntikkan lidokain di sekitar luka tembak Harry. Kayra bisa melihat otot perut Harry yang keras menegang hebat saat jarum itu menusuk kulitnya, namun pria itu hanya mengatupkan rahangnya dengan sangat rapat hingga urat lehernya menonjol, tanpa sedikit pun mengeluarkan suara rintihan.

"Pegang tanganku jika itu terlalu sakit. Jangan menahannya sendiri," ujar Kayra lembut, mencoba memberikan sedikit penghiburan manusiawi di tengah situasi yang dingin ini.

Harry meraih jemari kiri Kayra, meremasnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Kekuatannya masih terasa, meski napasnya semakin melemah. "Fokuslah pada ... pekerjaanmu, Dokter. Aku ... kuat. Jangan cemaskan ... aku."

Kayra menarik napas panjang, memejamkan mata selama satu detik untuk menyingkirkan semua emosi ketakutan ke sudut terdalam pikirannya. Saat ia memegang klem dan skalpel, ia bertransformasi.

Ia bukan lagi wanita yang takut kehilangan pelindungnya, ia adalah Kayra Valeska, seorang ahli bedah mikro yang presisinya tidak tertandingi, bahkan dalam kegelapan sekalipun.

Dengan cahaya senter kecil yang kini dijepit di sela giginya, Kayra mulai membedah lapisan demi lapisan otot Harry yang robek. Darah mulai mengalir lebih banyak karena ia harus membuka jalan menuju proyektil tersebut.

Kayra bekerja dengan kecepatan tinggi, menggunakan kain kasa seefisien mungkin untuk menyerap darah agar pandangannya pada luka tidak terhalang.

"Sedikit lagi ... bertahanlah, Harry …," gumam Kayra di sela napasnya yang memburu.

Setiap detik yang berlalu terasa seperti jam yang merayap. Kayra bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya, sementara suara tetesan air dari langit-langit gua seolah mengejek keterbatasan waktunya.

Akhirnya, ujung klem logamnya menyentuh sesuatu yang keras di dalam jaringan otot yang dalam. Ting. Suara logam bertemu logam bergema pelan di dalam gua.

"Dapat," bisik Kayra, suaranya mengandung secercah harapan.

Dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah-olah ia sedang membedah sehelai sutra, ia menarik peluru logam kecil yang telah berubah bentuk itu keluar dari tubuh Harry.

Harry mengeluarkan erangan tertahan yang menyayat hati saat proyektil itu ditarik keluar dari dagingnya. Tubuhnya melengkung sesaat karena kejutan rasa sakit yang hebat sebelum akhirnya terkulai lemas kembali ke lantai gua yang lembap.

"Harry! Harry, bicara padaku! Jangan pingsan!" Kayra menepuk pipi Harry dengan panik setelah ia berhasil menghentikan pendarahan utama dengan klem vaskular dan menjahit luka itu dengan jahitan darurat yang rapat namun kuat.

Mata Harry terbuka perlahan, tampak sayu dan kehilangan fokus, namun masih memiliki binar kekuatan obsidian yang sama.

"Aku ... masih di sini, Kayra. Berhenti ... berteriak ... kau merusak ... gendang telingaku," bisiknya dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Kayra tertawa kecil di tengah tangisnya yang pecah karena lega. Ia menyeka air matanya dengan lengan baju yang masih bersih, meninggalkan noda merah di sana. Ia segera menyelimuti tubuh Harry dengan selimut darurat berbahan foil perak untuk mencegah hipotermia karena suhu gua yang terus menurun.

"Kau berhutang satu botol anggur terbaik padaku setelah semua ini selesai," bisik Kayra sambil merapikan rambut Harry yang basah oleh keringat dingin. Ia mengusap dahi pria itu, mencoba memberikan kenyamanan di tengah situasi yang kacau ini.

Harry tersenyum lemah, sebuah seringai kecil yang tampak jauh lebih tulus daripada biasanya. "Hanya satu? Aku akan memberimu ... seluruh kebun anggur di Prancis ... jika kau mau, Dokter. Kau ... baru saja menyelamatkan nyawaku ... lagi."

Mereka terdiam sejenak dalam keheningan yang intim, hanya ditemani suara napas mereka yang bersahutan. Keintiman yang tercipta di sini, di tempat yang paling tidak layak dan berbahaya, terasa jauh lebih nyata daripada semua kemewahan yang pernah Kayra lihat di Isla de Sombra.

Kayra menyadari bahwa meski Harry adalah pria yang penuh dengan kekerasan dan dikelilingi oleh kegelapan, ada kelembutan yang ia simpan rapat-rapat, yang hanya diperlihatkan kepadanya, dan hanya kepadanya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang teratur dan suara statis radio yang lirih terdengar dari arah lorong gua yang lebih dalam. Kayra segera bersiaga. Ia menyambar pistol kecilnya yang tergeletak di samping tas medis dan berdiri di depan tubuh Harry yang masih lemah, menodongkan senjata ke arah kegelapan lorong dengan tangan yang kini mantap.

"Siapa di sana?! Jangan mendekat atau aku menembak!" teriak Kayra lantang.

"Tenang, Dokter! Ini saya! Jangan menembak!" Suara Enzo muncul dari kegelapan, disusul oleh tiga orang prajurit Marcello yang tampak kelelahan, dengan pakaian yang tercoreng jelaga namun tetap waspada.

Enzo berlari mendekat, wajahnya menunjukkan kelegaan yang luar biasa saat melihat Harry masih bernapas. "Tuan! Syukurlah. Kami mengira jembatan itu membawa kalian ke dasar jurang. Kami memutar lewat jalur pembuangan untuk sampai ke gua ini."

"Kayra ... menangkapku tepat waktu," gumam Harry, mencoba bangkit duduk meskipun Kayra segera menekan bahunya agar tetap berbaring.

"Jangan bergerak dulu, Harry! Jahitanmu masih basah dan kau kehilangan banyak darah," peringat Kayra dengan nada otoritas seorang dokter yang tidak bisa dibantah.

Enzo menatap Kayra dengan sorot mata yang dipenuhi rasa hormat yang mendalam. Ia baru saja menyaksikan seorang wanita yang sebelumnya ia anggap lemah berhasil melakukan operasi besar di tengah gua yang gelap.

"Kapal penyelamat sudah menunggu di teluk tersembunyi, lima kilometer dari sini lewat jalur bawah tanah ini, Tuan. Kita harus segera bergerak sebelum fajar menyingsing dan helikopter Luca mulai menyisir area tebing lagi."

Para prajurit segera menyiapkan tandu lipat darurat untuk Harry. Saat mereka mulai mengangkat tubuhnya dengan hati-hati, pria itu menahan lengan Kayra, mencegahnya menjauh.

"Tetap di sampingku. Jangan menjauh sedikit pun," bisik Harry, genggamannya pada pergelangan tangan Kayra terasa hangat dan protektif.

"Aku tidak akan ke mana-mana, Harry. Tidak akan pernah lagi," jawab Kayra pelan, membalas genggaman tangan Harry saat mereka mulai berjalan menyusuri kegelapan gua yang semakin menyempit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!