Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Bangkitnya Monyet Iblis dan Perjanjian Darah
Tanah bergetar bukan lagi karena langkah kaki tentara, melainkan karena tekanan aura Feng Gao yang telah menyentuh ambang Jiwa sejati. Petir hitam menyambar-nyambar dari tubuhnya, menghanguskan apa pun yang berada dalam radius sepuluh meter.
"Formasi kalian... tidak lebih dari jaring laba-laba!" Feng Gao menggeram. Dengan satu hentakan tombaknya, pilar-pilar cahaya Sekte Awan Tenang hancur berkeping-keping.
Ketua Sekte Qing Feng terpental memuntahkan darah, sementara Dong Dong terlempar jauh, tongkat emasnya terlepas. Li Yuan sendiri jatuh bertumpu pada satu lutut, napasnya tersengal, dan Pedang Hitam Takdir di tangannya terasa sangat berat.
“Kau ingin kekuatan, Bocah?” sebuah suara berat dan serak bergema di dalam kepala Li Yuan. Itu adalah kesadaran dari Pedang Hitam Takdir. “Berikan aku sisa kemanusiaanmu untuk hari ini, dan aku akan membelah langit untukmu.”
Li Yuan menggertak gigi. "Tidak... belum saatnya."
Melihat Li Yuan yang terdesak, Feng Gao melesat seperti kilat hitam. "Mati kau, sampah!"
Namun, sebelum tombak petir itu menyentuh leher Li Yuan, sebuah bayangan raksasa menutupi mereka.
"JANGAN SENTUH SAHABATKU!"
Suara itu bukan lagi suara cempreng Dong Dong yang jenaka, melainkan raungan yang menggetarkan bumi. Tubuh mungil Dong Dong tiba-tiba meledak dalam cahaya merah darah. Bulunya yang cokelat berubah menjadi hitam legam dan kaku seperti kawat baja. Tubuhnya membesar—lima meter, sepuluh meter, hingga setinggi bukit kecil.
Wujud Asli: Monyet Iblis Pemakan Bintang!
Dong Dong yang kini berwujud kera raksasa dengan mata merah menyala menangkap tombak Feng Gao dengan tangan kosong.
KRAKK!
"Apa?!" Feng Gao terbelalak. "Binatang ini... dia adalah keturunan Iblis Kuno?!"
"Li Yuan! Cepat pulihkan dirimu!" raung Dong Dong. Suaranya menggelegar seperti guntur. "Aku tidak bisa menahannya lama! Sarafku akan terbakar dalam wujud ini!"
Dong Dong mengamuk. Dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa, ia menghantamkan tinjunya ke arah Feng Gao. Setiap pukulan menciptakan gelombang kejut yang meratakan tenda-tenda dan mesin pengepung musuh di sekitarnya. Feng Gao terpaksa mundur, menangkis serangan membabi buta dari kera raksasa yang kehilangan akal sehatnya demi melindungi sahabatnya.
Li Yuan melihat punggung sahabatnya yang kini dipenuhi luka akibat petir hitam Feng Gao. Darah merah mengalir dari sela-sela bulu hitam Dong Dong.
"Dong Dong... jangan..." Li Yuan berbisik parau. Ia tahu Dong Dong mempertaruhkan nyawanya. Wujud ini menguras esensi kehidupan sang monyet.
Di dalam pikirannya, Pedang Hitam Takdir kembali tertawa. “Temanmu sedang sekarat, Bocah. Lihatlah... dia akan menjadi abu jika kau terus ragu. Biarkan aku masuk. Biarkan kita menjadi satu!”
Li Yuan menatap pedang karatan itu. "Baiklah. Tapi jangan harap kau bisa menguasaiku. Kita akan bertarung dengan caraku!"
Li Yuan menusukkan ujung Pedang Hitam Takdir ke telapak tangan kirinya. Darah segarnya mengalir ke seluruh bilah pedang, melarutkan sisa-sisa karat dan menyingkap bilah pedang yang kini berwarna merah darah dengan pola urat saraf yang berdenyut.
Sinergi Darah: Pedang Iblis Langit Terkutuk!
Aura ungu Li Yuan berubah menjadi merah keunguan yang pekat. Luka-lukanya menutup seketika, namun matanya kini berubah menjadi merah darah dengan pupil vertikal seperti predator.
Di depan sana, Feng Gao berhasil melukai kaki Dong Dong dengan ledakan petir hitam yang besar, membuat kera raksasa itu meraung kesakitan dan jatuh bertumpu pada satu lutut.
"Binatang bodoh! Sekarang giliranmu mati!" Feng Gao mengangkat tombaknya, memusatkan seluruh energi petir hitam untuk satu serangan terakhir ke arah kepala Dong Dong.
Namun, sebelum serangan itu dilepaskan, sebuah suara dingin menusuk dari belakang telinga Feng Gao.
"Kau melihat ke arah yang salah, Jenderal."
Feng Gao menoleh dengan panik, namun yang ia lihat hanyalah kilatan merah yang membelah dunia.