NovelToon NovelToon
Papa Tiri Anti Bakteri

Papa Tiri Anti Bakteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Romansa
Popularitas:506k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

Xavier Rey Lergan hidup dalam sangkar steril akibat dirinya yang mengidap Myshopobia, hingga orang tuanya nekat menjodohkannya dengan Nara, seorang single mom. Pernikahan ini menjadi medan tempur antara si perfeksionis dan wanita tangguh yang tak mau diatur.

"Nara, sudah kubilang jangan diletakkan di sini!" bentak Xavier saat melihat barang berserakan.

"Diam Tuan Bakteri! Ini kamarku, keluar! Kamu kan belok!" balas Nara sengit.

"Aku hanya anti bakteri, bukan anti wanita!" seru Xavier tak terima.

Di tengah pertikaian, hadir Raya seorang putri kecil Nara yang polos. "Papa Laya balu cekalang! Halusnya dali dulu mama cali Papa balu, kenapa balu cekalang? Papa lama, buang aja ke celokan!" ucapnya menggemaskan.

Akankah kesterilan Xavier runtuh oleh kehangatan keluarga kecil ini, ataukah perbedaan prinsip tentang kebersihan akan memisahkan mereka selamanya?

"Bagaimana bisa aku menikahimu, sementara aku tak suka bekas orang lain?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nda Jadi Papa Anti Bakteli?

"Yah! Menantu kesayangan Ayah itu ... dia mau memberikan tisu bekas inguuusnya kepadaku!" seru Xavier sambil menunjuk ke arah Nara dengan jari yang bergetar. Ia seolah baru saja lolos dari upaya pembvnuhan berencana.

Nara mendengus dan memutar bola matanya malas. Ia sudah bosan dengan drama kesterilan suaminya. "Dia duluan, Yah. Dia yang menjailiku terus sejak bangun tidur. Dia memintaku untuk—" Nara menghentikan ucapannya secara mendadak. Ia baru sadar jika ia menceritakan tentang ejekan Xavier soal bau mulut atau perdebatan mereka yang terlalu intim, martabatnya di depan mertua bisa hancur berantakan.

Lekas, ia berdehem untuk menetralkan kegugupannya dan memasang wajah sedih yang dibuat-buat, memanfaatkan sifat protektif Raisa. "Dia memintaku untuk ... untuk menjauhinya, Yah! Dia memintaku untuk menjauhinya sejauh mungkin! Memangnya apa salahnya mendekati suami sendiri? Malam pertama kami pun terasa sangat sunyi, aku sampai harus tidur di sofa semalaman karena Xavier tidak mau membiarkanku mendekat!" ucap Nara dengan nada yang sangat dramatis seolah ia adalah korban penelantaran istri.

Xavier menganga lebar mendengar kebohongan besar itu. "Aku tidak pernah—"

"Xavier, kamu tega membiarkan istrimu tidur di sofa semalaman? Istrimu ini manusia loh, bukan koloni bakteri berbahaya! Kok kamu tega begitu?" tegur Raisa dengan tatapan tidak percaya. Sebagai seorang ibu, ia merasa hatinya tersayat membayangkan menantunya yang malang harus meringkuk di sofa keras.

Xavier turun dari sofa dengan perlahan, wajahnya memerah karena frustrasi yang memuncak. Lidahnya terasa kelu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena ia tahu Nara sedang memutarbalikkan fakta demi mendapatkan pembelaan. Setiap kali ia ingin membuka mulut untuk membela diri, Nara selalu punya cara untuk memotong kalimatnya dengan serangan baru.

"Bundaaaa, Nara lapaaar sekali! Perut Nara sampai sakit karena dari semalam tidak makan dengan tenang!" rengek Nara tiba-tiba. Ia berlari kecil dan bergelanyut manja di lengan Raisa, seolah sedang mencari perlindungan dari monster bernama Xavier.

Raisa yang memang sangat menyayangi menantunya itu langsung luluh seketika. "Astaga, putri Bunda lapar? Ayo, kita turun sekarang untuk sarapan enak di bawah. Biarlah anak nakal ini di sini bersama ayahnya untuk merenungi kesalahannya," ucap Raisa tegas. Ia menarik Nara keluar, meninggalkan dua pria itu dalam keheningan yang sangat canggung.

Xander mel0ng0 menatap kepergian istrinya yang begitu tiba-tiba. "Loh Sayang, kok aku kena imbasnya?! Kenapa aku ditinggal di sini bersama anak kaku ini?!" teriak Xander tidak terima.

"Kan kamu yang membuat Xavier! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!" balas Raisa dengan suara keras yang menggema dari koridor sebelum suaranya menghilang.

"Loh, kamu kan juga ikut buat! Mana mungkin aku buat sendiri!" seru Xander tidak mau kalah, meskipun Raisa tidak lagi menyahut. Ia hanya bisa berdiri terpaku, menatap pintu yang terbuka lebar dengan tatapan hampa.

Xander kemudian menatap Xavier dengan delikan kesal, melampiaskan amarahnya karena ditinggal sang istri. "Gara-gara kamu ini! Apa sih susahnya dekat-dekat dengan istri? Heh, dengar ya, setelah nikah itu banyak enaknya kalau kamu tahu caranya. Manfaatkan kesempatan itu, jangan malah jadi repot sendiri! Repot banget kamu jadi manusia!" gerutu Xander dan melangkah pergi menyusul Raisa dengan langkah kasar, meninggalkan Xavier yang masih terdiam seribu bahasa.

Xavier menatap pintu yang kini tertutup rapat dengan napas berat. "Apa enaknya? Dari semalam ribut, pagi ini pun ribut. Apa enaknya untukku, huh?! Semuanya benar-benar kacau," gumamnya pada kesunyian kamar yang kini terasa sangat hampa tanpa kehadiran Nara yang berisik.

.

.

.

.

Sementara itu, suasana di kediaman besar keluarga Rodriguez jauh lebih damai namun penuh dengan celoteh yang mengundang tawa. Siang ini, mentari bersinar cukup terik, namun di dalam ruang makan yang sejuk, Raya tengah duduk manis di kursi tingginya. Di hadapannya, Jingga sedang dengan sabar menyuapinya makan siang berupa sup ayam dan wortel kesukaan bocah itu. Raya sebenarnya sudah mulai bisa makan sendiri, namun gerakannya sangat lambat karena ia lebih banyak bercerita daripada mengunyah, hal itu seringkali membuat Jingga gemas dan akhirnya turun tangan.

Setelah suapan terakhir habis, Jingga membiarkan Raya bermain sejenak di ruang bermainnya yang luas dan penuh dengan boneka-boneka baru pemberian Xavier yang masih sangat bersih. Namun, saat sedang asyik memeluk boneka beruang besarnya, tiba-tiba Raya terdiam. Matanya yang bulat menatap ke arah Jingga yang sedang membereskan meja seolah teringat sesuatu yang sangat mendesak dalam pikiran kecilnya.

"Eh, Oma," panggil Raya dengan suara cemprengnya.

Jingga menoleh dari kegiatannya merapikan sisa makanan. "Kenapa, Sayang? Mau nambah nasi lagi? Atau mau susu?" tanya Jingga lembut sambil tersenyum menatap cucu kesayangannya.

Mata Raya membulat sempurna, ia tampak terkejut dengan tawaran itu. "Oma mau Laya gembloooot? Nanti Laya di bilang Gemblooot cama Angkel Bilu, Oma nda cayang Layaaaa?!" seru Raya dengan nada protes yang sangat menggemaskan. Wajahnya ditekuk seolah-olah ditawari sesuatu yang mengerikan, padahal mulutnya tetap terbuka lebar saat Jingga secara tidak sengaja memberikan potongan buah sebagai camilan.

Jingga tertawa terbahak-bahak, ia sudah sangat terbiasa dengan drama kecil cucunya yang seringkali dipengaruhi oleh ejekan pamannya, Biru. "Habis ini makan pudding mau? Oma buat pudding mangga dingin yang segar sekali di kulkas."

"Becal nda buatnya? Laya mau makan nanti," ucapnya dengan antusiasme yang langsung kembali, seolah lupa bahwa semenit yang lalu ia takut menjadi gembrot. Jingga tersenyum dan menghela napas panjang, ia merasa sangat terhibur dengan kehadiran Raya di rumah yang biasanya hanya berisi orang dewasa yang kaku itu.

"Raya tadi sebenarnya mau bicara apa sebelum bahas soal gembr0t?" tanya Jingga mencoba kembali ke topik awal pembicaraan.

Raya terkesiap, ingatannya kembali ke satu hal yang mengganggunya sejak ia bangun tidur tanpa sang ibu di sisinya. "Mama kemana yah? Laya balu cadal, nda kelihatan lambutnya dali pagi. Kelja? Biaca cooole pulang, cekalang nda pulang-pulang. Lembul? Kan Mama dah punya cuamiii, cuaminya culuh kelja laaah. Nda boleh jadi belondooong!" seru Raya dengan wajah serius yang dibuat-buat, tangannya berkacak pinggang kecil.

Jingga kembali tertawa terbahak-bahak mendengar istilah itu keluar dari mulut mungil Raya. Rupanya, pengaruh paman dan tantenya yang sering berbicara asal-asalan sangat luar biasa bagi perkembangan kosakata Raya yang masih polos. Menurut pemahaman Raya, berondong adalah istilah untuk pria yang belum bekerja, sebuah teori sesat yang pasti diajarkan oleh Biru.

Jingga mengusap kepala sang cucu dengan penuh kasih sayang, mencoba meluruskan meski ia tahu Raya mungkin tidak akan paham seutuhnya. "Sayang, Mama tidak sedang bekerja sendirian. Mama sedang pergi bersama Papa baru Raya. Nanti kalau mereka pulang, Raya panggil dia Papa ya. Namanya Papa Xavier."

Raya mengerutkan keningnya, ekspresinya berubah menjadi sangat bingung dan tidak setuju. "Loh, kok Papa Capieeeel! Nda jadi cama yang kemalen? Papa Anti-Bakteli?!" tanya Raya dengan nada polos namun menuntut penjelasan.

"Hah?!"

1
Ita rahmawati
kampret kamu vier,,udh ada niat busuk ternyta
Irma Juniarti
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
bunda n3
the power of love
j4v4n3s w0m3n
makasih kak ..udah up.kak...iya kak.perlu hiling biar.fresh lagi.selain ngehilangib stres juga.bisa keluar.ide ide baru buat cerita berikutnya semangat kak ..jangan lupa upnya 🤭🤭🤭🤭
Herlambang Lutvi
akhirnya up jg ,,dari tadi Uda bolak balik buka hp 👍👍lanjut thor🤣🤣
NunuPoci
lanjutttt😍😍😍😍
epi juliana
🤣
Sani Srimulyani
pasti Nara terharu dengan perlakuan vier sama raya.....
marie_shitie💤💤
ayolah Nara jng lah km egois,km juga ad tanggung jawab buat suami km
j4v4n3s w0m3n
up.kak😁
Nureliya Yajid
semangat thor
Bunda Hilal
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bunda Hilal
emang kentut bisa ditangkep ya saviee🤣🤣
Hasanah Purwokerto
Abaikan sj laki" seperti Zeno...ga guna ngt...
Xavier....saatnya kamu beraksi.....🤭🤭🤭🤭🤭
Hasanah Purwokerto
Kita lihat aja nanti
Hasanah Purwokerto
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Hasanah Purwokerto
Digantung dipohon kencur ya Vier
Hasanah Purwokerto
emang mamamu barang yg disewakan Ray..?
Hasanah Purwokerto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
Itu orang yg sama Raya......🙈🙈🙈🙈😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!