"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
"Niken! Kalian darimana?" tanya Saga khawatir.
Mobil yang di bawa Didit kini berhenti di ambang gerbang, setelah pergi lebih dari tiga jam, membuat Saga menunggu di sana cukup lama.
"Tuan, Saga!" ucap Niken, melirik Alang pun ada di sana, menatap Niken kesal.
"Darimana?" tanya Alang, bertanya dengan nada dingin.
"Tadi, mau beli sandal di butik. Tapi butiknya tutup." jawab Niken, mencari alasan sedangkan Didit menunduk diam saja.
Niken meninggalkan mereka semua, berjalan menuju kamarnya di rumah belakang. Kalau tak menghindar, maka pembicaraannya akan jadi panjang.
Sudah pukul sepuluh malam, pantas saja Saga khawatir dan juga Alang. Niken bergegas mandi, malam Jum'at begini ia memilih segera tidur, tidak mau banyak mendengar hal yang tak harus di dengar. Gendis sedang beraksi, setan pun pasti berkeliaran di sana.
Sunyi, setelah keran air dimatikan, tak ada suara apapun bahkan jangkrik tak unjuk nyanyian malam ini. Niken keluar dari kamar mandi, segera mencari pakaian di lemarinya.
Kretek!
Gagang pintu terdengar di putar dari luar. Niken merapatkan tubuhnya di dinding, waspada akan siapa yang mencoba masuk.
Pintu terbuka dan tampaklah Saga masuk langsung mengunci pintunya.
"Tuan Saga."
Suaminya datang bukan dengan senyum seperti biasa, melainkan wajah datar dan tatapan tajam.
"Pergi tanpa izinku?" Saga memeluk Niken dan menciuminya dengan brutal.
"Agh! Aku_ak_"
Seutas handuk yang melilit di tubuhnya langsung disingkirkan begitu saja.
"Tadi aku dan_"
Bagaikan selalu terburu-buru, Saga tak memberi Niken waktu untuk bicara.
Ranjang yang tak begitu luas itu seketika di penuhi suara rengekan dan permohonan. Saga benar-benar gemas, menyiksanya hingga tak bisa berkutik lagi.
Detik-detik berlalu, menit dan jam melaju. Keduanya larut dalam cinta yang membara, melupakan segala yang membuat hati gundah. Yang ada hanyalah rindu yang mendamba.
Di luar sana, Alang tak dapat tidur sama sekali. Sempat melihat Saga berjalan kaki menuju halaman belakang dan tak kunjung kembali sampai tengah malam, membuat hatinya curiga, cemburu, dan marah dengan segala duga.
Ia berjalan meninggalkan Dewi yang baru saja terlelap, menuju rumah belakang sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kalau sampai ia mendapati Saga ada di dalam, sudah pasti Alang akan menghajarnya.
"Awas kamu Niken!" marahnya.
Gorden yang cukup tebal, namun cahaya lampu membuat mata telanjang mampu menangkap bayangan orang yang tidur di dalam sana.
Alang mengintip, memasang telinga lebih tajam. Dan alangkah terkejutnya Alang mendengar suara Niken merengek, dan Saga terus menggodanya.
"Saga!"
Dadanya naik turun, jantungnya seperti di pukul dengan palu, detaknya sampai terdengar di telinga.
"NIKEN!!"
Menggedor pintu sangat keras.
"Mas Alang." gumam Niken, mendongak wajah Saga, keduanya jadi tegang seketika.
"Sial!" Saga menarik dirinya, menggapai celana panjang yang jatuh di bawah ranjang.
Sedangkan Niken sendiri langsung berlari meraih pakaian yang ada di dalam kemari.
"Niken! Keluar atau ku pecahkan pintu kamar ini!" teriak Alang.
Dengan langkah santai, Saga membuka pintu kamar itu. Kemudian berdiri tegak sambil bersilang dada, menatap sinis kepada Alang yang kebakaran jenggot karenanya.
"Ada apa?" tanya Saga.
"Kau!" tunjuk Alang di wajah Saga.
Ia melirik Niken yang juga berjalan ke arah pintu, memakai daster pink muda selutut, membenarkan posisi rambutnya yang kusut.
"Kalian?" ucap Alang, tak mampu berkata-kata.
"Ya!" jawab Saga, menepis tangan Alang.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau menyentuhnya!" Alang mendorong Saga hingga tersudut di pintu, kemudian memukul wajah Saga berkali-kali.
"Mas Alang! Jangan!" Niken memekik, mencegah Alang memukuli Saga.
"Kamu! Sebegitu tidak tahannya sehingga tidur dengan laki-laki beristri? Hah?" bentak Alang, memegangi bahu Niken dan mendorongnya kasar.
"Mas!" Niken menepis tangan Alang, tapi cengkeramannya terlalu kuat.
"Aku yang membawa mu ke sini! Aku yang bertanggung jawab atas dirimu! Aku di sini juga karena kamu!" bentak Alang.
"Aku sudah besar dan tidak butuh di urus oleh mu Mas!" bentak Niken pula.
Alang benar-benar emosi, sehingga sejuta kata tercekat di tenggorokan tak mampu mengeluarkannya.
"Lepas Mas! Keluar dari sini!" usir Niken.
Membuat Alang benar-benar marah, ia menyeret Niken keluar dari kamarnya.
"Berhenti!" Saga melerai tangan Alang, mendorong bahu Alang dengan kasar.
"Diam!" bentak Alang.
Melihat pergelangan tangan Niken yang sangat erat, Saga membiarkan Alang membawanya keluar, ia pun ikut memegang satu tangan Niken, takut istrinya kesakitan.
"Mas! Lepaskan aku! Malu di lihat orang!" pinta Niken, status yang masih di sembunyikan begini, belum waktunya membuat keributan.
"Malu?" tanya Alang, menghempas tangan Niken.
Di halaman rumah utama itu Alang menunjuk wajah Niken. "Masih punya malu?" ucapnya, dengan gigi gemeratak.
"Tentu saja, bukan hanya aku yang malu, tapi kamu." jawab Niken.
"Kau!" Alang mengangkat tangannya.
"Berani menyakitinya?" Bentak Saga pula, tatapannya benar-benar serius, dadanya yang terbuka tak memakai baju itu pun naik turun sama emosinya dengan Alang.
Bugh!
Cemburu membayangkan Niken telah tidur bersama Saga, membuat Alang hilang kewarasan. Memukulnya lagi.
Perkelahian keduanya terjadi, pukul-pukulan pun tak bisa di elakkan lagi, hingga membangunkan Didit, dan satpam yang berjaga kini melerai mereka.
"Alang! Hentikan!" Didit memeluk Alang.
"Mas Alang!" Dewi pun terbangun, ia keluar menghampiri suaminya yang masih memberontak. Dan pamannya sendiri menatap tajam sambil mengepalkan tangannya.
"Ada apa?" tanya Dewi, berada di tengah-tengah antara Alang dan Saga.
Semuanya terdiam, tapi kedua tangan Niken yang memeluk lengan Saga itu membuat Dewi tercengang.
"Niken?" Dewi meminta penjelasan Niken.
"Sebaiknya kendalikan suamimu, jangan sampai membuatku khilaf dan menghabisinya." ucap Saga. Ia merengkuh bahu Niken hingga merapat ke tubuhnya.
"Kendalikan kata mu?" bentak Alang. Ia melepaskan diri dan mendorong Saga lagi. "Jauhi Niken, sebelum aku yang membunuhmu!"
"Heh!" Saga terkekeh.
Menepis tangan Alang yang berusaha memisahkan pelukannya.
"Dia adikku!" kesal Alang. Ingin memukul Saga.
"Jangan Mas." cegah Dewi pula. Dewi menatap Niken dan pamannya bergantian, lalu bertanya dengan pelan. "Dek?"
"Mbak_"
"Niken adalah istriku, kami sudah menikah." jawab Saga.
Semua orang tercengang, termasuk Alang yang seketika lemas mendengarnya.
"Niken?" gumam Alang, benar-benar kecewa.
Tepukan tangan Gendis terdengar menggema di tengah malam ini, wanita bergaun merah itu berdiri di teras entah sejak kapan. Dia menatap Saga dengan sorot penuh kemarahan.
"Hahahha! Ternyata." Gendis melangkah pelan, tatapannya lurus kepada Niken. Bibirnya tertawa kencang, matanya tajam tapi mengeluarkan air mata.
"Kamu?" Tangan gendis terulur, menyentuh wajah Niken dan kemudian mencengkeram lehernya.
Bersamaan dengan pelatuk senjata milik Saga pun kini berada tepat di pelipis Gendis, wanita itu terkejut.
"Mari, kita mati bersama." ucap Saga.
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis