NovelToon NovelToon
SETELAH KAMU MENJADI ASING

SETELAH KAMU MENJADI ASING

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Mantan / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Kunci dari Masa Lalu

Malam itu, hujan Jakarta turun seolah ingin mencuci seluruh dosa kota. Arlan bersikeras tidak membiarkan Maya kembali ke apartemennya sendirian. Brankas berkarat yang baru saja mereka terima diletakkan di kursi belakang mobil, tersembunyi di balik tumpukan kain.

"May, pegang tanganku," bisik Arlan saat mereka melangkah keluar dari lift menuju koridor apartemen Maya.

Maya merasakan tangannya yang dingin digenggam erat oleh Arlan. "Aku merasa ada yang nggak beres, Lan. Perasaanku nggak enak sejak kita di kantor tadi."

"Ada aku. Jangan takut."

Begitu sampai di depan pintu unit nomor 402, Arlan tiba-tiba berhenti. Ia menahan napas. Matanya yang tajam menangkap detail kecil: ada goresan tipis di sekitar lubang kunci pintu apartemen Maya. Seseorang telah masuk secara paksa.

Arlan menarik Maya ke belakang punggungnya, lalu perlahan mendorong pintu. Pintu itu tidak terkunci.

Keadaan di dalam berantakan total. Lemari baju Maya dibongkar, bantal-bantal disobek, dan sketsa-sketsa di meja kerja berserakan di lantai. Tapi yang paling mengerikan adalah sebuah tulisan besar di dinding ruang tamu yang dibuat dengan cat merah:

"KEMBALIKAN APA YANG BUKAN MILIKMU, ATAU IBU-MU TIDAK AKAN PERNAH KELUAR DARI RUMAH SAKIT."

Maya hampir menjerit, tapi Arlan segera membekap mulutnya lembut agar suara mereka tidak terdengar. Tiba-tiba, dari arah dapur, terdengar suara langkah sepatu yang berat. Sosok pria berpakaian serba hitam muncul dengan pisau lipat di tangannya.

"Berikan brankas itu!" bentak pria itu.

Arlan tidak gentar. Ia mendorong Maya ke arah pintu keluar. "May, lari ke pos sekuriti! Sekarang!"

"Nggak, Lan! Tangannya terluka!" Maya berteriak melihat perban di lengan Arlan yang mulai memerah akibat ketegangan otot.

Perkelahian tidak terhindarkan. Arlan menyerang pria itu dengan gerakan yang taktis namun penuh amarah. Meskipun tangannya sakit, Arlan berhasil menjatuhkan pisau pria tersebut. Namun, pria itu mengeluarkan semprotan merica dan menyemprotkannya ke mata Arlan.

"Arlan!" Maya tidak lari. Ia justru mengambil lampu meja di dekatnya dan menghantamkannya ke kepala pria itu sekuat tenaga.

Brak!

Pria itu tersungkur pingsan. Napas Maya memburu, dadanya naik turun dengan liar. Arlan terjatuh sambil memegang matanya yang perih. Maya segera menarik Arlan menuju kamar mandi, membasuh wajah pria itu dengan air mengalir.

"Kamu gila, May! Kenapa nggak lari?" tanya Arlan di sela batuknya.

"Aku nggak akan membiarkan kamu jadi orang asing yang berjuang sendirian lagi, Lan! Kita ini satu paket sekarang!" tegas Maya dengan mata berkaca-kaca.

Setelah keadaan sedikit kondusif dan sekuriti apartemen datang untuk mengamankan pelaku, Arlan duduk di lantai sambil memegang brankas tua itu. Maya duduk di depannya, tangannya masih gemetar.

"Kuncinya, May. Kalungmu," bisik Arlan.

Maya melepaskan kalung peraknya. Ia menekan bagian kecil di liontin itu, dan sebuah kunci mikro yang sangat tipis keluar dari sana. Dengan tangan yang masih basah, Maya memasukkan kunci itu ke lubang kecil di brankas.

Klik.

Suara itu terdengar seperti pintu gerbang masa lalu yang terbuka. Penutup brankas terangkat. Di dalamnya terdapat tumpukan dokumen yang sudah menguning, beberapa foto rahasia Paman Hendra dengan para pejabat, dan sebuah flashdisk lama.

Namun, ada satu surat yang diletakkan paling atas. Surat dari ayah Maya untuk Arlan.

"Arlan, jika kamu membaca ini, berarti kamu sudah dewasa. Maafkan aku karena harus merahasiakan ini. Ayahmu tidak meninggal karena kecelakaan pesawat. Dia dibunuh oleh Hendra karena ayahmu ingin menghentikan proyek ilegal yang bisa menghancurkan Dirgantara Group. Aku menyimpan bukti ini agar suatu saat kamu dan Maya bisa merebut kembali apa yang menjadi hak kalian."

Arlan terpaku. Air matanya jatuh di atas dokumen itu. Kebenaran yang selama ini ia cari ternyata jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan. Ayahnya dibunuh oleh orang yang selama ini ia panggil paman.

"Arlan..." Maya memeluk leher Arlan dari samping, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.

"Dia membunuh ayahku, May. Dia menghancurkan keluarga kita hanya demi sebuah tahta," bisik Arlan dengan suara yang penuh kebencian yang mendalam.

"Tapi sekarang kita punya senjatanya, Lan," sahut Maya. "Kita akan pastikan dia membayar setiap detik penderitaan yang kita rasakan selama lima tahun ini."

Arlan mengambil flashdisk itu, menggenggamnya erat. Tatapan matanya yang tadi penuh luka kini berubah menjadi dingin dan mematikan. "Besok ada rapat pemegang saham tahunan. Hendra pikir dia akan dikukuhkan menjadi komisaris utama."

Arlan menoleh pada Maya, mengusap pipinya yang penuh bekas air mata. "Siapkan pakaian terbaikmu, May. Kita akan datang ke rapat itu bukan sebagai korban, tapi sebagai pemilik yang sah."

Di luar, guntur menggelegar kembali. Perang besar di keluarga Dirgantara baru saja dimulai, dan kali ini, Maya dan Arlan berdiri di sisi yang sama, siap membakar habis segala kebohongan yang telah menjadikan mereka asing bagi satu sama lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!